
Tidak berapa lama pemuda lengkap dengan sarung dan peci sudah berdiri di depan rumah Asna dan Gus Raka.
Pemuda ini adalah salah satu anak pesantren yang kemudian mengabdikan diri di pesantren sampai dia berumah tangga nanti.
"Assalamualaikum Gus!"
"Waalaikum salam, cepat sekali Lal?"
"Iya Gus, takut Gus Raka nunggunya lama! Gus Raka yakin mau ke masjid? Nggak di rumah saja dulu?"
"Nggak pa pa, lagi pula aku masih bisa berdiri!"
"Baiklah, kalau begitu saya pamit sama mbak Asna dulu ya, Gus!"
"Nggak perlu, dia lagi sibuk sama putrinya!"
"Oh!"
"Sudah ayo berangkat saja!" sebenarnya Bilal terlihat tidak nyama jika tidak berpamitan kepada pemilik suami, karena memang keadaan Raka yang tidak sama dan baru saja pulang dari rumah sakit.
Bilal pun membantu Raka untuk naik ke atas motornya, dengan pelan ia mulai melajukan motornya. Sesekali ia melihat Gus Raka dari spion depan motornya, ingin tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pria yang sedari tadi memegangi ponselnya dan tidak berniat untuk menyakukannya ke dalam saku baju Koko nya.
Apa Gus Raka ada masalah ya sama mbak Asna? Galau banget ....
Bilal terus membatin tanpa berani bertanya pada Gus Raka hingga mereka sampai di masjid dekat dengan pesantren. Kedatangan Raka tentu menjadi pusat perhatian apalagi dengan keadaannya sekarang, beberapa pengurus pesantren datang menghampirinya dan menanyakan kabar tentangnya.
"Alhamdulillah saya sudah baik, hanya tinggal kaki ini yang masih sulit di gerakkan!"
"Kalau belum sehat benar, kenapa harus memaksakan diri Gus, di rumah saja Allah pasti juga maklum!" salah satu pengurus pesantren dengan wajah lebih muda dari abinya itu berusaha untuk menasehati.
"Nanti saya malah jadi manja, ustad!"
Tidak berapa lama, salah satu Satri mulai mendekati mikrofon dan mengumandangkan azan membuat beberapa orang yang berkumpul kini mulai mencari tempat begitupun dengan Gus Raka, ia sengaja mencari tempat yang dekat dengan Bilal.
Seusai sholat magrib Raka sengaja menunggu di masjid bersama dengan Bilal, sedangkan Abi nya harus pulang sebentar karena ada tamu.
Gus Raka tampak mulai memainkan ponselnya, ia kembali membuka sandi ponsel itu, tapi tetap saja tidak bisa.
"Kok bisa lupa ya?" gumamnya hingga beberapa kali ia mencoba.
"Ada apa Gus? Kon kayaknya bingung sekali?" Bilal baru saja dari dalam ikut duduk bersama dengan Raka.
"Ini, aku lupa sandi ponselku?"
"Oh itu, gampang Gus! Mbak Asna pasti tahu!"
"Dia kalau ngasih tahu ngaco!"
"Ngaconya gimana? Masak mbak Asna ngaco?"
__ADS_1
"Dia bilang sandinya tanggal pernikahan kita!"
"Ya kalau gitu benar!"
"Apanya yang benar?"
"Mbak Asna bilang yang sebenarnya, berarti memang hari pernikahan mas Raka sama mbak Asna!"
Raka terdiam, ia masih tidak bisa percaya karena ia tidak bisa mengingat apapun.
"Sudah gini aja Gus, coba satu tanggal di bulan Juli!"
"Memang kenapa di bulan Juli!"
"Ingat saja, dia tahun lalu di bulan Juli!"
"Du_a puluh, dua puluh enam!"
"Ya udah sekarang coba dua enam nol tujuh dua nol dua nol!"
Raka tampak memencet nomor itu sesuai dengan apa yang di minta oleh Bilal.
"Bisa ternyata!"
"Benarkan, secara alam bawah sadar Gus Raka nih ingat!"
