Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Hari H


__ADS_3

   Tinggal dua hari lagi menuju dua puluh hari, gus Fahmi harus menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.


Tinggal lima belas persen lagi dan ia harus selesai dalam waktu dua kali dua puluh empat jam dan mendapat upahnya seratus persen.


“Mas …, mas Fahmi beneran nggak pulang? Sudah dari kemarin lo mas nggak pulang!" ucap mas Endra yang sedari tadi menemani gus Fahmi melakukan pengecekan beberapa buku yang sudah siap di packing, jangan sampai ada kesalahan atau ada lembaran yang cacat.


“Mas Endra kalau capek pulang aja, aku akan selesaikan dulu ini, insyaallah nanti aku nginep di sini!” ucap gus Fahmi tanpa menoleh kepada mas Endra, suara bising mesin percetakan itu masih terus menyala.


"tapi tetap jaga kesehatan ya mas, jangan sampai nanti mas Fahmi malah drop!”


"Iya mas ....!" gus Fahmi di bantu mas Endra mulai mengepak ke dalam plastik-plastik pembungkus.


“Terimakasih ya mas, karena mas Endra ikut bantu pengeditan jadi bisa selesai lebih cepat, apalagi mas Endra ngeditnya rapi banget!”


Mas Endra hanya diam, sebenarnya bukan dia tapi orang lain. Tapi ia terlanjur berjanji untuk tidak memberitahukan hal itu pada gus Fahmi.


...***...


Hingga tibalah hari itu, dimana gus Fahmi harus menyerahkan Bianka pada ayah ya atau mengkhitbahnya sebagai istrinya,


Bianka begitu khawatir karena sudah tiga hari ini gus Fahmi. Ia semakin khawatir saat ayahnya memberinya kabar jika ia akan datang sebentar lagi.


"Umi ....!" ucap Bianka dengan perasaan cemasnya pada Bu Nyai Sarah.


"Jangan khawatir nak, percaya sama takdir Allah, jika Allah mengijinkan mu bersanding dengan putra umi, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya!"


"Jika tidak, umi?"


"Maka bersabarlah ...., Allah punya rencana lain yang lebih baik dari yang kita duga! Ambilah wudhu dan sholat lah agar hatimu lebih tenang!"


"Terimakasih umi ....!"


Bianka lupa jika ada Allah, Allah ya v akan memberinya jalan. Ia terlalu terpaku dengan dirinya sendiri, apa yang di alami Aisyah dulu jauh lebih sakit dari yang ia alami sekarang. Tapi sahabatnya itu bisa bersabar, maka belajar dari sahabatnya, ia harus bisa bersabar juga.


...***...


Kini yang di khawatirkan Bianka benar-benar terjadi, ayah Bianka datang tepat waktu dan gus Fahmi belum menampakkan batang hidungnya.


"Saya kesini akan menjemput putri saya!" ucap ayah Bianka.


"Kita tunggu putra saya kembali dulu ya pak!" ucap Kyai Hamid mencoba bernegosiasi.


"Mungkin dia kabur karena tidak bisa memenuhi janjinya ....!" ucap ayah Bianka dengan begitu congkaknya.


"Tidak pak, saya yakin putra saya bukan anak yang seperti itu, bisa atau tidak dia pasti akan datang, jadi sebaiknya kita menunggunya barang sebentar lagi!"


Akhirnya ayah Bianka mau bersabar, ia menunggu hingga hampir satu setengah jam.


“Bagaimana ini dia tidak juga datang? Nggak bisa kan? Jadi jelas Bianka akan ikut dengan saya pulang!” ucap ayah Bianka lagi.


“Ayah …, tunggu sebentar! Mas Fahmi pasti akan segera datang hari ini!” ucap Bianka sambil memegang tangan ayahnya.


“Ini sudah lebih dari satu jam saya menunggu, bagaimana bisa ayah bersabar lagi!”

__ADS_1


“Tunggu sebentar, pak! Putra kami pasti akan datang!” ucap bu Nyai Sarah ikut menahan ayah Bianka.


“Assalamualaikum!” tiba-tiba seseorang datang dan memberi salam, Bianka tersenyum dia adalah Gus Fahmi.


