Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (43)


__ADS_3

Hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah bangunan dengan tulisan besar di depannya, Bina Sosial.


"Sudah sampai dek, turun yuk!"


"Kenapa ke sini?"


"Ada yang mas mau tunjukkan!"


Asna pun terpaksa mengikuti suaminya walaupun ia belum tahu apa yang akan suaminya tunjukkan padanya.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh pengelolah tempat ini, dia begitu ramah. Beliaunya menuntun Asna dan Raka menuju kempat pembinaan,


"Jadi mereka adalah orang-orang tunawisma yang kami bina agar memiliki ketrampilan agar bisa menghasilkan karya sendiri!"


Terlihat orang-orang sedang berkumpul dengan mengerjakan beberapa ketrampilan dan di bimbing oleh mentornya masing-masing, masih banyak dari mereka yang masih muda.


Asna berada di tempat itu jadi merasa keluh kesalnya sungguh sia-sia karena di luar sana banyak sekali orang yang bahkan membutuhkan pekerjaan hanya untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini.


"Apa Mirna masih di sini?" tanya Raka kemudian setelah percakapan panjang itu, karena memang inti kedatanganya ke tempat itu buka untuk melihat mereka yang sedang di bina, tapi jika hal itu membuat Asna semakin mensyukuri hidupnya, Raka bertambah bersyukur.


"Sebenarnya kami sudah berusaha. untuk membawanya ke rumah sakit jiwa, tapi tetap saja tidak bisa! Mirna selalu kabur dan kembali lagi ke sini, beruntung Mirna tidak pernah meresahkan kami, jadi kami membiarkan saja karena memang putrinya juga ada di sini!" terang pria dengan blangkon di kepalanya itu.


"Yang mana putrinya?" tanya Raka lagi.


Dan pria itu segera mengedarkan pandangannya, mencari sosok kecil yang sendang di cari oleh Raka.


"Diah!" panggilnya hingga membuat salah satu anak yang sedang membuat keset dari kain perca itu berdiri.


Sekilas saat melihat penampilannya, ia begitu mirip dengan anak laki-laki dengan rambut pendek dan memakai celana, anak usia sepuluh tahun itu tampak bersih dan cantik sekaligus tampan karena penampilannya seperti anak laki-laki.


"Iya?" anak itu sekarang sudah berada di hadapan mereka.


"Nih di cari paman Raka!" melihat bagaimana pria itu menyebut nama Raka, sepertinya memang Raka kerap datang ke tempat ini.


"Hai paman!"


"Bisa temani paman sama Tante, temui ibu?"


"Tentu paman!"


"Ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya!" pria itu berpamitan dan meninggalkan mereka.


"Mau kenalan sama Tante?" Raka sudah berjongkok mensejajarkan dirinya dengan anak gadis itu.


Anak bernama Diah itu kemudian beralih menatap Asna, Asna pun mengulurkan tangannya berusaha biasa saja saat Dian menyambut tangannya.

__ADS_1


"Aku Tante Asna!"


"Dia istrinya paman!" Raka menambahkannya, begitu bangga memperkenalkan sebagai suami Asna meskipun ia tahu Dian tidak butuh status mereka.


"Paman Raka sudah menikah ya? ibu pasti seneng kalau juga menikah seperti Tante!"


Asna menoleh pada Raka, bagaimana bisa jika dia tidak menikah tapi memiliki seorang anak sebesar ini.


"Kita temui ibu dulu ya!"


"Hmm!"


Anak itu pun berjalan lebih dulu menuju ke taman biasa ibunya duduk saat sudah selesai mencari uang dengan cara mengemis di pinggir jalan. Walaupun sudah di minta untuk berhenti mengemis tetap saja Mirna tidak mendengarkan.


"Itu ibu!" melihat kedatangan putrinya, Mirna langsung tersenyum. Diah segera memeluk sang ibu yang tampak sedikit dekil karena memang dalam gangguan jiwa.


