Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (62)


__ADS_3

Umi Nazwa pun menemani Asna ke ruang perawatan, meskipun ia enggan untuk meninggalkan putranya, tapi menantunya juga sedang butuh sekali dukungan.


Asna langsung mendapat penanganannya dari para dokter dan memastikan tidak ada kontraksi dini mengingat kandungan Asna sudah menginjak tujuh bulan.


"Syukurlah, ibunya hanya syok dan tidak menimbulkan kontraksi dini! Sebisa mungkin tolong jangan membuat sang ibu tress dan tertekan ya Bu!"


"Iya dok!"


"Kalau begitu kami permisi dulu!"


Setelah para dokter itu pergi, umi pun segera duduk di samping tempat tidur Asna. Ia mengusap kepala Asna yang tertutup hijab instannya.


"Nak kamu harus kuat, ada nyawa lain yang harus kamu jaga!"


"Kita tidak bisa melawan takdir Allah, kita hanya bisa bersabar dan menerima setiap apa yang sudah di gariskan sama Allah!"


Umi Nazwa tampak begitu prihatin dengan menantunya itu, cobaan selalu datang bertubi-tubi seolah tidak ada hentinya.


"Assalamualaikum!" sapaan seseorang berhasil membuat umi Nazwa menoleh ke arah pintu dan di sana sudah ada mama dan papa Asna.


"Waalaikum salam!"


Umi segera berdiri dan menjauh dari tempat tidur Asna.


"Mbak!"


"Bagaimana keadaan Asna?" Mama Ayu segera memeluk besannya itu.


"Kata dokter, kandungan asna baik-baik saja!"


Mama Ayu pun segera menghampiri putrinya dan menciumi wajah putrinya bertubi-tubi, berharap segala kesedihan yang menimpa putrinya dapat berkurang dengan kasih sayang yang ia berikan.


"Sayang, ini mama sayang! Jangan khawatir ya semua akan baik-baik saja!"


Di depan ruangan Raka, sudah ada Leon juga. Dia segera datang begitu mendengar kabar jika saudaranya itu kecelakaan.


Saat ini Raka sudah di pindahkan ke ruang perawatan dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


Leon segera masuk ke ruangan Raka setelah mendapat ijin dari dokter. Hatinya begitu sakit, ini kali kedua ia melihat saudaranya dalam keadaan seperti itu.


"Jahat banget sih kamu, suka sekali membuat aku khawatir! Bangun, ayo cepetan bangun pecundang! Kamu tidak pantas berbaring seperti ini, tidak pantas!"


"Bagunlah, kamu boleh sekarang menghinaku sepuasnya, ledek aku tapi jangan menakuti ku seperti ini!"


"Kamu berhasil bila ingin menakuti ku, bangunlah! Ini sudah cukup, ingat istri kamu sebentar lagi melahirkan, cepetan bangun!"


Leon tergugu di samping tubuh tidak berdaya Raka, ia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini lagi.


Air matanya benar-benar tidak bisa di bendung lagi,


"Bagunlah, aku bisa apa tanpa kamu!" Bangun!"

__ADS_1


Ustadz yang lihat Leon menangis di dalam pun akhirnya ikut masuk, ia mengusap punggung Leon yang terus bergetar. Kepalanya saat ini sedang ia telungkupkan di atas ranjang Raka.


"Sabar nak, insyaallah dengan ijinnya, Raka akan bangun kembali!"


Leon tidak tahu harus bersandar pada siapa sekarang. Sekuat apapun dia tetap saja manusia yang mempunyai sisi lemah. Leon segera mendongakkan kepalanya dan berbalik, melingkarkan tangannya di pinggang ustadz Arif dan menyusupkan wajahnya di sana, menangis sepuasnya dan dalam pelukan ustadz Arif.


Setelah sedikit lebih baik dan meluapkan semuanya, mereka pun keluar dari ruangan dengan kaca besar di bagian depan hingga bisa memantau Raka dari luar ruangan.