"Ingat apanya?"
Raka kembali terdiam, ia berusaha untuk tidak mempercayainya tapi kenyataannya memang seperti itu. Dia mengingat tanggal itu.
Ini tidak mungkin ....
Selepas sholat isya', Bilal kembali mengantarkan Raka ke rumahnya lagi. Pria itu masih terus memikirkan apa yang di katakan oleh Bilal tadi, ia terus berusaha untuk mengingatnya tapi tidak bisa.
"Gus, saya pulang dulu ya!" suara Bilal membuatnya sadar, Raka segera berbalik dan ternyata Bilal masih berdiri di samping motornya dan memperhatikannya.
"Ah iya Lal, nggak mampir dulu?"
"Terimakasih lain kali saja, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bilal kembali menaiki motornya dan mengendarainya meninggalkan rumah Raka dan Asna.
Raka masih terdiam di tempatnya, Setalah Bilal tidak terlihat lagi barulah Raka masuk ke dalam rumah. Melihat Asna dan Shahia sedang bermain di ruang tv, Raka hanya melihat mereka sebentar lalu mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, mas! Sudah pulang? Mau aku buatin kopi atau apa gitu?"
__ADS_1
"Nggak usah aku langsung ke kamar saja!" Raka berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kamar sedangkan Asna menatap aneh pada suaminya.
"Ada apa dengan mas Raka? Aneh!" Asna terus menatap pintu yang sudah kembali tertutup.
Raka yang sudah masuk ke dalam kamar segera melepas pecinya dan duduk di tepi tempat tidur, pikirannya masih sama. Ia berusaha mengulang ingatannya tapi tetap saja tidak bisa hingga ia memegangi kepalanya yang semakin merasa pusing.
"Ahhhhhhh!"
Asna yang mendengar teriakan Raka dari dalam kamarnya segera berlari meninggalkan Shahia sendiri dan menghampiri Raka di kamarnya.
"Mas kenapa?" Asna sudah mendapati Raka yang tergeletak di lantai sambil memegangi kepalanya, Raka mengerang kesakitan.
Asna menarik tangan Raka hingga membuat Raka kembali duduk,
"Mas apa yang terjadi? Sadarlah! Sadar mas, ini Asna!" Asna terus menggoyang tubuh Raka, bahkan kini air mata Asna sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Mas kalau nggak ingat, nggak usah di paksakan!"
"Istighfar mas, istighfar!"
Perlahan Raka mulai tenang dan bibirnya terus beristigfar,
"Mas, kamu tidak pa pa?" setelah sekian lama Raka terdiam, Asna kembali bertanya.
"Astaghfirullah hal azim!" Raka segera menjauhkan tubuhnya dari Asna karena kini mereka begitu dekat bahkan mereka hampir berpelukan.
"Mas ada apa?" Asna yang juga terkejut ikut menjauhkan tubuhnya.
"Kenapa dekat-dekat?"
"Astaghfirullah mas!" Asna begitu kesal dan berdiri, berkacak pinggang menatap tajam pada suaminya, "Asna sudah khawatir banget tadi dan sekarang mas malah mempermasalahkan posisi kita yang begitu dekat, kalau Asna mau, Asna bisa tuh cium mas Raka sekarang, nggak akan ada yang marah!"
Raka seketika langsung berdiri, "Awas ya kalau kamu berani, selama aku belum yakin kamu istriku, jangan berani-berani ya pegang apalagi cium aku!"
"Memang kenapa, Asna berani!" Asna langsung memajukan tubuhnya bibirnya juga sudah manyun ke depan siap untuk mencium sang suami membuat Raka harus memundurkan tubuhnya.
"Awas ya, aku nggak main-main loh!"
"Aku juga!"
Bersambung
Maaf ya untuk keterlambatan up beberapa hari ini, maklum kalau di desa lebarannya Sampek satu Minggu, jadi baru hari ini bisa nulis lagi, semoga ini bisa mengobati rindunya sama mas Raka dan mbak Asna ya, salam sayang dariku
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...