
Pagi ini setelah mendapatkan ijin dari sang istri, lebih tepatnya desakan dari sang istri, Leon pergi menemui gus Raka di Tokonya. Menurutnya memang kalau menemui saudaranya itu, ia lebih nyaman di toko.
Kedatangannya langsung di sambut oelh karyawan toko, semua karyawan toko sudah tahu kalau Leon adalah saudara kembar dari bosnya. Walaupun tidak ada di tempatnya, mereka akan meminta Leon untuk menunggu di dalam saja.
"Mas Raka nya lagi keluar sebentar, mas Leon suruh nunggu di dalam katanya!" kata seorang karyawan pria yang usianya sekitar dua puluh tahunan.
"Baiklah, terimakasih!"
Leon segera memasuki ruangan yang menjadi ruang kerja pria yang telah menjadi saudara kembarnya itu.
Ia mengamati ruang yang begitu rapi dan bersih, di setiap sisi dindingnya hanya di hiasi dengan asma Allah dan kalimat Allah, tidak ada satu pun foto terpajang di sana, padahal kali ini ia ingin melihat bagaimana kecilnya saudara kembarnya itu.
Sepertinya pria kembarannya itu pergi dengan terburu-buru sampai tidak sempaat melipat sajadahnya.
Leon pun menarik sajadah yang masih tergeletak di lantai itu dan segera melipat dan meletakkannya di sofa panjang di ruangan itu, sepertinya sofa itu biasa di gunakan untuk tidur saat siang hari.
Leon pun tertarik untuk duduk di sana dan meletakkan sajadah di atas nakas bersamaan dengan tumpukan beberapa buku, hingga netranya menangkap sebuah buku berwarna biru tua yang ia yakini itu sebuah album foto.
Tangannya begitu tertarik untuk mengambilnya, melihat apa isi foto itu.
saat benda biru itu sudah ada di tangan, Leon perahan-lahan membuka bukanya, di lembar pertama ia langsung mendapati sebuah foto yang sempat ia lihat beberapa hari yang lalu, sepertinya gus raka baru saja meletakkan di sana.
Di halaman-halaman berikutnya, adalah foto masa kecil gus Raka terlihat begitu bahagia dengan keluarga barunya.
Selanjutnya, bahkan masa remaja gus Raka tersimpan begitu rapi di dalam album itu, jika melihat hal itu ia sampai lupa kapan terakhir kali ia berFoto.
Selama ini ia tidak suka berfoto, hanya setelah menikah barulah ia berfoto, itupun atas paksaan dari Nisa.
Saat melihat foto dari saudara kembarnya, ia seperti sedang mengulang memorinya di masa lalu.
Ceklek
Sebuah suara pintu yang sedang di buka mengalihkan tatapannya dari album foto itu, seorang pria yang selalu lengkap dengan peci hitamnya menarik sudut bibirnya saat melihat Leon di sana.
Berbeda dengan Leon, ia merasa terpergoki karena telah melihat-lihat barang pribadi pria yang berdiri di depan pintu itu tanpa ijin,
"Assalamualaikum!" sapa gus Raka dan Leon pun segera menutup album foto itu.
"Waalaikum salam, maaf aku melihat ini tanpa ijin!"
Menanggapi ucapan Leon, gus Raka hanya tersenyum dan mendekat dan duduk di samping Leon,
"Aku suka karena kamu mau melihatnya, setidaknya hanya itu yang aku punya untuk mengenang masa kecil tanpamu, dan di halaman paling belakang sudah aku tutup dengan foto kita, maaf aku tidak ijin padamu untuk itu!"
Leon yang memang belum sampai di halaman terakhir akhirnya terpancing untuk melihat halaman terakhir seperti yang di katakan oleh gus Raka.
Bibirnya tersungging membentuk sebuah senyuman saat sebuah foto terpajang di sana, foto mereka berdua saat melakukan perjalanan menuju ke rumah pak Bejo waktu itu ia bahkan lupa kapan foto itu di ambil.
"Itu adalah moment terindah antara kita berdua!" ucap gus Raka.
"Bagaimana kalau kita ciptakan moment indah lagi sebagai sepasang saudara kembar tanpa siapapun di antara kita?"
Ucapan Leon berhasil membuat gus Raka penasaran, ia sampai mengerutkan keningnya tidak mengerti,
"Maksudnya?"
