Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (41)


__ADS_3

Pagi ini Raka sengaja meninggalkan Asna bersama wanita yang di pekerja kan di rumahnya, wanita paruh baya bernama Rumi itu adalah tetangga pesantren yang memang Raka sudah tahu seluk beluknya dan bagaimana sikapnya selama ini pada orang-orang sekitar.


"Mbak Rumi nggak pa pa kan saya tinggal sendiri dengan istri saya?"


"Nggak pa pa mas, jangan khawatir!"


"Terimakasih ya mbak! Kalau begitu saya temui istri saya dulu!"


"Iya silahkan mas!"


Raka kembali masuk ke dalam kamar, mencari keberadaan istrinya. Tampak Asna sedang sibuk mengemasi baju yang baru saja di lipat.


"Dek, kamu beneran nggak ikut mas?" tanya Raka lagi memastikan, karena memang hari ini akan lebih sibuk.


"Nggak ah mas, kan sudah ada embak! Jangan khawatir!" Asna tersenyum sambil memasukkan bajunya ke dalam lemari.


"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku ya!" Raka mengambil tasnya yang masih di atas meja dan mendekati istrinya.


Setelah berpamitan kepada istrinya, Raka pun segera berangkat. Setidaknya sekarang ia bisa berangkat dengan perasaan lebih tenang karena Asna ada temannya.


...***...


Sore hari, Raka sengaja datang ke rumah mertuanya, tujuannya untuk memberi semangat pada saudara iparnya.


"Raka, kamu sendiri? Mana Asna?"


"Maaf ma, Raka sengaja datang sendiri karena setelah ini Raka harus kembali lembur!"


"Tapi Asna baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah akhir-akhir ini jauh lebih baik!"


"Alhamdulillah!"


"Bizar dan Aslan nya ada ma?"


"Oh, Aslan kayaknya lagi main bola di lapangan kalau Bizar kayaknya belajar di belakang, soalnya besok ada olimpiade!"


"Raka temui Bizar dulu ya ma!"


"Iya, silahkan!"


Raka pun segera menuju ke taman belakang, memang tidak begitu luas tapi cukup nyaman untuk bersantai karena ada gazebo nya di tengah taman. Suasananya cukup sejuk karena langsung terhubung dengan kebun belakang tetangga yang di tanami buah-buahan, hanya terpisah dengan pagar besi sebatas pinggang.


"Assalamualaikum, Bizar!"


Bizar yang sedang serius belajar segera mendongakkan kepalanya. Tampak di depannya berserakan buku-buku tebal.


"Waalaikum salam!" Bizar segera mengemasi buku-buku itu dan memberi tempat pada kakak iparnya.


"Duduk kak!"


Raka menganggukkan kelapanya dan duduk di depan Bizar, Raka mengambil satu buku dan mulai membacanya.


"Kamu gemar juga yang membaca, mengingatkanku pada saudara kakak!"


"Kakak juga punya saudara?" Bizar maupun Aslan belum pernah tahu kalau sebenarnya Raka memiliki saudara kembar.


"Punya! Dia juga suka membaca, malah kakak kira pengetahuannya yang banyak karena hobinya membaca, dia jadi sangat pintar sekarang!"

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Abizar dengan sangat antusias, "Apa dia juga setampan kakak?"


"Malah lebih tampan dari kakak, tapi sayang menurut kakak kamu hanya aku yang paling tampan!"


"Issstttt!" Abizar mencebirkan bibirnya saat mendengar betapa percaya dirinya sang kakak ipar.


Ha ha ha


Raka tertawa lepas di depan adik iparnya itu.


"Oh iya, ada yang lebih luar biasa!"


"Apa?"


"Insyaallah besok aku akan datang sama kakak kamu! Ke acara olimpiade MIPA!"


"Hahhh!" Bizar benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh kakak iparnya kali ini.


Dan lagi Raka menganggukkan kepalanya meyakinkan Bizar.


Srekkkk


Dengan cepat anak ABG itu berhambur memeluk kakak iparnya,


"Kakak benar-benar luar biasa, aku bangga sama kak Raka!"


