Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( PoV Nisa 2)


__ADS_3

Aku mendekatkan tubuhku agar lebih dekat dengan mas Leon, saat tubuh kami sudah menempel, segera ku lingkarkan tangan ini di pinggang mas Leon. Aku tahu mas Leon sedang terkejut, sebenarnya aku pun demikian. Jangan di tanya bagaimana jantungku saat ini, rasanya seperti melompat-lompat hendak keluar.


"Apa kamu kedinginan?"


Ahhh pertanyaan macam apa itu, mas Leon benar-benar tidak peka. Aku mendengus kesal, segera ku tarik tanganku tapi ternyata mas Leon menahannya.


"Aku sedikit dingin, tidak pa pa kan begini lebih lama?"


Padahal tadi aku sudah berharap akan ada kata romantis yang keluar dari bibir mas Leon, tapi ternyata tidak. Tapi nggak pa pa lah, saat mas Leon menahanku seperti ini aku bisa lebih mengeratkan pelukanku, tangan mas Leon kini juga sudah berada di punggungku. Tidak ada lagi kata yang keluar dari kami, hanya menatap langit senja yang sebentar lagi berubah menjadi gelap.


Brreettttt bretttttt bretttttt


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian kami, ponsel yang sempat aku letakkan di atas meja kecil di belakang kami berdering. Ada video call dari mama.


"Mas, itu mama!"


"Angkatlah!"


"Tapi ini?" kami masih dalam keadaan berpelukan, jaraknya cukup jauh hingga tanganku tidak mampu menggapainya.


Bukannya melepaskan ku tiba-tiba tangan mas Leon terulur hingga membuat wajah mas Leon begitu dekat dengan wajahku. Jantungku seperti berhenti berdetak saat ini. Tubuh kami semakin menempel jugaan.


Entah sejak kapan mas Leon menggeser tombol hijaunya hingga kami bisa mendengarkan suara mama di sana.


"Assalamualaikum Nisa, Leon!"


"Waalaikum salam ma, apa kabar?" aku segera menyahutnya saat kamera ponsel sudah di arahkan kepada kami oleh mas Leon.


"Bagaimana perjalanan kalian? Apa sudah sampai?"


"Sudah ma, ini Nisa sama mas Leon di rumah mas Leon sekarang!" aku mengarahkan kamera ponselku ke arah kamar.


"Alhamdulillah mama lega, ya sudah mama tadi cuma mau menanyakan itu, kalian lanjutkan saja kegiatan kalian!"


"Iya ma!"


Setelah mengucap salam, mama menutup sambungan telponnya. Tapi mas Leon masih sama, ia tidak mau melepaskan pelukannya.


"Mas, udah mau magrib. Mas Leon nggak siap-siap?"


Sepertinya ucapanku menyadarkan ya, dengan cepat mas Leon melepaskan pelukannya.


"Iya, aku mandi dulu ya!" dengan cepat mas Leon masuk ke dalam kamar dan menuju ke kamar mandi.


Aku hanya bisa tersenyum menatap punggung suamiku itu. Aku beruntung karena memiliki suaminya yang pengertian seperti dia walaupun kadang tidak peka, tapi justru hal itu yang membuatnya istimewa.


Setelah mandi, aku mencari mas Leon. Dia pasti juga sudah pulang dari mushola setelah sholat isya'. Sekalian aku ingin berkeliling rumah ini. Aku memakai jilbab instan ku, untuk jaga-jaga kalau di rumah ini ada orang lain ternyata selain kami.


Cukup terkejut saat aku melihat mas Leon sudah berdiri di balik meja dapur, ku percepat langkah kakiku untuk menghampirinya.


"Sudah mandi ya?" ternyata mas Leon yang bertanya lebih dulu padaku.


"Sudah mas, mas Leon ngapain di dapur?"

__ADS_1


"Aku akan memasak untuk makan malam kita!"


"Jangan mas, biar aku saja!"


Mendengarkan ucapanku mas Leon hanya menatapku dengan sedikit memiringkan kepalanya,


"Kamu yakin?"


"Nggak percaya sekali kalau aku bisa masak!"


"Ya memang tidak meyakinkan sih!"


"Massss!" aku kesal karena mas Leon tidak percaya aku bisa masak. Tapi dia malah tersenyum padaku.


"Baiklah, masaklah dan aku yang akan melihatmu memasak!"


Mas Leon berjalan meninggalkan meja dapur dan duduk di sisi lain dari meja itu kini gantian aku yang berdiri di tempatnya mas Leon.


"Aku biasa masak mas, kamu aja yang nggak percaya!"


"Buktikan!"


Aku melihat ada beberapa bahan masakan, cukup lengkap untuk ukuran seorang pria di rumah sendiri.


"Mas Leon masak sendiri setiap hari?"


"Menurutmu?"


"Enggak!" aku tersenyum lalu kembali mengolah bahan makanan yang ada di depanku menjadi makanan.


"Kenapa terus menatapku mas?"


Entah apa yang sedang ia pikirkan, sedari tadi dia terus menatapku dengan bibir yang terus tersenyum.


