Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (12)


__ADS_3

Leon pun duduk di samping Nisa, di sandaran tangan kursi kayu yang di duduki Nisa itu, sedangkan Gus Raka duduk di kursi lainnya di depan mereka.


"Seharusnya jika kalian ingin bertemu denganku, kalian bisa telpon saja, pasti aku akan ke sana!"


"Nisa yang maksa!" jawab Leon sekenanya.


"Iya mas, sebenarnya Nisa mau menanyakan perihal kebenaran tentang berita yang Nisa dengar tentang Asna!"


Gus Raka tampak terkejut, pasalnya ia tidak pernah membicarakan hal itu pada orang lain selain keluarganya,


"Kalian tahu?"


"Mama Asna yang ngasih tahu, mas Raka tidak sedang main-main kan? Asna sahabat Nisa mas! Apa yang menimpa Asna sedikit banyak terjadi karena Nisa!"


Lagi lagi Nisa tidak mampu menahan air matanya, ia benar-benar begitu merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Menurutnya gara-gara dirinya hal itu sampai terjadi, seandainya saja, seandainya saja itu selalu muncul dalam benaknya setiap kali mengingat Asna.


Leon hanya bisa diam dan menenangkan istrinya, mengusap punggung dan sesekali menghapus air matanya, setiap kali istrinya menangis ia tidak pernah meminta istrinya untuk berhenti menangis, ia tahu jika dengan menangis mungkin akan sedikit mengurangi beban rasa bersalahnya.


"Nisa nggak bisa mas liat Asna terus-terusan seperti itu!"


"Nisa pasti sangat buruk di mata Asna sekarang!"


"Dia satu-satunya temen Nisa yang paling baik, Asna juga yang nunjukin sama Nisa kalau selama ini yang sama Nisa itu mas Leon bukan mas Raka."


"Saat Nisa sendiri tidak bisa mengenali suami Nisa, Asna justru tahu!"


Mendengar hal itu, Gus Raka pun segera menyahut,


"Karena selama ini Asna diam-diam memperhatikan saya!"


Nisa berhenti dari tangisnya dan menatak Raka yang menunduk, Nisa yakin jika pria di depannya itu baru saja bicara.


"Maksud mas Raka apa?"


Gus Raka pun mendongakkan kepalanya dan menghela nafas,


"Baiklah, aku akan cerita sedikit ya!"


Gus Raka pun mulai bercerita tentang dirinya dengan Asna.


Awalnya kami sering bertemu tidak terduga, sebenarnya kejadian ini jauh sebelum aku mengenal Nisa.


Kami sempat bertemu di masjid dekat pesantren, saat itu Asna sepertinya baru saja melaksanakan sholat ashar, aku yang duduk di teras masjid setelah melaksanakan sholat tidak sengaja menduduki jaketnya yang ia letakkan begitu saja di bawah tiang.


Asna yang belum aku ketahui namanya itu tiba-tiba mendekatiku, waktu itu kami tidak saling kenal.


"Mas, maaf!"


"Iya ada apa?"


"Bisa nggak bergeser sedikit!"


Tentu aku heran, tempat masih begitu banyak tapi wanita itu malah memintaku bergeser.

__ADS_1


"Ada apa ya?"


"Mas nya mau saya pegang?"


Nihh cewek kenapa ya?


Itu yang ada dalam pikiranku waktu itu.


"Jaketku di belakangnya mas!" baru setelah dia mengatakan hal itu aku baru sadar, dengan cepat aku bangun. Mungkin waktu itu dia masih anak sekolah terlihat dari seragam yang ia kenakan.


"Maaf ya dek, nggak lihat tadi soalnya!"


"Ya mana lihat, wong di duduki!" ucapnya dengan nada sewot dan aku hanya bisa menghela nafas.


Asna segera mengambil jaketnya, aku kira setelah itu sudah tidak ada urusan lagi tapi ternyata tidak. Gadis yang mungkin usianya masih sekitar delapan belas tahun itu kembali berhenti dan berbalik saat sudah menuruni tangga masjid.


"Ada apa lagi?" aku sedikit kesal tapi aku bisa maklum dia masih remaja yang suka labil. Aku yang sudah hampir jadi sarjana seharusnya bisa sedikit bersabar.


Tiba-tiba wajahnya berusaha di manis-manisin.


"Nggak pa pa, boleh minta tolong nggak mas? kayaknya mas orang baik deh!"


Aku begitu malas untuk berdiri tapi ya aku berdiri. Rasanya tidak tega mengabaikan dia.


"Ada apa?"


"Mas, sebenarnya tadi aku sama keluarga berkunjung ke rumah budhe, tapi kayaknya aku lupa jalan pulang ke rumah budhe deh mas, bisa antar aku nggak?"


Hehhhhh


"Ayo!"


"Beneran di antar?"


"Iya! Berapa menit dari rumah budhe kamu ke sini?"


"Tadi lima belas menit soalnya aku pakek ngejar penjual cilot!"


astaghfirullah hal azim .....


Aku hanya bisa beristighfar dalam hati, begitu susahnya berhadapan dengan wanita.


"Tapi masih ingat gangnya kan?"


"Kalau ingat, aku sudah pasti nggak minta tolong mas!"