"Aku akan ikut denganmu ke Bali!" ucap Leon dengan mantap.
"Nisa?"
"Nisa setuju aku pergi, di sini dia begtu banyak yang menyayangi!"
" Kamu yakin?"
Leon dengan mantap menganggukkan kepalanya.
***
Sore ini, Nisa dan Leon siap-siap untu ke rumah mertuanya.
"Mas, barang-barang yang akan di bawa sudah siap semua kan?" tanya Nisa yang masih ragu dengan barang-barang yang akan di bawa sang suami.
__ADS_1
"Sudah sayang, ayo!"
Sebuah mobil sudah siap menjemput mereka. Leon membantu Nisa untu naik ke dalam mobil dan di susul dengan dirinya. Mereka sengaja menggunakan jasa sopir agar bisa menikmati waktunya yang semakin sempit itu.
"Kamu mau ke suatu tempat lebih dulu?" tanya Leon saat mobil mereka sudah mulai berjalan.
Nisa mendongakkan kepalanya, mencoba menggapai wajah pria yang begitu ia cintai itu,
"Bagaimana kalau kita ke taman kota, di sana ada bazar!"
"Baiklah!" Leon pun segera menatap ke depan, menatap pria yang sedang duduk di balik kemudi itu, "Kita ke taman kota dulu!"
"Baik tuan!"
Mobil pun berbalik arah, rumah mertuanya berlawanan dengan arah taman kota. Walaupun tidak terlalu jauh tapi saat kembali ke rumah mertuanya butuh waktu setengah jam dari taman kota.
"Saya akan mengubungi mu lagi nanti setelah selesai!" ucap Leon pada sopir.
"Baik tuan!"
Leon menggandeng tangan Nisa menyusup di antara kerumunan, terlihat sekali Leon tidak terlalu nyaman berada di keramaian seperti ini tapi demi Nisa, Leon pun memilih untuk menahannya.
"Mas, aku mau itu!" Nisa menunjuk pada benda besar lebih mirip seperti kapas berwarna merah jambu yang terbuat dari gula, bahkan Leon tidak tahu itu apa namanya.
"Memang itu enak di makan?"
"Enak mas, itu rasanya manis! namanya arum manis!"
"Benarkah?"
"Iya mas!"
Akhirnya Leon dengan perasaan ragu membelikan dua bungkus untuk sang istri.
"Kita duduk di sana ya!" Leon menunjuk sebuah bangku yang menghadap ke arah sebuah mainan kuda putar.
"Ini, makan semua, nanti kalau kurang aku belikan lagi!"
"Enak?" tanya Leon yang penasaran karena melihat istrinya melahapnya bahkan tanpa mengunyahnya.
"Coba deh mas!" Nisa menyodorkan secuil untuk sang suami. Terlihat leon begitu ragu untuk menerima suapan sang istri, tapi karena sang istri terus memaksa membuatnya tidak bisa mengelak lagi.
"Baiklah, ini kamu yang memaksa ya!" Leon membuka mulutnya untuk menerima suapan dari sang istri.
Sepertinya Leon begitu menikmati, awalnya terlihat kaget karena makanan sebesar itu saat berada di mulutnya hilang dalam sekejap, tapi selanjutnya ia bahkan sampai menghabiskan satu bungkus.
Malam ini mereka benar-benar menghabiskan waktunya seperti anak remaja yang sedang merajut cinta, banyak makanan dan jajanan yang di coba oleh Leon.
"Nanti saat kamu jauh dariku, kamu akan ingat saat ini, mas!"
"Aku bahkan bisa mengingat semua tentangmu sebelum ini, Nisa!"
"Mas!"
"Hmmm!?"
"Jika aku meminta untuk jangan pergi_?"
"Aku tidak akan pergi!"
Entah kenapa rasanya begitu berat untuk melepas kepergian suaminya kali ini. Padahal sebelum-sebelumnya ia tidak seperti ini.
Nisa berhambur memeluk sang suami dan terdiam menikmati aroma tubuh sang suami, mendengarkan detak jantung sang suami,
"Ada apa?" tanya leon lembut.
"Tidak pa pa, hanya ingin menikmati seperti ini saja. Setelah ini kita ke rumah mama!"
Sepertinya langit pun juga mengerti tentang perasaan mereka, air yang sedari tadi sore sudah di tahan oleh langit kini seakan tertumpah begitu saja, mengaburkan air mata Nisa yang sedari tadi ia coba sembunyikan dari sang suami.
