
Kini bus Fahmi sudah mengajak Bianka menuju ke pesantren untuk menemui abu dan uminya. Sebelum itu Bianka sudah berpamitan lebih dulu pada bu Santi dan juga Nino.
Ia tidak ingin menunggu lama lagi karena beberapa hari ini hidupnya tidak tenang, orang-orang suruhan ayahnya sudah beberapa kali menemukannya.
Mereka sudah berada di gerbang pesantren.
“aku kok jadi deg degan gini ya mas Fahmi!” ucap Bianka sambil menghentikan langkahnya. Ia memegangi dadanya yang dag dig dug.
Gus. Fahmi pun ikut berhenti, ia menoleh ke Bianka dan tersenyum,
“Nggak pa pa, abi sama umi nggak akan makan kamu, jadi jangan khawatir!"
Mendengar lelucon gus Fahmi membuat Bianka lebih tenang.
“Iya kali ….!” senyum Bianka. Lalu dengan refleknya ia menepuk pundak gus Fahmi.
Plekk
Gus Fahmi yang menunduk segera menatap Bianka. Karena sadar mendapat tatapan kaget dari gus Fahmi, Bianka akhirnya sadar jika apa yang dilakukannya salah.
“Astagfirullah, maaf! Itu tadi reflek!” ucap Bianka sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang dengan lancang menyentuh pria itu.
“Lain kali refleknya agak di tahan ya!” ucap gus Fahmi lembut, bukan marah tapi ia tersenyum.
“Siap!” ucap Bianka dengan senyum lebarnya dan meletakkan telapak tangannya di depan pelipisnya persis seperti orang yang sedang memberi hormat.
***
"Bismillahirrahmanirrahim ....!" ucap Bianka sebelum gus Fahmi mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" ucap gus Fahmi memberi salam. Dan tidak berapa lama terdengar sahutan dari dalam, seorang wanita dengan suara lembutnya.
"Waalaikum salam!"
Ceklek
Pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok wanita cantik dengan hijabnya yang menjuntai, senyumnya begitu meneduhkan.
"Fahmi ....!"
"Iya umi!"
__ADS_1
"Kenapa ketuk pintu?" tanya Bu Nyai Sarah. Dan seorang gadis muncul dari balik punggung putranya itu. Nyai Sarah mengerutkan keningnya.
"Assalamualaikum, bu Nyai!" sapa Bianka pada wanita yang ternyata ibu dari pria yang mengajaknya.
"Waalaikum salam, masuk nak ....!"
Mereka pun kini duduk di sebuah ruang tamu. Bianka sudah duduk di samping Nyai Sarah dan di sofa lain ada Kyai Hamid yang duduk di sofa sendiri yang menghadap sofa panjang itu. Gus Fahmi pun demikian, ia memilih duduk di sofa yang tidak terlalu panjang sedikit lebih dekat dengan abi nya.
“Ini yang Fahmi ceritakan sama abi, sama umi kemarin!” ucap gus Fahmi sambil menatap abi nya. Ia tidak mau sampai abi nya salah faham.
“Siapa nama kamu nak?” tanya Nyai Sarah pada Bianka. Bianka yang hanya bisa menunduk itu segera menoleh pada wanita dengan suara lembut itu.
“Bianka, umi! Bianka delia Putri!” ucap Bianka dengan senyum khasnya.
“Nama yang bagus, Bianka beragama islam?”
“Insyaallah iya, umi!”
“Kalau di dalam pesantren harus pakek jilbab, tapi kalau nak Bianka belum siap, nak Bianka bisa memakainya di pesantren saja dan kalau keluar bisa di lepas lagi nggak pa pa!” ucap Kyai Hamid.
Deg
Bianka baru sadar jika ia sekarang tidak memakai jilbab. Ia bahkan tidak tahu peraturan di pesantren. Ia memang sering melakukan seminar di berbagai tempat termasuk di masjid atau mushola, tapi ia hanya memakainya dan kembali melepasnya saat keluar majelis. Ia selama ini belum merasa siap untuk berhijab.
“Iya umi, Bia mengerti! Insyaallah Bianka siap umi!” ucap Bianka dengan begitu pasti.
"Alhamdulillah jika seperti itu!" ucap Kyai Hamid. Dan kini Gus Fahmi hanya diam memperhatikan percakapan mereka.
