
Alex tidak mungkin menunggu sampai waktu isya', kasihan orang yang sedang duduk menunggu di gasebo itu.
Alex pun segera memakai kembali sepatunya dan berjalan menghampiri orang itu.
"Sudah selesai pak?" tanyanya saat Alex sudah berada di depannya. Pria itu pun segera berdiri dari duduknya.
"Saya sholat isya di rumah saja, Leon sudah mengatakan padamu kalau saya minta rumah biasa saja kan, bukan hotel?"
"Iya pak, pak Leon sudah mengatakan semuanya, anda minta rumah yang dekat dengan masjid atau mushola kan pak?"
"Iya! Lalu tentang asisten rumah tangga?"
"Iya, pak Leon juga sudah mengatakan jika asisten rumah tangga hanya akan datang jika pak Alex sudah meninggalkan rumah, dan pergi sebelum pak Alex datang!"
"Bagus!"
"Di sini pak mobilnya, mari!"
Sebuah mobil berwarna hitam yang masih terlihat baru terparkir di dekat mereka.
"Ini mobil baru?"
"Iya pak, mobil keluaran terbaru dengan berbagai fitur canggih!"
"Tidak perlu berlebihan seperti ini, aku tidak minta mobil baru kan!?"
"Maaf pak, jika tidak berkenan saya akan menggantinya!"
"Tidak perlu, sudah terlanjur juga kan!"
Pria itu kemudian membukakan pintu untuk Alex, pintu belakang.
"Saya di depan saja duduk sama kamu!"
"Nggak pa pa pak, bapak di belakang saja!"
"Tidak pa pa, aku sekalian mau melihat jalanan kota Blitar, nanti ajak saya berkeliling dulu ya!"
"Baik pak!"
Akhirnya Alex duduk di depan berdampingan dengan pria itu. Mobil pun mulai melaju meninggalkan gedung itu, gedung yang beberapa hari, atau minggu, atau mungkin bulan akan menjadi tempatnya bekerja.
"Oh iya, sedari tadi kamu belum memperkenalkan nama, nama kamu siapa?"
"Saya Irwan pak!"
"Baiklah, Irwan kita besok sudah bisa mulai bekerja kan, bagaimana soal pembangunan sekolah itu?"
"Kita bisa ke sana besok pak, oak Alex bisa mengeceknya langsung!"
"Baiklah, besok antar saya ke sana!"
"Baik pak!"
...***"***...
__ADS_1
Di tempat lain anak muda yang tadi di lihat oleh Alex kini sudah memarkir motornya di depan rumah yang terlihat sederhana itu.
Seorang wanita paruh baya sudah menunggunya di depan.
"Assalamualaikum, bu!"
"Waalaikum salam!"
Anak muda itu segera mencium punggung tangan ibunya.
"Dari mana saja, kok sampek bar magrib baru pulang?"
"Tadi suruh benerin pompa air mushola dulu buk!"
"Kalau mau ke mana-mana itu mbok ya ngomong dulu sama ibuk, biar ibuk itu nggak cemas!"
"Maaf buk, maaf, ya udah Nino mandi dulu ya, gerah banget, tadi sholat magrib nggak mandi soalnya!"
"Koprok, pantes lebus anbumu .... ( Jorok, pantas bau)!"
Mendengar ledekan dari ibunya, Nino hanya tertawa. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan kembali keluar dengan membawa handuk menuju ke kamar mandi, kamar mandi di rumah itu hanya ada dua, satu di kamar utama dan daru lagi berada di dekat dapur.
Ia mampir dulu ke dapur saat melihat mbaknya sedang menggoreng tempe untuk lauk makan malam. Ia mencomot satu tempe yang sudah berada di atas piring.
"Minta yo mbak, Nino laper!" ucapnya saat tempe itu sudah mendarat di mulutnya.
"Nino, jorok ih ...., tanganmu kotor itu lo ...!"
"Keburu laper mbak!" ucap Nino sambil berlari ke kamar mandi dengan mulut yang masih penuh dengan tempe.
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan adik laki-lakinya itu.
Tidak berapa lama, setelah menutup kembali pintu rumah, bu Santi menghampiri putrinya hanya hampir menyelesaikan pekerjaan.
"Sudah matang, Ay?"
"Sudah bu, bentar lagi Aisyah taruh meja!"
"Ibu ajak Kia sama Arsyi ke sini ya!"
"Iya bu, oh iya bu, Nino dari mana bu, kok baru pulang?"
"Katanya habis benerin pompa air di mushola!"
Bu Santi pun menghampiri cucunya yang sedang bermain mewarna, dua anak itu hanya berjarak satu tahun jadi lebih mirip seperti anak kembar.
Aisyah menyiapkan makan malam, ia menata semua masakannya di atas meja.
Setelah Nino selesai dengan mandinya, ia kembali ke kamar hanya dengan memakai handuknya.
"Nino ...., jangan kebiasaan deh!" protes Aisyah.
"Apa sih mbak?"
"Kalau keluar dari kamar mandi itu pakek baju sekalian, nanti kalau tiba-tiba ada tamu cewek bagaimana?"
__ADS_1
"Ribet mbak, kalau ke kamar mandi bawa baju ganti!"
"Ya sudah sana, cepetan pakek baju, kita makan!"
"Siap mbakkyu yang cantik!"
"Lebay!"
Nino segera ke kamarnya, ia memakai celana pendek lengkap dengan sarungnya dan juga kaos lengan pendek berwarna hitam itu.
Ia punya tugas penting di rumah itu, saat di rumah ia harus mengajak Arsyi untuk sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya.
Jadi nanti setelah makan, ia bisa langsung ke mushola untuk sholat berjamaah.
"Makannya jangan banyak-banyak dulu Nino!"
Mereka sudah berada di meja makan.
"Kenapa sih mbak?"
"Nanti kalau makannya kamu banyakin, kamu ngantuk, bentar lagi azan, nanti aja setelah pulang dari mushola baru makan lagi!"
"Ars ..., kenapa mama kamu ribet banget sih?" ucapnya pada keponakan kecilnya itu.
"Ayah cuka ngantuk cih!" ucap Arsyi dengan suara khas anak kecil itu.
Nino mengerutkan keningnya, ia menatap keponakan perempuan nya, "Kia, ini pasti kamu yang ngajarin ya?"
"Salah Kia apa?" tanya gadis kecil itu seperti tanpa beban.
"Kamu ngajarin Arsyi panggil paman ayah, iya kan? Kau ini, aku bisa nggak laku gara-gara di kira udah punya anak, apalagi kamu selalu mengatakan itu di depan Bu guru Kinan!" protes Nino.
Semua tertawa melihat kelakuan Nino, Kia berhasil mengerjai pamannya itu.
"Lagian bu guru Kinan apa ya mau sama kamu, Nino ..., Nino ...!"
"Ibu ihhhh ...., ikut-ikutan ngledek Nino!"
"Abis kamu jorok banget, kuoproh e puolll (Benar-benar jorok)!"
"Nggak pa pa buk jorok asal ganteng!"
Mereka makan sambil terus berdebat, ucapan Kia yang ceplas-ceplos itu sering membuat Nino mati kutu, apalagi Nino sering curi perhatian sama bu guru Kinan, guru Paud Kia. Muda dan cantik. Tapi Kia selalu mengacaukan nya.
Bersambung
...Saat satu waktu dunia tidak ingin kita bersama, tidak apa aku akan menunggumu hingga di mana ada satu waktu dunia meminta kita untuk kembali, saat itu aku tidak akan pernah melepas tanganmu lagi...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1