
Leon pun menurutinya, ia membawa mobil ke rumah dengan halaman yang luas dan kosong itu, ternyata Gus Raka juga sudah memarkir motornya di sana.
Motor bebek berwarna hitam yang selalu menemani hari-hari Gus Raka kala ia melakukan aktifitasnya.
Walaupun matahari hari cukup terik tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap pergi.
Untung pemilik rumah mempunyai helm yang tidak sedang di pakai jadi Leon bisa meminjamnya, sepertinya Gus Raka cukup kenal dengan pemilik rumah, memang jarak ruko dengan toko buku milik Gus Raka tidak terlalu jauh begitupun dengan pesantren Gus Raka.
Dua pria dengan wajah yang sama-sama tampan itu pun akhirnya. menaiki motor yang sama dan gus Raka yang mengemudikan motornya dan Leon duduk di boncengan. Kali ini Leon meninggalkan jasnya, untung ad sebuah jaket yang entah sejak kapan teronggok di dalam mobil, sedikit menghalangi rasa panas yang menyengat tubuhnya.
Sepanjang jalan, Leon sibuk memberi arahan pada Gus Raka. Rumah pak Bejo berada di salah satu kabupaten kecil yang tidak jauh dari Surabaya, rumahnya berada di kecamatan ya g dekat dengan pengunungan, butuh waktu satu jam untuk sampai di kabupaten itu, setelah itu mereka harus kembali melanjutkan perjalanan melewati jalanan sepi menuju ke kecamatan kecil.
Kiri kanannya di tubuh hutan pinus, cukup lebat, mungkin kalau malam hari akan begitu gelap.
Benar apa kata Gus Raka jika jalannya akan sulit di lalui oleh kendaraan roda empat, kalau tidak terlalu hafal medannya bisa-bisa salah jalan, jalannya begitu sempit, jika ada roda empat yang lewat makan roda empat lainnya yang berpapasan harus menepi dulu karena jalannya hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat dan satu sepeda motor saja.
Sebelum sampai di tempat tujuan meraka pun memilih untuk singgah sebentar di salah satu mushola yang mereka lewati untuk melaksanakan sholat ashar.
Udara panas tadi sudah menghilang semenjak mereka memasuki kawasan kecamatan tempat tinggal pak Bejo, hawanya begitu dingin karena mungkin memang di pegunungan.
Setelah menyelesaikan sholatnya, sambil menunggu Gus Raka selesai berdoa, Leon pun memilih untuk duduk di teras mushola, walaupun terbilang kecil tapi sepertinya mushola ini menjadi tempat mengaji untuk anak-anak di sekitar mushola, di samping mushola memang ada bangunan kecil yang terbuka, di situlah anak-anak belajar mengaji.
Seorang wanita muda seusia Nisa sudah duduk dan di kerubungi anak-anak yang membawa buku mengajinya, Leo. tersenyum menatapnya, pemandangan yang tidak pernah ia alami di masa kecil.
"Suka banget ya suasana seperti ini?" pertanyaan itu menyadarkan Leon jika di sampingnya sudah duduk Gus Raka yang baru saja selesai berdoa.
"Iya, pasti menyenangkan bisa merasakan masa-masa itu." rasa rindunya pada masa kecil yang normal, tidak di bayangi dengan kekerasan membuatnya sesekali menyeka sudut netranya yang sedikit berair.
"Bersyukurlah karena kamu akan mempunya keluarga lengkap nantinya, dan kamu akan bisa melihat putra putrimu tumbuh dengan normal seperti anak-anak lain."
"Amin, insyaallah."
"Sudah siap, kita berangkat lagi?"
Rasa capeknya yang tadi sudah perlahan menghilang setelah air wudhu mengenai tubuhnya. Rasa segar sekarang sudah menggantikan rasa capek yang tadi juga keinginnan untuk agar cepat sampai di rumah pak Bejo membuat mereka segera bangkit.
"Biar aku gantian yang menyetir, kamu pasti sudah capek karena perjalanan jauh!" Leon menawarkan diri.
"Mas Leon yakin bisa?"
__ADS_1
"Bisa, dulu aku juga memakai motor!"
"Baiklah, saya siap di bonceng!" Gus Raka segera memakai helmnya dan duduk di belakang Leon, saat di mushola tadi Gus Raka sempat bertanya pada salah satu penduduk yang kebetulan juga ikut sholat jama'ah bersama mereka dan bapak itu mengatakan kalau rumah pak Bejo hanya beberapa meter saja dari tempatnya saat ini.
