Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Salam terakhir


__ADS_3

Mata bening Aisyah terus menatap baby Kia, ia berharap semua akan baik-baik setelah ini.


Hidupnya sebelum ini sudah sangat berat dan sekarang harus di tambah lagi.


Tangan Aisyah masih sibuk memainkan jari-jari mungil baby Kia, matanya menerawang wajah mungil itu.


"Non Aisyah, ada tamu!" seorang asisten rumah tangga menghampirinya membuat Aisyah tersadar dari lamunannya.


"Siapa bi?" tanya Aisyah sambil menoleh ke arah asisten rumah tangga itu.


"Non Bianka, non ...!"


"Bianka?" tanya Aisyah memastikan dan bibi itu mengangguk. Aisyah tersenyum senang dengan kedatangan sahabatnya itu.


"Suruh ke sini aja bi!"


"Baik non!"


Bibi itu pun meninggalkan kamar Aisyah, Aisyah segera mengenakan jilbab instan warna dusty itu.


Tidak berapa lama suara pintu di ketuk, Aisyah langsung tersenyum menyambut sahabatnya itu.


"Assalamualaikum, Ay!"


"Waalaikum salam, bi! Masuk bi!"


Bianka pun segera masuk dan menghampiri Aisyah, Aisyah terpaku pada perut Bianka yang sudah lebih besar dari sebelumnya.


Bianka segera memeluk Aisyah dengan sangat erat.


"Sehat bi?" tanya Aisyah yang masih dalam pelukan Bianka.


Bianka pun melepaskan pelukannya.


"Aku sehat, Ay ....! Bagaimana pak Alex?"


Aisyah pun duduk di sofa tanpa sandaran punggung panjang yang berada tidak jauh dari ranjang baby Kia.


"Duduk Bi!" ucap Aisyah sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Bianka pun duduk di samping Aisyah, ia menggenggam tangan sahabatnya itu. Ia baru tahu jika suami sahabatnya itu masuk penjara setelah pulang dari luar kota.


"Mas Alex baik, bi ...!"


"Kamu tidak pa pa kan?" tanya Bianka lagi.


"Seperti yang kami lihat, aku sedang mencoba untuk baik-baik saja!"


"Jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk meminta bantuan ku ya!"


"Iya pasti! Terimakasih ya!"


...****...

__ADS_1


Satu minggu sudah, ini sudah waktunya menentukan bagaimana nenek Widya. Aisyah sudah pasrah, ia tidak bisa menentang takdir Allah, jika memang Allah lebih sayang pada nenek Widya, ia akan mencoba ikhlas.


Leon bersama pengacara Alex sudah menemui petugas dan meminta ijin untuk Alex satu kali dua puluh empat jam dengan jaminan.


"Ada apa?" tanya Alex yang tiba-tiba polisi membebaskannya bersyarat.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit tuan!" ucap Leon.


"Ada apa? Nenek tidak pa pa kan? Kata Aisyah kemarin nenek baik kan?" tanya Alex yang sudah mulai curiga.


"Sebaiknya tuan melihat sendiri nanti!"


Leon pun membukakan pintu mobil untuk Alex, setelah memastikan Alex masuk. Pengacara dan Leon pun ikut masuk ke dalam mobil.


Perlahan mobil meninggalkan tempat yang menjadi tempat tinggal Alex beberapa minggu ini.


Sesampai di rumah sakit, Leon segera mengajak Alex ke ruang perawatan nenek Widya.


Di sana sudah ada Aisyah, Aisyah berdiri di depan ruangan nenek Widya.


"Assalamualaikum, Ay!" Alex segera memeluk istrinya itu.


"Waalaikum salam mas ...!" ucap Aisyah yang sudah berada di dalam pelukan Aisyah.


"Sayang ...., nenek kenapa?" tanya Alex sambil memundurkan tubuh Aisyah agar bisa melihat wajah Aisyah.


"Nenek mas ...!"


"Iya nenek kenapa?"


"Tapi kenapa?" tanya Alex yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Dokter yang bertugas pun menghampiri mereka. Dokter pun menjelaskan sejelas jelasnya tentang keadaan nenek Widya.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Alex hanya menakupkan kedua telapak tangannya di kepala, hingga rambut depannya tertarik ke belakang.


