Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Mencoba mengenal-Nya


__ADS_3

Alex segera kembali menghampiri Leon setelah mendapatkan buku, entah benar atau tidak yang sudah ia beli.


Leon yang melihat Alex keluar segera menghampirinya,


“Tuan, tadi saya melihat …!”


“saya sudah tahu!”  ucap Alex memotong kalimat Leon yang belum selesai, ia sudah tahu siapa pria yang akan di bicarakan oleh tangan kanannya itu.


Memang apa salahnya jika bertemu dengan gus Fahmi, mereka hanya saling mengenal karena Aisyah bukan mengenal atau saling bersaing. Hanya saja ia lebih beruntung karena menikahi Aisyah sedangkan pria yang baru ia temui beruntung karena mendapatkan hati gadis itu.


Alex segera masuk ke dalam mobil saat Leon membukakan pintu untuknya.


Sesampai di dalam mobil ia segera membuka buku yang baru saja ia dapat, ada lafadz arab


di sana tapi di bawahnya juga aja tulisan latinnya, di bawahnya lagi ia bisa membaca artinya.


“Bismillahirrahmanirrahim!”


bacanya lirih, ia membaca basmallah yang melekat pada surat pembuka surat,


surat al-fatihah,


“Dengan nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang!”


Alex terus membaca surat itu, bukan pada kalimat dalam bahasa arabnya tapi pada


terjemahnya, kemudian ucapannya terhenti pada ayat terakhir ‘yaitu jalan


orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang


di benci dan bukan orang-orang yang tersesat’.


Entah kenapa ia merasa dalam salah satu orang itu, ia seperti mendapat sindiran di


dalam ayat itu.


Hingga mobil pun terhenti di sebuah persimpangan jalan, ada segerombolan anak kecil yang sedang berlarian dengan buku yang sama di tangannya.


“Le …, kita berhenti sebentar!” ucap Alex, ia ingin tahu anak-anak itu ke mana.


Leon pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Alex turun dengan


meninggalkan bukunya begitu saja, ia mengikuti anak-anak kecil itu. Hingga


langkah mereka terhenti di depan sebuah masjid. Sepertinya anak-anak itu memang


akan belajar mengaji.


Langkah Alex terhenti di depan pintu, ia berdiri di sana menatap anak-anak yang begitu


bersemangat mengaji, bibirnya tersungging.


Ia merasakan telah kehilangan


masa-masa itu, masa di mana ia di antar ibu ke sekolah atau belajar bersama


anak-anak lain mengaji, di mana dia saat itu, kenapa ia tidak pernah merasakan


senyum lepas yang sama yang di miliki oleh anak-anak itu? Sejenak ia merasa


iri, ingin rasanya mengulang di waktu itu.


Di mana ibu nya yang seharusnya menggandeng tangannya dan membawanya ke sana, di mana ayahnya yang membacakannya beberapa kisah para nabi.


“Nak …!” tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya membuat Alex menghentikan


lamunannya. Ia menoleh pada pria yang dulu pernah ia temui. Ia lupa jika tempat

__ADS_1


itu tempat yang dekat dengan tempat aisyah tinggal.


“Kyai …!” pria itu adalah Kyai Hamid.


“mau masuk? Kita bisa bicara sebentar!” alex hanya mengangguk, dia adalah kawan lama


ayahnya bukan hal yang mustahil jika Kyai hamid peduli pada Alex.


Mereka sudah duduk di sudut masjid, sedikit menjauh dari anak-anak. Kyai Hamid menatap


putra sahabatnya itu.


“Kyai!”


“Iya? Katakan saja apa yang ingin kau katakana dan tanyakan apa saja yang menurutmu


perlu untuk kau tanyakan!”


“Jika aku termasuk orang yang di benci oleh-Nya, apa aku masih pantas untuk


meminta pada-Nya?”


“Kenapa tidak?! Allah itu maha pengasih dan maha penyayang, maha pengampun dan


pemberi rahmat. Allah sudah berjanji akan mengampuni dosa hambanya sebesar


gunung sekalipun, seluas dan sedalam samudra sekalipun asal ia bena-benar


bertaubat, sebenar-benarnya taubat!”


