Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (34)


__ADS_3

Gus Raka sudah bersiap untuk berangkat ke masjid, Asna masih duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang tertutup selimut.


"Mas!"


Gus Raka yang memakai pecinya segera menoleh pada sang istri.


"Asna ikut ya! Asna di rumah umi!"


"Bersiaplah, aku tunggu di depan!" tetap saja sikap Gus Raka tidak bisa sehangat sebelumnya, hatinya sedikit hancur jika mengingat tangan Asna yang bertaut di tangan Zaki.


Hehhh


Asna hanya bisa menghela nafas, ia menyadari kesalahannya. Seharusnya ia tidak menerima tangan Zaki meskipun bagaimanapun keadaanya.


Asna segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, kali ini ia tidak akan merengek pada suaminya untuk mengantar ke rumah orang tuanya sendiri, karena memang jarak ke rumah orang tuanya lebih jauh dari pada ke pesantren.


Asna sudah memakai hijabnya dan mengganti pakaiannya dengan dress berbahan muscrabe berwarna coklat susu.


"Ayo mas!"


Tanpa menunggu Asna, Gus Raka berjalan lebih dulu. Karena jaraknya tidak jauh Gus Raka tidak memakai helmnya. Asna duduk di belakang menyamping.


Tiba-tiba tangan Asna melingkar di pinggang Gus Raka membuat Gus Raka otomatis menatap tangan Asna yang bertaut itu,


"Apa tidak sebaiknya duduknya biasa saja!?"


"Mas, jangan diamin Asna! Lebih baik mas Raka marahi Asna dari pada mas Raka diamin Asna!"


Leon tidak menanggapi ucapan Asna karena mereka sudah sampai di depan rumah Abi dan umi.


"Assalamualaikum, umi!"


"Waalaikum salam, eh ada Asna!" umi segera memeluk menantunya itu.


"Raka titip Asna di sini dulu ya umi!"


"Iya ka!"


"Abi sudah berangkat ya umi?"


"Sudah baru saja!"


"Ya sudah Raka berangkat dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Raka pun segera berlalu meninggalkan istrinya dengan sang umi.


"Asna, kamu sholat?"


"Enggak umi!"


"Ya sudah kalau begitu umi sholat dulu kamu ke meja makan saja, umi tadi sudah masak kita makan bareng ya!"

__ADS_1


"Iya umi!"


Umi pun meninggalkan Asna sendiri, Asna segera menuju ke ruang makan. Tapi dia tidak berniat untuk membuka makanan itu, pikirannya dengan tidak baik-baik saja sekarang, hatinya juga.


Walaupun bagaimana pun, bagaimana proses pernikahan mereka tapi tetap saja Gus Raka memiliki tempat yang istimewa di hati Asna, disadari atau tidak.


Hingga ba'dha isya' ustadz Arif dan Gus Raka pun pulang bersama-sama, umi dan Asna menyambut mereka.


"Ayo kalian pokoknya harus makan di sini!"


"Tapi Raka tadi sudah pesan makanan loh umi!"


"Di simpan saja buat sarapan besok!"


Raka maupun Asna tidak bisa menolak lagi, mereka pun akhirnya makan malam bersama di rumah orang tuanya. Tapi terlihat sekali kalau saat ini Raka sedang berusaha untuk mengindari dari Asna, bukan hanya karena rasa cemburunya tapi juga karena dia takut tidak bisa mengendalikan diri lagi.


Ia takut Asna akan kembali menjauh darinya karena ulahnya lagi.


Setelah mereka selesai makan malam, Gus Raka pun mengajak Asna untuk berpamitan pulang.


"Padahal umi berharap kalian bisa menginap di sini!"


"Lain kali saja umi!"


Setelah mengucapkan salam, Gus Raka pun melajukan motornya. Kali ini Gus Raka sengaja mengendari motornya dengan kecepatan sedang.


"Mas!"


"Hmm!"


Tanpa menyahut ucapan Asna, Gus Raka pun memutar motornya menuju ke supermarket yang tadi siang.


Setelah memarkirkan motornya, Gus Raka mengajak Asna ke toko yang sama yang beberapa kali Gus Raka sudah jelajahi tadi.


