
Leon begitu panik saat mendapat telpon dari dokter Reza, ia yang sudah berada di depan ruangan Alex segera membatalkan untuk bertemu dengan pria itu.
Tapi saat ia berbalik, pintu ruangan itu terbuka.
"Raka, kamu di sini?"
Leon yang awalnya sudah dua langkah meninggalkan ruangan itu terpaksa berhenti dan berbalik,
"Mas, maaf! Saya tidak bisa berbicara sekarang, besok kita bertemu lagi!"
"Tapi ini kamu sudah ada di depan ruanganku, kenapa tidak jadi bicara? Apa ada masalah dengan Nisa?"
Leon pun teringat dengan rencana orang-orang itu,
"Mas, tolong awasi anak-anak dan Aisyah!"
"Ada apa?"
"Awasi saja, aku akan membantumu besok!" Leon tidak mendengar lagi tanggapan dari alex, ia memilih berlari meninggalkan pria yang sudah ia anggap sebagai seorang kakak itu.
"Ada apa sebenarnya?!" gumam Alex, ia pun segera menghubungi seseorang untuk mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Setelah mengetahui alasan Leon bersikap seperti itu, ia pun segera menyusul keluar tapi bukan ke rumah Leon, ia memilih menuju ke tempat di mana Leon menyekap anak buah pihak Extensio.
Alex hanya tidak ingin hal buruk kembali menimpa Leon atau siapapun itu, jika dia benar-benar Raka, makan dia juga akan memperlakukan pria itu selayaknya adik seperti dia memperlakukan Leon sebelumnya.
***
Di rumah itu dua wanita yang sudah bersahabat semenjak magang di rumah sakit itu kini sedang sibuk mencari kunci yang Nisa lupa meletakkannya.
"Ya Allah, Nisa! Kita mau cari di mana lagi, ini semua laci sudah di ubek-ubek, nggak nemu juga!" keluh Asna yang sudah menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan kaki yang berselonjor.
"Mau gimana lagi Asna! Aku lupa!" nis benar-benar melupakan di mana terakhir kali menaruh kunci itu.
"Di inget lagi deh!"
Nisa mengusap perutnya beberapa kali, ia sudah sangat kesusahan duduk di bawah, ia memilih duduk di atas keranjang baju kotor. Ia seperti sedang memutar memorinya kembali ke saat di mana Leon yang menyamar menjadi Gus Raka itu menyerahkan kunci padanya.
"Ahhh iya, di tempat perhiasan itu!" Nisa menunjuk sebuah meja kaca yang di dalamnya terdapat beberapa perhiasan yang di beli oleh Leon untuknya.
Asna pun segera bangun dan di ikuti oleh Nisa, Nisa mengeluarkan kunci dari dalam lemari pakaian dan membual meja kaca itu. Ia mengambil sebuah kunci yang bergabung bersama perhiasannya.
"Ini dia!"
"Ayo kita buka!" Asna segera menarik tangan Nisa.
"Bentar, pelan Asna, ini perut sudah besar jadi jangan ajak aku lari!"
"Hiiiihhhhhh!" walaupun tidak sabar tapi Asna mengikuti Nisa yang memang tidak bisa berjalan cepat.
Hingga Meraka sampai juga di depan kamar yang pintunya masih tertutup rapat, Nisa segera memasukkan kunci itu ke lubang kunci dan akhirnya terbuka.
Saat pintu itu terbuka ia seperti seperti menemukan kamar Leon di masa lalu sebelum kedatangan Nisa di rumah itu, kamar dengan nuansa abu hitam dan putih itu begitu menly.
"Ini kamar Mas Leon, Asna!"
"Kamar mas Raka, Nisa!"
"Sungguh Asna, Ini kamar Mas Leon dulu sebelum kedatangan ku, dulu semua rumah ini hanya ada warna ini, tidak ada warna yang lainnha dan sekarang dia membawa warna itu ke kamar ini!"
"Sudah Nisa, yang paling penting sekarang, cepat cari bukti!"
"Iya, kamu benar!" Nisa pun segera bergegas menuju ke meja kerja yang ada di sisi lain ruangan, ia duduk di kursi yang ada di depan meja kerja yang mungkin biasa digunakan oleh Leon untuk kerja.