"Ada paman Raka Bu, sama istrinya!" ucap Diah dan Mirna pun menatap Raka bergantian menatap Asna. Kemudian seperti kebiasaan orang yang terkena gangguan jiwa lainnya, ia akan berbicara sendiri tidak jelas.


"Jangan dekat-dekat, jangan dekat putriku, dia putraku! Aku nggak mau ya kalian ambil dia! Awas ya!"


"Mirna tenang, aku nggak ambil Diah! Kamu masih ingat aku kan, aku Raka, teman kamu, masih ingat kan?"


Terlihat Mirna seperti sedang berpikir, "Oh iya, kamu teman aku yang paling baik, kamu masih baik kan? Iya kamu baik!"


Mendengar pertanyaan Raka, Mirna segera menarik putrinya dalam pelukan, "Nggak boleh, Diah nggak boleh sekolah! Sekolah buat apa kalau cuma jadi hamil, nggak boleh pokoknya, nggak boleh sekolah!"


"Tapi Diah butuh sekolah!" Asna ikut bicara membuat Mirna marah dan hampir saja mencakar Asna tapi dengan cepat Raka menarik Asna dalam dekapannya hingga Mirna mencakar lengan Raka yang tidak tertutup apapun karena jaket Raka ia lepas di motor tadi. Hingga kini tangan Raka berdarah karena kuku-kuku tajam Mirna.


"Ibu jangan begitu, paman Raka jadi terluka!" Dian menarik tubuh ibunya agar terus menyerang Raka.


"Tidak pa pa Dian, ini salah paman! Paman ke sana dulu ya!" Raka menujuk ke arah tempat duduk yang tidak begitu jauh dari tempat mereka.


"Diah ambilkan obat merah kalau begitu!"


"Nggak perlu Diah, sudah biar begini saja, nggak pa pa!"


Raka pun mengajak Asna menuju ke tempat yang sudah ia tunjuk meninggalkan Diah dan ibunya.


"Mas, ya Allah itu terluka!" Asna terlihat begitu khawatir.


"Nggak pa pa dek, ini cuma luka kecil!"


"Nggak bisa di biarin mas, itu bisa infeksi!"


Asna pun segera merogoh tasnya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengobati luka suaminya. Beruntung tadi ia membaw a air putih kemasan di dalam tasnya, Asna segera mengguyur tangan Raka dengan air mineral dan ada hansaplas di dalam tasnya hingga bisa ia gunakan untuk menutup luka suaminya.

__ADS_1


"Sudah!"


"Terimakasih ya sayang!"


"Kok malah liatin Asna kayak gitu sih mas? Senyum-senyum lagi!"


"Lagi liatin istriku yang cantik, masak nggak boleh! Cantik, baik lagi, walaupun sedikit cerewet sih!"


"Mas!???


"Ha ha ha....!" Raka malah tertawa melihat wajah kesal Asna, ia pun memilih untuk diam dan kembali melihat ke arah Mirna dan putrinya.


Terlihat sekali jika Diah begitu menyayangi putrinya.


"Mas, Mirna siapa?" Asna terlihat begitu penasaran dengan sosok Mirna ini, kenapa suaminya bisa mengenal Mirna yang jelas-jelas mengalami gangguan jiwa.


"Mirna ya?"


"Hmm!"


"Mau versi cepatnya atau versi lambatnya?"


"Mas, aku serius!"


"Aku juga serius dek! Baiklah kita mulai cerita ya, ambil yang baiknya dan yang tidak baiknya anggap sebagai pelajaran."


"Ribet ya mas?"


"Nggak gitu juga!"


"Kenapa ngomongnya muter-muter, keburu ashar ini mas!" keluh Asna karena suaminya yang selalu suka menggoda.


"Jadi sebenarnya Mirna dulu satu sekolah dengan mas, walaupun mas anak pesantren tapi Abi membebaskan mas untuk memilih sekolah yang mas sukai, asal mengajinya tetap.


Di sekolah Mirna termasuk anak yang baik, dia pendiam, cantik dan berprestasi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2