
...Orang kuat bukan berarti ia tidak pernah menangis tetapi orang yang terus istiqomah dalam menghadapi setiap ujian dan godaan. Salah satunya adalah ujian untuk mendapatkan cintamu...
...🌺Selamat membaca🌺...
Dari kejauhan ia sudah bisa melihat papa Nisa yang duduk di tepi danau dengan anak pancing yang mengarah ke sungai.
Leon pun berhenti tepat di samping papa Nisa,
"Assalamualaikum, pak!"
Papa Nisa menoleh,
"Waalaikum salam! Duduklah saya sudah menunggumu!"
"Maaf saya sedikit terlambat!"
Leon pun duduk di sebuah pohon yang sudah tumbang, memang sepertinya sengaja di letakkan di tempat itu sebagai tempat duduk. Warnanya pun sudah di cat sebegitu bagusnya. Ada satu meter jarak mereka duduk.
"Sebenarnya tidak sedikit, bukankah lima menit itu hitungan yang cukup banyak untuk pebisnis?"
Pertanyaan papa Nisa membuat Leon tercengang, tampak sekali wajahnya berubah panik. Tapi dengan cepat Leon mengalihkan tatapannya pada pancingnya yang masih berada di tangannya. Ia pun mengeluarkan umpan dan mengaitkannya pada anak pancing sambil mencari jawaban yang pas.
Setelah selesai, ia pun melemparkan anak pancingnya ake danau dan membuatkannya di sana.
"Di dalam bisnis ada beberapa hal yang perlu saya prioritas agar saya mendapat banyak keuntungan, bukan hanya satu saja. Bapak tidak menjelaskan secara detail kapan waktu saya harus datang, bapak hanya mengatakan ba'dha ashar!"
"Iya benar, lalu?"
"Jika waktu ashar jam 3 berarti saya butuh waktu lima belas menit untuk melakukan sholat dan lainnya, jika saya sampai di sini jam 3 lebih tiga puluh lima menit berarti saya tidak terlambat pak! Dan ba'dha ashar menurut buku yang saya baca itu waktunya panjang, bisa sampai sebelum waktu masuk sholat Magrib!Kalau tepatnya saya kurang tahu, mungkin dalam hal ini bapak yang lebih tahu!"
"Mana yang lebih utama?"
"Dalam bisnis ada yang mananya untung dan rugi tapi dalam jodoh tidak ada! Tapi dari pemahaman saya, kalau bapak tanya mana yang lebih utama saya pilih Tuhan!"
Kali ini papa Nisa mengerutkan keningnya, ia tidak tahu jika pria yang terlihat sekali bukan pria yang agamis tapi memiliki pemikiran yang luas dengan segala jawabannya,
"Apa alasanmu?"
"Keputusan Tuhan lebih utama, bahkan bapak pun tidak bisa merubahnya, jika memang Nisa di takdirkan menjadi jodoh saya, mau sebesar apapun bapak menghalanginya tetap saja Allah mempertemukan kami, pastinya dengan jalan yang baik!"
Papa Nisa cukup terpukau dengan jawaban Leon. Ia kira Leon hanya belajar agama karena ingin dekat dengan Nisa yang berhijab, tapi sepertinya pemikirannya kali ini salah.
"Sudah berapa lama belajar agama?"
"Pastinya tidak selama bapak mengajari Nisa tentang agama! Jika di bandingkan dengan Nisa jelas saya tidak ada apa-apa nya, tapi insyaallah saya siap untuk menjadi imam Nisa!"
Selalu jawaban yang cerdas yang di berikan oleh Leon, jawaban yang sama sekali tidak terkesan membanggakan dirinya sendiri tapi juga tidak terlalu merendah. Jawaban pasti untuk ukuran seorang pebisnis.
"Saya suka dengan jawaban kamu!"
"Terimakasih!"
"Kamu tidak ingin gantian bertanya pada saya?" tanya papa Nisa membuat Leon mengurungkan niatnya untuk menarik pancingannya yang umpatnya sudah mulai di makan.
"Tarik saja dulu nggak pa pa, baru beri pertanyaan pada saya!" ucap papa Nisa yang melihat senar pancing Leon bergerak, "Sebelum ikannya terlepas Kembali!"
Leon pun melakukan apa yang di minta papa Nisa, ia mendapatkan satu ekor ikan. Senyum terlihat dari bibir papa Nisa dan Leon,
__ADS_1
"Ikan yang cukup besar!" ucap papa Nisa dan Leon pun tersenyum lalu memasukkannya ke dalam wajah ember yang di bawanya.
"Apa yang bapak pikirkan tentang saya?" tanya Leon kemudian setelah menautkan umpan kembali ke anak pancingnya.
Papa Nisa tersenyum, "Pria Arrogant dengan segala aturannya yang harus di patuhi, disiplin dan perfeck!"
"Apa itu masih sama setelah obrolan panjang ini?" tanya Leon, ia terlihat begitu penasaran.
"Persis seperti yang di katakan oleh Nisa, satu kali bertemu ternyata tidak cukup untuk mengenal seseorang!"
