Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa 7)


__ADS_3

...Dia tidak luar biasa atau memiliki kelebihan sama seperti yang lainnya tapi dia sangat istimewa di hati, saat menatapnya akan ada beberapa definisi dalam hidupnya yang menarik untuk di pahami...


...🌺Selamat membaca🌺...


Nisa pun menyerah, ia pun kembali ke atas mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari Leon.


"Nanti saja setelah sholat!" gumam ya lalu meletakkan benda pipinya itu di atas tempat tidur lalu mengambil mukenanya dan membawanya ke ruang sholat yang ada di lantai bawah.


Sesampai di ruang bawah langsung di sambut mamanya yang sudah lebih dulu siap,


"Cuma berdua ma?" tanya Nisa karena biasanya ada papa atau kakaknya.


Mama Nisa menggelengkan kepalanya, padahal Nisa tadi tahu jika papanya pergi ke mushola,


"Kan papa kamu ke mushola!"


"Bukan papa ma, maksudnya Kak Reza sama mbak Naya, mereka nggak pulang ma?"


"Tadi mereka sudah pamit sama mama mau menginap di rumah mertuanya, rumah kakak kamu kan juga sudah jadi mungkin akan jarang menginap di sini!" ucap mamanya dengan wajah yang sedih.


Nisa jadi ikut sedih melihatnya, Nisa pun menggeser duduknya dan mengusap lengan mamanya yang tertutup mukena,


"Sabar ma, kan ada Nisa!"


"Nisa kan sebentar lagi sudah mau menikah! Nanti kalau kamu ikut suami, mama sama papa jadi sendiri dong!"


Benar saja, dia juga tidak mungkin memaksa suaminya untuk tinggal bersama orang tuanya, dia akan jadi seorang istri dan sudah kodrat seorang istri mengikuti kemanapun suaminya pergi.


"Mama!!" Nisa memeluk mamanya itu erat , ia mengusap punggung mamanya, "Insyaallah kalau Nisa udah nikah, Nisa janji akan sering mengunjungi mama!"


"Janji ya sama mama!"


"Janji ma!"


Mereka semakin mengeratkan pelukannya cukup lama, hingga mamanya melepaskan pelukan putrinya itu.


"Sudah, sudah, kalau kita pelukan gini, terus kapan sholatnya, keburu habis waktu magribnya!"


Nisa pun melepaskan pelukan mamanya dan mulai sholat, kali ini mereka sholat jama'ah berdua saja.


Setelah selesai sholat Nisa pun terlihat terburu-buru melipat mukena nya.


Hal itu membuat mamanya curiga,


"Kenapa buru-buru sekali sayang?"


Nisa mendongakkan kepalanya saat sadar jika mamanya sudah memperhatikannya sedari tadi.


Nisa tersenyum, "Ada yang harus Nisa lakuin ma!"


Mama pun juga melepaskan mukenanya, lalu melipatnya dengan rapi dan menggeser duduknya agar dekat dengan Nisa,


"Boleh mama tanya nggak?"

__ADS_1


"Biasanya juga langsung tanya ma, jangan sungkan begini ma!"


Lagi-lagi mama tersenyum mendengarkan ucapan Nisa, ia mengusap bahu Nisa,


"Mama ingin bicara sebagai sesama perempuan, bukan sebagai mama kamu!"


Nisa terdiam, mamanya kali ini begitu serius.


"Kamu suka sama pria yang bernama Leon?"


"Ma!?"


"Kamu bisa jawab jujur nak, anggap mama ini seperti teman kamu, kamu bebas bercerita apa saja!"


"Mama pasti kecewa ya sama Nisa?" tanya Nisa, ia tahu Leon bukan pria yang seperti di harapkan kedua orang tuanya.


Bahkan Nisa tidak tahu nasab pria yang sudah menarik hatinya itu, ia hanya mengenal Leon sebagai pria dengan prinsip dan kemauan untuk belajar.


Dan saat itu dia sudah mulai jatuh cinta pada pria itu, saat Leon beberapa kali menolak bantuannya padahal dia yang merawatnya dengan alasan tidak ingin menyentuhnya karena di larang dalam agama hingga ia bisa menjadikannya halal baginya.


Apakah Mama bisa menerima pemikiran Nisa?


Mama nisa menggelengkan kepalanya, ia pun kembali bertanya saat melihat putrinya hanya diam,


"Apa yang membuatmu tertarik dengan laki-laki itu?"


Nisa bingung harus menjawab apa, ia hanya tahu jika pria itu sudah sangat berusaha.


