
Mereka berjalan beriringan menuju ke rumah ruang tamu, Nisa yang baru saja selesai membersihkan diri hendak ke dapur langkahnya harus terhenti saat mendapat tamu di rumahnya.
"Siapa bi tamunya?" tanyanya pada asisten rumah tangga yang kebetulan lewat setelah mengantarkan minuman untuk tamunya.
"Tuan Alex, Bu!"
"Pak Alex?" Nisa tampak terkejut, tidak biasanya Alex datang tanpa memberitahu atau tanpa keluarganya. Biasanya dia akan berkunjung bersama keluarga kecilnya juga. Tapi kali ini sendiri.
"Iya Bu!"
"Ya sudah, terimakasih ya bi!"
Nisa mengurungkan niatnya untuk ke dapur, ia memilih menuju ke ruang. tamu.
Ada apa pak Alex datang ke sini? tanpa memberitahu lagi? Atau urusannya sama mas Raka?
Nisa tidak mau terus menduga-duga, ia ingin segera tahu. Walaupun tidak di minta, ia pun segera menyusul mereka.
"Pak Alex!"
Melihat kedatangan Nisa, dua orang pria itu segera menoleh pada Nisa.
"Nis, maaf ya saya datang tanpa memberitahu!"
"Tidak apa-apa pak, apa ada masalah?"
"Tidak, hanya ingin mengobrol dengan Raka saja!"
"Ohhh, maaf kalau saya menggangu, kalau begitu saya kedalam lagi saja!"
"Nggak pa pa di sini saja, ini bukan hal yang penting!"
"Baiklah!"
Karena sudah mendapatkan persetujuan dari tamunya, Nisa pun akhirnya ikut bergabung.
"Ada apa ya mas Alex?" tanya Gus Raka, pria itu bersikap tenang kembali.
"Saya hanya ingin menanyakan tentang pria yang bernama Adi!"
"Adi?" Nisa yang sempat mengenal pria itu sedikit terkejut, pasalnya setelah kepergian Leon saat itu aid juga tidak kembali ke rumahnya, padahal saat itu Adi adalah pria yang di tunjuk Leon untuk menjadi sopir pribadi Nisa jika Leon tidak bisa mengantarnya.
"Kamu juga mengenalnya?" tanya Alex yang segera menoleh ke arah Nisa.
"Iya, dia sopir kami!" ucap Nisa yakin.
Gus Raka masih tetap diam, menyanggah atau mengiyakan. Ia harus kemana pria itu pergi tapi ia juga tahu di dalam rumah ini masih ada teman pria yang bernama Adi yang harus ia selidiki.
"Biarlah ini saya yang urus mas Alex, kalau bisa kita bicarakan hal ini di kantor mas Alex, karena kita tidak tahu orang seperti apa yang sedang kita hadapi saat ini!"
Alex mengerutkan keningnya, pria di depannya itu mengingatkannya pada seseorang. Sikap tenangnya membuatnya berpikir sesuatu yang mungkin mustahil.
Aku tidak mau berharap terlalu banyak ....
Alex segera menepis pemikirannya sendiri.
"Sebenarnya ingin bertanya banyak tentang detail kejadian waktu itu_!" Alex terlihat menoleh ke wanita dengan perut yang sudah terlihat besar itu, ia enggan untuk melanjutkannya karena sudah pasti itu menyisakan pengalaman yang menyedihkan untuk wanita itu. "Nanti saja, kita bisa bicara di kantor!"
"Baik mas!"
"Ya sudah kalau begitu saya permisi, sudah sore, anak-anak sudah nunggu!"
__ADS_1
"Biar saya antar!" Gus Raka mengikuti Alex berjalan ke luar, ia bahkan sampai membukakan pintu untuk Alex.
"Mas!"
"Hehh?" Alex menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil, mereka berdua saling memegang pintu mobil yang sama. "Apa ada masalah?"
"Tolong perketat penjagaan atas mbak Aisyah dan anak-anak!"
Alex mengerutkan keningnya, ia tahu pria di depannya itu tahu sesuatu tapi pria itu tanpa mengedipkan matanya agar tidak bertanya terlalu banyak.
"Aku pulang dulu!" Gus Raka hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan pria itu masuk ke dalam mobilnya.
Saat Gus Raka masuk, Nisa sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin Nisa langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Gus Raka pun memilih untuk langsung menuju ke ruangan bawah, ruangan itu sebenarnya jadi satu dengan rumah utama hanya saja, jika di lihat dari depan dan samping kiri kanan rumah itu hanya memiliki dua lantai tapi jika di lihat dari belakang rumah itu memiliki tiga lantai, tapi jarang ada yang melihat dari belakang karena di belakang rumah itu di kelilingi oleh tembok tinggi hingga mencapai lantai dua dan depan lantai dua bagian belakang, atasnya ada semacam balkon yang menutup seluruh pelataran bawah jadi tidak akan ada yang menyangka kalau di bawah ada ruangan lagi. Ruangan itu terhubung pada ruangan kecil yang ada di samping dapur, ruangan yang tertutup dengan cermin besar, sehingga orang baru tidak akan ada yang mengira kalau itu adalah pintu masuk.