Leon tersenyum, teringat sekali bagaimana pertama kali bertemu Nisa. Bagaimana Nisa bersikap padanya, dia bukan gadis yang lembut tapi seiring berjalannya waktu, gadis itu menjelma menjadi sosok yang istimewa di hatinya.
Leon kembali menoleh saat senar pancingnya sudah kembali mengapung di air,
"Boleh saya bertanya lagi?"
"Silahkan!"
"Apa yang bapak pikirkan tentang saya dan Nisa?"
Pria dengan kerutan di keningnya itu menerawang ke danau, matanya menatap lekat ke satu titik, rambutnya yang sudah bercampur uban tampak sesekali tertiup angin hingga menutupi keningnya.
"Sama seperti papa dari anak gadis lain, mendapatkan menantu yang terbaik adalah dambaan setiap papa, menjadi pengganti cinta pertamanya di kehidupannya yang akan datang! Menjadi tempat ternyaman setelah papanya!"
"Dan menurut bapak apakah saya sanggup?"
"Saya adalah orang tua yang di hadapkan dengan dua calon yang sama-sama istimewanya dengan kelebihan yang di miliki masing-masing! Saya pikir jika yang paling sempurna yang di butuhkan putri saya tapi ternyata salah!"
Leon tidak bertanya lagi, ia memilih untuk merenungi semua ucapan papa Nisa. Ia tidak bisa langsung menyimpulkan apakan itu tandanya di terima atau di tolak.
Begitu banyak yang sudah mereka bicarakan, terutama tentang prinsip hidup mereka.
"Sudah mau magrib, kita sholat dulu di sekitar sini!" ucap papa Nisa yang sudah terlihat mengemasi semua barang-barang nya. Sepertinya papa Nisa sama sekali tidak mendapatkan satu ekor pun.
"Baik pak!"
Mereka pun memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu mereka mampir ke sebuah mushola.
Mereka numpang mandi di sana sekaligus melaksanakan sholat magrib.
Lima belas menit kemudian setelah Muazin mengumandangkan iqomahnya, Leon keluar dari dalam mushola. Ia duduk di serambi mushola sembari menunggu papa Nisa.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya papa Nisa yang baru keluar dan duduk di samping Leon.
"Saya pulang pak!"
"Tidak mau mampir dulu makan malam?" tanya papa Nisa lagi.
Leon yang baru saja memakai sepatunya kembali menoleh pada papa Nisa.
"Belum waktunya pak, insyaallah lain waktu!"
Papa Nisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Baiklah, lain kali kita bisa pergi bersama lagi!"
"Insyaallah!"
Mereka sudah selesai memakai sepatunya lalu beranjak menghampiri mobil mereka masing-masing,
__ADS_1
"Oh iya pak, tunggu sebentar!"
Leon pun membuka mobilnya dan mengambil sesuatu dari dalam mobilnya, ada dua ekor ikan yang sudah ia ikat dengan rapi, entah mendapatkan ilmu dari nelayan mana.
"Ini untuk bapak!"
Papa Nisa mengerutkan keningnya hingga kerutan itu semakin terlihat jelas, "Yakin buat saya?"
"Iya!"
Papa Nisa tersenyum, "Sepertinya keberuntungan hari ini berpihak padamu!"
"Semoga lain waktu berpihak pada bapak, tapi ikhlaskan keberuntungan hari ini untuk saya!"
"Insyaallah! Saya juga bukan orang yang begitu religi, tapi bersyukur karena putri pertama saya mendapatkan jodoh yang begitu religi. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan putri saya untuk bisa sama seperti putri saya yang lain.
Saya penggila ilmu, bagi saya orang yang mau belajar lebih baik dari pada orang yang sama sekali tidak mau berusaha.
Tidak pa pa jika tidak bisa memimpin tahlil, tidak papa jika tidak bisa menjadi imam dalam sholat, tapi setidaknya berusahalah menjadi imam dalam rumah tangga.
Semoga besok saat datang lagi ke rumah kami, kamu sudah bisa menjadi imam sholat subuh!" ucap papa Nisa panjang lebar dan kali ini Leon hanya bisa bengong. Ada perkataan yang mengisyaratkan jika dirinya bisa bebas di sana pagi-pagi.
Apa itu artinya .....
Papa Nisa menepuk bahu Leon yang masih terpaku,
"Saya duluan ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bahkan saking spiclesnya Leon, dia bahkan tidak beranjak dari tempatnya meskipun mobil papa Nisa kini sudah tidak terlihat lagi.
"Apa aku tidak salah mengartikan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Iya, sepertinya begitu!"
"Yeeessssss!"
Tanpa sadar Leon sudah melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru, terlihat sekali jika dia begitu senang saat ini.
Dug
"Aughhhhh!"
Keningnya sampai terbentur tiang yang ada di sampingnya, Leon mengusap keningnya yang nyeri dan terlihat memerah tapi sama sekali tidak mengurangi senyumnya.
Leon tetap tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil sebelum orang-orang di sekitarnya melihat tingkah anehnya.
...Menjadi pribadi yang ingin banyak tahu dengan banyak bertanya itu sejatinya lebih beruntung dari pada pribadi yang segan bertanya karena merasa banyak tahu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...