"Dia bukan pria yang begitu istimewa ma, saat kita melihatnya pertama kali, ada kesan yang berbeda dengan saat kita berbicara dengannya, dia bukan pria yang agamis tapi dia tahu batasan mana yang harus di lalui, dia mengenal Islam walaupun tidak seperti kita mengenalnya, tapi dia punya kemauan untuk belajar!"


"Sepertinya pria yang menarik, mama jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya besok!"


"Jadi mama mau kasih kesempatan buat mas Leon?"


Mama Nisa pun menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih ya ma, bujuk papa juga ya ma!"


"Insyaallah!"


Nisa begitu senang sampai dia tidak mampu menyembunyikan senyumnya.


Nisa pun berpamitan pada mamanya untuk kembali ke kamar, ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


"Nisa ke kamar dulu ya ma!" ucapnya sambil menunjuk ke arah kamar dengan mukena yang sudah ia sandarkan di lengannya.


"Buru-buru sekali!"


"Ada yang harus Nisa lakukan yang tadi sempat tertunda!"


Nisa pun segera beranjak dan membetulkan jilbab instannya yang sedikit tertarik ke belakang, ia segera berlari ke kamarnya.


Sang mama hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka jika putrinya itu akan jatuh cinta.

__ADS_1


Selama ini Nisa hanya dekat dengan kakak-kakaknya saja, bahkan semua temannya perempuan. Baru saat masuk kuliah ia punya teman laki-laki dan itu hanya sekedar teman di kelas dan tidak lebih dari itu.


Nisa bukannya tidak pernah di kitbah, sudah banyak yang mengkhitbahnya tapi Nisa selalu mengatakan jika dia belum kepikiran untuk menikah.


Hingga di usianya yang ke dua puluh empat tahun ini, papa dan mamanya benar-benar memberi ketegasan pada Nisa untuk memilih jodohnya.


Tapi ternyata pertemuannya dengan seorang pria dua tahun lalu terus membekas dan membuatnya menunggu hingga pria itu siap datang dan mengkhitbahnya.


Sesampai di kamar, hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil ponselnya.


Nisa meletakkan mukenanya begitu saja di atas nakas, ia segera tidur tengkurap di atas tempat tidur dengan mengandalkan dadanya dengan guling.


Cukup lama ia mengetikkan kata-kata, dan beberapa kali juga telah ia hapus kembali saat dirasa kurang pas.


Hingga bibir Nisa terlihat berbisik mengucapkan basmallah saat ia yakin untuk mengirimkan isi pesannya itu,


"Bismillahirrahmanirrahim!"


//Maaf mas Leon jawabnya lama, Nisa sebenarnya tadi tanya dulu sama papa sama Mama, takut aja pas mas Leon ke sini ternyata papa sama Mama tidak ada//


Nisa mengakhiri pesan pertamanya lalu kembali mengetik lagi dan mengirimnya.


//Insyaallah besok ba'dha Ashar papa sama Mama di rumah kalau mas Leon mau ke rumah//


Dan lagi, Nisa mengetikkan pesan ha untuk yang ke tiga, yang ini menurutnya yang paling berat. Ada dua kemungkin yang bisa terjadi saat Leon membaca pesan ke tiganya.


//Mungkin ada orang lain juga yang akan datang, semoga mas Leon tidak merasa lemah olehnya, Nisa berharap dengan kedatangan mas Leon, apapun keputusannya nanti, Nisa ikhlas//


Nisa menutup wajahnya dengan guling yang ada di depannya, ia hanya tidak ingin kemungkinan keduanya.


Semoga mas Leon benar-benar datang ...


Beberapa kali ia melihat ponselnya dan berharap segera mendapatkan jawabannya.


Matanya berbinar saat sudah centang biru, tandanya pesannya sudah di baca, tapi terlihat dari layar hanya ada tulisan 'Sedang mengetik' hingga sekian lama tapi tidak juga ada pesan masuk.


Bahkan hingga tulisan 'online' itu berubah menjadi tanda jam.


Hehhhh


Terdengar helaan nafas panjang dari Nisa, ia meletakkan ponselnya saat yakin jika pesannya tidak akan di balas.


"Sudah tidak aktif, mas Leon hanya membacanya dan tidak berniat untuk membalasnya!" gumamnya.


Sudah lima menit yang lalu Leon tidak online. Nisa menyerah, ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kembali dan segera melaksanakan sholat isya' dan berharap bisa segera bertemu dengan papanya nanti di bawah.


Bersambung


...Aku dan kamu berbeda, tapi aku selalu berdoa dalam setiap sujudku, namamu lah yang sudah tertulis di lauhul Mahfudz sebagai tulang rusukku...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2