"Entah kebaikan apa yang sudah aku buat di masa lalu hingga Allah mengirimkan istri sebaik kamu untuk pendosa sepertiku!"


"Mas, kok ngomongnya kayak gitu sih!?" protesku, aku sungguh tidak suka jika mas Leon menganggap dirinya seorang pendosa, "Aku sudah pernah bilang kan, Allah lebih suka dengan seorang pendosa yang menyadari kesalahannya dan bertaubat dari pada seorang yang baik lalu terjerumus dalam lembah dosa yang ia sudah tahu kalau itu dosa!"


"Terimakasih ya!"


"Makanlah mas!"


Tidak ada perbincangan lagi setalh aku menutupnya tadi.


Setelah makan mas Leon pamit ke ruang kerjanya, aku pun berinisiatif untuk membawakannya coklat hangat untuk menemaninya bekerja sekalian aku ingin melihat bagaimana ruang kerja seorang Leon.


Tok tok tok


Suara tanganku yang beradu dengan daun pintu yang tidak tertutup sempurna.


"Mas ini aku, boleh nggak aku masuk?" aku sengaja meminta ijin, takut saja mas Leon tidak mengijinkannya.


"Masuklah!" ada jawaban dari mas Leon, aku merasa lega. Perlahan ku buka pintu dengan tubuhku hingga pintu itu terbuka sempurna. Tanganku memegang nampan hingga aku tidak bisa menutupnya kembali.

__ADS_1


Ku lihat mas Leon sedang duduk di balik mejanya dengan layar laptop yang masih menyala, mungkin mas Leon sedang memeriksa pekerjaannya untuk besok.


"Mas aku bawakan coklat hangat untukmu dan tadi aku lihat ada kue di lemari pendingin, sekalian aku bawa ke sini!"


"Terimakasih ya, duduklah!"


"Aku boleh duduk!" sebenarnya memang itu yang aku harapkan dari tadi.


"Kamu boleh duduk di mana saja di rumah ini, ini rumah kamu juga!"


Aku tersenyum lalu duduk di kursi yang tepat berada di depan meja mas Leon. Mas Leon kembali sibuk menatap layar laptopnya. Untuk mengusir kejenuhan ku ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, aku sedikit terkejut saat menyadari bahwa di seluruh bagian dinding ruangan ini di penuhi dengan buku.


Aku yang awalnya hanya ingin duduk kini tertarik untuk melihat-lihat buku koleksi mas Leon. Aku pun kembali berjalan dan melihat-lihat buku koleksi mas Leon, sangat lengkap ada buku bisnis, kesehatan, ekonomi, sastra, diplomasi semua tertata pada tempatnya masing-masing hingga netra ini menangkap sebuah koleksi buku yang sedikit berbeda tempatnya.


Berbagai macam buku agama, mulai dari fikih, akidah, hadist, salaf, kitab terjemahan, tuntunan sholat, semua buku tentang Islam tertata rapi di sana. Hingga netra ini kembali menangkap beberapa buku yang sengaja di letakkan di atas meja kecil, aku mengenali buku itu, itu beberapa buku milikku.


Mas Leon juga mengkoleksinya ....


Aku melirik pria yang sedang sibuk itu, dia sama sekali tidak memperhatikan gerakku, dia sedang asik dengan apa yang sedang di lihatnya.


Ku ambil buku terbaruku, ini adalah buku kisah pak Alex, jika mas Leon sudah membacanya dia pasti tahu apa yang sedang aku tulis di sini dan aku juga mencurahkan perasaanku saat itu tentang mas Leon tiga tahun silam di buku ini.


"Mas!"


"Hmm?"


"Mas Leon dapat buku ini dari mana?" tanyaku sambil menunjukkan buku yang ada di tanganku itu.


Mas Leon menatap buku itu, seperti sedang mengingat-ingat,


"Oh, itu Gus Raka yang memberikannya padaku, sebenarnya ingin segera membacanya tapi belum sempat, kenapa kalau kamu suka kamu boleh mambacanya dulu!"


Aku tersenyum, "Ini buku aku yang menulisnya!"


Mas Leon terlihat terkejut, mas Leon baru tahu kebiasaan ku menulis baru beberapa bulan lalu, mungkin dia juga tidak menyangka jika bukuku akan sampai cetak.


"Benarkah?"


"Hmm! aku simpan saja ya mas!"


"Jangan, aku jadi tertarik untuk membacanya!"


Sebenarnya tidak keberatan. Seharusnya juga sudah menjadi rhasia umum karena aku yang menulisnya walaupun dengan nama yang berbeda, orang-orang terdekatku pasti sudah langsung bisa menebaknya dan tadi mas Leon mengatakan kalau itu pemberian Gus Raka? Jadi Gus Raka sudah tahu bagaimana perasaanku? Sepeti ya kalau begini lebih baik, berarti Gus Raka sudah siap menerimanya sedari lama.


...Tiada satu pun cara yang dapat menyatukan dua manusia yang sedang jatuh cinta kecuali menikah dan tiada satu pun jalan tercepat dalam mengenal sifat seseorang kecuali menikah....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG. @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2