Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Bianka


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Aisyah tidak masuk kuliah, Bianka jadi merasa begitu


kesepian, ia harus duduk sendiri ke kantin dan ke mushola pun sendiri.


“lama banget sih dia ijinnya, yang sakit suaminya dia yang nggak masuk!” gumam Bianka sambil berdiri di pinggir jalan menunggui angkot datang.


Bianka sesekali mengirimkan pesan yang di tujukan pada Aisyah. ia berharap sahabatnya


itu akan segera masuk kembali dan dia bisa punya teman debat.


Tak berapa lama sebuah angkot berhenti di depannya, Bianka segera memasukkan


ponselnya ke dalam tas dan masuk ke dalam angkot. Tapi Bianka begitu terkejut saat


duduk bersama dua orang yang begitu mencurigakan karena sedari ia masuk ke


dalam angkot, dua orang itu terus memperhatikannya.


Untung di dalam angkot itu sedikit penuh, bukan hanya ada dirinya dan dua orang itu


tapi juga ada ibu-ibu dan seorang anak remaja.


“Kiri mas!” ucap Bianka saat sudah sampai di depan gang rumah Aisyah. sopir angkot


pun segera menyerahkan selembar uang lima ribuan dan turun dari angkot.


“Mudah-mudahan aman …!” ucap Bianka, tapi ia salah, dua pria itu ikut turun bersamanya. Bianka segera mempercepat langkahnya tapi pria itu sepertinya melakukan hal yang sama,


semakin cepat langkah Bianka, langkah mereka semakin cepat pula hingga  Bianka pun sedikit berlari.


Gus Fahmi yang kebetulan turun dari angkot berbeda yang berada tepat di belakang


angkot Bianka, ia melihat Bianka di ikuti oleh dua seorang,


“Siapa mereka! Astagfirullah …, jangan-jangan orang jahat!”


Gus Fahmi pun mempercepat langkahnya, ia melihat wajah Bianka yang ketakutan. Gus Fahmi  segera mengejar Bianka dan mendahului begitu saja kedua pria itu.


Ya allah ampuni hamba, tapi ini dhorurot ….,doa gus Fahmi, Ia segera menarik tangan Bianka dan membawanya berlari berlawanan dengan arah rumah aisyah.


Bianka begitu terkejut saat seseorang menarik tangannya,


“hah …, tol_!” ucapan Bianka menggantung saat melihat siapa yang menarik tangannya, ia hanya tertegun dengan lengannya yang di genggam oleh pria berpeci hitam  dan kemeja putihnya itu. Jika biasanya ia


bahkan tidak mau memandang wanita yang bukan mahromnya tapi kali ini ia menarik


tangannya.


Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah puing bangunan yang tidak terpakai, gus


Fahmi menarik Bianka untuk bersembunyi di balik papan kayu yang menyender di dinding.


“Mas …!” ucap Bianka, ia tepat berada di depan dada pria yang biasa di panggil gus


itu. Rasanya begitu aneh hanya berdua begitu dekat dengan pria pemilik senyum


sejuk itu. Ia bahkan bisa mendengarkan detak jantung pria itu.


“Mereka masih ngejar!” ucap gus fahmi dan benar saja dua pria itu masih mondar mandir

__ADS_1


di dekat mereka.  Dan tak berapa lama


mereka pun meninggalkan tempat itu.


“Sepertinya mereka sudah pergi!” ucap gus Fahmi setelah memastikan jika dua pria itu sudah berjalan menjauh dari mereka.


Akhirnya merekapun keluar dari persembunyian,


“maaf ya tadi!” ucap gus Fahmi setelah berhasil keluar dari persembunyian.


“maaf untuk apa mas?” tanya Bianka.


“karena aku sudah memegang tanganmu tanpa ijin!” ucap gus Fahmi. Membuat Bianka


tersenyum, ia senang karena bisa mengenal pria seperti gus Fahmi berbeda sekali


dengan pria yang di sodorkan ayahnya. Bahkan pria itu hampir saja melecehkannya, untung dia cukup tangguh untuk melawan.


