Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Meninggalkan Aisyah


__ADS_3

Sesampai di Jakarta, Alex meninggalkan aisyah di aula Bandar udara begitu saja, ia hanya


memberikan alamat rumah mereka padanya.


“Saya ada urusan, kamu pulang sendiri ya!” ucap alex begitu saja sambil menyerahkan


kertas alamat dan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Ini untuk apa?"


“Pesan taksi!”


Alex pergi bersama mobilnya meninggalkan Aisyah yang masih tercengang di tempatnya.


Ia bahkan sama sekali tidak tahu tempat asing itu tapi pria yang sudah menikahinya begitu tega meninggalkannya begitu saja.


“Dasar pria kejam!” gerutu Aisyah sambil meremas kertas alamat itu, tapi segera ia


rapikan kembali. Mau bagaimanapun ia juga harus segera kembali ke rumah itu.


“Aku kenapa sekarang?”


Lama Aisyah berdiri di depan bandara, hingga akhirnya ia memilih untuk menghubungi


Dini kakak sepupunya, untung saja Dini sudah kembali ke Jakarta. Tidak menunggu


lama akhirnya Dini membalas pesan Aisyah.


Dini memberi kabar jika akan menjemputnya di bandara. Aisyah pun memilih tidak


meninggalkan bandara, ia hanya beranjak ke mushola untuk melaksanakan sholat


isya’. Hari sudah malam, ia tidak berani pergi ke tempat yang sedikit sepi, Karen


Dini sudah mewanti-wantinya agar tidak menyendiri sampai ia datang.


Akhirnya setelah menunggu setengah jam, Dini datang dengan motornya. Di lihat dari


pakaiannya, Dini baru saja keluar dari kafe tempatnya bekerja.


“Ayo, Sya!” ajak Dini tanpa turun dari motornya, Aisyah pun segera berdiri dari duduknya dan menghampiri kakak sepupunya itu,


“Makasih ya mbak, sudah jemput Aisyah!”  ucap Aisyah sambil mengambil


helm yang di sodorkan oleh Dini.


“Iya …, kita bicaranya nanti aja!”


“Iya mbak!” Aisyah pun segera memakai helm itu.


“Sudah?”


tanya Dini lagi memastikan jika Aisyah sudah benar-benar naik ke motor Dini.


“Sudah, mbak!”


Dini pun segera melajukan motornya dan mengajak Aisyah menuju ke kontrakannya. Karena tempat kerja Dini jauh dari rumah orang tuanya jadi ia memilih untuk tinggal di


kontrakan.


Cukup lima belas menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah mungil dengan cat warna cerah dan bunga yang berjejer rapi di depan rumah. Rumah dengan dua lantai itu cukup nyaman untuk di tinggali, dekat dengan tempat umum tapi tidak terlalu dekat dengan jalan umum jadi tidak terlalu bising.


“Rumah mbak Dini bagus!”


“Cuma kontrakan!”


Dini segera memarkir motornya di halaman yang hanya seluas tiga kali tiga meter itu.


Ia mengambil kunci rumah itu di dalam jok motor dan segera membuka rumah mungil


itu, mengajak Aisyah untuk segera masuk.


“Ayo, Sya!” ajak Dini.


“Iya, mbak!”


Aisyah mengekor i langkah Dini hingga mereka sampai di ruang makan yang langsung

__ADS_1


terhubung dengan dapur,


“Duduklah, biar aku ambilkan minum dulu!” aisyah pun menuruti perintah kakak sepupunya itu, terlihat Dini sibuk menuangkan air putih ke dalam dua gelas besar.


‘Minumlah!”


ucap Dini sambil meletakkan gelas itu di depan Aisyah, aisyah pun segera mengambilnya, ia memang sangat haus saat ini.


“Bismillah …!” ucap Aisyah sebelum meneguk minumannya.


Setelah menghabiskan setengah gelas, Aisyah meletakkan kembali gelas itu di atas


meja. Dini pun melakukan hal yang sama, sesekali Dini membetulkan kuncir


kudanya. Gadis itu berperawakan imut dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi.


“makasih ya mbak, udah ngijinin aku nginep di sini!” kata Aisyah setelah Dini


menyelesaikan minumnya.


“Ada apa sih sebenernya, Sya? Baru saja kemarin kamu nikah sama Alex, tapi pas ke Jakarta kamu malah memilih menginap di sini?" tanya Dini. Sebenarnya ia sudah cukup


curiga dengan pernikahan dadakan yang di lakukan oleh adik sepupunya itu.


