Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa 17)


__ADS_3

...Jika dari awal yang kau cari adalah rida Allah, Maka Allah pula lah yang akan memudahkan jalanmu untuk mendapatkan dia...


...🌺Selamat membaca🌺...


Kedatangan papanya langsung di sambut oleh Nisa. Gadis itu sedari tadi sudah menunggunya di depan pintu.


"Gimana pa?"


"Papa datang bukan salam kok langsung tanya gimana?"


Nisa tersenyum merasa malu, "Assalamualaikum pa!" ucap Nisa sambil mencium punggung tangan papanya.


"Waalaikum salam!"


"Gimana pa tadi jadi ketemu mas Leon nya?"


Papa Nisa tersenyum lalu menyerahkan ikan yang ada di tangannya itu,


"Jangan tanya dulu, masak dulu ikannya yang enak baru papa kasih tahu!"


Nisa mengerucutkan bibirnya tapi tetap saja ia membawa ikannya masuk, papa Nisa mengusap puncak kepala Nisa yang tertutup hijab itu.


"Papa tunggu sambil selonjoran ya, setelah sholat isya' kita makan malam!" ucapnya lagi setelah sampai di dapur.


"Siap pa!"


Nisa bukan gadis yang pandai memasak tapi di beberapa kesempatan mamanya sering mengajarinya memasak membuatnya sedikit banyak tahu cara memasak. Jika hari libur selain membantu kakak iparnya di sekolah, Nisa juga menulis beberapa buku dan bukunya juga terbilang best seller setiap kali melakukan proses cetak.


Tapi tidak banyak karya yang dia buat, hanya beberapa saja yang sudah benar-benar selesai karena ia hanya memanfaatkan waktu luangnya saja.


...🌺🌺🌺...


Kini mereka bertiga sudah duduk di meja makan, sepertinya mereka sudah mulai terbiasa makan malam hanya bertiga seperti ini.


"Gimana pa, enak kan masakan Nisa?" tanya Nisa saat melihat papanya mulai mencicipi ikannya.


Papa Nisa menganggukkan kepalanya, "Enak! Pasti kalau kamu yang makan akan jauh lebih enak! Sudah coba belum?"


Nisa menghentikan sendoknya yang sudah hampir berada di depan mulut dan mengembalikan ke piring, "Kenapa pa?, tadi udah coba bumbunya! Nisa kan nggak terlalu suka ikan pa!"


"Yakin ikan yang ini nggak suka? Cobalah dulu biar tahu rasanya, sedikit saja!" ucap papa Nisa sambil menyuapkan satu potong kecil ikan yang sudah di masak oleh Nisa.


Nisa pun membuka mulutnya dan mengunyahnya perlahan.


"Gimana?" tanya papanya lagi.


"Biasa aja tuh pa!"


"Yakin?"


Dan Nisa pun kembali mengunyahnya mencoba menikmati rasanya.


"Itu tadi dari mas Leon kamu!"


Nisa menatap papanya tidak percaya.


"Papa nggak dapat?"


Papa Nisa menggelengkan kepalanya.


"Jadi semuanya yang dapat mas Leon?"


Papa Nisa menganggukkan kepalanya. Mama Nisa pun ikut terpancing dengan pembicaraan antara ayah dan anak itu.


"Trus papa dapat apa dong?" tanya mama Nisa kemudian.


"Dapat mantu!" jawab papa dengan singkat padat dan jelas membuat Nisa hampir saja tersedak makanannya.


Huks huks huks


Dengan cepat mamanya menyodorkan gelas berisi air putih,


"Pelan-pelan nak, minum dulu!"


Nisa pun meraih gelas itu dan meminumnya,


"Maksudnya apa pa?"


"Papa setuju kamu sama Leon!"


"Serius pa?"


"Insyaallah!"


Mama ikut tersenyum senang melihat putrinya begitu bahagia. Ia menggenggam tangan putrinya itu.


"Mama ikut senang!"

__ADS_1


"Terimakasih ya pa!"


...🌺🌺🌺...


Kini Nisa sudah berada di dalam kamarnya, tangannya sedang sibuk membubuhkan tinta di kertas kosong yang entah sudah menjadi kertas yang ke berapa.


Walaupun dia tahu apa yang akan di bicarakan dalam tapi tetap saja bingung harus memulainya bagaimana.


Hingga hampir tengah malam barulah Nisa menyelesaikan suratnya.


"Alhamdulillah!"


Tangannya kini sedang sibuk melipat suratnya dan memasukkannya ke dalam amplop berwarna merah jambu.


Tok tok tok


Sudah tengah malam dan pintunya masih di ketuk oleh seseorang. Nisa bergegas memakai jilbab instan berwarna mustad.


"Iya sebentar!"


Dengan cepat Nisa menghampiri pintu yang sudah di kunci sedari tadi.


Ceklek


"Kak Reza?"


Pria yang berperawakan tegap itu pun tersenyum,


"Kakak masuk boleh kak?"


Tanpa menjawab Nisa hanya menggeser tubuhnya agar kakaknya itu bisa masuk.


"Tadi lihat lampu kamar kamu masih nyala, makannya Kakan ke sini!" ucap dokter Reza sambil duduk di atas tempat tidur Nisa tanpa di persilahkan.


"Kakak sendiri tadi?"


"Iya!"