“Apa kau bawa jilbab?”
Bianka menggeleng, ia tidak membawa sama sekali jilbabnya. Ia terlalu panik dan meninggalkan bajunya di rumah lamanya.
Ia membawa baju seadanya dan itu pun tidak ada yang sesuai untuk ia kenakan di pesantren. Selama ini dia terlalu nyaman dengan pakaiannya yang sedikit terbuka, dengan gaun selutut atau celana panjang dan kemeja yang tidak di kancingkan. Ia bukan cewek tomboi tapi nyaman dengan pakaian itu.
"Maafkan saya ...!" ucap Bianka menyesal.
“Tidak pa pa! Sepertinya
umi punya gamis yang pas buat kamu, kamu mau kan?” tanya Nyai Sarah. Bianka tersenyum senang dan mengangguk cepat.
“Iya umi, Bia mau ...!”
"Baiklah ...., ayo ikut umi sekarang!" ucap Nyai sarah sambil berdiri dari duduknya. Bianka pun mengikuti langkah Nyai Sarah. Mereka menuju ke sebuah ruangan, bukan kamar tapi sebuah tempat untuk ganti baju dengan banyak lemari di dalamnya. Memang tidak luas tapi cukup untuk menampung empat lemari besar sekaligus.
__ADS_1
Bianka hanya menatap punggung Bu Nyai sarah yang sibuk memilih-milih baju dengan berbagai motif tapi tetap sama terlihat begitu syar'i.
"Sekarang kamu pakek yang ini dulu ya, yang lainnya kamu bawa buat besok-besok!" ucap Umi Sarah sambil memberikan satu buah gamis berwarna hijau toska dengan kombinasi warna abu-abu muda.
"Makasih umi!"
Bianka segera memakai gamis pemberian dari umi Sarah lengkap dengan jilbabnya.
Gus Fahmi dan Kyai Hamid masih menunggu di ruang tamu selama di tinggal Bianka dan umi sarah untuk berganti baju.
"Bagaimana menurutmu nak?" tanya Kyai Hamid.
"Gimana apanya abi?" tanya Gus Fahmi yang masih kurang paham dengan maksud ucapan abi-nya.
"Bianka sepertinya gadis yang baik nak! Kalau kita cari yang sempurna kita tidak akan dapat tapi kalau kita carinya yang mau berusaha menyempurnakan ibadahnya bersamamu, banyak!"
"Abi ....! Fahmi belum memikirkan hal itu!"
"Kamu sudah dewasa loh, ingat jika seorang pria itu sudah matang dan siap menikah maka sebaiknya di segerakan saja!" ucap Kyai Hamid.
Sebelum Gus Fahmi sempat menjawab ucapan abi-nya, tiba-tiba Umi Sarah dan Bianka keluar dengan penampilan yang jauh berbeda.
Gus Fahmi yang tanpa sadar tepaku melihat penampilan baru Bianka. Ia tidak pernah menyangka jika Bianka bisa seperti itu.
Masyaallah dia cantik sekali ….., batin gus Fahmi yang menatap kedatangan Bianka. Ia sampai lupa caranya mengedipkan mata.
“Hemmm …, hemmmm….!” Kyai Hamid memperingatkan putranya itu agar tidak terlalu lama menatap Bianka. Kyai Hamid hanya tersenyum melihat kelakuan putranya itu.
Ia jadi ingat bagaimana dulu ia bisa jatuh cinta pada Umi Sarah di hari pertama pernikahan mereka.
Mendapatkan peringatan dari abi nya, gus Fahmi pun segera menundukkan pandangannya.
“Astagfirullah hal’azim!” ucap gus Fahmi beristighfar. Ampuni hamba ya Allah ...., batin Gus Fahmi yang menyadari kekhilafannya.
Bianka juga melakukan hal yang sama, ia dengan cepat menundukkan pandangannya dan kembali berjalan menuju mereka.
Setelah mendapat beberapa wejangan dari Umi Sarah, Bianka pun di ajaknya ke pesantren putri untuk di kenalkan dengan beberapa teman mengajinya.
...Kalau kita cari yang sempurna kita tidak akan dapat tapi kalau kita carinya yang mau berusaha menyempurnakan ibadahnya bersamamu, banyak~ MAvsMS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