
Asna benar-benar ketakutan sekarang, bahkan tubuhnya sampai menggigil ketakutan. Setiap kali ada suara, rasanya begitu teriris. Bayangan kelam itu kembali muncul satu per satu hingga suara ketukan di pintu kamar membuat hatinya lega. Dengan cepat ia melompat dari tempat tidur saat ia yakin jika yang mengucapkan salam saat ini adalah Raka suaminya.
"Waalaikum salam!"
"Kenapa lampunya tidak di nyalakan?"
Asna tidak menjawab lagi, ia segera berhambur memeluk tubuh Gus Raka.
"Dek, maaf tadi mas lupa buat pulang!"
"Aku takut!" gumam Asna lirih dengan punggung yang bergetar.
"Tenang dek, sudah ada mas di sini, tenang ya! Maaf ya tadi mas ninggalin adek terlalu lama!"
Gus Raka pun segera menuntun tubuh Asna dan membawanya duduk ke tempat tidur,
"Duduklah, mas ambil minum dulu ya!" Gus Raka hampir berdiri tapi segera tangannya di tarik oleh Asna.
"Jangan pergi, aku takut!"
"Baiklah!" Gus Raka kembali duduk dan mengusap punggung Asna.
Bagaimana aku bisa mengendalikan ini terlalu lama, Gus Raka tampak bingung bagaimana ia harus bersikap. Dia tetaplah manusia normal, terlalu lama kontak langsung dengan seorang wanita apalagi itu Halal baginya membuatnya membayangkan banyak hal.
"Lain kali aku tidak akan meninggalkan kamu lagi ya!"
"Aku mau tidur!"
"Tidurlah!" Gus Raka membantu Asna untuk merebahkan tubuhnya tapi saat ia berdiri hendak beranjak, tangan Asna lagi-lagi menahan tangannya.
"Jangan pergi, temani aku!"
"Di sini?"
"Iya!"
Gus Raka pikir_ dia akan butuh waktu lama untuk bisa tidur dalam satu ranjang dengan Asna, tapi nyatanya sekarang istrinya sendiri yang memintanya.
Dengan senang hati Gus Raka pun tidur di samping Asna, membuatkan tangannya di gunakan Asna untuk bantal.
"Dek, apa kamu nyaman tidur dengan memakai hijab seperti itu?"
__ADS_1
Asna mendongakkan kepalanya menatap Gus Raka, sebenarnya ia tidak nyaman dengan ini tapi berada dalam satu kamar dengan pria yang menurutnya masih asing membuatnya tidak nyaman membuka hijab. Walaupun ia tidak pernah mengenakan hijab panjang seperti Nisa.
"Aku tidak pa pa!"
"Jika kamu tidak nyaman, buka saja! Lagi pula aku halal bagimu, jadi apapun itu tidak dosa jika aku yang melihatnya, bahkan lebih dari rambutmu!" Gus Raka mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Asna kembali bangun, begitu juga dengan gus Raka. Asna menatap Gus Raka dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa benar tidak pa pa?" Asna terlihat begitu ragu.
"Aku bantu ya!" tangan Gus Raka sudah terulur meraih tali yang ada di belakang kepala Asna karena saat ini Asna sedang mengenakan jilbab bergo yang ada talinya tapi Asna menjauhkan kepalanya.
"Tidak pa pa dek!" Gus Raka kembali meyakinkan Asna. Ia tidak ingin Asna merasa tidak nyaman saat tinggal dengannya.
"Aku buka sendiri!" Asna pun membuka tali belakangnya dan perlahan membuka jilbabnya hingga menampakkan rambut hitam lurus milik Asna juga leher jenjangnya yang putih bersih.
Gus Raka terpaksa menelan Salivanya, tidak bisa di pungkiri jiwa kelelakiannya tiba-tiba bangkit saat melihat pemandangan yang begitu indah di depannya apalagi sudah memiliki cap halal, seandainya saja Asna siap saat ini juga sudah pasti dia akan buka puasa saat ini juga. Dia sudah khatam kitab Qurratul 'Uyun , tinggal prakteknya saja yang belum terlaksana.
Dia sangat cantik ...
"Mas Raka tidak pa pa kan?" tanya Asna saat melihat suaminya hanya diam, ia merasa saat ini suaminya menatap dirinya hampir sama seperti para laki-laki itu menatapnya.