Alex memang seorang muslim sejak lahir, tapi ayahnya tidak pernah sekalipun


mengajarkan tentang islam membuat nya hanya mengenal kehidupan dunia.


“Saya punya sesuatu untukmu!” Kyai hamid mengambil sesuatu di laci masjid, sebuah


buku. Kyai memberikan buku itu pada Alex, “Ambil ini, semoga ini bermanfaat


Alex mengambil buku itu, buku yang sebenarnya tidak jauh beda dengan bukunya. Itu adalah sebuah tafsir Al-Qur’an terjemah, lebih lengkap dari yang ia miliki.


***


Semenjak saat itu, Alex lebih sering menyendiri. Ia sering menghabiskan waktunya di ruang baca. Malam hari pun selalu ia habiskan di ruang baca, ia enggan untuk


tidur karena menurutnya tidur adalah saat yang paling menyedihkan baginya.


“Mas Alex mau ke mana?” tanya Aisyah saat melihat alex mulai meninggalkan kamarnya.


“ke ruang baca!” ucap Alex dingin, ia bahkan melupakan keinginannya untuk menemui


Elan kembali setelah nenek Widya keluar dari rumah sakit.


“Mas Alex menghindari ku?”


“Berhenti menuntut ku macam-macam!” ucap Alex begitu ketus membuat Aisyah terdiam,


Alex pun pergi begitu saja dari kamarnya, ia kembali menuju ke ruang baca.


Setidaknya di temat itu ia mulai mendapatkan ketenangan.


Aisyah tidak mau berpikir macam-macam lagi, setidaknya sekarang ia tidak perlu tidur


satu tempat dengan pria arrogant itu,


“Sering-sering aja begitu!”


Brrrt brrrt brrrt

__ADS_1


Ia mendengarkan ponselnya bergetar, ia segera mengambilnya. Ponsel itu


tergeletak di atas meja begitu saja.


“Bianka!”


gumam Aisyah, ia segera menyambar ponselnya. Setelah sekian lama ia tidak


mendengarkan kabar sahabatnya itu.


“Bi …!”


“Hallo Ay ...!”


“Bi …, ada apa?”


Tidak ada kalimat lagi yang keluar dari mulut Bianka, Aisyah hanya mendengar isak


tangis dari Bianka.


“Bi …, ada apa?”


“Bisa ke rumahku, Ais? Sekarang?”


Terdengar suara tangisan Bianka semakin pecah hingga membuat Aisyah begitu khawatir.


“Aku ke sana, Bi. Kamu tunggu ya. Jangan lakukan apa-apa yang membuatmu rugi!” ucap


Aisyah lalu memutuskan sambungan telponnya.


Aisyah segera menyambar hijab dan memakainya asal, ia juga tidak lupa memasukkan ponselnya ke dalam tas, memakai sepatu platnya dan segera keluar dari kamar.


Ia menatap ruang baca itu tertutup, “Nanti aja aku telpon saat sampai di rumah


Bianka!”


Aisyah segera menuruni tangga, ia tidak bertemu siapapun di sana kerena memang sudah begitu larut, Aisyah memesan taksi


online. Ia segera keluar, banyak penjaga di


sana tapi untunglah ia bisa keluar tanpa di ketahui.


Setelah menunggu sepuluh menit di luar gerbang akhirnya taksinya sampai juga, ia segera masuk dan menunjukkan alamat yang di tuju.


Akhirnya taksi Aisyah sampai juga didepan rumah kontrakan Bianka, setelah membayar


taksinya, ia segera berlari masuk ke rumah Bianka yang tidak terkunci. Tidak ada


barang apapun yang pecah ataupun berantakan.


“Bi!”


Aisyah memanggil Bianka. Kemudian ia mendapati Bianka duduk meringkuk di balik sofa, Aisyah pun segera menghampirinya.


“Astagfirullah, Bi!” aisyah terkejut melihat begitu banyak lebam di wajah Bianka, ada darah yang mengalir di sudut bibirnya.


Aisyah segera memeluk sahabatnya itu erat-erat, tangis Bianka pecah dalam pelukan


Aisyah.


“Ada apa?” tanya Aisyah begitu lirih, ia tahu sahabatnya itu masih begitu terluka.


“Seseorang menyakitiku, Ay ....!”


“Maksudnya?”


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2