Nisa mencari sesuatu di dalamnya tidak ada yang mencurigakan hanya sebuah foto yang terpajang di atas meja, itu foto mereka berdua saat di bali.
"Ini ada foto, Asna! Tapi aku nggak yakin foto ini ada setelah mas Raka datang, mungkin dari dulu mas Leon sudah memajangnya di sini dan mas Raka enggan untuk melepasnya!"
"Cari surat atau apa gitu!" Asna meminta Nisa untuk mencari semacam surat yang mengarah pada identitas Raka saat ini.
"Nggak Nemu! Hanya beberapa berkas yang aku nggak ngerti, sepertinya ini berkas_!" Nisa menghentikan bicaranya, membaca sekilas berkas yang ada di tangannya saat ini, "Ini berkas kecurangan sebuah perusahaan deh kayaknya Na!"
__ADS_1
"Coba lihat!" Asna pun mengambilnya dan memeriksanya, "Iya Nis, kayaknya memang kayak gitu! Sepertinya mas rak sedang mencari bukti kejahatan seseorang! Ini juga ada daftar nama-nama seseorang, lihat!" Asna menunjukkan daftar nama seseorang yang berada dalam satu map, "Siapa tahu kamu kenal salah satunya, DNA mungkin juga mereka terlibat dalam penyerangan suami kamu waktu itu!"
Nisa Kembali mengambilnya, ada nama Adi juga di sana dan lagi dua orang yang sekarang juga masih tinggal di rumahnya itu,
"Ini ada tiga Na yang aku kenal, satu sopir aku namanya Adi, tapi semenjak mengantar mas Leon ke bandara dan mengembalikan mobil dia tidak kelihatan lagi, kelihatan sih beberapa hari tapi pas mas Raka memutuskan untuk tinggal di sini, udah nggak nongol lagi, kalau yang dua ini ada biasa bersihin kolam sana ini Erna, masih baru, masih beberapa bulan kerja di sini!"
"Lainnya nggak kenal?"
Nisa menggelengkan kepalanya,
"Itu ada laptop Nis, coba deh kamu buka!"
Nisa pun membuka laptop itu, tapi sayangnya laptop itu di kunci,
"Di kunci, Na!"
"Coba buka pakek apa gitu?"
"Pakek obeng?"
"Ya nggak lah Nisa, maksud aku, coba deh pakek tanggal lahir mas Raka! Dia kan kembar sama suami kamu pasti tanggal lahirnya sama!"
Nisa pun mencoba dengan tangga lahir suaminya,
"Nggak bisa!"
"Coba tanggal lahir kamu!"
"Kan ini laptopnya mas Raka, ngapain pakek tanggal lahir aku?"
"Kan kita belum benar-benar tahu itu mas Raka atau mas Leon!"
Nisa pun menuruti apa yang di minta oleh Asna, dan benar saat menggunakan tanggal lahir Nisa, malah bisa terbuka kuncinya.
"Tuh kan, itu di wallpaper nya juga wajah kamu, berarti itu memang laptop suami kamu!"
Nisa pun segera membuka beberapa berkas yang ada di dalam laptop itu, dan ada sebuah video.
"Coba buka deh!"
"Nggak ah, nggak berani aku!"
"Buka aja nggak pa pa, mas Raka juga nggak akan marah!"
"Baiklah!"
Ternyata sebuah video yang ia dapatkan dari hasil alat yang ia pasang di ruangan bos besar Extensio.
"Ini ada Adi juga Na, jadi mereka yang berusaha melenyapkan mas Leon! Jahat banget mereka!" air mata Nisa tidak mampu di bendung lagi saat ini.
"Sabar Nisa, sudah di tutup aja dulu, kita cari bukti lainnya!"
"Iya!" Nisa pun segera menutup kembali laptopnya dan kemudian Iya pun meninggalkan meja kerja itu, ia menuju ke tempat tidur, mencari sesuatu yang ada di laci nakas di samping tempat tidur.
"Na, ini apa?" Asna yang sedang sibuk di lemari pun segera menoleh pada Nisa, saat ini di tangan Nisa ada sebuah topeng wajah.