"Maafkan saya ustadz, ini pasti sangat memalukan!"


"Tidak pa pa, semua orang berhak menangis, sekuat apapun dia, minta kekuatan sama Allah agar kembali meneguhkan hati kamu!"


"Terimakasih nasehatnya ustadz!"


"Sama-sama, panggil saja Abi, kamu sudah seperti anak kami juga, kamu dan Raka memiliki status yang sama!"


"Terimakasih, a_bi!"


Setelah selesai berbincang dengan ustadz Arif, Leon pun segera menghubungi seseorang.


"Hallo!"


"Hallo, ada apa? apa ada masalah?."


"Kirim dokter terbaik di sini, termasuk kamu!"


"Siapa yang sakit?"


"Bagaimana dia bisa naik mobil? Sudah aku bilang dia belum siap naik mobil lagi! Dia juga tidak pernah datang untuk terapi!"


"Jadi kamu tahu keadaan Raka?"


"Saya akan datang sendiri ke sana!" tiba-tiba sambungan telpon itu terputus secara sepihak. Hingga membuat Leon mengumpat kesal.


syiiiitttttt


"Kenapa aku tidak tahu dari awal, ini alasan kenapa Raka tidak pernah naik mobil sendiri dan dia tahu tapi memendamnya sendiri, benar-benar sok kuat!" gerutu Leon. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


Di sisi lain, ia tidak bisa meninggalkan istrinya terlalu lama, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Raka dalam keadaan seperti ini.


Leon pun akhirnya memilih menemui dokter yang menangani Raka.


"Selamat sore dok!"


"Silahkan masuk!" Leon segera memasuki ruangan yang bernuansa putih itu, di dalam terlihat seorang dengan kaca mata tebal yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Silahkan duduk!" setelah mendapat ijin duduk, Leon pun segera duduk tepat di depan meja kerja.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong jelaskan secara detail keadaan saudara saya, pasien tas nama Raka, korban kecelakaan tadi siang!"

__ADS_1


"Saat ini pasien sedang di nyatakan kritis, untuk dua atau tiga jam ke depan jika pasien tidak bangun hanya ada dua kemungkinan!"


"Maksud dokter?"


"Jika tidak sadar, berarti koma atau lebih buruknya_!"


"Lakukan yang terbaik dok, saya juga sudah menghubungi dokter pribadi keluarga kami, dia dulu yang menangani Raka, mungkin dia akan tahu bagaimana keadaan Raka sebenarnya!"


"Kami akan berusaha sekuat tenaga agar pasien sadar!"


"Terimakasih dok!"


...****...


Asna yang sudah pingsan dua jam yang lalu kini mulai membuka matanya.


"Ma!" orang pertama yang ia lihat adalah mamanya.


"Sayang, iya sayang ini mama!"


"Mas Raka bagaimana?"


"Jangan khawatir ya, dokter pasti melakukan yang terbaik untuk suami kamu!"


"Ma, Asna takut!"


"Jangan takut, ada mama, ada papa, Abi, umi! Semua ada untuk Asna, ingat bayi kamu nak, kalau kamu sedih kasihan anak dalam kandungan kamu!"


"Asna mau bangun ma! Umi!"


Mama Ayu dan umi Nazwa pun segera membantu Asna untuk bangun.


"Asna mau lihat mas Raka, boleh kan Asna ke sana?"


Terlihat mama Ayu dan umi Nazwa saling berpandangan, mereka takut jika putrinya kembali drop jika melihat keadaan suaminya.


"Please ma, Asna belum tenang sebelum bertemu dengan mas Raka, apapun keadaan mas Raka insyaallah Asna kuat!"


"Baiklah kalau kamu memaksa! Mama ambil kursi roda dulu ya!"


Asna pun mengangukkan kepalanya. mama Ayu datang dengan kursinya, ia segera turun dan dan duduk di atas kursi roda. Asna ke ruangan Raka di temani mama Ayu dan umi Nazwa.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2