Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Alex begitu cuek dengan Aisyah


__ADS_3

Karena mendapat penolakan dari Aisyah, Alex tak ambil pusing. Ia memilih untuk duduk di


sofa kamarnya. Ia menghibur dirinya dengan membaca apapun yang bisa di baca di


depannya sambil memperhatikan Aisyah.


Sebenarnya kali ini perasaannya merasa terluka oleh perlakuan Aisyah yang terkesan begitu


jijik dengannya.


Aisyah yang sudah puas menangis segera berdiri, ia melihat jilbabnya yang tergeletak


begitu saja di atas tempat tidur,


“Astagfirullah …!” pekik Aisyah sambil memegangi rambutnya yang terurai berantakan. Dengan cepat Aisyah menyambar jilbabnya itu dan mengenakannya kembali.


“Bisakah lain kali anda mengetuk pintu dulu jika akan masuk kamar?” Aisyah


memperingatkan pria yang duduk santai itu dengan tatapan penuh kebencian.


“Ini rumah ku, ini kamarku, aku tidak perlu mengetuk pintu hanya untuk masuk ke


dalam kamarku!” Alex berdiri dari duduknya dan menghampiri Aisyah. ia tampak


begitu emosi, belum selesai kekesalannya atas penolakan Aisyah, kini sudah di


tambah lagi.


“Saya tidak selalu menutup aurat saat di dalam kamar, jadi ada baiknya anda mengetuk


pintu agar saya bisa siap-siap menutup aurat saya!”


“Jangan lupa, kamu adalah istriku!” ucap Alex sambil menarik dagu Aisyah hingga wajah


Aisyah terangkat ke atas membuat mereka saling bertatapan, Alex menatap Aisyah


begitu tajam, “jadi sudah menjadi hak saya melihat apapun yang kamu punya,


jangan suka jual mahal!”


Alex pun melepaskan dagu Aisyah dengan begitu kasar hingga tubuh Aisyah terpental ke


tempat tidur, Alex segera berlalu begitu saja meninggalkan kamar itu.


***


Setelah kejadian itu Alex tak juga kembali hingga waktu makan malam tiba, kini Aisyah


hanya makan malam bersama dengan nenek Widya.


“Kamu yang sabar ya sama Alex, sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja keadaan


yang membuatnya seperti itu!”


“Iya nek …, nenek mau makan yang mana biar Aisyah ambilin?”


“Yang mana aja …, nenek mau!”


Akhirnya mereka pun hanya makan berdua. Aisyah malah senang jika Alex tidak pulang malam ini, setidaknya ia bisa tidur dengan nyenyak jika tidak ada Alex.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Aisyah membantu bibi untuk membersihkan meja makan.


“Di panasi aja bi makanannya, nanti kalau mas Alex pulang biar dia makan!” ucap

__ADS_1


Aisyah sambil menyerahkan sayur yang sengaja ia pisahkan untuk Alex tadi, ia


sudah berjaga-jaga kalau-kalau Alex tidak ikut makan malam. Melihat kepergian


Alex tadi sepertinya dia benar-benar marah.


“Iya non!”


“Ya udah, aku ke kamar du ya bi. Kalau sudah selesai bibi langsung istirahat saja!”


Aisyah pun segera meninggalkan dapur setelah selesai dengan pekerjaannya, nenek Widya


sudah masuk kamar sejak tadi.


Sesampai di kamar, ia segera mengambil buku dan laptopnya. Ia harus mengerjakan tugas,


sudah beberapa hari ini ia tidak masuk kuliah, ia cukup ketinggalan pelajaran.


Setelah menyelesaikan tugasnya, ia melihat jam jarum jam itu sudah menunjuk ke angka 11


malam.


“Mas Alex beneran belum pulang, apa aku tadi sangat keterlaluan ya?”


Aisyah pun kembali memasukkan buku dan laptopnya ke dalam tas ranselnya. Ia hendak


tidur tapi saat melihat tempat tidur itu ia begitu ragu untuk tidur si sana, bagaimana kalau mas Alex pulang dan tiba-tiba tidur di sampingku, batin Aisyah.


