Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Mengecoh)


__ADS_3

Pagi hari Gus Raka Kembali menuju ke dapur, ia berharap bisa menemukan suara yang mirip dengan perempuan yang ada dalam rekaman itu.


"Mas Raka mau sesuatu? Biar saya buatkan!" tawar wanita yang sudah senior itu, dia pelayan yang langsung Leon bawa dari rumah Oma Widya.


Mungkin dia bisa aku percaya ....


"Aku mau kopi saja!"


"Baik mas, biar saya buatkan!"


Sambil menunggu asisten rumah tangga itu membuatkan kopi, Gus Raka tampak merancang pertanyaan untuk bertanya pada wanita yang tampak sibuk dengan pekerjaannya itu.


"Apa semalam ada asisten rumah tangga yang pergi keluar?"


Wanita yang sedang merebus air itu menoleh pada Gus Raka yang ada di belakangnya.


"Ada mas, saya lupa mengatakannya Kalau semalam memang ada 2 pelayan yang izin keluar karena ada keperluan!"


"Siapa?"


"Ada dua mas!"


"Dua?"


Akan sulit lagi nih yang mana orangnya ....


"Iya, ada apa ya mas kalau boleh tahu?"


"Bukan apa-apa, hanya ingin tahu siapa saja orang-orang yang bekerja di sini, kan saya baru di sini!"


"Ahhh iya, saya sampai nggak sadar kalau mas Raka ini baru, rasanya kayak tuan Leon aja!" wanita itu tampak menghela nafas, seperti turut merasa kehilangan.


"Bu, airnya mendidih!" Gus Raka melihat air di atas tungku kompor sudah mendidih.


"Iya!" wanita itu segara berbalik dan mematikan kompornya. Mengangkat panci kecil dengan bantuan lap dan menuangkan perlahan air ke dalam cangkir yang sudah berisi racikan kopi dan gula.


Setelah mengaduk sebentar, wanita itu mendekatkan cangkir yang masih tampak mengepulkan asap itu pada Gus Raka.


"Silahkan mas! Ini kopi kesukaan tuan Leon dulu!" lagi-lagi wanita itu seperti kembali mengenang sosok Leon.


"Terimakasih Bu!" Gus Raka tersenyum dan mengirup aroma kopi yang menggoda.


"Siapa namanya?"


"Nama siapa mas? Saya?"


"Bukan, saya sudah tahu mana bibi, nama asisten rumah tangga yang semalam keluar?"


"Oh itu, namanya Erna sama Desi!"


"Kalau boleh tahu mereka pergi ke mana?"


"Katanya belanja, tapi semalam kayaknya pulang nggak bawa apa-apa!"


"Dua-duanya?"


"Iya!" bibi itu mengedarkan pandangannya, "Itu mas Raka orangnya, mau saya panggilan?" ucapnya lagi sambil menunjuk dua gadis yang sedang sibuk membersihkan ruang keluarga.


"Tidak perlu bi, saya kan tadi cuma ingin tahu saja, ya sudah kalau bibi mau lanjut kerja silahkan!"


"Iya mas, maaf ya!"


"Harusnya saya yang minta maaf karena sudah ngajak ngobrol bibi terus dari tadi!"


"Nggak pa pa mas, kalau ada apa-apa lagi, boleh deh tanya saya lagi!"


Gus Raka mengangukkan kepalanya dan tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi!"


Setelah bibi itu pergi, Gus Raka sedang mengamati dua gadis yang di tunjuk oleh bibi tadi. Antara dapur dan ruang keluarga terhalang sebuah kaca yang hanya bisa di lihat dari satu arah jadi gus Raka bisa mengawasi mereka dengan bebas tanpa mereka ketahui.


Sekilas tampak tidak ada yang mencurigakan, hingga pemuda yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih menghampiri mereka, pria itu tampak mengajak salah satu dari mereka bicara dan dari saku celananya gadis itu menyerahkan sesuatu.


"Itu apa?" gumam gus Raka. "Apa itu tadi kunci? Kunci mana?"


Gus Raka tampak berpikir hingga ia teringat dengan gadis itu yang beberapa hari lalu berpapasan di depan kamarnya yang ada di bawah, wajahnya tampak terkejut saat berpapasan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"I_ini mas Raka, saya mau memanggil mas Raka buat makan malam!"


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?"


"Tidak mas, sungging saya tidak berani, ini saya hanya membawa sabun mandi, sebenarnya tadi saya ingin mandi lalu di minta mbak Nisa buat panggil mas Raka!"


"Baiklah kamu boleh pergi sekarang!"


Setelah wanita itu pergi Gus Raka segera mengunci kembali pintunya dan mencabut kuncinya, ia baru sadar jika kuncinya tidak di cabut dari pintu.


Dan saat itu kuncinya beraroma sabun, apa mungkin? Iya sepertinya ...