***
__ADS_1
"Kenapa sampai malam begini? Hujan-hujanan lagi!" mama Nisa terlihat begitu khawatir di buatnya, ia tergopoh menyambut putri dan menantunya dengan membawa selembar handuk besar. leon segera menerima dan menyelimutkan pada sang istri.
"Kalian mandilah, biar mama buatkan wedang jahe untuk kalian!"
Mereka menuruti apa permintaan sang mama, mandi dan mengganti bajunya.
"Mau berapa lama di sana?" tanya sang mama saat mereka sudah kembali lagi di rumah makan dengan makanan yang sudah tersaji lengkap dengan wedhang jahe.
"Belum tahu ma, mungkin satu minggu! Tidak pa pa kan ma kalau Nisa aku titipkan di sini?"
"Tidak pa pa, mama sama papa lebih tenang kalau Nisa di sini dari pada kamu tinggal sendiri di rumah!"
"Terimakasih ma!"
"Sudah jangan di pikirkan, besok berangkat pagi kan, cepat makan dan istirahat! Biar besok berangkatnya segar!"
Mereka pun hanya saling diam dengan pikirannya masing-masing sambil menikmati makan malamnya.
"Satu minggu lagi acara empat bulanan, kalau waktunya memunginkan pulang ya! ucap sang mama mertua lagi. "Mama sebenarnya sudah merencanakan beberapa minggu lalu, semoga kamu tidak keberatan, atau kamu mau mama undur acaranya?"
"Tidak pa pa ma, Leon akan usahakan untu pulang di hari itu!"
"Baiklah!"
***
Pagi ini Leon dan Gus Raka benar-benar melakukan perjalanan ke Bali.
Sebenarnya Nisa ingin seali mengantarnya sampai e bantara tapi demi kesehatan Nisa, Leon melarangnya.
"Jangan ya, nanti aku akan semakin berat melepasmu!" ucap leon lembut dan mengecup kening Nisa.
"Janji untuk cepat pulang ya, bawakan aku ukiran nama kita di gantungan kunci kakek kamu, anggap itu hadiah untuk pernikahan kita!"
"Insyaallah!"
Leon benar-benar meninggalkan rumah itu, netranya terus menatap spion agar ia bisa melihat sang istri yang sedang melambaikan tangannya. Tidak terasa sebuah cairan bening keluar dari sudut matanya. Di sampingnya kini ada Alex, ia bisa merasakan kesedihan berpisah dengan pasangan, ia sudah melewati itu semua dalam waktu yang tidak singkat rasanya begitu berat.
"Jika ingin menangis, menangislah! Aku tidak akan tertawa karenanya!"
Ucapan Alex berhasil mengalihkan perhatiannya ia tidak menyangka kakak angkatnya itu ternyata memperhatikan dirinya sedari tadi.
Entah seperti magnet atau apa, tiba-tiba tangisnya pecah. Ia benar-benar menangis seperti anak kecil.
"Hentikan dulu pak mobilnya! perintah Alex pada sang sopir.
"Baik tuan!"
Alex membiarkan Leon menumpahkan air matanya, kali ini Leon benar-benar menjelma menjadi pria yang begitu cengeng.
Setelah sepuluh menit akhirnya Leon menghentikan tangisnya,
"Usap air matamu!" Alex menyodorkan sebungkus tisu pada adik angkatnya.
"Mas Alex, kamu pasti muak dengan sikapku barusan?"
"Setiap orang punya titik lemahnya, jangan khawatirkan Nisa, ada aku da semua orang yang menyayangimu. Setelah ini jangan lagi menangis, karena kita para pria adalah tempatnya wanita menumpahkan tangisnya!"
"Terimakasih!" tapi kemudian ia menoleh pada sang kakak, "Tapi jangan katakan pada siapapun kalau aku menangis ya!"
Alex memicingkan matanya, "Masih sempat-sempatnya memikirkan itu!" Alex mengacak rambut Leon persis seperti waktu kecil ia sering melakukan itu pada pria yang sekarang sudah dewasa itu.
Setelahnya, mereka saling tertawa, seperti sedang mengenang masa kecil yang pernah indah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya, kasih vote juga ya, hadiahnya juga, biar tambah semangat nulisnya.
Follow akun ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