Ia menjatuhkan tubuhnya dalam posisi jongkok. Aisyah pun segera memeluk tubuh suaminya itu.


"Mas Alex yang yang tabah ya, Aisyah tahu mas Alex kuat!"


Alex pun mendongakkan kepalanya, menoleh pada Aisyah dan menarik kepala Aisyah dengan tangan kanannya membenamkan ke wajahnya hingga hidung dan kening mereka saling menempel.


"Maafkan aku Ay ...., maafkan aku ...!"


"Aisyah bangga sama mas Alex!"


Ucapan Aisyah seperti amunisi untuk hati Alex yang mulai mengering itu, ia kembali yakin jika apa yang di lakukan benar.


Alex pun kembali berdiri dan menatap dokter yang bertugas menangani nenek Widya.


"Apa nenek masih bisa mendengarkan ucapan ku?" tanya Alex.


"Bagaimana pun keadaannya, insyaallah, Allah yang akan menjadi penghubung untuk mendengarkan ucapan anda!"

__ADS_1


"Saya boleh bicara sebentar dengan nenek sebelum kalian melepaskan semua alat-alat itu?"


"Silahkan!"


Alex pun masuk seorang diri, banyak alat yang menempel di tubuh nenek Widya.


Begitu hening, hanya ada suara dari alat-alat itu saja yang berbunyi. Alex kembali berjalan dan duduk di samping nenek Widya.


Alex memegang tangan nenek Widya yang dingin itu, tangannya begitu dingin dan hanya tinggal tulang dan kulit saja.


"Nek ...., ini Alex nek ...., Assalamualaikum nek!"


"Nek apapun yang terjadi dengan Alex saat ini, demi Allah nek ...., Alex tidak menyesal!"


"Alex malah akan sangat menyesal jika saja Alex tidak mempertanggung jawabkan semua kesalahan Alex di masa lalu!"


"Nek ..., biarkan Alex menerima hukuman Alex di dunia, Alex hanya ingin hukuman Alex nantinya di akhirat tidak terlalu besar!"


Alex mulai tidak mampu menahan air matanya, setiap kali mengingat bagaimana dosanya yang sudah sangat banyak, ia kembali takut untuk mengingat mati.


"Nek ...., relakan Alex di sana, Alex yakin akan bahagia dan nanti Alex bisa keluar dari sana menjadi manusia yang lebih baik, bukan manusia yang berlumur dengan dosa!"


"Jika nenek mau pergi sekarang, insyaallah Alex akan berusaha untuk ikhlas!"


"Nek maafkan semua kesalahan Alex selama menjadi cucu nenek ya, semoga nanti kita di sana di pertemukan kembali di surga-Nya ya nek!"


"Alex bahagia dengan keputusan Alex jadi nenek juga harus bahagia!"


Alex yang merasa sudah cukup berbicara dengan nenek Widya, ia pun kembali keluar dengan air mata yang tertahan di kelopak matanya, matanya memerah dan berair.


Aisyah tahu saat ini suaminya sedang memendam kesedihan yang amat sangat berat.


Aisyah segera memeluk kembali suaminya itu.


"Dok ...., Silahkan!" ucap Alex yang masih memeluk Aisyah membuat Aisyah menjauhkan tubuhnya dan menatap suaminya itu.


"Mas ...., mas Alex serius?" tanya Aisyah yang tidak mampu lagi menahan air matanya.


"Aku ikhlas Ay ...., biarkan nenek pergi dengan tenang!" ucap Alex sambil kembali menarik tubuh Aisyah ke dalam pelukannya.


Punggung Aisyah sudah bergetar, ia tidak bisa membayangkan hari-harinya akan tanpa nenek Widya.


Para tim dokter pun mulai masuk ke dalam ruangan itu.


Bersambung


...Semua yang hidup pasti akan mati, kita hanya seperti orang yang antri menunggu giliran, kalau sudah waktunya mau di tolak seperti apapun juga tidak akan bisa, sudah sejauh apa persiapan kalian?...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5259

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2