Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa 4)


__ADS_3

...Senja itu begitu indah, tapi di balik senja ada matahari yang di korbankan untuk segera tenggelam, dan akan datang setelahnya langit yang gelap. Seperti itu juga kebahagiaan, ada saat nya kita bahagian tapi sesuai dengan porsinya karena tidak ada bahagia yang hanya benar-benar bahagia...


...๐ŸŒบSelamat membaca๐ŸŒบ...


Pagi ini Leon sudah begitu rapi dengan kemeja dan jasnya, sedari tadi ponselnya tidak hentinya berdering. Bahkan ponsel itu dari kemarin terus saja berdering, dua hari ini begitu sibuk. Ia harus mempersiapkan dengan benar semuanya, mungkin hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.


Perjuangannya untuk mencari bukti-bukti yang meringankan hukuman Alex akhirnya di setujui oleh hakim pengadilan.


Dan hati ini sidang terakhir setelah empat tahun berlalu dan Alex bisa bebas tanpa syarat apapun.


Leon memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga rumah yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Sudah terlalu lama ia menempati tempat itu dan penghuni aslinya sebentar lagi akan pulang.


Bahkan ia sampai mengabaikan rumahnya sendiri, walaupun tidak terlalu besar dan pastinya tidak sebesar rumah yang sekarang dia tempati, tetap saja rumahnya itu adalah kebanggaannya. Ia mendapat rumah itu, kado dari nenek Widya.


Di ujung tangga sudah ada dua orang yang menantinya dengan beberapa berkas di tangannya.


"Selamat pagi pak Leon!" sapa salah satu dari mereka.


"Selamat pagi pak Ryan, bagaimana semua persiapannya?"


"Beres pak Leon, kita tinggal mengajukannya dan keputusannya sudah final!"


"Bagus!"


Terpancar kelegaan di hati Leon, akhirnya yang di tunggu-tunggu benar-benar tiba dan semua yang di perjuangkan membuahkan hasil meskipun terlambat.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Mobil yang mereka tumpangi kini sudah terparkir di depan gedung pengadilan, Leon keluar bersama dengan beberapa orang yang sudah dia persiapkan untuk hari ini.


Langkah kakinya begitu pasti memasuki gedung itu, tapi dia hanya akan menunggu di ruang tunggu tanpa masuk ke dalam ruang pengadilan.


Di ruangan itu akan ada Alex juga, dia akan di teman oleh beberapa orang atas permintaan Leon.


"Kalian tahu kan apa yang harus di lakukan?" tanya Leon memastikan, ia hanya memonitor ruang pengadilan dari ruang monitoring.


"Tahu pak!"


"Pastikan pak Alex tidak tahu jika saya di balik semua ini!"


"Kami usahakan pak!"


"Terimakasih!"


karena permintaan Alex yang tidak mau membuat repot Leon, akhirnya Leon pun memilih untuk pura-pura tidak tahu dengan kebebasan Alex.


Saat orang-orang dan beberapa lainnya masuk ke ruangan, Leon bisa melihat dari ruang monitoring, ia juga bisa melihat Alex dari sana.


"Selamat mas!" gumamnya saat sidang berjalan dan setelah perdebatan yang tidak membutuhkan waktu lama itu di menangkan oleh pihak mereka dan di pastikan jika Alex bisa bebas esok hari.


Bibir Leon tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya, sudut bibirnya terus melengkung naik.


"Semoga ini jadi awal yang baik buat mas Alex!"


Bahkan sudut matanya tampak berair. Sesekali tangannya mengusap agar tidak sampai menetes.


"Selamat ya pak Leon!" ucap seseorang yang juga berada di ruangan itu, sepertinya dia adalah operator cctv ruang pengadilan.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Di tempat lain, gadis dengan hijab panjang sepunggung dengan baju syar'i senada dengan warna hijabnya itu sedang berjalan begitu lesu menyusuri lorong rumah sakit.

__ADS_1


Waktu rasanya berjalan begitu cepat hingga ia tidak mampu untuk menghentikannya atau sekedar melambatkannya agar seseorang bisa tetap memperjuangkannya.


Hehhh


Lagi-lagi hanya helaan nafas halus itu yang mengiringi langkahnya, sehalus langkah kakinya yang semakin lama semakin melambat dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di sebuah balkon rumah sakit. Di ruangan yang tinggi ini ia bisa merasakan hembusan angin yang bebas menerpa jilbabnya.


Tangannya meregang, ia ingin merasakan udara bebas yang mungkin sebentar lagi tidak akan dia dapat karena ada seseorang yang hatinya harus ia jaga.


"Angin, sepertinya kamu lebih tahu apa yang aku rasakan saat ini, bisakah semuanya berubah seperti yang aku inginkan?" keluhnya pada angin yang perlahan menelisik masuk ke pori-pori kulitnya.


"Hati, kuatlah agar aku juga kuat untuk menerima takdir-Nya! jika memang bukan dia, maka orang lain pasti sudah Allah siapkan untuk menggantikannya!"


