
Alex segera kembali menghampiri Leon setelah mendapatkan buku, entah benar atau tidak yang sudah ia beli.
Leon yang melihat Alex keluar segera menghampirinya,
“Tuan, tadi saya melihat …!”
“saya sudah tahu!” ucap Alex memotong kalimat Leon yang belum selesai, ia sudah tahu siapa pria yang akan di bicarakan oleh tangan kanannya itu.
Memang apa salahnya jika bertemu dengan gus Fahmi, mereka hanya saling mengenal karena Aisyah bukan mengenal atau saling bersaing. Hanya saja ia lebih beruntung karena menikahi Aisyah sedangkan pria yang baru ia temui beruntung karena mendapatkan hati gadis itu.
Alex segera masuk ke dalam mobil saat Leon membukakan pintu untuknya.
Sesampai di dalam mobil ia segera membuka buku yang baru saja ia dapat, ada lafadz arab
di sana tapi di bawahnya juga aja tulisan latinnya, di bawahnya lagi ia bisa membaca artinya.
“Bismillahirrahmanirrahim!”
bacanya lirih, ia membaca basmallah yang melekat pada surat pembuka surat,
surat al-fatihah,
“Dengan nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang!”
Alex terus membaca surat itu, bukan pada kalimat dalam bahasa arabnya tapi pada
terjemahnya, kemudian ucapannya terhenti pada ayat terakhir ‘yaitu jalan
orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang
di benci dan bukan orang-orang yang tersesat’.
Entah kenapa ia merasa dalam salah satu orang itu, ia seperti mendapat sindiran di
dalam ayat itu.
Hingga mobil pun terhenti di sebuah persimpangan jalan, ada segerombolan anak kecil yang sedang berlarian dengan buku yang sama di tangannya.
“Le …, kita berhenti sebentar!” ucap Alex, ia ingin tahu anak-anak itu ke mana.
Leon pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Alex turun dengan
meninggalkan bukunya begitu saja, ia mengikuti anak-anak kecil itu. Hingga
langkah mereka terhenti di depan sebuah masjid. Sepertinya anak-anak itu memang
akan belajar mengaji.
Langkah Alex terhenti di depan pintu, ia berdiri di sana menatap anak-anak yang begitu
bersemangat mengaji, bibirnya tersungging.
Ia merasakan telah kehilangan
masa-masa itu, masa di mana ia di antar ibu ke sekolah atau belajar bersama
anak-anak lain mengaji, di mana dia saat itu, kenapa ia tidak pernah merasakan
senyum lepas yang sama yang di miliki oleh anak-anak itu? Sejenak ia merasa
iri, ingin rasanya mengulang di waktu itu.
Di mana ibu nya yang seharusnya menggandeng tangannya dan membawanya ke sana, di mana ayahnya yang membacakannya beberapa kisah para nabi.
“Nak …!” tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya membuat Alex menghentikan
lamunannya. Ia menoleh pada pria yang dulu pernah ia temui. Ia lupa jika tempat
__ADS_1
itu tempat yang dekat dengan tempat aisyah tinggal.
“Kyai …!” pria itu adalah Kyai Hamid.
“mau masuk? Kita bisa bicara sebentar!” alex hanya mengangguk, dia adalah kawan lama
ayahnya bukan hal yang mustahil jika Kyai hamid peduli pada Alex.
Mereka sudah duduk di sudut masjid, sedikit menjauh dari anak-anak. Kyai Hamid menatap
putra sahabatnya itu.
“Kyai!”
“Iya? Katakan saja apa yang ingin kau katakana dan tanyakan apa saja yang menurutmu
perlu untuk kau tanyakan!”
“Jika aku termasuk orang yang di benci oleh-Nya, apa aku masih pantas untuk
meminta pada-Nya?”
“Kenapa tidak?! Allah itu maha pengasih dan maha penyayang, maha pengampun dan
pemberi rahmat. Allah sudah berjanji akan mengampuni dosa hambanya sebesar
gunung sekalipun, seluas dan sedalam samudra sekalipun asal ia bena-benar
bertaubat, sebenar-benarnya taubat!”
Alex memang seorang muslim sejak lahir, tapi ayahnya tidak pernah sekalipun
mengajarkan tentang islam membuat nya hanya mengenal kehidupan dunia.
