
Karena mendapat penolakan dari Aisyah, Alex tak ambil pusing. Ia memilih untuk duduk di
sofa kamarnya. Ia menghibur dirinya dengan membaca apapun yang bisa di baca di
depannya sambil memperhatikan Aisyah.
Sebenarnya kali ini perasaannya merasa terluka oleh perlakuan Aisyah yang terkesan begitu
jijik dengannya.
Aisyah yang sudah puas menangis segera berdiri, ia melihat jilbabnya yang tergeletak
begitu saja di atas tempat tidur,
“Astagfirullah …!” pekik Aisyah sambil memegangi rambutnya yang terurai berantakan. Dengan cepat Aisyah menyambar jilbabnya itu dan mengenakannya kembali.
“Bisakah lain kali anda mengetuk pintu dulu jika akan masuk kamar?” Aisyah
memperingatkan pria yang duduk santai itu dengan tatapan penuh kebencian.
“Ini rumah ku, ini kamarku, aku tidak perlu mengetuk pintu hanya untuk masuk ke
dalam kamarku!” Alex berdiri dari duduknya dan menghampiri Aisyah. ia tampak
begitu emosi, belum selesai kekesalannya atas penolakan Aisyah, kini sudah di
tambah lagi.
“Saya tidak selalu menutup aurat saat di dalam kamar, jadi ada baiknya anda mengetuk
pintu agar saya bisa siap-siap menutup aurat saya!”
“Jangan lupa, kamu adalah istriku!” ucap Alex sambil menarik dagu Aisyah hingga wajah
Aisyah terangkat ke atas membuat mereka saling bertatapan, Alex menatap Aisyah
begitu tajam, “jadi sudah menjadi hak saya melihat apapun yang kamu punya,
jangan suka jual mahal!”
Alex pun melepaskan dagu Aisyah dengan begitu kasar hingga tubuh Aisyah terpental ke
tempat tidur, Alex segera berlalu begitu saja meninggalkan kamar itu.
***
Setelah kejadian itu Alex tak juga kembali hingga waktu makan malam tiba, kini Aisyah
hanya makan malam bersama dengan nenek Widya.
“Kamu yang sabar ya sama Alex, sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja keadaan
yang membuatnya seperti itu!”
“Iya nek …, nenek mau makan yang mana biar Aisyah ambilin?”
“Yang mana aja …, nenek mau!”
Akhirnya mereka pun hanya makan berdua. Aisyah malah senang jika Alex tidak pulang malam ini, setidaknya ia bisa tidur dengan nyenyak jika tidak ada Alex.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Aisyah membantu bibi untuk membersihkan meja makan.
“Di panasi aja bi makanannya, nanti kalau mas Alex pulang biar dia makan!” ucap
__ADS_1
Aisyah sambil menyerahkan sayur yang sengaja ia pisahkan untuk Alex tadi, ia
sudah berjaga-jaga kalau-kalau Alex tidak ikut makan malam. Melihat kepergian
Alex tadi sepertinya dia benar-benar marah.
“Iya non!”
“Ya udah, aku ke kamar du ya bi. Kalau sudah selesai bibi langsung istirahat saja!”
Aisyah pun segera meninggalkan dapur setelah selesai dengan pekerjaannya, nenek Widya
sudah masuk kamar sejak tadi.
Sesampai di kamar, ia segera mengambil buku dan laptopnya. Ia harus mengerjakan tugas,
sudah beberapa hari ini ia tidak masuk kuliah, ia cukup ketinggalan pelajaran.
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia melihat jam jarum jam itu sudah menunjuk ke angka 11
malam.
“Mas Alex beneran belum pulang, apa aku tadi sangat keterlaluan ya?”
Aisyah pun kembali memasukkan buku dan laptopnya ke dalam tas ranselnya. Ia hendak
tidur tapi saat melihat tempat tidur itu ia begitu ragu untuk tidur si sana, bagaimana kalau mas Alex pulang dan tiba-tiba tidur di sampingku, batin Aisyah.