Aisyah hanya tersenyum, ia tidak mungkin mengatakan jika suami kurang ajarnya itu


meninggalkannya begitu saja di bandara. “Nanti aja mbak, kalau udah waktunya,


insyaallah aisyah bakal cerita sama mbak!”


“Ya sudah lah …, mbak Cuma mau ngingetin aja ya sama kamu, jangan suka kabur-kaburan sama suami, ntar malah jadi masalah baru!”


“Iya mbak!”


Dini pun mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam kamarnya, meminta Aisyah membersihkan diri dan istirahat. Sebelum itu Dini juga sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.


“Makasih ya mas!” ucap Dini saat seseorang sudah mengantarkan makanan untuk mereka.


“Iya mbak!”


malam.


“Sya …, ayo makan dulu!”


“Iya mbak!” sahutan dari Aisyah yang masih di lantai dua, setelah Aisyah turun


mereka pun segera makan malam dengan nasi goreng.


Makan mereka terhenti saat tiba-tiba ponsel Aisyah yang di letakkan dia tas meja


bergetar. Ia melihat ada direct message dari Leon.


/bu Aisyah dimana? Tolong kirimkan nomor baru anda/


Aisyah memang belum sempat memberi tahu nomor barunya kepada banyak orang termasuk


Alex suaminya. Aisyah pun segera membalas dan mengirimkan nomor barunya.


“dari siapa, Sya?” Dini yang melihat Aisyah rela menghentikan makannya demi membalas


pesan seseorang menjadi penasaran.


“Dari asistennya mas Alex, mbak!”


“Tuh kan di cariin!”


“Nggak pa pa, Cuma Aisyah belum sempat ngasih tahu nomor baru Aisyah saja!”


Aisyah meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan makannya. Baru saja satu menit,


ponselnya kembali berdering. Itu adalah panggilan dari nomor tidak di kenal. Pasti


nomor Leon.


“Hallo, assalamualaikum!”


"Waalaikum salam, bu. Ini saya Leon!” tampak sekali Leon begitu kaku menjawab salam

__ADS_1


Aisyah, sepertinya ia tidak terlalu terbiasa mengucapkan salam.


“Iya mas Leon, ada apa?”


“Tolong kirimkan lokasi anda sekarang, bu!”


“Kenapa?”


“Saya akan menjemput anda!”


“Nggak perlu, saya menginap di rumah sepupuku, waalaikum salam!” tanpa menunggu


jawaban dari sana, Aisyah segera menutup telponnya.


Enak aja mau jemput-jemput, kenapa bukan pria itu sendiri yang menelpon ku, memang aku


istri asistennya …, batin Aisyah. Ia cukup kesal karena yang menelponnya bukan


alex langsung.


“Siapa, Ais? Asistennya Alex lagi ya?” tanya Dini lagi.


“Iya mbak!”


“kenapa wajahnya malah kesal seperti itu?”


“Nggak pa pa mbak, cuma lagi capek aja!”


“ya udah abis ini langsung istirahat saja, sudah malam juga. Sudah jam sepuluh!”


“Iya mbak, piringnya biar Ais aja yang bersihin, mbak Dini langsung istirahat saja!”


“Ya udah, makasih Ais!”


Dini memang sangat capek hari ini, ia segera meninggalkan Aisyah yang masih sibuk


mencuci piring dan membuang sampah.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Aisyah segera menyusul Dini ke kamarnya. Dini


sudah terlelap, Aisyah masih belum bisa tidur.


Malam semakin larut, ia menatap


bintang-bintang yang saling berlomba berkedip di langit sana, walaupun ada


banyak lampu penerangan tetap saja tidak bisa mengalahkan kerlipan bintang itu. Ini


langit Jakarta.


Tapi tiba-tiba ia di kejutkan oleh suara ketukan di pintu, ini sudah sangat malam


tidak mungkin tamu biasa datang selarut ini.


"Mbak …., mbak …., mbak Dini …!”


“Eeehhhmmmm!”


Dini hanya bergumam, sepertinya ia sangat mengantuk.


“Mbak.…, ada yang mengetuk pintu!”


Dini pun segera bangun dan mengajak Aisyah untuk turun, ia juga sangat takut tidak


biasanya ada yang datang malam-malam begini. Apalagi saat ini mereka hanya


berdua.


“Mas Leon!” Aisyah terperanjat, seingatnya ia tidak memberitahu alamat rumah Dini


pada leon, tapi ternyata pria ini sampai di tempat itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2