
“Sudah aja ya mas!” ucap Aisyah dan
hendak menarik bajunya tapi tangan Alex reflek menahannya agar tetap terbuka.
Tapi sepertinya Alex sengaja ingin
berlama-lama menatap punggung itu. Bukannya ia tidak pernah melihat punggung wanita, tapi entah kenapa melihat punggung Aisyah seperti ada magnet yang sengaja
menariknya agar mendekapnya.
“Mas Alex, jangan di tahan bajuku!”
ucap Aisyah segera menyadarkan Alex.
“Ah …, iya! Tanganku tidak sengaja
nyangkut tadi!” ucap Alex sambil mengangkat tangannya dan membiarkan Aisyah
menarik bajunya. Aisyah dengan cepat mengancingkan kembali bajunya dan memakai
jilbabnya.
“Lain kali minta bantuan!” ucap Alex
lagi sambil kembali menyandarkan punggungnya. Aisyah hanya diam saja dan
bangun dari duduknya. Ia mengambil cream nya kembali dan menyimpannya di dalam laci
samping tempat tidur Alex.
Punggung Alex masih terasa sakit jika terlalu
lama duduk tegak, memang kata dokter ada sedikit benturan di punggungnya yang
menyebabkan memar di tulangnya, walaupun begitu ia terus saja berusaha
menahannya.
Aisyah kembali ke sofa, ia mengecek ponselnya siapa tahu ada pesan penting. Ia juga harus meminta ijin pada dosen karena tidak dapat masuk kuliah untuk beberapa
hari, ia memfoto surat dokter miliknya dan mengirimnya pada dosen.
“Katanya Leon bawa sarapan?” tanya Alex membuat Aisyah mengalihkan tatapannya pada pria itu.
“Ah iya mas!” Aisyah masih belum fokus.
“kenapa nggak sarapan?”
“Aisyah nunggu sarapan mas Alex sampai dulu deh, nanti biar bisa suapi mas Alex dulu!”
ucap Aisyah sambil meletakkan kembali ponselnya. Sudah jam delapan tapi
sarapannya belum datang.
Alex tersenyum, “Seneng banget ya nyuapin aku!” ucapnya kemudian. Aisyah
menghentikan langkahnya, ia segera berbalik dan duduk kembali di sofa.
“Lupakan deh kalau gitu, Ay makan dulu!” ucap aisyah, ia segera membuka rantang makan
itu dan mengambil piring, menuangkan beberapa makanan yang ia suka.
“Nggak mau bagi-bagi?” tanya alex lagi, aisyah yang mulutnya sedang penuh makanan
hanya menatap sinis pada pria itu.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar Alex terbuka, dua perawat mendorong troli makanan,
“Permisi bapak, ibu!” sapa salah satu dari mereka dengan ramahnya.
“Iya mbak!” Aisyah segera berdiri dan menghentikan makannya.
“Kami mengantar makanan buat pak Alex!” ucap salah satu perawat itu sambil meletakkan
makanannya makanan milik Alex di atas nakas.
“Terimakasih suster!” ucap Aisyah, sedangkan alex seperti biasa jangankan mengucapkan
terimakasih, tersenyum saja tidak.
“sama-sama! Kami permisi!”
Akhirnya kedua perawat itu pun meninggalkan kamar Alex, Aisyah yang masih kesal kembali
duduk dan melanjutkan makannya.
Dia beneran marah …, batin Alex. Melihat Aisyah kembali duduk dan melanjutkan makannya, Alex pun menggunakan tangan kirinya untuk meraih makanannya yang berada di samping tempat tidurnya.
Sebenarnya Aisyah masih memperhatikan, tapi ia bersikap cuek. Sedikit memberi pelajaran
pada orang arrogant tidak ada ruginya. Aisyah pura-pura sibuk makan.
“Susah banget makan pakek tangan kiri!” gumam Alex sambil berusaha menyendok
makanannya tapi tidak juga berhasil, makanan itu malah bercecer kemana-mana.
Haahhhhh ….
Alex menghembuskan nafasnya kesal, ia mendorong nampan itu menjauh dari dirinya dan memilih tidak jadi sarapan walaupun perutnya sangat lapar.
