
Setelah puas menertawakan Asna, Leon pun bergantian masuk. Ia masih tidak bisa menahan senyumnya saat memasuki ruangan hingga membuat Raka keheranan di buatnya, ia sampai meletakkan piringnya.
"Assalamualaikum!" Raka lebih dulu mengucapkan salam sebelum Leon sempat mengucapkannya.
"Waalaikum salam!" Leon segera duduk di tempat yang sama yang tadi di duduki oleh Asna.
"Kalau masuk itu setidaknya ucapkan salam atau ketuk pintu dulu!" Raka memperingatkan pada saudara kembarnya itu.
"Isssstttt, kenapa hilang ingatan tidak menghilangkan sifat cerewetnya! Menyebalkan!" Leon hanya bisa menggerutu dengan apa yang di katakan oleh Raka.
"Kau ini kalau di nasehati, bukannya di dengarkan malah menggerutu, memangnya apa yang membuatmu tersenyum sampai lupa salam?"
"Penasaran banget ya! Sini aku suapi!" Leon segera mengambil piring yang ada di depan Raka dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Bisa?"
"Jangan kira cuma kamu ya yang bisa menyuapiku!"
Raka hanya tersenyum menanggapi saudara kembarnya itu dan segera membuka mulutnya agar Leon bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tadi belum kamu jawab kan, kenapa tersenyum terus seperti itu? Seorang Leon yang jutek bisa tersenyum seperti itu, itu hal yang aneh!"
"Memang cuma kamu yang murah senyum!?"
"Memang kenyataannya seperti itu!"
"Isssstttt!"
"Kalau udah nyerah gitu, sekarang jawab dong kenapa tadi tersenyum?"
"Tadi aku lihat Asna, dia keluar dengan wajah kesal memang kamu apakan?"
"Memang aku apa sampai ngapa-ngapain perempuan yang bukan muhrim!"
Ha ha ha ha ....
Seketika tawa Leon malah semakin tidak tertahan,
"Kenapa malah tertawa?"
"Pantas saja Asna marah! Entar kalau kamu kena batunya baru tahu rasa!"
"Memang apa yang salah dengan ucapanku?"
"Jangan tanya sekarang, nanti kamu juga tahu sendiri!"
Raka tidak lagi menanggapi, ia memilih berpikir memang sepertinya ada yang aneh tapi ia belum tahu apa. Menurutnya ia sudah benar walaupun menurut orang lain itu salah.
"Bagaimana dengan kakimu?" setelah sekian lama terdiam akhirnya Leon menemukan kembali topik pembicaraan.
"Kata dokter butuh waktu untuk membuat kakiku kembali di gunakan untuk berjalan!"
"Aku akan mencarikan terapi terbaik untuk kaki kamu!"
"Tidak perlu, ini hanya karena aku terlalu lama tidur katanya! Beruntung aku masih bisa berbicara!"
"Ya, dan kamu masih cerewet seperti biasanya!"
"Jangan mulai Leon!?"
Ha ha ha ha
__ADS_1
Leon yang mendapat peringatan malah tertawa.
"Puas banget menertawakan aku!"
"Ya bagaimana, akhirnya aku bisa balas dendam kan sekarang!"
Mereka terus saja saling berdebat, hal yang selalu mereka rindukan saat saling bertemu.
...***...
Akhirnya Raka sudah di perbolehkan pulang juga, Asna sengaja meminta Ridwan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Seneng mbak akhirnya mas Raka sembuh juga!" Ridwan terus mengajak mengobrol Asna sepanjang perjalanan. Kali ini Asna memang sengaja meminta kedua orang tua. Raka untuk menunggu Raka di rumah saja. Sedangkan Leon sedang di luar kota hingga ia tidak bisa ikut menjemput.
Ponsel Asna berdering sehingga menghentikan obrolannya dengan Ridwan.
"Bentar ya Wan, aku terima telpon dulu!"
"Iya mbak!"
Ada nomor sang mama di layar ponselnya, ia pun segera menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, ma!"
"Waalaikum salam sayang, ini papa kamu mau bicara!"
