
Seperti sebuah mimpi, gadis yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya sedang berdiri di sampingnya dengan segala keluh kesahnya.
Sudut bibir Leon melengkung ke atas, menunggu sampai gadis itu menyadari keberadaannya.
Dan benar saja, saat gadis itu mendongak. Dia tampak begitu terkejut.
"Mas Leon!?"
"Apa kabar?" tanya Leon setelah gadis itu mampu menguasai dirinya.
"Assalamualaikum mas!"
Leon lagi-lagi tersenyum saat mendengarkan salam dari gadis itu. Entah kenapa rasanya aneh saja saat mendengarkan hal itu, ada sesuatu yang tiba-tiba menjalar dalam hatinya dan menghangat di jantungnya.
"Waalaikum salam!"
Nisa tersenyum, sepertinya cukup senang dengan jawaban Leon.
"Apa kita akan berdiri saja di sini?"
Pertanyaan Leon menyadarkan Nisa, dia kembali tersenyum, "Iya mas!"
"Bagaimana kalau kita duduk di sama, kalau kamu tidak keberatan?" tanya Leon sambil menunjuk bangku kosong yang ada di dekat jendela kaca, cukup syahdu untuk duduk berdua.
"Ayok!"
...πππ...
Nisa dan Leon sudah duduk di bangku itu, di depan mereka juga sudah ada dua cangkir kopi panas, terlihat dari asap yang mengepul di atasnya. Sungguh pas dengan suasana dingin yang menjalar di sekitar mereka karena guyuran air hujan, walaupun tidak deras tapi akan mampu membasahi tubuh saat berada di bawahnya.
"Aku sudah membaca surat dari mas Leon!" ucap Nisa setelah sekian lama terdiam.
Leon menatap padanya sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya ke arah luar,
"Bagaimana menurutmu?"
Leon kembali mengingat bagaimana isi surat yang ia tulis sebelum keluar dari rumah sakit, sebuah pertanyaan yang tidak mampu ia tanyakan langsung pada Nisa.
Isi surat Leon :
Assalamualaikum Nisa, Aninda Nisa Aulya
*Saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah pulang dan maaf aku tidak bisa berpamitan padamu, sebenarnya ingin tapi sepertinya akan lebih baik jika seperti ini.
Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku ragu untuk menanyakan langsung
Nisa, jika suatu saat aku ingin menjadi imammu, apa aku boleh?
Aku tidak tahu cara melamar wanita, tapi nanti suatu saat nanti jika kamu belum di miliki orang lain, mungkin aku akan datang ke rumahmu dengan cara yang baik dan meminta pada orang tuamu dengan baik-baik
Aku tidak tahu perasaanmu, aku juga tidak tahu dengan perasaanku, tapi aku tahu kamu adalah wanita yang pantas untuk di perjuangkan
Jika nanti tiba waktunya dan kamu belum menjadi milik orang lain, ijinkan aku untuk melamarmu
Aku tidak butuh jawaban darimu saat ini, aku hanya ingin memberitahumu jika aku punya niat itu, semoga kamu maklum
^^^Dariku^^^
__ADS_1
^^^Leon*^^^
Jika mengingat isi surat itu, sebenarnya ini bukan waktunya untuk bertemu kembali. Waktunya masih panjang untuk menunggu.
"Kamu boleh mencari orang lain yang lebih baik dari aku, tapi jika waktunya tiba dan kamu belum men dapatkannya aku akan datang untuk melamarmu!" ucap Leon kemudian, walaupun Nisa tidak bertanya, Leon cukup tahu apa yang akan di katakan oleh wanita dengan hijab coklat susu dengan kombinasi hitam itu.
"Aku akan menunggu!"
Ucapan Nisa benar-benar berhasil membuat Leon terkejut, ia tidak percaya. Ia sampai menoleh pada Nisa dan memastikan yang baru saja di dengar oleh telinganya itu benar.
"Saya berkata benar, mas! Ijinkan saya untuk menunggu lamaran mas Leon!"
"Walaupun_!" Leon terlihat ragu untuk mengatakan hal yang selama ini masih mengganjal hingga mengabaikan kehidupan pribadinya.
"Iya, sampai semuanya kembali membaik! Maaf mas karena kemarin saya tidak minta ijin dulu untuk mengunjungi pak Alex, saya hanya ingin tahu apa yang membuat mas Leon tidak mau melamarku secara langsung padahal mas Leon tahu akses untuk ke rumah saya!"
Leon mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka gadis di depannya itu bisa sejauh itu ingin tahu tentangnya.
"Jika Allah ridho, insyaallah Nisa akan jadi jodohnya mas Leon!"
Lembut, tapi entah kenapa kata-kata gadis itu seakan sebuah kepastian yang membuatnya terikat dengan sebuah janji yang tanpa sengaja telah mereka sepakati.
Hujan di luar seakan menjadi saksi betapa ada sepasang anak manusia yang sedang merencanakan masa depan yang begitu dekat walaupun sebenarnya masih begitu jauh untuk di capai.
Hingga hujan pun reda dan mereka masih tidak ada pembicaraan lagi, suara azan memisahkan mereka.
"Sudah azan magrib mas, Nisa pergi dulu! Assalamualaikum!"
