Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( POV Leon 3)


__ADS_3

...Seorang suami ibarat rumah. Jika engkau mematuhinya, ia akan melindungi dan mencukupi kebutuhanmu. Namun, jika engkau mengkhianatinya, maka ia akan berpaling darimu....


...🌺Selamat membaca🌺...


Netra ini jadi tertarik untuk melihat buku yang di berikan oleh Gus Raka beberapa hari sebelum hari pernikahan kami, buku yang tidak sempat di pegang oleh Nisa.


Nisa sudah meninggalkanku dengan membawa beberapa buku ke kamar, karena pekerjaanku masih banyak, aku memintanya untuk lebih dulu ke kamar, takut saja jika di sini terlalu lama dia akan mengantuk.


Ku ambil buku yang masih tetap di meja kecil dekat dengan vas bunga. Dari halaman depannya memang berbeda dari buku lainnya yang di berikan oleh Gus Raka, buku ini sepertinya tentang romansa religi.


Mulai ku buka buku itu, dari bab pertama sudah membuatku membayangkan bagaimana kejadian yang mempertemukan kami berdua, ternyata istriku mengabadikan dalam sebuah buku. Tulisannya begitu indah dengan bahasa yang lugas tapi penuh penghayatan.


Aku jadi tahu, sebenarnya tidak jauh berbeda dariku, kesan pertama yang dia tunjukkan padaku aku tidak bisa menyalahkannya. Memang beginilah aku, aku bukan orang yang akan mudah bersikap manis apalagi dengan orang yang baru aku kenal.


Rasa penasaranku membawaku pada bab selanjutnya, tapi seperti sebuah jeda. Bukan kisah tentang aku dan dia, ini adalah kisah mas Alex, entah dia tahu dari mana atau tanpa sengaja aku menceritakan banyak hal padanya tentang kisah cinta dua orang yang telah menginspirasiku.


Tapi belum juga sampai setengah aku membacanya, netra ini terasa pedas. Lelah mulai menyelimuti, ingin segera di istirahatkan. Ku tutup buku itu dan ku beri tanda pada bagian terakhir aku membacanya.


Ku bawa tubuh ini ke kamar yang sekarang bukan menjadi kamar pribadiku lagi, ada istri yang menemani di sisiku di atas tempat tidur.


Aku menata detak jantungku sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, aku berharap Nisa sudah tidur. Jantungku belum terbiasa menerima semua ini.


Setelah merasa sudah sedikit lebih tenang, perlahan tangan ini menarik handle pintu hingga pintu yang awalnya tertutup rapat itu terbuka dan benar saja Nisa sudah tertidur di sofa yang langsung menghadap ke pintu dengan buku yang terbuka dan menelungkup di atas tubuhnya, sepertinya dia tertidur tadi.


Aku pelan menghampirinya setelah menutup pintu kembali, wajahnya begitu teduh walaupun sedang tidur. Ku ambil buku yang berada di atas tubuhnya dengan perlahan agar Nisa tidak sampai bangun dan ku letakkan di atas meja.


Lagi-lagi aku tertarik untuk menatap wajah itu, ku absen satu per satu wajahnya, mulai dari mata, hidung dan terakhir bibirnya. Seperti sebuah magnet yang menarik kutub lainnya, bibir ini selalu tertarik untuk mendekati bibir itu.


Cup


Entah dorongan dari mana, bibir ini sudah menempel saja di bibir Nisa, rasanya seperti ada aliran listrik yang tiba-tiba menjalar di tubuhku, dengan cepat ku jauhkan bibirku dari bibir Nisa. Detak jantung yang tadi sudah berhasil aku atur kini seakan kembali bergejolak, bahkan aku merasakan panas di sekujur tubuhku.


"Tenang Leon, tenang _!" aku mengatur nafasku dengan gerakan tangan. Rasanya seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Apa memang ini yang namanya jatuh cinta?


Aku tersenyum sendiri menyadarinya. Malu sama umur, usiaku sudah dua puluh tujuh tahun, bukan saatnya cinta-cintaan ala remaja.


Aku kembali menatap Nisa yang masih tertidur pulas, ia hanya terlihat bergerak sedikit lalu tidur kembali.