Aku harus kembali menahan emosiku. Dia benar-benar menguji kesabaran ku yang sedang berpuasa sunnah ini. Andai dia adik atau setidaknya mahram aku sudah pasti aku unyel-unyel kepalanya yang tertutup jilbab segi empat itu.


Akhirnya kami berjalan bersama seolah-olah seperti adik dan kakak, seperti dua orang yang saling kenal. Kami mengobrol sana sini tanpa arah dan tentu tanpa faedah.


Hingga akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah, yang seharusnya tadi tidak perlu puter sana sini, tinggal lurus gang dan belok kanan sudah sampai rumahnya, jaraknya hanya beberapa meter saja dari masjid tapi kami harus berjalan ratusan meter gara-gara dia lupa jalan aslinya.


"Ya maaf mas, sudah aku bilang kan tadi, aku nggak maksud mau ke masjid, aku tadi ngejar tukang cilok. Eh denger azan ya sekalian mampir sholat kan kata ustadz nggak boleh nunda-nunda sholat!"

__ADS_1


Aku lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, menahan amarah yang ingin aku luapkan tapi tidak bisa.


"Ya sudah lah sana masuk, assalamualaikum!" aku berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu.


"Waalaikum salam, mas namaku Asna, nama mas ganteng siapa?"


Sempet-sempetnya dia .....


Tanpa berbalik aku melambaikan tanganku, tapi aku juga tidak tega untuk tidak menjawabnya.


"Raka!" jawabku singkat sambil berlalu, dari jendela kaca rumah depan aku bisa melihat bayangan gadis itu sedang berjingkrak kesenengan. Sungguh lucu ....


Itu adalah pertemuan pertamaku dengan gadis bernama Asna.


Tidak ada rencana apapun setelah itu, atau aku memikirkan gadis itu hingga saat aku mengirimkan lamaran pada Nisa aku baru sadar ternyata gadis yang bernama Asna itu sekarang juga sudah tumbuh dewasa.


Beberapa kali kami tidak sengaja di pertemukan saat aku harus menemui Nisa, aku bahkan lebih dulu meminta nomor telpon Asna untuk menanyakan banyak hal tentang Nisa.


Asna tidak mengatakan apapun padaku, dia hanya mengatakan beberapa yang ia ketahui tentang Nisa yang sifatnya umum.


Saat Nisa menikah barulah Asna mengirimkan pesan padaku, dia mengutarakan perasaannya padaku yang ternyata sudah di pendam semenjak lama, tepatnya saat pertemuan pertama kita.


//Assalamualaikum mas Raka, maaf jika Asna masih mengirimkan pesan sama mas Raka. Tapi ini bukan tentang Nisa mas, ini tentang aku. Pasti mas Raka bertanya-tanya, tapi Asna tahu mas Raka sangat tahu apa yang Asna rasakan selama ini, makanya Asna tidak berani dekat dengan mas Raka karena mas Raka memilih Nisa. Tapi Nisa sekarang sudah menikah dengan saudara mas Raka, semoga mas Raka di beri kesabaran.//


Setelah pesan panjang lebar itu, Asan kembali mengirimkan pesan.


//Boleh nggak mas Asna jujur sesuatu?//


Aku pun begitu penasaran, walaupun tahu apa yang akan di bicarakan oleh gadis ini.


//Waalaikum salam Asna, terimakasih ya atas doanya, tapi insyaallah aku tidak pa pa, jodoh itu rahasia Allah. Aku sebagai hambanya hanya sedang berusaha, tapi jika Allah berkata lain, aku bisa apa?. Asna boleh kok berkata jujur, mas lebih suka kalau Asna mau jujur//


Aku pun segera mengirimkan pesan balasan itu dan pasanku langsung di baca tidak berapa lama kembali aku mendapatkan balasan.


//Mas Raka pasti sudah berpikir buruk ya tentang Asna, sekali lagi Asna minta maaf. Jika ini menurut mas Raka tidak pantas anggak saja Asna tidak pernah mengatakan hal ini sama mas Raka. Sebenarnya Asna sudah lama memendam perasaan sama mas Raka, Asna pikir waktu itu Asna hanya cinta monyet, tapi tetap saja setiap kali aku menyebut nama mas Raka dalam doa Asna. Beberapa waktu kemarin aku berhenti menyebut nama mas Raka karena mungkin mas Raka jodoh Nisa. Tapi kini aku tahu jodoh Nisa orang lain, boleh nggak Asna kembali menyebut nama mas Raka dalam doa Asna?//


Aku terkejut sekaligus bingung harus menjawab apa. Pasalnya baru saja aku bisa melepaskan apa yang menjadi doaku dan sekarang aku mendapat kenyataan bahwa ada orang lain yang menyebutku dalam doanya yang aku bahkan tidak tahu.


Dan lagi_ aku harus segera pergi ke Bali waktu itu. Aku tidak mungkin memberi jawaban sekarang. Aku pun kembali mengirimkan pesan padanya.


//Asna, aku seneng kamu mau jujur. Tapi maaf bukannya aku tidak mau menjawab sekarang. Aku harus pergi dulu ke Bali, kalau kamu sabar aku akan memberi jawaban nanti saat aku kembali//


Lagi_ akhirnya pesanku di baca dan hanya sebentar langsung di balas.


//Baik mas, saya siap untuk menunggu. Apapun nanti keputusan mas Raka, insyaallah Asna ikhlas untuk menerimanya//


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2