Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (53)


__ADS_3

Asna yang tidak sabar segera membuka halaman paling belakang yang sudah berisi tulisan sang suami.


"Ini kok malah lima bulan ke depan sih, nggak biasanya!?"


Ternyata lima bulan ke depan adalah jadwal suaminya harus melunasi toko yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka dan lagi selain itu juga ada jadwal pelunasan rumah walaupun sang suami menuliskan dengan bulan yang berbeda.


"Kenapa mas Raka nggak pernah cerita sih sama aku? Kenapa juga dia simpen sendiri semuanya, kan mungkin aku bisa bantu kalau tahu!" Asna menutup kembali buku agenda itu. Ia mencari sesuatu di laci meja sang suami. Dan menemukan buku tabungan milik sang suami.


"Ya Allah, ini masih jauh! Pantas mas Raka selalu lembur, mungkin ini alasannya!"


Asna pun merogoh ponselnya berada di dalam saku, ia segera melihat mobile banking yang di berikan oleh sang suami.


"Seharusnya mas Raka nggak perlu ngasih aku sebanyak ini tiap bulan, ini kan bisa buat tambah nanti!"


"Jadi pengen mengantar makan siang buat mas Raka!" Asna yang selama ini tidak tertarik untuk datang ke tempat kerja sang suami pun akhirnya ingin melihat apa saja yang di lakukan sang suami di sana.


Asna pun segera keluar dari ruang kerja sang suami dan menuju ke dapur.


"Mbak Rumi, aku mau nganter makan siang buat mas Raka! Mbak Rumi di rumah sendiri nggak pa pa ya!"


"Loh mbak, mau nyusul pakek apa? Kan motornya di sita sama mas Raka!"


"Gampang, Asna bisa pesan taksi online!"


"Tapi mbak, nanti kalau mas Raka marah gimana?"


"Nggak akan marah, tenang saja!"


Asna di bantu mbak Rumi memasukkan makanan ke kotak makan siang,


"Aku siap-siap dulu ya mbak!" Asna pun segera ke kamarnya setelah selesai menyiapkan makan siang untuknya dan sang suami.


Seperempat jam kemudian Asna sudah keluar dengan penampilan yang lebih segar dan wangi.


"Aku berangkat ya mbak, taksinya udah nunggu di depan!"


"Iya! Hati-hati ya mbak!"


Asna segera keluar dan menghampiri taksi on line pesanannya yang menunggu di depan.


Mbak Rumi yang merasa khawatir segera menghubungi Raka untuk memberitahukan kepergian Asna, tapi ternyata tidak di jawab-jawab.


"Mas Raka pasti sangat sibuk sekarang, bagaimana ini!?"


...***...


Sesampai di toko, Asna segera menanyakan keberadaan Raka pada karyawan yang berada di depan.


"Mas Raka ada di ruangan belakang mbak!"


"Baiklah tunjukkan saja jalannya, biar aku ke sana sendiri!"


Karyawan itu pun memberi petunjuk pada Asna ke arah di mana Raka berada.


"Oh iya, titip ini dulu ya, tolong taruh di ruangannya mas Raka!"


"Baik mbak!"


Asna pun kemudian berjalan menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh karyawan toko Raka. Ia harus melewati beberapa lorong, memang toko milih Raka ini lumayan besar di banding dengan toko milik gus Fahmi hanya saja di sana lebih banyak alat percetakannya dan bagian depan hanya berisi tempat foto kopy dan peralatan sekolah lainnya.


Asna membuka pintu yang menghubungkan lorong dengan ruang belakang, terdengar suara ribut di dalam, sepertinya tidak hanya satu orang di ruangan itu. Pintu berwarna abu-abu itu tertutup rapa, hingga Asna tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam.


Asna perlahan mulai membuka pintu itu dan mendapati suaminya dengan penampilan kaos lusuh dengan tangan yang tampak berdebu dengan mengangkat beberapa buku yang sudah di packing dan di masukkan ke dalam kardus-kardus besar. Benar-benar penampakan Raka tidak seperti pemilik toko itu, ia lebih mirip seperti kuli.


Tiba-tiba air mata Asna pecah juga, ia masih berdiri tertegun di depan pintu. Hingga salah satu karyawan Raka melihat kedatangannya dan memberitahukan hal itu pada Raka.

__ADS_1


Raka segera menoleh dan begitu terkejut mendapati sang istri di sana. Ia pun memberi isyarat pada karyawannya untuk meninggalkan mereka.


Karyawan yang jumlahnya sekitar lima orang itu pun segera keluar melalui pintu lain yang ternyata langsung terhubung dengan pintu keluar bagian belakang yang di sana sudah siap mobil box untuk mengangkut buku-buku itu. Mereka menutup kembali pintu dan membuatkan dua orang itu di dalam ruangan yang tidak berAC itu.


"Dek kenapa kamu bisa di sini?" Raka perlahan mendekati sang istri, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada istrinya karena penampilannya sekarang.


Srekkkk


Tiba-tiba Asna berhambur memeluk sang suami, tapi Raka terlihat enggan untuk membalas pelukannya.


"Dek, lepasin dulu! kalau mau peluk nanti saja kalau mas sudah mandi ya!"


Asna hanya menggelengkan kepalanya dan semakin mempererat pelukannya. Raka juga bisa merasakan kaos lusuhnya kini basah karena air mata Asna.


"Dek ada apa?"