Mana lapar lagi …, dia benar-benar keras kepala …..! batin Alex. Tapi mau minta bantuan gengsi.
Lama kelamaan Aisyah merasa kasihan juga melihat Alex tidak jadi sarapan, “Kenapa nggak jadi sarapan mas?” tanya Aisyah.
Aisyah pun segera merapikan kembali tempat makannya, ia segera berdiri dan berjalan mendekat ke ranjang Alex.
“beneran nggak lapar mas? Ya udah deh kalau nggak makan biar Ay aja deh yang makan. Kan mubazhir kalau nggak di makan!” ucap Aisyah sambil mengambil nampan sarapan alex, ia
menyedoknya dan bersiap untuk menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Alex hanya bisa menelan saliva nya, ia sebenarnya sangat lapar. “Banyak banget makan kamu!”
“Ya nggak pa pa mas, kan kasihan makanannya kalau nggak di makan!” ucap Aisyah dan
satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya,
“Wahhhh enak banget mas ternyata masakan rumah sakit itu!”
Aisyah sengaja mengunyahnya dengan sedikit di dramatisir agar Alex semakin merasa
lapar dan menurunkan gengsinya.
“aku lapar!” ucap Alex pelan, Aisyah tersenyum penuh kemenangan, “Aku membenci
senyummu itu! Kamu sengaja kan? Biar aku mau kamu suapi!”
“Nggak usah protes deh mas, kalau mau aku suapi itu tinggal ngomong aja! Muter-muter
kayak jalan tol ngomongnya!” ucap Aisyah sambil kembali menyendok kan makanan dan menyuapkannya pada Alex.
‘Aaaa…., mas! Cepetan buka mulutnya!”
“Kau itu lama-lama sama bawelnya sama nenek ya!” protes Alex tapi tetap membuka
__ADS_1
mulutnya. Akhirnya Alex mau di suapi Aisyah hingga makanan itu hingga makanan
itu habis termakan.
Setelah sarapan yang penuh perdebatan itu, akhirnya selesai juga acara makannya. Aisyah
segera membereskan tempat makannya. Dan kembali dengan membawa baskom air juga
lap.
“Buat apa baskom?’ tanya Alex bingung karena tiba-tiba Aisyah tersenyum menakutkan
menurut Alex.
“Mau buat bubur sama baskom ini!” ucap Aisyah sambil mengacungkan baskom yang berisi air hanya itu.
“Hahh …, bubur!”
“Ya nggak lah mas, ini buat mengelap tubuh mas Alex! Sekarang buka dulu mas
bajunya!”
“Buka baju?”
“Iya mas …!”
“Tangan kananku nggak bisa di gerakkan!”
“Biar aku bantu mas!”
Aisyah segera meletakkan baskom itu di depan Alex, ia mulai membuka kancing baju Alex
satu persatu. Tampak sekali kalau kali ini ia begitu gugup. Ini pertama kalinya
ia harus merawat seorang pria selain ayah dan adiknya.
Setelah kancing baju Alex terlepas semua, Aisyah segera mengambil lap dan
mencelupkannya pada air hangat itu, memerasnya dan mengusapkan ke tubuh Alex. Alex terdiam, ia terpaku dengan perlakuan Aisyah. gadis belia yang sudah menjadi
istrinya itu kini menjelma menjadi gadis dewasa dengan segala kelembutan dan
perhatiannya.
“Stop!”
ucap Alex sambil menahan tangan Aisyah membuat Aisyah menatap pria itu,
seketika bumi seperti berhenti berputar, hanya ada mereka dua.
“Biar aku sendiri!” ucap Alex dan mengambil alih lap itu dan mengusap sebisanya ke
tubuhnya. Aisyah segera berdiri dari duduknya dan menjauh dari tempat tidur
alex. Ia hanya tertegun pada dirinya sendiri, entah apa yang sudah berhasil
membuatnya bisa seberani itu pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Sebelumnya
bahkan untuk menatap seorang pria ia tidak berani dan sekarang ia malah
memegang secara intens pria di depannya.
“Ya udah mas, Aisyah keluar dulu ya! Nanti biar aku panggilkan perawat untuk
membantu mas Alex!” ucap Aisyah dan berlalu begitu saja meninggalkan Alex.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