Gadis itu berdiri dari duduknya dan menunduk hormat,
"Waalaikum salam!" jawab Leon yang masih setia di tempatnya saat gadis itu mulai berlalu meninggalkannya.
Nisa menoleh kembali dan dia mendapati Leon sudah mulai berjalan mendekatinya.
"Aku akan melamarku saat aku sudah benar-benar bisa menjadi imam.yang baik buat kamu!"
Nisa tersenyum, "Amin! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Kali ini Leon benar-benar membiarkan Nisa berlalu begitu saja meninggalkannya.
...πΊπΊπΊ...
Sejak pertemuan kembali tanpa sengaja Leon dengan Nisa itu, Leon benar-benar di buat bingung.
Di satu sisi memang dia tertarik dengan wanita berhijab itu dan di sisi lain ada Alex dan keluarganya, dia tidak akan pernah bisa menikah jika keluarga kakaknya itu belum benar-benar bersatu.
Hari-hari Leon di habiskan untuk mencari tahu keberadaan Aisyah dan juga memastikan perusahan tetap dalam keadaan stabil selama.Alex di penjara.
"Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan seseorang menyadarkan Leon dari lamunannya, ia sampai menjatuhkan bolpoinnya yang sedari tadi entah sudah berapa kali ia putar di atas meja kerjanya.
"Ahh, iya! Siapkan meeting untuk hari ini, ada klien baru yang butuh banyak suntikan dana, perusahannya cukup kompeten, biarkan mereka masuk ke dalam jajaran perusahan yang kita prioritaskan!"
"Baik pak!"
Sekretaris Leon segera keluar, ia harus segera menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Leon yang sudah siap dengan penampilan rapinya bersiap untuk menemui kliennya, ada beberapa bangunan yang harusnya selesai beberapa bulan ini dan Leon harus melakukan sidak agar pengerjaanya lebih cepat selesai.
Leon memasuki ruang meeting saat semua peserta sudah hadir, Walaupun sebelumnya dia hanya tangan kanan Alex, tapi Leon orang yang mudah belajar sehingga dengan mudah mengambil alih kepemimpinan selama di tinggal oleh Alex.
"Maaf saya datang terlambat, bisa kita mulai sekarang meetingnya!"
Kedatangannya langsung di sambut peserta meeting, ada sesuatu yang berbeda di ruang meeting itu seseorang yang ia kenal duduk di antara peserta meeting itu. Dia tersenyum padanya .
Selama meeting, Leon terus memperhatikan gadis yang duduk di pojok. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya saat ini.
Dia jam berlalu dan meeting pun berakhir.
Satu tahun sudah semenjak pertemuan Leon dengan Nisa dan banyak hal yang Leon rubah dari hidupnya. Dia yang awalnya tidak mengenal agama sekarang sudah mulai belajar, dia bahkan belajar langsung dari gue Fahmi.
Dan saat dia sudah mulai bisa menerima semu takdirnya, gadis itu kembali hadir.
Satu persatu peserta meeting meninggalkan ruangan hingga tersisa Leon dan gadis itu,
"Assalamualaikum mas Leon!" sapanya dan Leon tersenyum.
"Waalaikum salam, Nisa! Satu tahun ternyata sama sekali tidak merubahmu!"
"Insyaallah, saya masih Nisa yang sama yang sedang menunggu seseorang menyampaikan maksud baiknya!"
Leon tahu maksud ucapan Nisa, dia mengerti bagaimana seorang wanita. dia juga tidak bisa menjanjikan apapun karena sampai sekarang belum bisa menemukan Aisyah dan Kiandra.
"Bagaimana seorang perawat bisa berada di bangku bisnis seperti ini?" tanya Leon saat menyadari sesuatu yang aneh.
"Mungkin mas Leon lupa, dokter Reza sudah menikah dan menikahi seorang kepala sekolah, aku selain sebagai perawat juga asisten kepala sekolah saat ini!" ucapnya sambil terus tersenyum, "Mungkin takdir lagi-lagi mempertemukan kita, dan semoga setelah ini ada takdir baik yang mengiringinya!"
Leon hanya terdiam, gadis di depannya bukan hanya Sholehah, dia juga sangat panda bernegosiasi. Jika dia sebagai pebisnis, pasti sudah besar perusahaannya.
...πππ...
Hari-hari Leon di lalui dengan berwarna setelah mengenal Nisa, ia kira Nisa hanya gadis perawat yang berhijab tapi ternyata segudang prestasi sudah dia kantongi.
Kini Leon terlihat berbeda dari biasanya, ia hanya memakai baju casual tanpa jas dan kemaja,
"Kita ke mana pak?" tanya sopir yang akan mengantarkan Leon.
"Kita ke daerah XX, ke lokasi proyek pembangunan!"
"Baik pak!"
Mobil yang di tumpangi Leon mulai melaju, menyusuri jalan raya yang cukup padat.
Sepertinya Leon sengaja berpakaian seperti itu karena di sana dia tahu siapa yang akan di temui,
Bersambung
...Mungkin aku tidak baik, tapi aku akan menjadi jodoh terbaik dalam hidup kamu, kamu duniaku dan aku adalah kehidupanmu...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading π₯°π₯°π₯°...