Akhirnya Aisyah memutuskan untuk kembali tidur di sofa, sofa di kamar ini lebih besar


dari pada sofa di kamar hotel, akan lebih nyaman tidur di sofa itu dari pada


yang semalam.


Aisyah segera mematikan lampu utama dan menggantinya dnegan lampu tidur, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Kali ini ia sengaja mengambil selimut di atas tempat tidur itu. Matanya sudah mulai terasa pedas, ia memilih memejamkan matanya dan dalam


***


Pagi ini seperti sebelumnya saat ia bangun tidak mendapati siapapun di kamar itu


selain dirinya sendiri, tapi yang lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba ia sudah


terbangun di atas tempat tidur.


“Kok bisa sih? Mana mungkin aku tidur sambil berjalan!”


Ceklek


Tiba-tiba pintu terbuka, Alex muncul dari balik pintu itu. Untung saja Aisyah sudah


berjaga-jaga. Ia tidur tanpa melepas hijabnya.


“Saya yang memindahkan mu!” ucap alex tanpa menatap Aisyah, dan seperti sebelumnya ia


sudah terlihat segar di pagi buta seperti ini.


“jadi mas Alex menggendongku sampai ke tempat tidur?”


“Iya!”


“Sudah ku bilang, aku tidak mau di sentuh oleh mu, mas!” keluh Aisyah.


“kalau tidak mau aku sentuh, tidur di tempat tidur. Tempat tidur itu di buat untuk di

__ADS_1


jadikan tempat tidur, bukan tidur si sofa!”


‘Tapi …!”


“Aku tidak akan tidur di kamar setiap malam, jadi kamu bebas menguasai tempat tidur


itu!”


Akhirnya Aisyah bisa bernafas lega, tidak peduli pria itu akan menghabiskan malamnya


dengan siapa yang terpenting ia tidak harus tidur satu ranjang dengan pria yang


sudah menjadi suaminya itu.


Aisyah pun tidak mau terlalu lama berdebat dengan pria itu, ia memilih untuk menuju ke


kamar mandi dan mengambil air wudhu, masih jam setengah empat pagi, masih ada


waktu baginya untuk sholat tahajud.


Ia melihat Alex sudah sibuk dengan pekerjaannya di pagi buta seperti itu, Aisyah


tidak terlalu peduli. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Aisyah


bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.


Ia sudah mengatakan sebelumnya pada bibi, jika dia yang akan menyiapkan sarapan


mulai saat ini. Saat membuka lemari penghangat, ia sudah tidak mendapati sayur


yang di simpannya untuk suaminya.


“Bi …, apa semalem mas alex makan?”


“Iya non, sepertinya tuan makan, soalnya tadi ada piring bekas makan di meja makan!”


“Syukurlah …!”


Setelah menyelesaikan memasaknya, Aisyah bergegas kembali ke kamar. Ia harus segera


mandi dan berangkat ke kampus.


Di dalam kamar ia tidak mendapati Alex, mungkin Alex sudah berangkat lebih dulu.


Tapi masih jam tujuh. Benar saja, dari jendela kamarnya ia bisa melihat mobil


Alex keluar dari gerbang.


Aisyah kembali turun saat semuanya sudah siap, ia sarapan bersama dengan nenek widya,


hanya berdua saja.


“Oh iya sayang …, Alex menitipkan ini untukmu!” ucap nenek Widya sambil menggeser


sebuah kartu hingga mendekati Aisyah.


“Ini tidak perlu nek, Aisyah masih punya tabungan!”


‘Ini hak kamu sayang, terimalah!”


Akhirnya walaupun dengan terpaksa Aisyah menerimanya, setelah menyelesaikan sarapannya ia bergegas untuk berangkat. Ia sudah memesan taksi online, ia terpaksa memesan taksi karena belum terlalu tahu dengan daerah rumah nenek Widya, ia tidak tahu angkutan umum apa saja yang melewati gang depan.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰😘😘❤️


__ADS_2