Raka mengusap lembut punggung adik iparnya, "Jadi kamu cukup belajar yang rajin dan jangan mengecewakan kakak kamu!"


"Pasti!" ucapnya lagi setelah melepaskan pelukannya.


"Kalau kamu butuh buku lebih banyak lagi, kamu bisa datang ke toko buku kakak!"


"Kakak punya toko buku? Bukan pesantren?"


"Ahh sudah ku duga, Kak Aslan pasti sudah tahu!"


"Hmmm!"


"Ini benar-benar curang!"


Setelah selesai berbicara dengan Abizar, Raka pun segera berpamitan. Ia harus mengecek pekerjaan di tempat Gus Fahmi. Jaraknya sedikit lebih jauh, walaupun ia sudah meminta salah satu karyawan kepercayaannya untuk mengawasi pekerjaan di sana tetap saja dia tidak akan bisa puas sebelum datang sendiri ke sana dan melihatnya. Tapi untuk hari-hari selanjutnya ia bisa lebih santai dan percaya pada karyawan-karyawan barunya.


Sesampai di toko Gus Fahmi, ia langsung menuju ke tempat proses percetakan, suara mesin percetakan terus berjalan. Ada yang bertugas mengoperasikan mesin dan ada juga yang bertugas finising dan pembuatan cover.


...****...


Asna sudah berpenampilan rapi saat ini, ia mengenakan baju semi resminya.


"Gimana mas sekarang penampilanku?"


"Kamu tuh diapain aja tetap cantik, dek!"


"Mas, aku serius!"


"Mas malah duarius!"


"Ihhhh!"


"Kamu menggemaskan, sekarang gantian aku tanya! Bagaimana penampilanku yang ini?" Raka tampak menggunakan baju casual dengan jaket yang di dalamnya ada kaos putih, tampak serasi dengan baju yang di kenakan oleh Asna.

__ADS_1


Tampan ...., tapi dengan cepat Asna memalingkan wajahnya. Ia tidak mau terlalu kelihatan kalau sedang mengagumi suaminya itu.


"Biasa aja!"


"Baguslah, biar orang lain saja yang bilang akan tampan!"


"Kok gitu sih?!"


"Ya bagaimana lagi, istriku tidak mau memuji!"


"Mas , awas ya kalau sampai berani tebar pesona di depan cewek-cewek!"


"Kenapa? Kayaknya udah ada yang mulai cemburu nih!?" lagi-lagi Raka lebih suka menggoda istrinya dari pada membuatnya tersenyum.


Bicara sama dia nggak ada habisnya, kesal jadinya ...


Asna memilih untuk tidak menanggapi ucapan suaminya, ia segera menyambar tas bahunya dan keluar dari kamar.


"Tunggu dek!"


Asna mempedulikan ucapan suaminya hingga mereka berpapasan dengan mbak Rumi.


"Mbak, kami pergi dulu ya! Kalau embak sudah selesai, embak pulang saja nggak pa pa!"


"Iya mbak Asna!"


"Kami berangkat mbak, assalamualaikum!" Raka ikut berpamitan dan segera menggandeng tangan istrinya agar tidak marah lagi.


"Waalaikum salam!"


Melihat tingkah dua pengantin baru yang baru saja pergi itu mbak Rumi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Jadi keringat pas masih muda, pas masih ada bapak!" mbak Rumi jadi mengingat kebersamaannya dengan sang suami yang sudah selesai seribu harinya.


Raka segera memakaikan helm di kepala sang istri, "Senyum dong sayang!"


"Nggak konsisten banget!?" keluh Asna membuat Raka menatap tangannya yang masih memegang helm.


"Maksudnya?"


"Mau panggil sayang atau panggil dek?"


"Kamu sukanya aku panggil apa?"


"Kok jadi tanya ke aku sih!?"


"Soalnya kamu yang aku panggil!"


"Mau ribut terus atau mau berangkat? Bizar sudah nungguin!" Asna yang mulai malas berdebat segera mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah tuan putri, hamba siap mengantar!"


Sejak kapan sih dia jadi suka lebay kayak gini ...., Asna hanya menggelengkan kepalanya walaupun sebenarnya ia suka dengan sikap manis dari suaminya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2