Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Aku mencemaskanmu)


__ADS_3

Walaupun perutnya sudah penuh, Leo. tetap berusaha menghabiskan makanannya dan segera membawa piring kotornya kembali ke dapur, di dapur ia masih bisa melihat aktifitas asisten rumah tangga, bukan melakukan pekerjaan tapi sepertinya dia bersiap-siap hendak pergi tidur dan mengisi botol airnya.


"Di taruh di situ saja mas piringnya, biar saya bersihkan besok pagi!"


"Nggak pa pa bi, bibi tidur saja biar saya cuci!"


"Jangan mas!" bibi itu terlihat tidak enak.


"Tidak pa pa, cuma satu saja." Leo masih tetap dengan pendiriannya dan tetap membawa piring kotor itu ke tempat cuci piring, mulai membuka kran air dan spon cuci, walaupun mungkin tidak seluwes itu tapi Leon tetap berusaha agar piringnya bisa bersih.


Bibi itu sepertinya sedikit cemas hingga menunggu Leon selesai,


"Sudah di letakkan di situ saja mas!" bibi yang usianya lebih tua dari mama Nisa itu menunjuk ke arah rak kecil saat melihat Leon kebingunan mencari tempat.


"Di sini?" tanya Leon sambil menunjukan caranya menaruh piring itu.


"Iya!"


Leon pun segera berlalu setelah memastikan semuanya berada di tempatnya, tapi urung ia lakukan. Ia kembali menghampiri bibi yang hampir mematikan lampu dapur,


"Bi!"


"Iya?" bibi kembali menoleh pada Leon.


"Bibi tahu nggak kalau Nisa marah pada saya?" memang seharusnya itu tidak perlu di tanyakan karena dari gelagatnya saja sudah terlihat jelas jika Nisa marah padanya, tapi inti dari pertanyaannya bukan itu.


"Masak sih mas, mbak Nisa marah sama mas Leon?" bibi yang belakangan ia tahu namanya bi Narsih itu malah balik bertanya.


"Saya hanya menduganya saja sih Bu, ya sudah selamat istirahat, saya juga!" Leon tidak mendapatkan jawaban dari bi Narsih. Mungkin memang dia harus mencari tahu sendiri.


Baru dua langkah ia berjalan, tiba-tiba BI Narsih kembali memanggilnya,


"Mas!"


Leon menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada wanita yang pantas menjadi ibunya itu,


"Iya?"


"Mbak Nisa memang suka seperti itu mas kalau ngambek, nggak banyak bicara, bicara seperlunya, tapi tidak akan lama kok mas!"


Leon tersenyum, akhirnya ia tahu jika istrinya itu memang sedang ngambek dengannya,


"Baiklah, terimakasih Bi!"

__ADS_1


"Sama-sama mas!"


Leon berjalan cepat menuju ke kamar, ada hal yang harus segera ia selesaikan sebelum semakin berlarut-larut.


Ia mendapati Nisa masih tetap di balik selimut, Leon pun perlahan mendekati tubuh sang istri, tidak berniat untuk mematikan lampu kamarnya.


"Nisa, sudah tidur ya?" tanyanya sambil mengusap bahu Nisa yang tertutup selimut. Tidak ada sahutan, walaupun ia tahu wanita itu belum tidur.


"Aku mau bicara, baiklah jika kamu tidak mau berbicara tapi dengarkan aku ya.


Pertama aku minta maaf karena sudah pulang telat, aku sudah mengatakannya tadi sebelum kamu turun dari mobil, pagi tadi."


Aku sudah tahu mas, tapi bukan itu yang membuatku kesal padamu, dengan kamu tidak mengirim pesan padaku itu menandakan kalau aku bukan prioritas kamu, aku cemburu mas, Nisa hanya bisa berucap dalam hati. Kesal tapi bercampur rindu menjadi satu. Ingin rasanya memeluk tubuh pria itu yang sudah satu hari tidak bertemu tapi sepertinya rasa kesalnya lebih berkuasa sekarang.


"Baiklah, kamu tetap tidak mau bicara atau bertanya seharian ini aku ke mana? lebih baik kita bicara besok pagi setelah perasaan kesalmu hilang."


Lohhh kok gitu sih mas, di bujuk kenapa sih? nggak kangen apa sama aku, batin Nisa bertambah kesal saat ini, ingin rasanya membuka selimut dan melotot pada pria yang tidak peka itu.