Gadis itu terus saja membuatkan dirinya sendiri dengan kata-kata nya.


"Dasar bodoh!"


Ucapan seseorang seketika membuat gadis itu mencari-cari sumber suara.


"Kak Reza di mana?"


Dan seseorang dengan masih memakai jas putih dan stetoskop yang tergantung di leher keluar dari balik pilar yang ada di sebelah gadis itu.


"Kakak!"


Dokter Reza pun berdiri di samping adik perempuannya dan mengusap puncak kepalanya yang tertutup oleh hijab.


"Galau sekali!?"


Nisa mendongakkan kepalanya, berusaha menunjukkan kalau dia sedang baik-baik saja.


"Memang dengan tersenyum bisa mengurangi kadar kesedihan? Ada-ada aja!!"


"Kak Reza sok tahu nihhh!"


Nisa lagi-lagi tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, ke langit yang terbentang berwarna orange, langit senja yang sering di nanti.


"Karena Nisa nggak punya pilihan lain, kak!"


"Yakin?"


"Hmmm!" ucap Nisa sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kalau keputusanmu ini salah?"


"Aku tidak punya kepastian kak, aku tidak tahu harus menunggu sampai kapan? Bahkan seseorang yang aku tunggu juga tidak tahu kapan akan melamarku!"


"Jika kakak bilang sekarang waktunya, bagaimana?"


"Maksudnya?"


"Kamu serius tidak pembaca berita?"


"Apa?"


Dokter Reza pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya dan membuka laman berita hari ini, berita yang ada di laman depan semua berita.


"Lihat ini, dan baca dengan benar-benar!" ucap dokter Reza sambil menyerahkan ponselnya pada Nisa.


Nisa pun mengerutkan keningnya, walaupun begitu ia tetap menerimanya ponsel dokter Reza dan mulai membacanya.


Beberapa ekspresi keluar dari wajah Nisa, ia bahkan sampai duduk di kursi panjang yang ada di sebelahnya agar bisa lebih konsentrasi dengan apa yang ia baca.

__ADS_1


"Kak, ini benar?"


"Menurutmu? Memang berita hoak sampai sebanyak itu beritanya? Ya nggak lah!"


Wajah Nisa tampak berbinar, tapi saat ingin menyerahkan kembali ponsel kakaknya tiba-tiba wajahnya kembali berubah muram,


"Tapi kak!"


"Ada apa lagi?"


Nisa pun mengeluarkan ponselnya dan tidak ada satu pun panggilan atau pesan untuknya dari pria yang sedang ia nanti.


"Apa mas Leon berpikir yang sama denganku?"


"Kamu ragu?" tanya dokter Reza dan Nisa pun menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Mungkin mas Leon mengira kalau aku sudah menerima lamaran seseorang!"


"Kalau begitu, hubungi dia!"


"Kak Reza yakin?"


"Kalau kamu yakin sama dia, kenapa tidak!?" ucapnya lalu berdiri dari duduknya dan mengusap bahu Nisa, "Aku pergi dulu, kalau kamu yakin cepat hubungi dia!"


Dokter Reza pun meninggalkan Nisa sendiri, Nisa masih terlihat ragu untuk melakukannya. Beberapa kali ia hanya terus memperhatikan kontak nomor Leon dan beberapa kali juga ia mengurungkan niatnya.


Tapi di saat yang sama, tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuat Nisa terkejut di buatnya.


"Mas Leon!?"


Nisa pun dengan cepat menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum mas Leon!" jawab Nisa dengan cepat.


"Waalaikum salam, cepat sekali jawabnya!"


Tiba-tiba pipinya terasa panas, wajah Nisa memerah karena malu, terlihat sekali jika dia sedang menunggu telpon itu.


Karena Nisa diam, Leon pun melanjutkan ucapannya, "Sudah membaca berita hari ini?" tanya Leon kemudian.


"Selamat ya mas Leon, Nisa ikut seneng!"


"Terimakasih, apa itu tandanya aku masih punya kesempatan?"


Nisa tersenyum, apa yang sempat ia pikirkan tadi ternyata salah, "Insyaallah, mungkin Allah masih ingin melihat perjuangan mas Leon!"


"Maaf ya, sudah terlalu lama menunggu, insyaallah jika semuanya sudah beres, aku akan segera menemui orang tuamu!"


"Nisa tunggu mas!"


"Aku hanya ingin mengabarkan itu saja, doakan semuanya lancar, assalamualaikum!"


Sebenarnya masih ingin bicara banyak dengan pria itu tapi sepertinya harus berakhir dulu,


"Waalaikum salam!"


Nisa pun terpaksa mengakhiri panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku gaun syar'i nya.


Bersambung

__ADS_1


...Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, sepertinya itu bukan hanya sekedar pepatah saja. Seseorang yang tidak mau gagal, maka tidak akan pernah mendapatkan keberhasilan yang sebenarnya. Dunia ini bukan tempatnya orang untuk bersenang-senang, karena dunia itu tempatnya orang mencari jati diri...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


__ADS_2