Asna segera mendekat dan mengamati sesuatu yang ada di tangan Nisa.
"ini topeng untuk menirukan wajah seseorang Nisa! Aku pernah melihatnya di film-film luar negeri!"
"Ini kayaknya wajah Mas Raka!" ucap Nisa sambil mengamati detail topeng yang mirip seperti kulit itu.
"Iya sepertinya begitu!"
Nisa pun kembali melihat yang ada di dalam laci itu, ternyata tidak hanya ada satu tapi beberapa dan juga ia menemukan sebuah cincin pernikahan,
"ini cincin pernikahan kami, Asna!"
"Jadi benar kan dia suami kamu!"
"Jadi aku harus gimana sekarang, Na?"
__ADS_1
"Atau jangan-jangan yang meninggal itu Mas Raka?"
"Aku sungguh tidak tahu!"Nisa sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya sudah tidak mampu ia tahan sekarang.
"Jadi benar dia suami kamu!"
"Mungkin!"
"Kemungkinan besar seperti itu karena untuk apa dia memiliki topeng wajah sebanyak ini, ini ada lebih dari tiga dengan wajah yang sama!"
Nisa kembali mendongakkan kepala ya menatap sahabatnya itu, "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Ya, kamu harus bertanya yang sebenarnya pada Mas Raka atau mungkin itu suami kamu!"
"Bagaimana aku memulainya nanti?"
Asna menggenggam tangan Nisa saat ini dan mengusapnya pelan,
"kamu nanti juga akan tahu jalannya sendiri, Nisa!"
Nisa pun langsung memeluk Asna, "Terima kasih ya atas semuanya!"
" sama-sama, Nisa! aku juga ikut senang, jika pun dia suami kamu tak apalah! Aku tidak jadi mendapatkan Mas Raka. Mungkin kami tidak jodoh!" Asna berbicara sambil tersenyum walaupun terlihat sekali matanya basah sekarang.
"Kamu baik sekali!"
"Kamu juga baik, Nisa, kamu teman terbaikku jadi apapun yang kamu milik apapun itu, kamu senang, kamu sedih aku pasti juga ikut merasakannya!"
Pintu yang sudah Asna tutup rapat itu kembali terbuka dengan begitu keras hingga membuat dua wanita itu segera menoleh ke arah pintu.
Dan di depan pintu itu berdiri Lion yang sedang menyamar menjadi Gus Raka dengan nafas yang naik turun, sepertinya pria itu baru saja berlari.
"Nisa!"
"Mas_!" Nisa tidak tahu harus memanggil apa sekarang pada pria itu.
"Asna, bisa tinggalkan kami berdua!" pinta Leon dan Asna pun segera berdiri.
"Tentu!"
Asna pun menepuk tangan Nisa, seolah sedang memberi kekuatan, jika dia bukan Leon pasti pria itu tidak meminta Asna untuk keluar, karena berdua saja di dalam kamar dengan orang yang bukan muhrim jelas tidak baik dan dapat menyimpulkan fitnah. Dan Gus Raka tahu itu.
Asna pun berjalan meninggalkan Nisa, saat sampai di ambang pintu Leon kembali berucap.
"Tolong tutup kembali pintunya!"
"Baik!"
Asna pun segera keluar dan menutup kembali pintunya, tidak hanya itu ternyata Leon juga menguncinya dari dalam. Ia sudah memasang sensor kunci pada pintu itu, jadi saat pintu tertutup ia bisa mengatur mengunci pintu tanpa menyentuh pintu.
Asna tahu apa yang akan terjadi di dalam, ia pun tidak menunggu hingga mereka keluar, ia memilih untuk meninggalkan rumah Nisa.
Saat akan pergi, ia kembali berpapasan dengan bibi yang tadi,
"Mbak Asna, sendiri? Mbak Nisa nya mana?"
"Lagi ada urusan di dalam, aku pulang dulu ya bi, nanti kalau Nisa tanya bilang aku pulang dulu!"
"Iya mbak!"
Karena tidak membawa motor, Asna pun memilih untuk kembali memesan taksi online.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1