
"Temanku?" Nisa segera buka suara, ia kembali menatap Asna, memperhatikan beberapa luka lebam di tubuhnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada teman saya?" Nisa kali ini sudah mulai merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
"Itu akibatnya jika tidak mau buka mulut tentang apa yang kami tanyakan, mungkin jika kamu tetap keras kepala, aku atau anak buahku akan melakukan hal itu padamu!"
Nisa hanya memicingkan matanya, ia harus hati-hati karena ia sekarang bertanggung jawab atas tiga nyawa sekaligus.
"Sudah bisa memutuskan sekarang?"
Nisa mencoba bersikap tenang, "Apa yang membuat anda yakin kalau suami saya masih hidup?"
Pria bertubuh tambun itu pun menarik sudut bibirnya kembali, suasana begitu mencekam karena mereka di kelilingi oleh orang-orang bertubuh besar lebih dari sepuluh orang, belum yang ada di luar ruangan, mungkin saat ini jumlah mereka lebih dari dua puluh orang.
Kemudian dia merogoh sesuatu dari saku jasnya, sebuah benda kecil di balik saku jasnya. Benda yang pernah di tinggalkan oleh Leon di ruangan big bos itu. Sebuah alat penyadap yang di produksi oleh perusahaan Alex dan Leon.
"Bagaimana menurutmu dengan ini?"
Walaupun sebelumnya ia tidak pernah melihat benda kecil itu tapi diatahu apa nama benda itu. Suaminya pernah mengatakan hal itu padanya,
"Hanya Leon dan Alex yang bisa melakukan semua ini, tidak mungkin ini semua di lakukan oleh pria pesantren seperti kembarang Leon! Sayang sekai, seharusnya aku tidak perlu melakukan semua ini padanya, dia bisa hidup enak, terjamin kalau saja dia mau jadi anak buahku dan meninggalkan Alex!"
"Dan kamu akan melakukanhal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Adi pada suamiku juga?" Nisa memotong ucapan pria itu, ia begitu kesal saat pria itu menginginkan suaminya berkhianat.
Ha ha ha ....
Pria itu malah tersenyum, seakan apa yang di ucapkan oleh Nisa adalah suatu hal yang lucu.
"Jadi kamu kemikirkan pria yang sudah teropsesi padamu tadi?"
Dia tahu?
Nisacukup terkejut karena orang yang duduk di depannya itu bisa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku tahu, pria picik itu hanya memanfaatkan aku, lalu apa salahnya kalau aku juga memanfaatkan dia. Dan sekarang dia sudah tidak memiliki manfaat buat saya, lalu untuk apa saya pertahankan? Menambah beban hidup saja!" pria itu begitu enteng mengatakannya, benar-benar pria yang tidak punya hati.
"Lalu kalau suami saya sudah tidak ada manfaatnya lagi, anda juga akan membuangnya?"
__ADS_1
"Iya, tentu! Aku tidak suka menghidupi orang yang tidak berguna!"
Benar-benar orang yang kejam ...
"Ya sudahlah jangan banyak bicara, sekarang katakan yang sebenarnya apa dia suami kamu?" pria itu mendekatkan layar ponselnya pada Nisa. Ia bisa melihat seoang pria yang memakai seragam ofice boy yang mirip dengan gus Raka. Tapi Nisa bisa yakin kalau itu adalah suaminya.
"Saya tidak tahu dia siapa!"
"Benarkah? Kalau yang ini?" pria itu menggeser layar ponselnya dan menunjukkan wajah seseorang yang sama, sekarang lebih jelas lagi.
belum sampai Nisa sempat menjawabnya, dua orang yang di peritah untuk membuang Adi tadi kini kembali dengan wajah pucat,
"Tuan, ada masalah!"
Pria tambun itu mengalihkan tatapannya dari Nisa menuju ke dua pria itu.
"Ada apa? Pria bodoh itu kabur?"
