Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Perkelahian Alex dengan Rendi


__ADS_3

Sore ini seperti biasa, Aisyah akan mampir dulu ke rumah nadin sebelum berangkat


kerja ke mini market, ia biasa membawa makanan yang sengaja di buat ibunya


untuk mereka.


“Assalamualaikum kak!”


“Waalaikum salam, Sya! Mau berangkat kerja ya?”


“Iya nih kak, ini ibu bawakan pecel tumpang buat kakak!” Aisyah menyerahkan sebuah


rantang untuk Nadin dan letakkan nya di samping Nadin. Ia memperhatikan apa


yang sedang di lakukan oleh Nadin.


“makasih ya makanannya, sepertinya sangat enak. Ibu kamu baik banget sih sama kakak!”


“sama-sama kak. Kak Nadin lagi buat apa?”


“kakak lagi buat surat lamaran kerja!”


 “Kakak serius ingin kerja?”


“Iya …., aku tidak mungkin menghabiskan uang mas Rendi untuk kehidupan sehari-hari


kami, itu haknya baby El!”


“tapi menurut aku selesaikan dulu urusan kakak sama suami kakak, tapi ingat satu hal


kak, Allah sangat membenci perceraian, jika masih bisa di perbaiki, maka perbaiki dulu kak, aku hanya mendoakan yang terbaik untuk kakak!’


“Makasih ya Ais, insyaAllah!”


“Iya …, Aisyah berangkat dulu ya, kasihan nanti koh wan nunggu lama lagi!”


“tempat kerjamu terlalu jauh lo, Sya! Pulangnya malam lagi! Hati-hati ya di jalan!”


“Iya kak, assalamualaikum!”


“waalaikum salam!”


Aisyah pun meninggalkan rumah Nadin, ia harus tetap kerja walaupun jaraknya terlalu


jauh dari rumahnya pulangnya juga malam. Tapi ia tidak punya pilihan lain,


hanya di minimarket itulah yang bisa menerima karyawan paruh waktu seperti


aisyah apalagi waktunya juga bisa di sesuaikan sendiri oleh Aisyah.


Tak jarang Aisyah memilih tidur di toko dan pulang pagi jika keadaan di luar sedang


hujan.


***


Sudah beberapa hari ini Alex menahan untuk tidak bertemu dengan Nadin dan baby El,


terakhir ia bertemu ketika bersama Aisyah tempo hari, itupun hanya sebentar.


Tapi kali ini ia tidak peduli dengan janjinya lagi, rasa rindunya sudah tidak


tertahan lagi. Sepulang kerja ia pun memutuskan untuk langsung menuju ke rumah


nadin, tak peduli dengan pria dingin itu lagi.


Alex melihat rumah Nadin tertutup, tak biasanya. Nadin biasanya selalu mengajak baby El bermain di luar rumah jika sore-sore seperti ini, apalagi langit begitu


cerah.


“Apa dia sedang pergi?” Alex turun dari mobil dengan membawa boneka di tangannya dan


juga seikat bunga. Ia memperhatikan rumah Nadin. Sangat sepi.


Tok tok tok


Alex mengetuk pintu rumah Nadin, cukup lama menunggu. Akhirnya pintu itu terbuka,


Nadin berdiri di depan pintu.


“Alex?”


“Maaf aku tidak bisa menepati janjiku, aku begitu merindukan kalian! Bisa aku menemui


baby El?”


Tapi tak menunggu jawaban dari Nadin, Alex seperti biasa akan menerobos masuk dan


mencari apa yang ia cari. Baby El sedang bermain di lantai beralaskan kasur lantai


tipis di depan tv, ia sudah mulai bisa bergerak bebas, sudah bisa tengkurap dan


meraih apapun yang ada di depannya, memasukkannya ke dalam mulutnya.


“El …, lihat daddy datang …, apa kau merindukan daddy mu ini?’ ucap Alex sambil


merengkuh tubuh mungil itu dan mengangkatnya meletakkannya di atas pangkuannya, menghujani baby El dengan ciuman yang bertubi-tubi.


Nadin tak bisa mencegahnya, mau bagaimanapun Alex punya hak itu. Dia yang sudah merawat baby El dan Nadin selama ini , walaupun ia bisa mencegah cinta Alex yang

__ADS_1


ingin di berikan padanya tapi ia tidak bisa mencegah kasih sayang yang di


berikan Alex untuk baby El, itu terlalu jahat jika sampai ia lakukan.


“Lex …!”


“Aku mohon, jangan memintaku untuk pergi sekarang. Aku begitu merindukan kalian!”


Melihat mata tulus Alex membuat Nadin tidak tega mengusirnya, tapi matanya was-was


menatap ke depan ia takut jika sewaktu-waktu Rendi akan datang dan terjadi


keributan.


Dan benar saja, belum sampai nadin beranjak dari tempatnya, suara tegas dan penuh


penekanan itu menggema di seluruh ruangan.


 “Alex!” ucap Rendi. Ucapannya berhasil membuat


Nadin dan Alex menoleh padanya.


“Rend!”


“Mas Rendi!”


Pekik Alex dan Nadin bersamaan. Alex segera berdiri dan menghampiri Rendi, ia tidak


mau membuat Nadin yang menanganinya.


“tenanglah rend, kita bisa selesaikan dengan baik-baik!” ucap alex mencoba menenangkan


Rendi.


“Jadi kau mengetahuinya selama ini? Jadi selama ini kalian bersama? Kenapa aku tidak


memikirkan jika kau di balik semua ini!” ucap Rendi dengan penuh amarah.