"Seharusnya aku yang terimakasih mas, bukan mas Fahmi yang minta maaf!" ucap Bianka.


"Sama-sama!"


“Kenapa kita berlari ke lawan arah, kita malah menjauh dari rumah loh ini, mas?” tanya


Bianka setelah memperhatikan sekitar, dan dia tidak mengenali daerah itu. Ia masih


baru di tempat itu, setiap ke rumah Aisyah ia tidak pernah mampir kemana-mana


dulu, kalau sudah di rumah Aisyah ia juga tidak main kemana-mana.


“Kalau kita langsung menuju ke rumah, bisa jadi mereka akan datang lagi besok atau


‘Aaah iya, kenapa aku tidak kepikiran ya! tapi kalau kayak gini aku jadi nggak tahu jalan pulangnya!"”


“Baiklah …, kalau gitu biar aku antar kamu ya!” ucap gus Fahmi, ia khawatir jika dua


orang itu masih mencari Bianka.


“Makasih, mas! Bianka seneng banget kalau gitu!”


Mereka pun mulai berjalan melewati beberapa gang, ternyata mereka sudah berlari cukup


jauh.


“Mereka siapa?” tanya gus Fahmi.


“Aku nggak tahu mas!” jawab Bianka, ia memang tidak tahu siapa dua orang tadi tapi


ia sudah menduga siapa mereka sebenarnya kalau di lihat dari penampilannya.


“kamu punya musuh?” tanya gus Fahmi lagi, Bianka menggelengkan kepalanya.


“Tapi mungkin saja mas, bisa jadi itu mereka!”ucap Bianka tapi tidak yakin.


“Mereka siapa?”


“Orang suruhan ayah saya mas!” ucap Bianka, ia bisa mengingat bagaimana ayahnya yang


tiba-tiba memaksanya untuk menikah dengan pria kasar itu.

__ADS_1


“berarti mereka bukan orang jahat dong, lalu kenapa kamu lari?”


“Orang yang mau nyakitin aku mas Fahmi!”


“Emang sejak kapan seorang ayah menjadi musuh untuk anaknya?” tanya gus fahmi.


“Memang kedengarannya tidak mungkin, tapi ini beneran terjadi padaku mas!”


“Maksudnya?”


“Ayah Bia sengaja menjodohkan Bia sama seorang pria kasar sebagai alat bayar hutang!


Itulah kenapa aku tinggal di rumah Aisyah, pria itu terlalu kasar dan beberapa


kali hampir mencoba melecehkan Bia, mas!”


Gus Fahmi menghentikan langkahnya, ia tidak berani menatap Bianka tapi ia ingin


memastikan jika apa yang di ucapkan gadis itu adalah sebuah kebenaran.


“Lalu kamu?”


“Maksudnya?”


“kamu mau di jodohin?”


“Nggak mau mas, dia pria yang kasar! Kayaknya mereka sudah mulai menemukanku, mungkin


aku harus cari tempat lain lagi! Aku nggak mau bahayain bu Santi dan Nino!”


Mereka kembali melanjutkan langkahnya, gus Fahmi sepertinya sedang memikirkan sesuatu


karena setelah Bianka menceritakan semuanya, gus Fahmi terus saja diam. Ia bahkan


tidak menanggapi dengan sesuatu hal.


“kenapa mas Fahmi diam? Aku pasti sudah menjadi kesalahan ya dalam hidup mas Fahmi! Maaf deh kalau gitu, mungkin ini bisa jadi pertemuan terakhir kita, aku juga nggak


mau melibatkan mas fahmi dalam masalah Bia!”


“Bagaimana kalau kamu tinggal di pesantren saja?”


“hahhh?”


Bianka begitu terkejut dengan ucapan pria di depannya itu. Ia tidak mengerti


dengan jalan pikiran pria di depannya itu, bukannya menjauh tapi pria itu malah


ingin ia semakin masuk dalam kehidupannya., “mas fahmi serius dengan ucapan mas


fahmi?”


“Saya serius! umi pasti tidak keberatan buat nampung kamu, lagian aku rasa pesantren


tempat yang paling aman buat kamu karena di sana selalu ada orang!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2