“Waalaikum salam!” jawab semua yang ada di sana. Kyai Hamid segera berdiri menyambut putranya itu.


"Duduklah nak!" pinta Kyai Hamid, Gus Fahmi pun segera duduk di sebelah abinya.


"Bagaimana?" tanya ayah Bianka yang sudah tidak sabar.


"Maaf pak, karena sudah membuat bapak menunggu!"


"Jadi bagaimana? Bisa apa enggak?" Ayah Bianka benar-benar mendesak gus Fahmi.


“Bismillahirrahmanirrahim, Saya akan menikahi putri bapak, Bianka!"


“kamu serius?” tanya ayah Bianka yang masih tidak percaya, Bianka sudah tidak mampu menahan air matanya lagi.


“Ya saya yakin, insyaallah saya tidak pernah main-main pak, saya akan menikah hari ini dengan putri bapak, jadi saya mohon restui kami!”


"Lalu uangnya?" tanya ayah Bianka lagi.


"Ini pak!" ucap gus Fahmi sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat tebal itu.


Ayah Bianka segera memeriksa dan menghitungnya, ternyata uangnya pas.


"Ini pas!"


"Lalu bagaimana pak?"


Akhirnya Kyai hamid pun mengumpulkan orang kampung dengan meminjam pengeras suara masjid dan menunggu ba’da


dhuhur sekalian untuk melakukan. ijab qabul.


Kini Bianka sudah berada di kamarnya, beberapa orang sedang sibuk meriasnya setelah melaksanakan sholat dhuhur.


"Neng ...., nggak pengen ada yang nemenin nanti pas ijab qabul?" tanya periasnya.


"Ada, bentar ya bu!"


Bianka pun segera mencari ponselnya, ia menghubungi seseorang.


...***...


Aisyah yang sedang santai di ruang keluarga , segera mengecilkan volume televisinya saat ponselnya berdering. Dengan cepat ia menyambar ponsel yang ada di atas meja itu.


"Hallo, assalamualaikum, Ay!" sapa dari seberang sana.


"Waalaikum salam, Bi! Ada apa?" tanya Aisyah, tidak biasanya sahabatnya itu menelpon. Biasanya Bianka akan langsung bicara saat bertemu.


"Ay bisa nggak hari ini ke pesantren?"


"Ke pesantren? Ada apa Bi?" walaupun sudah lama berlalu, pesantren itu meninggalkan kenangan yang mungkin tidak akan terlupakan sampai kapanpun.

__ADS_1


"aku mau nikah Ay!"


"Nikah ....!" Aisyah begitu terkejut, "Sama siapa?"


"Gus Fahmi!"


Mendengar nama itu, rasanya masih ada rasa yang seperti tiba-tiba datang, bohong jika dia bilang dengan mudah melupakan.


Sepertinya saat Aisyah tiba-tiba diam membuat Bianka tidak enak hati.


"kamu tidak pa pa kan Ay, kalau aku nikah sama gus Fahmi?"


"Ti-tidak ...., tidak pa pa! Kapan nikahnya?"


"Hari ini, satu jam lagi!"


"Insyaallah aku ke sana Bi!"


"Ya sudah ya Ay, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Aisyah meletakkan ponselnya begitu saja, tiba-tiba saja rasanya begitu sesak. Nama itu dulu yang mengisi hatinya.


Alex yang mulai menuruni tangga, melihat istrinya yang hanya diam dengan wajah yang begitu sedih segera menghampirinya.


"Sayang ....!" ucap Alex sambil duduk di samping Aisyah.


"Mas ....!" Aisyah segera tersenyum menatap suaminya itu,


"Ada apa?" tanya Alex.


"Tidak ...., tidak ada apa-apa! Mas kita ke pesantren yuk!"


"Ada apa?"


"Hari ini Bianka dan gus Fahmi menikah!"


"Menikah?"


Aisyah pun mengangguk.


Aku tahu sekarang kenapa? Maaf jika aku belum bisa jadi suami yang baik untukmu, tapi aku janji akan selalu menjagamu ....


"Tapi mas Alex sudah sehat kan?" tanya Aisyah lagi memastikan karena beberapa hari ini kondisi suaminya kurang baik.


"Insyaallah sehat!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2