"Kakak ipar kemana?"


"Lagi ada dinas di luar kota!"


Mata dokter Reza terlihat sedang asik mengamati kamar adiknya itu.


"Ada apa sih kak?"


"Papa bilang besok kamu akan mengambil keputusan! Tetap mas Leon atau Gus Raka nih?"


"Menurut kakak?"


"Saya suka yang agak misterius!"


"Seperti?"


"Ya seperti mas Leon, nggak rugi ntar pokoknya milih dia, pasti akan banyak kejutan nanti setelah nikah!"


"Sok tahu ah kakak, kebetulan banget kakak di sini, boleh nggak Nisa minta tolong?"


"Jangan aneh-aneh deh, malam-malam gini aku nggak mau keluar ya!"


"Enggak kak, su'uzhon banget sih jadi orang!"


"Kan biasanya gitu kamu, malam-malam tiba-tiba minta di beliin siomay!"


"Kali ini beda kak!"


Dokter Reza mengerutkan keningnya,


"Serius?"


"Iya kak!"


Nisa pun mengambil amplop merah jambu yang baru saja di simpannya dan menyerahkannya pada dokter Reza.


"Serius ngasih surat cinta ke aku?"


"Kaaaaaak!" keluh Nisa gemas, "Ini bukan buat kakak, ini surat buat mas Leon!"


"Ohhhh, kenapa nggak di kasih sendiri?"


"Nisa ada urusan lain soalnya, kak!"


"Lebih penting dari ini?" tanyanya sambil mengacungkan surat di tangannya.


"Iya!"


"Sepenting apa?"

__ADS_1


"Semacam tanggung jawab karena sudah membuat hati seseorang terluka!"


Dokter Reza mengerutkan keningnya kembali hingga alis tebalnya hampir menyatu,


"Gus Raka?"


"Iya!"


Dokter Reza pun segera berdiri dari duduknya, dan menepuk bahu Nisa.


"Kakak suka gaya mu! Selamat malam!"


Dokter Reza pun keluar dari kamar Nisa dengan membawa surat untuk Leon.


...🌺🌺🌺...


Pagi ini Nisa sudah mewawancarai papanya, ia menanyakan tempat kerja Gus Raka. Tapi berdasarkan informasi yang di peroleh jika hari Minggu Gus Raka hanya setengah hari, dan akan pulang setelah dhuhur.


"Nggak jadi siap-siap!" tanya dokter Reza yang sudah terlihat begitu rapi.


"Ntar aja kak, biar agak siangan! Kakak hari Minggu mau ke mana?"


"Kamu lupa atau apa!?"


Nisa mengerutkan keningnya, "Apa?"


Kan dapat tugas dari tuan putri buat jadi pak pos!"


Nisa tersenyum mendengarnya lalu mengangkan tangannya memberi semangat pada kakak laki-lakinya itu, "Semangat ya kak!"


"Aku berangkat ya, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


...🌺🌺🌺...


Leon sedari pagi terlihat ribet dengan penampilannya. Biasanya dia tidak akan seribet ini, entahlah dia mara beda hari ini.


"Tetap mau pergi bekerja ya mas Leon?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang ada di rumah Leon yang tugasnya memastikan mobil Leon dalam keadaan bersih.


Leon tersenyum sambil membetulkan jasnya, "Mobilnya sudah siap?"


"Siap mas!"


Leon pun meneguk coklat panas yang sudah tidak panas lagi dan menyambar tasnya.


"Saya berangkat dulu!"


Leon memang sedikit berbeda masalah rumah dengan Alex. Leon lebih suka memperkerjakan dua orang saja untuk mengurus rumahnya, satu bagian dalam dan satunya bagian luar. Untuk memasak, Leon sengaja tidak mempekerjakan tukang masak karena dia jarang makan di rumah. Jika ingin makan, dia akan order atau memasak makan sederhana sendiri.


Leon bukan tipe pria yang ribet, sederhana tapi menyukai kesendirian.


Tapi ceritanya sepertinya akan sedikit berbeda mulai hari ini.


Leon segera masuk ke dalam mobilnya dan memacunya dengan sedikit santai. Hari Minggu, tidak terlalu banyak pekerja yang akan dia selesaikan. Apalagi sebagian besar karyawan libur. Hanya beberapa saja yang emang mengambil jam lemburnya dan beberapa staf yang memang liburnya sistem sift.


Jalanan juga terlihat begitu lengang berbeda dari biasanya. Hari Minggu sebenarnya hari yang menyenangkan untuk berangkat kerja.


Kini mobilnya sudah berada di depan gedung, saat ia turun seorang belt boy sudah siap untuk membantu Leon memarkirkan mobilnya.


"Terimakasih ya!" ucapnya sambil menyerahkan kunci mobilnya.


Leon berjalan cepat memasuki gedung, tapi langkah kakinya terhenti karena seseorang menghampirinya.


"Pak Leon!"


"Iya?"


"Ada seseorang yang mencari anda!"


"Di mana?"


"Di ruang tunggu pak!"


"Baiklah, saya akan menemuinya!"


Leon pun mengurungkan niatnya untuk menuju ke ruangannya, ia berbalik arah menuju ke ruang tunggu.


...Tak apa aku menunggu, karena aku tahu di dalam penantianku ini ada jodoh yang sedang di siapkan begitu baik untukku...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2