Leon pun kembali bangkit dan mematikan lampu kamarnya mengganti dengan lampu tidur. Ia segera tidur dengan memunggungi tubuh Nisa, bukan karena dia kesal tapi karena memang tidak ada keberanian untuk menyentuh istrinya saat marah seperti itu. Kangen, sudah pasti. Sehari tidak bertemu dengan sang istri sudah sangat berat baginya.


Nisa membuka perlahan selimutnya dan berbalik, ternyata sang suami memilih tidur membelakanginya. Ia menatap nanar punggung sang suami, rasanya begitu sesak di dada. Bukan ini yang ia inginkan, ia ingin suaminya membujuk dengan kata-kata halusnya, tiba-tiba rasa sesak itu membuncak juga berubah menjadi sebuah tangisan yang tersedu-sedu, hingga isakannya berhasil membuat Leon berbalik menatap kebingungan pada sang istri.


"Nisa kamu kenapa?" saat ini Nisa dengan menekuk kedua lututnya dan menelungkupkan wajahnya di sana, dari punggung yang bergerak naik turun ia bisa memastikan jika istrinya itu sedang menangis.


Nisa masih tidak ingin bicara, hingga Leon mendekatkan tubuhnya dan menarik kepala Nisa ke dada bidangnya, membiarkan wanita itu menangis di dadanya.


Nisa mengusap air matanya dengan punggung tangannya lalu mendongakkan kepalanya menatap sang suami dengan wajah sembabnya,


"Apa arti Nisa bagi mas Leon?"


Leon membantu menghapuskan sisa air mata yang ada di pipi Nisa,


"Kamu segalanya bagiku, Nisa! Demi Allah, kamu adalah hidupku."


"Jika benar begitu, kenapa hanya satu pesan saja tidak terkirim padaku hanya untuk memberitahukan keberadaan mas Leon agar aku tidak cemas?"


Leon baru teringat jika setelah memasuki wilayah yang tidak ada sinyal tadi, baterai hp nya habis dan sekarang bahkan belum mengcasnya.


"Maafkan aku, bateraiku habis, sungguh!"


"Mas, aku cemas setengah mati menahannya sendiri tanpa berani bercerita pada siapapun, aku takut jika kejadian kemarin kembali menimpa mas Leon, aku takut serangan itu kembali berlanjut!"


Leon tersenyum dan mengecup kening Nisa beberapa kali,

__ADS_1


"Sungguh aku minta maaf, lain kali aku akan mengajarimu setiap jam, kalau perlu setiap menit agar tidak sampai membuat istriku yang cantik ini menangis lagi."


Mendengarkan ucapan Leon, Nisa pun tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya,


"Tidak seperti itu juga mas, minimal beri kabar jika mau kemana pun!"


"Pasti!"


Nisa pun merenggangkan pelukannya dan perlahan menjauhkan tubuhnya,


"Mas dari mana sampai semalam ini baru pulang?"


Leon terlihat ragu untuk bercerita, rasa cemburu dan tidak rela jika sang istri memikirkan pria lain yang pernah bersaing dengannya membuatnya khawatir,


"Rahasia ya mas?"


Pertanyaan Nisa kembali menyadarkannya, dia tersenyum.


"Bukan seperti itu, hanya saja! Mungkin nanti aku akan bercerita!"


"Soal wanita?" pertanyaan Nisa berhasil membuat Leon menatap tajam pada sang istri, ia tidak menyangka jika istrinya akan berpikir demikian.


"Tidak_, sungguh!"


Nisa tersenyum melihat wajah pucat dari sang suami,


"Hanya becanda mas!"


Helaan nafas lega langsung keluar dari mulut Leon.


"Sungguh aku tidak pernah memikirkan wanita selain kamu, jangan berpikir macam-macam padaku!"


"Aku tahu!" Nisa kembali mengeratkan tangannya untuk memeluk sang suami.


Leon segera merebahkan tubuh istrinya dan menindihnya, rindunya sudah sangat membuncak hari ini. Tidak sabar untuk mengungkapkan betapa rindunya dia saat ini, hingga malam ini berlalu dengan begitu syahdu.


...Tidak apa jika kamu tidak ingin cerita saat ini, aku akan menunggu hingga kamu siap untuk mengatakannya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2