Ku susupkan lenganku perlahan di bawah tengkuk dan kaki atasnya, perlahan ku angkat tubuh mungilnya dan ku bawa ke tempat tidur, pasti tidak akan nyenyak tidurnya jika terus di sofa.


Baru di beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba tangan Nisa mengalung di leherku.


"Kamu bangun?" tanyaku saat Nisa membuka matanya dan dia hanya mengangyukkan kepalanya.


Ku lanjutkan langkahku dan ku turunkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur, ku tutup tubuhnya dengan selimut,


"Tidurlah lagi!"


Saat aku hendak beranjak, tiba-tiba tangan Nisa yang berada di atas selimut menarik tanganku, menahannya agar aku tidak berpindah.


"Aku baru saja mimpi indah mas!"


Jangan-jangan Nisa tahu aku sudah mencuri ciumannya ....


Aku kembali duduk di samping Nisa tidur, aku jadi penasaran dengan mimpi Nisa,


"Apa?"


"Mas Leon mencium bibirku!"


Benar ciumanku masuk ke mimpinya, aku cemas. Aku harus bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Benarkah, itu hanya mimpi, tidurlah lagi!"


Aku kembali beranjak tapi lagi-lagi Nisa menahan tanganku agar tidak beranjak dari tempatku,


"Ada apa?"


"Apa mas Leon tidak ingin mewujudkan mimpiku?"


Aku terpaku di buatnya, pertanyaan macam apa itu. Jelas aku mau menciumnya tanpa harus diam-diam tapi aku bingung harus memulai bagaimana.


"Kok malah diam sih mas?"


"Kamu yakin aku boleh menciummu?" pertanyaan macam apa lagi yang keluar dari mulutku ini, aku benar-benar payah. Susah sekali bilang iya dan menciumnya, aku tidak perlu seperti maling yang diam-diam mencuri ciuman.


"Boleh, tapi kalau mas Leon keberatan tidak pa pa, aku tidur, selat malam!"


Tidak boleh ...


Nisa sudah hampir menutup wajah ya dengan selimut tapi segera aku tarik kembali,


"Ada apa mas? Tidurlah besok mas Leon harus kerja!"


Lagi-lagi Nisa hendak menutup wajahnya dengan selimut tapi selalu berhasil aku tahan.


"Ada ap_!"


Entah mendapat keberanian dari mana tiba-tiba bibir ini menempel di atas bibir Nisa, kami hanya saling diam. Cukup lama, dan tidak ada yang bisa aku lakukan selanjutnya. Parah sekali, seharusnya aku yang berinisiatif lebih dulu.


L*matan kecil mulai aku lakukan, bibir Nisa begitu manis hingga aku ingin terus melakukannya. L*matan kecil itu perlahan semakin menuntut, Nisa pun mulai mengimbangi apa yang aku lakukan, entah itu cara yang benar atau salah dalam berciuman tapi aku menyukainya.


Seperti sebuah magnet, bibir ini seakan kembali tertarik untuk memperdalam ciuman kami, tubuhku sekarang semakin terasa panas saat sesekali aku mendengarkan nafas Nisa yang memburu.


Hampir saja kami kebablasan saat tiba-tiba tangan Nisa menahan tanganku yang hendak menyingkap piama panjangnya. Otomatis aku pun menghentikan kegilaan ini.


"Mas, aku masih datang bulan!"


Seperti bunga yang sedang mekar tiba-tiba layu, aku pun menjauhkan tubuhku dan duduk di samping Nisa dengan piyama atasan yang sebagian kancingnya sudah terbuka hingga aku bisa melihat kain tipis yang membalik bagian atas tubuhnya yang belum sempat aku sentuh tadi.


"Tidurlah!" aku pun membantu Nisa untuk mengancingkan kembali piamanya.


"Maaf ya mas!" Nisa terlihat sekali tidak enak padaku,


"Bukan salahmu, terimakasih ya!" aku tahu ini adalah pengalaman yang luar biasa dalam hidupku. Pengalaman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.


"Untuk apa?"


"Untuk yang kita lakukan tadi!"