"Maafin Asna, mas!" Mas bekerja keras karena syarat yang Asan ajukan, maafkan Asna!"


"Kamu bicara apa sayang, mas nggak pernah ngerasa begitu! Mas bekerja keras karena memang ini tanggung jawab mas!"


"Kalau Asna nggak minta rumah, mas pasti nggak perlu bekerja sekeras ini, mas Raka masih bisa mengajar sekarang!"


"Nggak pa pa dek, mas iklas! Kalau kita tidak punya rumah sendiri, kita juga akan susah membina rumah tangga! Jadi jangan menangis ya, mas sungguh tidak pa pa!"


"Mas, nggak pa pa deh kita tinggal di rumah Abi dan umi, atau di rumah papa sama Mama, Asna nggak pa pa!"


"Enggak sayang, itu sudah rumah kita! Mas bisa melunasinya dengan cepat! Jangan khawatir! Sekarang lepasin mas ya, mas masih bau!"


"Nggak mau!"


"Ayo dong sayang! Mas bau loh!"


"Nggak mau!"


"Ya udah deh, peluk mas sepuas kamu!" Raka pun akhirnya menyerah, tapi Asna malah merasa nyaman saat keringat sang suami mengenai kulitnya.


"Mas, Asna bawakan makan siang buat kita!"


"Benarkah?"


"Tapi wajahnya kok nggak seneng begitu!?"


"Lain kali jangan lagi ya, mas khawatir kalau kamu pergi-pergi sendiri!"


"Mas, Asna udah besar loh! Nggak akan ilang!"


"Tapi tetap saja dek, mas khawatir! Ya sudah mas mau mandi dulu baru kita makan!"


"Jangan!"


"Kok jangan?"


"Gitu aja, Asna suka jadi cuci tangan saja ya!"


"Baiklah, yang penting kamu suka deh!"


Raka pun akhirnya mengajak Asna ke ruangannya. Raka sudah memesankan makanan untuk para karyawannya seperti biasa.


Asna terus memandangi suaminya yang tampak begitu tampan dengan keringatnya itu,


"Kenapa nggak makan? Kenapa menatap mas terus kayak gitu?"


"Aku baru tahu kalau mas sangat tampan kalau keringatan seperti ini! Mas kalau di rumah setelah olah raga nggak usah cepet-cepet di keringin ya keringatnya!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ada deh!"


Raka pun mengusap kepala istri ya gemas,


"Ya sudah cepetan makan, kalau nggak mas nanti yang makan kamu!"


"Di toko mas! Ingat!"


"Nggak pa pa, ini kan ruang pribadiku! Mereka nggak akan berani sembarangan masuk apalagi ada kamu di sini!"


Asna segera menjauhkan bibirnya saat Raka mulai mendekat,


"Jangan macam-macam ya mas!"


"Nggak kok, cuma pengen satu macam saja! Enak deh kayaknya kalau makan lauknya bibir yang itu!"


Dengan cepat Asna menutup bibirnya dengan kedua tangannya,


"Mas, serius nih aku takut!"


"Masak sih?" Raka benar-benar meletakkan sendoknya dan mendekatkan tubuhnya pada Asna hingga Asna hampir dalam posisi tidur sekarang.


Dengan cepat Raka menarik tangan Asna yang menutupi bibirnya dan menempelkan bibir nya ke bibir sang istri. Asna yang awalnya meronta tiba-tiba terdiam, ia pasrah dengan apa yang di lakukan sang suami. Menikmati bibir manis suaminya yang hangat dan kenyal.


Hingga pagutan itu semakin panas saja, Raka benar-benar tidak mampu mengendalikan diri setiap kali dekat dengan istrinya hingga akhirnya mereka benar-benar melakukannya di dalam ruangannya di toko itu.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Raka segera merapikan kembali baju sang istri,


"Mas, benar-benar nggak tahu tempat deh!"


"Maaf sayang, mas suka kebablasan! Maaf ya karena mas bau keringat!"


"Asna suka!" ucap Asna lirih tapi masih dapat di dengar oleh sang suami. Melihat suaminya berkeringat seperti itu membuat Asna merindukan sentuhan sang suami.


"Ahhh, kamu benar-benar membuatku ingin memulainya lagi!"


"Jangan mas! Nanti kalau ada yang liat bagaimana? Lagian kan sudah waktunya sholat dhuhur mas! Aku nggak punya baju ganti lagi!"


"Jangan khawatir, mas mandi dulu terus sholat di masjid sekalian belikan kamu baju ganti ya!"


"Iya!"


Raka pun kembali menghabiskan makanannya yang belum sempat di habiskan, setelah itu ia segera mandi dan sekarang sudah berpenampilan bersih lagi lengkap dengan sarung dan pecinya.


"Aku berangkat dulu ya sayang!"


"Iya! Asna mandi dulu boleh?"


"Boleh tapi di kunci dari dalam ya pintunya agar nggak ada yang masuk!"


"Iya!"


Raka pun benar-benar meninggalkan Asna dan menuju ke masjid, beruntung para karyawannya juga sedang istirahat jadi mereka tidak mendengar ribut-ribut di ruang atasannya tadi.


"Tolong jangan ada yang boleh masuk ke ruangan saya, selama saya pergi ya!" pesannya pada karyawan perempuan yang menunggu kasir, walaupun jam istirahat di tempat kasir tidak pernah kosong untuk jaga-jaga kalau ada pengunjung datang.


"Baik mas!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2