Tidak berapa lama, berganti suara papanya yang masuk.
"Assalamualaikum pa!"
"Waalaikum salam sayang! Apa benar kamu tidak pa pa sayang?"
"Insyaallah Asna nggak pa pa kok pa!"
"Nggak pa pa pa, mas Raka pasti bisa mengerti kalau ada Shahia juga! Mas Raka sangat suka sama anak kecil jadi dia pasti tidak akan merasa terganggu!"
"Maaf ya sayang papa sama Mama nggak bisa ikut jemput!"
"Nggak pa pa, kan tadi Asna sendiri yang minta papa sama Mama buat nggak usah datang, nanti saja kalau mas Raka sudah lebih baik, Asna janji akan ngajak mas Raka ke rumah!"
"Kamu yang sabar ya nak!"
"Asna hanya minta doanya ya pa, doakan Asna agar bisa melewati semua ini!"
"Pasti!"
"Ya udah ya pa, ini sudah sampai di depan rumah sakit, Asna tutup dulu ya telponnya!"
"Iya sayang, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah menutup telponnya, Asna segera keluar dari mobil saat Ridwan sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk agar nanti tidak kesusahan lagi saat naik.
"Tunggu benar ya Wan?"
"Iya mbak! Kalau perlu bantuan, bak bisa hubungi Ridwan ya mbak!"
"Iya!"
Asna segera masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruangan Raka.
__ADS_1
"Assalamualaikum mas!" sapa Asna, terlihat Raka sudah siap di atas kursi roda dengan tas besar di atas pangkuannya.
"Waalaikum salam, kok kamu yang datang?"
"Iya, soalnya Abi sama umi minta Asna buat jemput mas Raka!"
"Kok gitu, nggak percaya aku! Bentar mana ponselku!"
Ponsel mas Raka masih aku tinggal di rumah lagi ....
"Apa aku ke sini nggak bawa ponsel?"
"Kan kecelakaan mana sempat bawa ponsel, pakek ponsel aku aja! Biar aku telponkan ke umi!" Asna pun segera melakukan panggilan telpon ke uminya.
Asna sengaja men-loundspeaker agar Raka langsung bisa mendengarnya, takut jika sampai Raka memegang ponselnya ia melihat foto mereka berdua, Asna lupa mengganti wallpaper layar depan ponselnya.
"Assalamualaikum umi!"
"Waalaikum salam sayang, ada apa?"
"Ini mas Raka mau bicara, umi!" Asna hanya mendekatkan saja ponselnya tanpa berniat untuk menyerahkan pada sang suami.
"Hallo Ka, ada apa?"
"Umi benar nyuruh Asna buat jemput Raka?"
"Iya sayang, maaf ya! Soalnya Abi sama umi lagi ada acara pengajian di luar kota! Kamu nggak keberatan kan?"
"Nggak umi! Ya sudah umi sama.abi hati-hati ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Asna pun segera mematikan sambungan telponnya.
"Bagaimana sekarang? Mau pulang atau tetap di sini?"
"Aku nggak tahu ya apa yang kamu lakukan sama Abi sama umi sampai mereka begitu banget sama kamu!"
Asna langsung menarik dan mendorong kursi roda Raka ke luar ruangan, "Aku kasih tahu ya mas, karena Asna ini anak baik, sangat baik sampai mereka begitu mempercayakan putranya pada Asna! Gimana? Cukup?"
"PD sekali!"
"Ya harus, memang semua itu nyata, dan mas Raka juga harus bersyukur karena ada Asna!"
"Kamu ini benar-benar_!"
"Menggemaskan kan?"
Raka memilih diam dari pada terus berdebat dengan Asna yang tidak akan pernah ada habisnya. Saat ia berdebat dengan Leon ia selalu merasa menang tapi saat berdebat dengan Asna, wanita itu selalu berhasil mematahkan setiap ucapannya.
"Keterlaluan!" gerutu Raka dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh Asna, dan Asna hanya tersenyum mendengar bagaimana suaminya menggerutu. Ingin rasanya mencubit bibirnya seandainya bisa.
Bersambung
...Selamat hari raya idul Fitri minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...