Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (81)


__ADS_3

Raka memegangi dadanya, ia mengambil air mineral yang ada dia atas meja. Ia merasa dadanya terasa sakit tapi bukan sakit yang biasanya.


"Assalamualaikum!" seseorang menyapanya. Raka tahu suara siapa itu, suara seseorang yang sangat ia rindukan.


"Waalaikum salam, kapan kamu datang? kenapa aku tidak melihatnya?"


Pria dengan wajah mirip dengannya itu ikut duduk di sofa yang ada di depannya, sofa yang baru saja di tinggalkan oleh Zaki.


"Ada apa? Ada yang sedang menggangu hidupku?"


"Menurutmu?"


"Tadi aku melihat teman kerja Nisa baru saja dari sini, apa dia baru saja menemui Asna?"


"Kamu kenal pria itu?"


"Ya, namanya Zaki! Kata Nisa, Zaki adalah seniornya di rumah sakit dan sekarang sedang menempuh pendidikan kedokteran untuk jadi dokter spesialis!"


"Lalu?" terlihat Raka begitu penasaran, entah penasaran yang bagaimana hingga ia ingin tahu apa yang tidak ia ketahui atau setidaknya telah ia lupakan.


"Lalu apanya?"


"Ya hubungan Asna dengan pria bernama Zaki itu?"


Leon terlihat tersenyum, ia sepertinya mendapatkan umpan yang tepat untuk menggugah ingatan Raka. Sebelum kecelakaan itu, tepatnya saat Nisa melahirkan Raka sempat cerita padanya jika di hari itu Zaki mengungkapkan perasaannya pada Asna.


"Sepertinya dulu mereka punya masalalu yang istimewa!" Leon bicara dengan begitu meyakinkan.


"Istimewa?"


"Ya, Zaki pernah mengutarakan perasaannya pada Asna! Beruntungnya kamu, Asna lebih memilih kamu!"


"Memilihku? Maksudnya tentang pernikahan itu benar?"


"Begitulah! Tapi kalau kamu merasa belum siap untuk mengingat semuanya, sebaiknya di ingat pelan-pelan saja, nanti kamu juga ingat!"


"Jadi foto pernikahan itu benar?"


"Begitulah, di sana ada aku juga kan?"


"Benarkah?" Raka kembali merogoh ponselnya yang berada di saku jaketnya. Ia membuka galeri ponselnya dan mencari foto yang begitu membuatnya terkejut tadi.

__ADS_1


Ia benar-benar mencari sosok Leon di dalam foto itu,


"Tidak ada?"


Sepertinya Leon lupa kalau datang ke sana dengan menyamar, "Mana, dibilang ponselnya!"


Leon pun mengambil ponsel saudara kembarnya itu dan mencari keberadaan dirinya.


"Ini!" Leon menunjuk pada satu foto, dia memakai topeng wajah yang jelas bukan wajah dirinya.


Raka menatap foto itu dan saudara kembarnya bergantian, "Ini bukan kamu!"


"Saat itu aku menyamar!"


"Kenapa?"


"Nanti kamu juga tahu sendiri! Jangan banyak bertanya, bisa-bisa aku ikut pusing sepertimu, hari ini aku mau numpang tidur!"


"Memang semalam kamu tidak tidur?"


"Ya begitulah, si kembar benar-benar tidak membiarkanku tidur semalaman beberapa hari ini, katanya rindu papa!" Leon bicara tentang kedua putra kembarnya yang sudah mulai aktif berlarian sambil tersenyum. Hal itu kerap membuat Nisa kewalahan karena mengejar kedua buah hatinya.


"Hemmmm, bahkan kau melupakan kedua keponakanmu!" Leon segera merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


Sedangkan Raka, sepertinya semakin berpikir keras. Ia seperti kehilangan beberapa potong pazzle dalam hidupnya hingga ia tidak bisa merangkainya dengan utuh.


Setelah puas memejamkan mata, Leon pun berpamitan saat matahari sudah begitu condong ke barat, ia harus segera pulang. Setelah berpamitan pada Asna juga, Leon pun segera pergi.


Asna kini sudah menjinjing tasnya bersiap untuk pulang juga.


"Ridwan, tolong antar mas Raka pulang ya!"


"Iya mbak!"


Raka yang bingung segera mengejar Asna,


"Kenapa harus di antar Ridwan?"


"Shahia ada di rumah mama, tadi Aslan telfon jadi aku harus menjemputnya ke sana!" nada suara Asna begitu dingin membuat Raka tidak nyaman dengan sikap Asna yang ini.


"Aku ikut!"

__ADS_1


"Nggak usah, lagi pula mas Raka nggak akan nyaman kan kalau dekat-dekat sama Asna! Ya udah keburu sore, Asna berangkat dulu ya mas, assalamualaikum!" sebenarnya Asna ingin mencium punggung tangan suaminya tapi saat ingat bagaimana suaminya bereaksi saat ia pegang, Asna pun mengurungkan niatnya.


"Waalaikum salam!"


Asna pun segera berlalu meninggalkan Raka yang masih terdiam di tempatnya, Asna segera menjalankan motornya menyusuri jalanan hingga sampai di pertigaan jalan dan setelah itu tidak terlihat lagi oleh Raka.


"Mari mas, biar Ridwan antar pulang!" suara Ridwan menyadarkan Raka dari lamunannya.


"Oh iya sebentar, biar saya ambil jaket dulu!" Raka hanya bisa pasrah. Ia seharusnya nyaman dengan sikap Asna yang seperti ini tapi ternyata apa yang ia pikirkan beberapa hari ini ternyata salah, ini tidak sesuai dengan yang ia pikirkan, rasanya begitu aneh dan dia tidak suka.


Raka sampai di rumah, dan benar saja ia hanya mendapati mbak Rumi di sana,


"Loh mas Raka pulang sendiri?"


"Iya mbak, Asna jemput Shahia katanya!?"


"Mas Raka nggak ikut?"


"Enggak! Ya sudah mbak, Raka ke kamar dulu ya!?"


"Kalau gitu Rumi pulang dulu ya mas, tadi Rumi sudah masak kali saja mas Raka lapar!"


"Iya, terimakasih ya mbak!"


"Sama-sama mas, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Raka pun segera masuk ke dalam kamar, melepas kemeja dan celana panjangnya. Sudah hampir waktu ashar, ia pun segera mandi dan bersiap-siap pergi ke masjid. Ia sengaja tidak menghubungi Bilal karena ingin jalan kaki saja untuk melatih otot-otot nya yang kaku.


Kata dokter memang Raka harus sering jalan kaki untuk melatih otot kakinya agar bisa kembali berjalan normal.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2