
Sudah beberapa hari ini Aisyah tidak masuk kuliah, Bianka jadi merasa begitu
kesepian, ia harus duduk sendiri ke kantin dan ke mushola pun sendiri.
“lama banget sih dia ijinnya, yang sakit suaminya dia yang nggak masuk!” gumam Bianka sambil berdiri di pinggir jalan menunggui angkot datang.
Bianka sesekali mengirimkan pesan yang di tujukan pada Aisyah. ia berharap sahabatnya
itu akan segera masuk kembali dan dia bisa punya teman debat.
Tak berapa lama sebuah angkot berhenti di depannya, Bianka segera memasukkan
ponselnya ke dalam tas dan masuk ke dalam angkot. Tapi Bianka begitu terkejut saat
duduk bersama dua orang yang begitu mencurigakan karena sedari ia masuk ke
dalam angkot, dua orang itu terus memperhatikannya.
Untung di dalam angkot itu sedikit penuh, bukan hanya ada dirinya dan dua orang itu
tapi juga ada ibu-ibu dan seorang anak remaja.
“Kiri mas!” ucap Bianka saat sudah sampai di depan gang rumah Aisyah. sopir angkot
pun segera menyerahkan selembar uang lima ribuan dan turun dari angkot.
“Mudah-mudahan aman …!” ucap Bianka, tapi ia salah, dua pria itu ikut turun bersamanya. Bianka segera mempercepat langkahnya tapi pria itu sepertinya melakukan hal yang sama,
semakin cepat langkah Bianka, langkah mereka semakin cepat pula hingga Bianka pun sedikit berlari.
Gus Fahmi yang kebetulan turun dari angkot berbeda yang berada tepat di belakang
angkot Bianka, ia melihat Bianka di ikuti oleh dua seorang,
“Siapa mereka! Astagfirullah …, jangan-jangan orang jahat!”
Gus Fahmi pun mempercepat langkahnya, ia melihat wajah Bianka yang ketakutan. Gus Fahmi segera mengejar Bianka dan mendahului begitu saja kedua pria itu.
Ya allah ampuni hamba, tapi ini dhorurot ….,doa gus Fahmi, Ia segera menarik tangan Bianka dan membawanya berlari berlawanan dengan arah rumah aisyah.
Bianka begitu terkejut saat seseorang menarik tangannya,
“hah …, tol_!” ucapan Bianka menggantung saat melihat siapa yang menarik tangannya, ia hanya tertegun dengan lengannya yang di genggam oleh pria berpeci hitam dan kemeja putihnya itu. Jika biasanya ia
bahkan tidak mau memandang wanita yang bukan mahromnya tapi kali ini ia menarik
tangannya.
Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah puing bangunan yang tidak terpakai, gus
Fahmi menarik Bianka untuk bersembunyi di balik papan kayu yang menyender di dinding.
“Mas …!” ucap Bianka, ia tepat berada di depan dada pria yang biasa di panggil gus
itu. Rasanya begitu aneh hanya berdua begitu dekat dengan pria pemilik senyum
sejuk itu. Ia bahkan bisa mendengarkan detak jantung pria itu.
“Mereka masih ngejar!” ucap gus fahmi dan benar saja dua pria itu masih mondar mandir
__ADS_1
di dekat mereka. Dan tak berapa lama
mereka pun meninggalkan tempat itu.
“Sepertinya mereka sudah pergi!” ucap gus Fahmi setelah memastikan jika dua pria itu sudah berjalan menjauh dari mereka.
Akhirnya merekapun keluar dari persembunyian,
“maaf ya tadi!” ucap gus Fahmi setelah berhasil keluar dari persembunyian.
“maaf untuk apa mas?” tanya Bianka.
“karena aku sudah memegang tanganmu tanpa ijin!” ucap gus Fahmi. Membuat Bianka
tersenyum, ia senang karena bisa mengenal pria seperti gus Fahmi berbeda sekali
dengan pria yang di sodorkan ayahnya. Bahkan pria itu hampir saja melecehkannya, untung dia cukup tangguh untuk melawan.