Asna sengaja mengajak Raka ketempat itu di tempat yang sama, agar ia mempunyai kesempatan yang sama seperti dia saat bersama dengan Zaki tadi. Jika ia menjelaskan dengan kata-kata, mungkin suaminya tidak akan mempercayainya. Ia pun ingin menunjukkan dan membawa Raka ke kejadian yang sama.


Asna memperhatikan sekitar, masih sama. Bahkan jika jam-jam seperti lebih ramai, hal itu memudahkannya untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada suaminya.


Hingga tepat di depan toko, di tempat yang sama saat suaminya melihat dirinya menggenggam tangan Zaki.


"Mas Asna pusing!" keluh Asna, ia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya saat ia mengatakan dirinya pusing. Walaupun ia sebenarnya ingin mereka ulang adegan yang ia alami tadi siang karena ia baru saja sadar dan ia memaksakan diri untuk segera bangun dan berbelanja hingga membuat tubuhnya beberapa kali hampir ambruk. Untung ada Zaki yang memegangi tangannya. Tapi nyatanya saat ini ia benar-benar merasa pusing karena memang berhadapan dengan banyak orang membuatnya begitu pusing.


Hampir saja Asna terjatuh dan Gus Raka dengan sigap menggenggam tangannya,


"Kita balik saja ya, jangan di paksakan!"


"Enggak mas!" Asna tetap mengajak berjalan dan beberapa kali ia hampir terjatuh dan dengan cepat Gus Raka menarik tubuh Asna ke dalam dekapannya.


"Kenapa terus memaksa?"


"Mas, aku cuma pengen mas Raka tahu kejadian yang sebenarnya! Zaki tidak sengaja memegangi tangan Asna, walaupun Asna akan jatuh tapi Zaki tidak berani memeluk Asna seperti mas meluk Asna sekarang!"


Gus Raka pun segera membawa Asna ke tempat yang lebih sepi, dan mendudukkan Asna.

__ADS_1


"Mas, sungguh tadi benar-benar tidak sengaja! Kalau Asna kuat Asna pasti juga tidak akan mau di pegangi Zaki, mas! Jangan membuatku terus merasa bersalah!" Asna sampai mengeluarkan air matanya.


Gus Raka dengan lembut mengusap air mata Asna,


"Maafkan aku karena tidak mempercayaimu!"


"Mas jangan minta maaf, marahi saja Asna tapi jangan diamkan Asna!"


Gus Raka tersenyum, ia perlahan mulai menemukan Asna yang seperti dulu.


"Kenapa kamu begitu tertarik untuk menjelaskannya padaku?"


Asna mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Maksudnya! Kamu kan tidak butuh pengakuanku, kamu seharusnya tidak peduli kalau aku marah! Lalu kenapa kamu repot-repot menjelaskannya padaku?"


Asna mulai faham dengan arah bicara suaminya itu,


"Mas jangan mulai ya!"


"Ya gimana, aku kan cuma mau tahu bagaimana sebenarnya perasaan istriku ini! Kalau tidak cinta buat apa repot menjelaskan, iya kan?"


Walaupun Asna sebenarnya membenarkan, tapi ternyata rasa egonya lebih besar untuk bisa mengakui perasaannya pada sang suami.


"Bisa nggak mas nggak usah mengada-ada! Pulang aja yukkk!" Asna sudah hampir berdiri tapi Gus Raka kembali menahan tubuh Asna agar tetap diam di tempatnya.


"Jangan kemana-mana, biar aku yang belanja untukmu!"


Gus Raka pun mengambil ponselnya dan melakukan panggilan, ternyata panggilan itu tertuju ke pada Asna sendiri. Asna mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Jawab panggilanku!"


Asna pun melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh suaminya, ia mengangkat telpon video call dari suaminya.


"Lalu?"


"Pandu aku dari sini! Jangan kemana-mana, cukup pandu aku dari sini, mengerti?" Asna pun menganggukkan kepalanya mulai faham.


Gus Raka pun berlari meninggalkan Asna, kalau pun terjadi sesuatu pada Asna, Raka masih bisa memantu istrinya.


Gus Raka kembali masuk ke toko yang tadi, ia menuju ke rak yang di minta istrinya.


"Apa dulu yang harus aku ambil?"


"Sabun deh mas kayaknya!"


"Baiklah!" Gus Raka menuju ke lorong yang berisi sabun wajah wanita, Asna mulai menunjuk beberapa barang melalui kamera ponselnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2