Sesampai di kamarnya, Gus Raka segera merebahkan tubuhnya, memikirkan rencana selanjutnya. Ia segera menghubungi seseorang untuk melanjutkan aksinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kamu harus bergabungun di wilayah mereka!"
"Apa itu tidak akan berbahaya?"
"Tidak, tidak akan ada yang mengenalimu, besok ada kurir yang akan mengantar seragam cleaning servis untukmu!"
"Jangan di antar ke rumah! Ke toko saja, aku rasa di sana lebih aman!"
"Baiklah, besok kamu sudah bisa mulai bekerja!"
"Iya!"
"Sangat berbahaya membiarkan Nisa tetap tinggal di sini tanpa ada yang mengawasinya!"
Gus Raka kembali bangun, ia harus mulai memikirkan sesuatu sebelum ia bekerja besok.
"Bekerja sepanjang hari juga tidak baik untuknya! Aku harus apa sekarang?"
Gus Raka pun memilih untuk menuju ke kamar mandi, ia harus menguyur tubuhnya agar pikirannya kembali jernih.
***
Di tempat lain, seorang pria yang bernama Adi itu sudah kembali menghadap pria berkumis tebal bersama seorang temannya.
"Bagaimana? Apa ada informasi baru?"
Pria yang bersama Adi itu tampak gugup,
"Jawablah!" perintah Adi, ia mau membuat bos besarnya marah.
"Kamu yakin itu bukan Leon?" tanya pria dengan kumis tebal itu.
"Iya tuan, pria itu benar kembarannya yang selamat, dia bahkan tidak tinggal di rumah utama tuan! Bahkan tuan Alex pun tahu kalau itu bukan Leon!"
"Bagus, jadi pria itu benar-benar sudah mati?"
"Iya tuan, mereka beberapa waktu lalu juga datang ke kuburannya!"
Pria itu tertawa setelah mendengar kabar gembira itu,
"Seharusnya kamu kembali ke sana!" pria itu menunjuk pada Adi.
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi kembaran Leon sudah mengenali saya!"
"Lalu apa gunanya kamu di sini? Hahhh?"
"Saya bisa menjadi orang kepercayaan anda tuan, biarkan saya bekerja di perusahaan tuan, saya janji saya akan berkerja dengan baik!"
"Memang kamu bisa apa?"
"Saya bisa jadi pengawal pribadi untuk tuan!"
"Baiklah, kalau begitu kamu jadi pengawal ku selama satu bulan jika kamu tidak bekerja dengan baik saya akan kemecatmu!"
"Baik tuan, saya pasti bekerja dengan baik, saya tidak mungkin kembali ke rumah itu, biarkan adik saya ini yang di sana!"
"Terserah kalian!"
Setelah mandi dan menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, Gus Raka pun kembali ke atas untuk melihat keadaan Nisa.
Ia melihat Nisa sedang duduk ruang makan, menikmati makan malamnya. Sebenarnya hendak berdiri saat melihat Gus Raka, tapi Gus Raka segera mencegahnya.
"Bisakah kita bicara sebentar?" pertanyaan dari Gus Raka membuat Nisa mengurungkan niatnya untuk beranjak dari duduknya.
Gus Raka pun ikut duduk, mereka saling berhadapan dengan di pisahkan sebuah meja. Makanan juga sudah tersaji di sana.
"Bisakah aku mengantar dan menjemputmu saat kerja?"
Nisa menatap Gus Raka sejenak, lalu kembali lagi menunduk,
"Mas Raka tidak perlu melakukan itu, aku bisa berangkat dan pulang sendiri!"
"Aku di sini buat jagain kamu, aku mohon, kalau kamu keberatan untuk duduk di depan sama aku, kamu bisa duduk di belakang, tidak pa pa, tapi saya mohon jangan berangkat dan pulang sendiri!"
Walaupun sebenarnya enggan untuk mengiyakan tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, memang Gus Raka di rumahnya untuk menjaganya. Jika ia tidak bisa berdamai dengan perasaannya, bisa-bisa ia tidak akan bisa iklas dengan semuanya.
"Baiklah saya setuju!"
"Dan lagi, kalau aku belum jemput jangan pulang dulu ya, tetaplah di rumah sakit!"
Nisa kali ini menatap pria di depannya, ia seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kenapa kamu pulang sebelum aku jemput?" tanya Gus Raka lagi. Sepetinya pertanyaan itu bukan untuk menanyakan hal yang sekarang.
"Kenapa harus di jemput?"
"Karena kamu sudah janji!" kali ini Gus Raka yang berdiri lebih dulu dan meninggalkan Nisa yang masih berkelana dengan pikirannya.
Seperti teringat saat Leon akan pergi ke Bali, saat itu Leon memberinya sebuah syarat padanya, lebih tepatnya sebuah permintaan.
"Janji ya, jangan pulang dulu sebelum aku jemput!"
Seperti ada pengulangan di sini, dan dia seperti sedang di ingatkan sesuatu. Tapi lagi-lagi Nisa tidak mau berharap terlalu banyak, karena berharap pada sesuatu yang tidak pasti itu pasti ujungnya kecewa.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1