"Hmmm, ti_tidak! kamu mau tidur lagi?"
"Maaf ya! Tidurlah!"
Asna pun kembali merebahkan tubuhnya, seperti tadi Gus Raka menjadikan lengannya sebagai bantalan bagi Asna, walaupun tidak meminta tapi ia tahu pasti Asna akan lebih nyaman jika seperti itu.
Kini Gus Raka bisa mencium aroma sampo yang keluar dari rambut Asna, begitu wangi hingga ia enggan untuk menjauhkan hidungnya.
Hingga akhirnya mereka sama-sama terlelap dengan saling memeluk, Gus Raka adalah orang yang mudah tidur hal itu karena aktifitasnya yang cukup padat di siang hari. Dan saat pulang ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk tidur.
Hingga suara azan membangunkan Gus Raka, sebenarnya matanya masih enggan terbuka karena ia merasa begitu nyaman dengan guling barunya.
Guling?
Dengan cepat mata Gus Raka mengerjap, saat mata terbuka ia langsung di suguhi dengan pemandangan yang begitu indah, wajah cantik istrinya yang begitu dekat dengan wajahnya hingga ia bisa merasakan hembusan nafas dari Asna yang mengenai lehernya.
Saat ini tangannya sedang memeluk erat tubuh Asna, saat melihat wanita itu belum bangun ia pun semakin mengeratkan pelukannya.
Begini ya rasanya di peluk istri ..., kemudian mata Gus Raka tertuju pada bagian bawah tubuhnya, ia merasa ada sesuatu yang menimpa tubuh bawahnya dan benar saja ternyata kaki Asna tepat mengenai senjatanya, Asna yang memakai dress hingga membuat dresnya tersingkap hingga atas lutut.
__ADS_1
Astagfirullah...
Gus Raka bisa melihat kaki mulus Asna saat ini, tangannya ingin sekali menyentuh tapi segera ia urungkan saat merasakan senjatanya berdiri karena nya.
Merasa ada pergerakan dari Asna, Gus Raka pun pura-pura kembali menutup matanya dan membiarkan Asna dalam posisi memeluknya.
Mata Asna perlahan terbuka saat merasakan ada benda keras yang berdiri dan mengenai kakinya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kakinya sendiri berada di atas tubuh suaminya.
"Astaghfirullah!" dengan cepat Asna menarik kakinya dan memperhatikan benda keras itu, "Itu berdiri?"
Asna menoleh pada wajah tampan yang sedang terpejam di sampingnya, "Bisa dia tidur dalam keadaan seperti itu!?"
Gus Raka pun perlahan membuka matanya, Asna sedikit menjauhkan tubuhnya dengan menarik selimutnya hingga sebatas leher.
"Dek sudah bangun?"
"Mas, bisa nggak itu di tutup?!" Asna menunjuk pada bagian bawah tubuh Gus Raka, Gus Raka pun tersenyum.
"Jangan dek, nggak pa pa! Kalau kamu mau lihat mas akan tunjukkan."
"Mas, jangan macam-macam ya!" wajah Asna sekarang sudah mulai panik.
Gus Raka pun bangun dan turun dari tempat tidur, "Becanda dek, mas akan minta saat adek sudah siap! Mas mandi dulu ya, sudah telat soalnya mau sholat ke masjid!"
Asna menatap punggung suaminya yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi dengan tatapan tidak percaya. Yang membuatnya tidak percaya, ia sama sekali tidak histeris meskipun di sentuh oleh Gus Raka. Padahal sebelumnya hanya melihat seorang pria saja sudah menimbulkan efek jelek untuknya.
"Apa iya traumaku sudah hilang? Tapi kalau iya, kenapa hanya pada mas Raka? Bahkan aku melihat hal itu, tapi aku merasa tidak takut sama sekali!"
Asna mencoba untuk mencerna apa yang terjadi dengannya belakangan ini, dua hari bersama dengan Gus Raka membuatnya merasa sedikit ada perubahan.
"Dan semalam aku memeluk mas Raka? Dengan posisi tadi!" Asna kembali membayangkan posisi terakhirnya tadi.
"Ahhhh, itu begitu memalukan!" ia merasa malu sendiri dengan apa yang ia lakukan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