“Iya …, aku yang telah menyembunyikan mereka. Mereka tidak pantas bersama dengan


orang yang lebih mementingkan orang lain di bandingkan dengan keluarganya


sendiri!”


“Kau tidak tahu apa-apa, jadi berhenti ikut campur dalam masalah rumah tangga kami!”


“Kau sudah tidak punya hak untuk itu, hak-mu sudah hilang semenjak kau melepaskan


mereka waktu itu!”


***


hamid. Ia sudah bersiap-siap. Tapi belum sampai kakinya melangkah, ponselnya


berdering dengan cepat ia menyambarnya. Ia kira itu telpon dari Gus Fahmi.


“kak Nadin? Tidak biasanya!” aisyah pun segera menekan tombol terima.


“Assalamualaikum kak!”


“Waalaikum salam, ke sinilah cepat!” sambungan telpon terputus, Aisyah menjadi khawatir. Dengan cepat ia keluar dari kamar, ibunya sedang memotongi sayuran di ruang tv.


“Sya, nggak jadi ngaji?” tanya bu Santi heran melihat aisyah keluar tanpa membawa


tasnya dan terlihat buru-buru.


“Nggak bu, kak Nadin memanggilku, sepertinya ada masalah!”


“Ya sudah cepat ke sana, siapa tahu penting!”


“assalamualaikum!”


“waalaikum salam!”


Aisyah segera berlalu meninggalkan rumahnya, ia berlari ke rumah Nadin. Rumah Aisyah


dan rumah Nadin hanya butuh waktu dua menit untuk sampai.


Ia terpaku saat melihat dua laki\=laki dewasa itu sedang berdebat hebat, sebelum ia


mengucapkan salam, Nadin sudah lebih dulu menyerahkan baby El pada Aisyah.


“Bawa baby El …., aku akan mengambilnya jika sudah selesai!’


“baik kak!” Nadin mencium baby El sebelum melepaskannya pada Aisyah.


Aisyah segera membawa baby El keluar rumah, untung saja baby El tetap tenang di


tangannya. Ia tidak lagi berlari, ia memilih berjalan santai agar baby El


relaks.


Langkahnya terhenti tepat di depan rumah yang bersebrangan dengan rumah Nadin. Seorang


pria muda dnegan jasnya dan wajah yang sedikit cute itu menghadang langkahnya.


“Mau di bawa ke mana tuan muda?”


Aisyah mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan pria di

__ADS_1


depannya itu.


Memang ini jaman kerajaan apa, ada


acara tuan muda-tuan muda segala ….


Aisyah terus mengamati pria yang ada di depannya itu. Ia ingat pria itu adalah pria


yang selalu bersama suami nadin, mungkin anak buahnya.


“Tuan muda El, mau dibawa kemana?”


Ohhhh …, maksudnya El ….


“kak Nadin memintaku membawanya ke rumahku, jika anda termasuk orang yang


berkepentingan maka akan lebih baik jika anda menghentikan perdebatan mereka


sebelum terjadi perkelahian! Assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Ahhh ya Allah akhirnya ada makluk-Mu yang jawab salam ku ….


***


Setelah  aisyah keluar dari rumahnya, Nadin


segera mendekati dua pria yang salain berseteru itu.


“Kau sudah terlalu banyak masuk ke dalam rumah tangga kami!”ucap Rendi dengan wajah


yang sudah diliputi kemarahan.


“Iya …, karena kau yang memberi kesempatan itu!”Alex juga tak mau kalah. Ucapan Alex


benar-benar memancing emosi Rendi, Rendi segera melayangkan pukulannya pada


Alex, ketenangannya hilang jika itu menyangkut Nadin dan putranya.


Alex yang tidak terima akhirnya membalas pukulan Rendi, mereka benar-benar sudah


tidak menyadari jika baby El sudah tidak berada di sana. Baku hantam pun


terjadi antara dua pria dengan kekuatan yang sama itu.


“berhenti …!” teriak Nadin, tapi sepertinya teriakan Nadin tidak berpengaruh lagi


padanya, hingga Nadin menghadang pukulan mereka di tengah-tengah, dan benar saj


pukulan terakhir Rendi yang seharusnya ia tujukan kepada Alex ,mendarat di


lengan Nadin, membuat tubuh Nadin roboh.


Dua pria yang sedang membabi buta itu menghentikan perkelahiannya,


“Nadin!”


ucap mereka bersama-sama lalu menghampiri tubuh Nadin.


“Nad


…, kau tidak pa pa!” Alex hendak menyentuh nadin tapi segera di tepis oleh


Rendi.


“Tokki …, apa yang sakit, katakan!”


Nadin hanya menangis sambil memegangi lengannya yang terasa sangat nyeri, walaupun


pukulan itu meleset, tapi cukup keras untuk ukuran seorang wanita.


Nadin menatap Alex, dengan penuh permohonan ia meminta pada Alex.


 “Lex …, tolong tinggalkan kami!”


“Nad …, tapi …!”


“Aku mohon …!”


“Baiklah ….!”


Alex menyerah, ia memang bukan siapa-siapa di sini, ia hanya orang yang berusaha


memberi yang terbaik untuk orang yang begitu berharga dalam hidupnya.


Alex pun meninggalkan nadin bersama dengan Rendi. Ini sudah cukup baginya.langkahnya


sedikit terhenti saat berpapasan dengan Ajun, tapi segera ia lanjutkan. Melihat


alex sudah pergi, ajun pun memilih mengurungkan niatnya untuk masuk, ini


merupakan kesempatan mereka berdua untuk menyelesaikan masalahnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰😘

__ADS_1


__ADS_2