Nisa tersenyum, aku tahu arti senyumnya itu. Terlihat sekali jika dia juga begitu kaku, ini juga pengalaman pertamanya, bahkan wajahnya memerah sekarang karena menahan malu.


"Mas_!"


"Tidurlah!"


Aku pun memilih untuk merebahkan tubuhku di sampingnya, kami tertidur dengan saling berpelukan.


...🍂🍂🍂...


Pagi ini aku harus datang lebih awal karena ada beberapa meeting yang tertunda gara-gara kejutan dadakan dari mas Alex, semenjak dari mushola aku tidak menemukan Nisa di kamar. Karena aku harus bersiap-siap, aku memilih untuk tetap sibuk merapikan beberapa berkas ku.


Setelah siap aku pun menuju ke dapur, mungkin Nisa di sana. Dan benar saja, di ruang makan yang biasanya hanya ada roti dan selai sekarang begitu penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Sudah mau berangkat ya mas?" tanyanya saat melihat aku menghampirinya.


"Iya hari ini ada beberapa meeting, kamu di rumah kan?"


"Sebenarnya ijin cutiku sudah habis, hari ini juga mau kerja. Tapi baju kerjaku ada di rumah mama!"


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu dulu ke rumah mama!"


"Nggak usah mas, kamu kan buru-buru!"


"Nggak pa pa! Cepatlah siap-siap!"


"Kalau mas Leon maksa, baiklah!"


Nisa kembali ke kamar, aku tahu dia sudah mandi, jadi Tidka lama kalau hanya menunggunya ganti baju. Nisa sudah menyiapkan makanan di atas piringku dan aku tinggal memakannya, ternyata begini rasanya punya keluarga. Aku mensyukuri hal-hal kecil yang di lakukan Nisa, aku membayangkan jika nanti kamu punya anak, aku ingin anakku merasakan lengkapnya sebuah keluarga, semoga Allah mengabulkan doaku.


Setelah selesai sarapan, kami pun berangkat menuju ke rumah mertuaku. Aku harus memastikan Nisa sampai di sana dengan aman.


Rumah mertua dengan rumahku jaraknya cukup jauh, butuh setengah jam untuk sampai di sana, rumahnya dekat dengan rumah mas Alex.


"Mas nggak ikut turun ya, kamu nggak pa pa kan turun duluan?" sebenarnya ingin mengantarnya sampai rumah sakit juga, tapi aku punya janji jam delapan tepat dengan klien.


"Nggak pa pa mas, oh iya! Ini bekal untuk makan siang mas Leon nanti ya!"


Sebuah kotak makan berwarna biru, aku Tidka pernah ingat punya kotak makan itu. Mungkin tadi pagi Nisa pergi ke minimarket yang ada samping rumahku untuk membelinya.


Aku tersenyum, "Terimakasih ya!"


"Mas kalau bisa jangan banyak senyum ya!"


Aku mengerutkan keningku tidak mengerti dengan maksud ucapan Nisa, "Kenapa?"


"Jangan biarkan orang lain jatuh cinta sama mas, cukup Nisa saja yang jatuh cinta!"


Mendengar celoteh Nisa membuatku gemas dengan wanita yang sudah ku nikahi itu, ku usap puncak kepalanya yang tertutup hijab panjangnya.


"Senyum ini hanya untukmu!"


Kali ini Nisa yang tersenyum, senyumnya begitu manis. Ahhh dia sendiri tidak sadar jika senyumnya itu bisa membuat siapapun jatuh cinta. Seharusnya aku yang berkata seperti itu padanya.


Belum juga selesai aku mengamati wajah dan senyumnya Tiba-tiba tangannya menarik tanganku lembut dan menciumi telapak tanganku beberapa kali,


"Sampai jumpa di rumah mas, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh. Hhhehhhh, baru saja pergi aku sudah merindukannya saja.


Ku pandangi kotak makan yang ada di tanganku saat ini, aku tersenyum. Rasanya aneh saja saat menatap kotak makan itu tapi aku menyukainya.


...Kamu bagaikan magnet dan aku besi yang selalu tertarik saat engkau mendekatiku, bahkan saat aku berusaha untuk menjauh, tetap saja kamu mampu menariknya untuk kembali...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2