"Seharusnya aku yang terimakasih mas, bukan mas Fahmi yang minta maaf!" ucap Bianka.
"Sama-sama!"
“Kenapa kita berlari ke lawan arah, kita malah menjauh dari rumah loh ini, mas?” tanya
Bianka setelah memperhatikan sekitar, dan dia tidak mengenali daerah itu. Ia masih
baru di tempat itu, setiap ke rumah Aisyah ia tidak pernah mampir kemana-mana
dulu, kalau sudah di rumah Aisyah ia juga tidak main kemana-mana.
“Kalau kita langsung menuju ke rumah, bisa jadi mereka akan datang lagi besok atau
‘Aaah iya, kenapa aku tidak kepikiran ya! tapi kalau kayak gini aku jadi nggak tahu jalan pulangnya!"”
“Baiklah …, kalau gitu biar aku antar kamu ya!” ucap gus Fahmi, ia khawatir jika dua
orang itu masih mencari Bianka.
“Makasih, mas! Bianka seneng banget kalau gitu!”
Mereka pun mulai berjalan melewati beberapa gang, ternyata mereka sudah berlari cukup
jauh.
“Mereka siapa?” tanya gus Fahmi.
“Aku nggak tahu mas!” jawab Bianka, ia memang tidak tahu siapa dua orang tadi tapi
ia sudah menduga siapa mereka sebenarnya kalau di lihat dari penampilannya.
“kamu punya musuh?” tanya gus Fahmi lagi, Bianka menggelengkan kepalanya.
“Tapi mungkin saja mas, bisa jadi itu mereka!”ucap Bianka tapi tidak yakin.
“Mereka siapa?”
“Orang suruhan ayah saya mas!” ucap Bianka, ia bisa mengingat bagaimana ayahnya yang
tiba-tiba memaksanya untuk menikah dengan pria kasar itu.
__ADS_1
“berarti mereka bukan orang jahat dong, lalu kenapa kamu lari?”
“Orang yang mau nyakitin aku mas Fahmi!”
“Emang sejak kapan seorang ayah menjadi musuh untuk anaknya?” tanya gus fahmi.
“Memang kedengarannya tidak mungkin, tapi ini beneran terjadi padaku mas!”
“Maksudnya?”
“Ayah Bia sengaja menjodohkan Bia sama seorang pria kasar sebagai alat bayar hutang!
Itulah kenapa aku tinggal di rumah Aisyah, pria itu terlalu kasar dan beberapa
kali hampir mencoba melecehkan Bia, mas!”
Gus Fahmi menghentikan langkahnya, ia tidak berani menatap Bianka tapi ia ingin
memastikan jika apa yang di ucapkan gadis itu adalah sebuah kebenaran.
“Lalu kamu?”
“Maksudnya?”
“kamu mau di jodohin?”
“Nggak mau mas, dia pria yang kasar! Kayaknya mereka sudah mulai menemukanku, mungkin
aku harus cari tempat lain lagi! Aku nggak mau bahayain bu Santi dan Nino!”
Mereka kembali melanjutkan langkahnya, gus Fahmi sepertinya sedang memikirkan sesuatu
karena setelah Bianka menceritakan semuanya, gus Fahmi terus saja diam. Ia bahkan
tidak menanggapi dengan sesuatu hal.
“kenapa mas Fahmi diam? Aku pasti sudah menjadi kesalahan ya dalam hidup mas Fahmi! Maaf deh kalau gitu, mungkin ini bisa jadi pertemuan terakhir kita, aku juga nggak
mau melibatkan mas fahmi dalam masalah Bia!”
“Bagaimana kalau kamu tinggal di pesantren saja?”
“hahhh?”
Bianka begitu terkejut dengan ucapan pria di depannya itu. Ia tidak mengerti
dengan jalan pikiran pria di depannya itu, bukannya menjauh tapi pria itu malah
ingin ia semakin masuk dalam kehidupannya., “mas fahmi serius dengan ucapan mas
fahmi?”
“Saya serius! umi pasti tidak keberatan buat nampung kamu, lagian aku rasa pesantren
tempat yang paling aman buat kamu karena di sana selalu ada orang!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