"Tidak tuan!"
"Lalu?"
"Lalu apa masalahnya?"
"Mobil itu sepertinya mobil Leon, karena mobil yang biasa berada di rumah itu, ini tuan fotonya!" salah satu pria itu mendekat dan menunjukkan foto mobil milik Leon.
Nisa menghela nafas lega sekarang, setidaknya dia sekarang tidak sendiri, mungkin suaminya berada di sekitar tempat itu saat ini.
Wajah pria itu sekarang terlihat tegang sepertinya dia belum mempersiapkan semuanya, ini terlalu cepat. Ia pikir mereka akan datang nanti atau setidaknya besok.
Pria itu menarik sesuatu dari balik jasnya setelah memberi kode pada anak buahnya agar siaga.
Sesuatu yang ia ambil itu adalah sebuah pistol dan dengan cepat ia arahkan ke kepala Nisa,
Di tempat yang tersembunyi dari tempat itu, Leon pun juga melakukan hal yang sama, ia meminta anak buahnya untuk bersiaga. Ia juga sudah menghubungi Alex untuk segera datang.
"Leon, aku tahu kamu di sini! kalau kamu ingin istri kamu selamat, sekarang keluarlah dan menyerah pada kami!" ancam pria bertbuh tambun itu, ia menyodorkan pistolnya hingga Nisa tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, hanya sekali menarik pelatuk saja, sudah bisa di pastikan jika peluru itu akan melesat menembus kepalanya.
__ADS_1
Leon pun segera keluar dari persembunyiannya, dia mengangkat kedua tangannya tinggi dengan sebuah pisol di tangan kirinya. leon bukan penembak yang baik tapi dia pemikir yang baik. Mungkin dia tidak bisa mengalahkan musuhnya dengan pistolnya tapi dia bisa mengalahkan musuhnya dengan otaknya.
pria bertubuh tambun itu tersenyum melihat pria yang sangat ia incar selama ini sudah menyerah tanpa perlawanan,
"Turunan senjatanya!" pinta pria bertubuh tambun itu.
Leon tanpa perlawanan pun menurunkan pinstolnya dan meletakkan benda itu di depan kakinya.
"Sekarang tolong bebaskan Nisa!" pinta Leon, ia berharap Nisa bisa lepas dari tempa itu terlebihb dulu. "Yang kalian mau hanya saya kan? Jadi lepaskan mereka!"
Pria itu tersenyum, senyum yang selalu sama. Senyum congkak ala penjahat, "Menurutmu semudah itu, aku sudah satu kali kamu kelabuhi tidak untuk yang ke dua kalinya, sekarang buka topengmu jika kamu benar-benar Leon!"
Di sini leon bisa menyimpulkan jika sebenarnya pria di depannya itu masih belum yakin kalau dirinya adalah Leon.
"Kamu sepertinya termakan gosip miring, sudah jelas kalau saya ini adalah Raka, kembaran Leon. Kenapa masih meminta saya untuk jadi orang lain?"
"Menurutmu aku akan percaya?"
"Percaya atau tidak itu adalah urusan anda, yang jelas saya sudah menjadi diri saya sendiri!"
"Buktinya apa kalau kamu bukan Leon?"
"Sekarang saya balik bertanya, buktinya apa kalau saya Leon?"
"Kamu menolong wanita ini. Kalau kamu bukan Leon, kenapa repot-repot sampai di sini mempertaruhkan nyawamu demi wanita yang bukan siapa-siapa kamu?"
"Siapa bilang dia bukan siapa-siapa aku, dia adalah istri Leon. Leon saudaraku! Kalau leon bisa mengorbankan nyawanya demi saya, kenapa saya tidak bisa mengorbankan nyawa saya demi dia, orang yang sangat berarti di hidup Leon!"
Pria itub nampak terdiam, dia sepertinya sedang perusaha untuk memperayai ucapan Leon, tapi hatinya masih tidak yakin.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...