Setelah mengendarai motornya, beberapa meter kemudian mereka menjumpai rumah yang sama persis seperti yang di sebutkan oleh bapak tadi.
"Apa ini ya Gus?"
"Sebaiknya kita turun saja dan bertanya pada pemilik rumah!" Leon pun terlihat mengangguk setelah Gus Raka turun Leon pun segera memarkirkan motornya di halaman yang luas dan di depannya di tumbuhi pohon mangga dan belimbing itu.
Pintunya tampak tertutup dan sepi dari luar,
"Apa mungkin orangnya sedang pergi?"
"Kita ketuk saja, kalau tidak ada sahutan kita bisa tanya sama tetangga."
"Baiklah!"
Mereka pun berjalan mendekati pintu, Gus Raka pun segera mengetuk pintu dan mengucap salam beberapa kali, Leon menengok ke samping kiri dan kanan rumah itu, jendela samping terlihat terbuka, mungkin orangnya ada di belakang hingga tidak mendengarkan ketukan dari mereka.
Cukup lama mereka berada di teras rumah itu hingga seorang wanita berjalan dari arah lain segera menghampiri mereka.
"Maaf, perkenalkan sama saya Raka dan ini Leon, kami sedang mencari pak Bejo, apa benar ini rumahnya pak Bejo?"
Wanita itu tampak mengamati wajah Gus Raka dan Leon bergantian,
"Kalian saudaraan?"
Leon dan Gus Raka pun dengan cepat menggeleng,
"Dia teman saya buk!"
"Ohhh_, aku kira saudaraan, wajahnya kayak mirip-mirip gitu!"
Gus Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu sedangkan Leon memilih untuk diam saja menunggu wanita itu menjawab pertanyaan dari Gus Raka tadi.
"Bagaimana Bu, apa ini rumah pak Bejo!"
"Ada perlu apa ya?"
__ADS_1
"Keperluan yang sangat penting, tapi tenang mbak kami bukan penagih hutang!" kalau penampilan Gus Raka jelas dia tidak seperti penagih hutang berbeda dengan Leon yang memakai jas, sepatu, celana yang licin apalagi di lengkapi dengan jaket warna hitam.
Wanita itu kembali mengamati wajah Leon dan Gus Raka, mencoba mencari kebohongan dari ucapannya.
"Itu bapak saya." setelah muter-muter nggak jelas akhirnya wanita itu Mau memberi keterangan atas bapaknya.
"Boleh kami bertemu dengan beliau?"
"Tunggu di sini ya, saya akan memanggil bapak saya!"
Wanita itu mempersilahkan Leon dan Gus Raka untuk duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah, lumayan untuk sedikit menselonjorkan kakinya setelah perjalanan jauh.
Hingga tidak berapa lama seorang pria berusia sekitar tujuh puluh tahun itu keluar bersama wanita yang tadi tapi kali ini wanita itu menyuguhkan dua gelas teh hangat.
"Silahkan di minum teh nya, ini bapak saya namanya pak bejo."
"Terimakasih!"
Pria tua itu pun ikut duduk di kursi kosong kebetulan hanya ada tiga kursi di depan rumah itu, wanita itu pun terpaksa kembali masuk dan keluar lagi membawa satu buah kursi plastik berwarna biru.
Setelah pria tua itu sibuk mengamati wajah Leon dan Gus Raka barulah ia bertanya,
"Kalian siapa ya? Saya kok rasa-rasanya belum pernah lihat kalian? Dari kampung mana?" pertanyaannya begitu khas orang tau, leon dan Gus Raka pun saling bersitatap kemudian Leon pun menyerahkan Gus Raka untuk berbicara dan ia hanya akan jadi pendengar. Ia hanya akan bicara saat ada yang Gus Raka tidak mengerti.
"Perkenalkan pak, saya Raka dan ini teman saya Leon, sebenarnya kami ke sini untuk mencari pak Bejo karena ingin bertanya sesuatu."
"Bertanya apa ya?"
Gus Raka pun terlihat merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto yang sempat di tunjukan. kepada Leon waktu itu, hanya itu yang ia punyai untuk mengetahui keberadaan saudara kembarnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1