“Saya punya sesuatu untukmu!” Kyai hamid mengambil sesuatu di laci masjid, sebuah
buku. Kyai memberikan buku itu pada Alex, “Ambil ini, semoga ini bermanfaat
Alex mengambil buku itu, buku yang sebenarnya tidak jauh beda dengan bukunya. Itu adalah sebuah tafsir Al-Qur’an terjemah, lebih lengkap dari yang ia miliki.
***
Semenjak saat itu, Alex lebih sering menyendiri. Ia sering menghabiskan waktunya di ruang baca. Malam hari pun selalu ia habiskan di ruang baca, ia enggan untuk
tidur karena menurutnya tidur adalah saat yang paling menyedihkan baginya.
“Mas Alex mau ke mana?” tanya Aisyah saat melihat alex mulai meninggalkan kamarnya.
“ke ruang baca!” ucap Alex dingin, ia bahkan melupakan keinginannya untuk menemui
Elan kembali setelah nenek Widya keluar dari rumah sakit.
“Mas Alex menghindari ku?”
“Berhenti menuntut ku macam-macam!” ucap Alex begitu ketus membuat Aisyah terdiam,
Alex pun pergi begitu saja dari kamarnya, ia kembali menuju ke ruang baca.
Setidaknya di temat itu ia mulai mendapatkan ketenangan.
Aisyah tidak mau berpikir macam-macam lagi, setidaknya sekarang ia tidak perlu tidur
satu tempat dengan pria arrogant itu,
“Sering-sering aja begitu!”
Brrrt brrrt brrrt
__ADS_1
Ia mendengarkan ponselnya bergetar, ia segera mengambilnya. Ponsel itu
tergeletak di atas meja begitu saja.
“Bianka!”
gumam Aisyah, ia segera menyambar ponselnya. Setelah sekian lama ia tidak
mendengarkan kabar sahabatnya itu.
“Bi …!”
“Hallo Ay ...!”
“Bi …, ada apa?”
Tidak ada kalimat lagi yang keluar dari mulut Bianka, Aisyah hanya mendengar isak
tangis dari Bianka.
“Bi …, ada apa?”
“Bisa ke rumahku, Ais? Sekarang?”
Terdengar suara tangisan Bianka semakin pecah hingga membuat Aisyah begitu khawatir.
“Aku ke sana, Bi. Kamu tunggu ya. Jangan lakukan apa-apa yang membuatmu rugi!” ucap
Aisyah lalu memutuskan sambungan telponnya.
Aisyah segera menyambar hijab dan memakainya asal, ia juga tidak lupa memasukkan ponselnya ke dalam tas, memakai sepatu platnya dan segera keluar dari kamar.
Ia menatap ruang baca itu tertutup, “Nanti aja aku telpon saat sampai di rumah
Bianka!”
Aisyah segera menuruni tangga, ia tidak bertemu siapapun di sana kerena memang sudah begitu larut, Aisyah memesan taksi
online. Ia segera keluar, banyak penjaga di
sana tapi untunglah ia bisa keluar tanpa di ketahui.
Setelah menunggu sepuluh menit di luar gerbang akhirnya taksinya sampai juga, ia segera masuk dan menunjukkan alamat yang di tuju.
Akhirnya taksi Aisyah sampai juga didepan rumah kontrakan Bianka, setelah membayar
taksinya, ia segera berlari masuk ke rumah Bianka yang tidak terkunci. Tidak ada
barang apapun yang pecah ataupun berantakan.
“Bi!”
Aisyah memanggil Bianka. Kemudian ia mendapati Bianka duduk meringkuk di balik sofa, Aisyah pun segera menghampirinya.
“Astagfirullah, Bi!” aisyah terkejut melihat begitu banyak lebam di wajah Bianka, ada darah yang mengalir di sudut bibirnya.
Aisyah segera memeluk sahabatnya itu erat-erat, tangis Bianka pecah dalam pelukan
Aisyah.
“Ada apa?” tanya Aisyah begitu lirih, ia tahu sahabatnya itu masih begitu terluka.
“Seseorang menyakitiku, Ay ....!”
“Maksudnya?”
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