Akhirnya Aisyah memutuskan untuk kembali tidur di sofa, sofa di kamar ini lebih besar
dari pada sofa di kamar hotel, akan lebih nyaman tidur di sofa itu dari pada
yang semalam.
Aisyah segera mematikan lampu utama dan menggantinya dnegan lampu tidur, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Kali ini ia sengaja mengambil selimut di atas tempat tidur itu. Matanya sudah mulai terasa pedas, ia memilih memejamkan matanya dan dalam
***
Pagi ini seperti sebelumnya saat ia bangun tidak mendapati siapapun di kamar itu
selain dirinya sendiri, tapi yang lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba ia sudah
terbangun di atas tempat tidur.
“Kok bisa sih? Mana mungkin aku tidur sambil berjalan!”
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka, Alex muncul dari balik pintu itu. Untung saja Aisyah sudah
berjaga-jaga. Ia tidur tanpa melepas hijabnya.
“Saya yang memindahkan mu!” ucap alex tanpa menatap Aisyah, dan seperti sebelumnya ia
sudah terlihat segar di pagi buta seperti ini.
“jadi mas Alex menggendongku sampai ke tempat tidur?”
“Iya!”
“Sudah ku bilang, aku tidak mau di sentuh oleh mu, mas!” keluh Aisyah.
“kalau tidak mau aku sentuh, tidur di tempat tidur. Tempat tidur itu di buat untuk di
__ADS_1
jadikan tempat tidur, bukan tidur si sofa!”
‘Tapi …!”
“Aku tidak akan tidur di kamar setiap malam, jadi kamu bebas menguasai tempat tidur
itu!”
Akhirnya Aisyah bisa bernafas lega, tidak peduli pria itu akan menghabiskan malamnya
dengan siapa yang terpenting ia tidak harus tidur satu ranjang dengan pria yang
sudah menjadi suaminya itu.
Aisyah pun tidak mau terlalu lama berdebat dengan pria itu, ia memilih untuk menuju ke
kamar mandi dan mengambil air wudhu, masih jam setengah empat pagi, masih ada
waktu baginya untuk sholat tahajud.
Ia melihat Alex sudah sibuk dengan pekerjaannya di pagi buta seperti itu, Aisyah
tidak terlalu peduli. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Aisyah
bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
Ia sudah mengatakan sebelumnya pada bibi, jika dia yang akan menyiapkan sarapan
mulai saat ini. Saat membuka lemari penghangat, ia sudah tidak mendapati sayur
yang di simpannya untuk suaminya.
“Bi …, apa semalem mas alex makan?”
“Iya non, sepertinya tuan makan, soalnya tadi ada piring bekas makan di meja makan!”
“Syukurlah …!”
Setelah menyelesaikan memasaknya, Aisyah bergegas kembali ke kamar. Ia harus segera
mandi dan berangkat ke kampus.
Di dalam kamar ia tidak mendapati Alex, mungkin Alex sudah berangkat lebih dulu.
Tapi masih jam tujuh. Benar saja, dari jendela kamarnya ia bisa melihat mobil
Alex keluar dari gerbang.
Aisyah kembali turun saat semuanya sudah siap, ia sarapan bersama dengan nenek widya,
hanya berdua saja.
“Oh iya sayang …, Alex menitipkan ini untukmu!” ucap nenek Widya sambil menggeser
sebuah kartu hingga mendekati Aisyah.
“Ini tidak perlu nek, Aisyah masih punya tabungan!”
‘Ini hak kamu sayang, terimalah!”
Akhirnya walaupun dengan terpaksa Aisyah menerimanya, setelah menyelesaikan sarapannya ia bergegas untuk berangkat. Ia sudah memesan taksi online, ia terpaksa memesan taksi karena belum terlalu tahu dengan daerah rumah nenek Widya, ia tidak tahu angkutan umum apa saja yang melewati gang depan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰😘😘❤️