Gus Raka pun segera merogoh saku celananya, mengambil benda pipih yang ada di dalam sakunya.


"Segeralah ke sini, bawa peralatan kunci pintu, aku mau ganti slot pintu beserta kuncinya!"


"Baik, dalam sepuluh menit aku akan sampai!"


Gus Raka menikmati kembali kopinya sambil menunggu orang suruhannya datang.


Tepat sepuluh menit kemudian, gadis yang tadi sibuk bersih-bersih di ruangan segera menghampiri Gus Raka.


"Maaf mas, di depan ada tukang kunci!"


Gus Raka segera mendongakkan kepalanya mendengarkan suara wanita itu.


Jadi dia orangnya? tampangnya tampak gadis baik-baik


"Mas Raka, di depan ada tukang kunci!" ucapnya lagi saat Gus Raka tidak merespon ucapannya.


"Baiklah, suruh saja masuk aku menunggu di depan kamar!"


"Baik mas!"


Tidak berapa lama, gadis itu kembali dengan seseorang yang di maksud tukang kunci.


"Ada apa mas dengan pintunya?"


"Kunci kamarku macet, jadi aku mau ganti saja!" Gus Raka berbicara sambil memperhatikan wajah gadis yang masih berdiri di belakang pria tukang kunci itu. Tampak sekali dia begitu kecewa karena rencananya gagal.


Gus Raka sedikit menjauh saat tukang kunci itu melakukan pekerjaannya, gadis yang tadi mengantarnya sudah tidak ada, entah pergi ke mana dia, mungkin mengadu karena ternyata rencananya gagal.


"Sudah selesai!"


"Baiklah, terimakasih!"


"Aku cuma punya dua kunci, jadi kalau bisa jangan sampai hilang!"


"Baik!"


"Aku pergi!"


Pria itu segera merapikan peralatannya dan pergi.


Saat sampai di depan, gadis yang tadi mengantarnya kembali menghampirinya.

__ADS_1


"Mas, mas tunggu!"


Pria itu menoleh saat ada wanita yang memanggilnya, "Ada apa?"


"Mas, saya minta duplikat kunci untuk kamar mas Raka ya!"


"Untuk apa?"


"Saya kan orang yang membersihkan kamar itu, nggak enak kalau setiap kali akan bersih-bersih minta sama mas Raka!"


"Sayang banget, saya tadi cuma bawa dia kunci dan semuanya aku serahkan sama mas Raka!"


"Buatkan satu duplikat lagi bisa kan mas, saya akan bayar berapa saja, bagaimana?"


"Baiklah, saya akan buatkan, besok kamu bisa mengambilnya di rumah saya, ini alamatnya! Karena kunci ini langka jadi harus kamu sendiri yang ambil!"


"Baiklah!"


"Jangan lupa bawa uang satu juta!"


"Mahal sekali!" keluh wanita itu.


"Ya sudah kalau nggak mau!"


"Baiklah, satu juta kan?"


"Iya!"


"Besok sore datang saja ke alamat itu!" pria itu menunjukkan tulisan yang ada di dalam kartu nama itu.


Setelah menaiki motornya, pria itu segera melajukan motornya. Tepat saat sampai di pertigaan yang sepi, pria itu menghentikan motornya dan merogoh benda pipih yang ada di balik saku jaketnya lalu melakukan panggilan pada seseorang.


"Hallo!"


"Iya bagaimana?"


"Iya benar, feeling kamu! gadis itu ingin mendapatkan kunci duplikatnya!"


"Sudah ku duga!"


"Kamu harus lebih hati-hati, besok dia akan datang ke kandang macam, aku harus apakan dia?"


"Sandera saja dia sebagai tawanan!"


"Baik!"


Setelah mengakhiri panggilannya, pria itu kembali melajukan motornya.


Gus Raka pun demikian, sebenarnya mereka tidak mengganti slot pintu, ia dan pria itu hanya berakting saja untuk mengecoh lawan.


Benar apa yang di katakan jika kunci itu hanya ada dua, satu di pegang olehnya dan satu lagi di pegang oleh Nisa.


Gus Raka pun kini bersiap-siap, segera berangkat ke toko untuk mengambil motornya yang ada di toko dan mengganti pakaiannya dengan seragam cleaning service.


Seperti biasa, sesampai di toko Gus Raka segera mengganti pakaiannya dan kembali melaju menggunakan motor bututnya menuju ke perusahaan Extensio, ia berharap di sana bisa menemukan bukti baru beberapa orang yang terlibat.


Mungkin ada salah satu yang ia kenal dan ikut menghianatinya dan Alex, sebenarnya bukti-bukti yang ia miliki sudah sangat cukup tapi ia masih harus mencari bukti lainnya lagi.


...Sebaik apapun kita menyembunyikan sebuah keburukan maka kebusukannya akan selalu tercium cepat atau lambat...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2