
...Ya Allah, jika aku jatuh cinta. Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah jika doaku ink benar, maka permudahkan lah langkahku untuk menjadikannya halal bagiku...
...🌺Selamat membaca🌺...
Sudah ba'dha Ashar, Leon pun mempercepat langkahnya menuju mobil. Ia tidak mau Nisa menganggapnya tidak serius dengan ucapannya.
Masih butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah Nisa, walaupun tidak pernah benar-benar datang ke rumah itu tapi ia begitu hafal dengan seluk beluk rumah yang akan ia kunjungi.
Semenjak dua tahu yang lalu saat ia mengenal gadis yang sudah membuatnya hatinya tertahan hingga saat ini dan semakin besar rasa cintanya.
Mobil Leon kini memasuki halaman rumah berlantai dua dengan dua pilar besar di depan. Rumah dengan nuansa Eropa klasik. Tidak begitu besar tapi tampak rapi dengan berbagai tanaman bunga di halaman depan hingga terasa begitu sejuk saat memasuki halamannya.
Beberapa tanaman besar juga menghiasi halaman yang di buat cukup luas, ada beberapa tanaman buah seperti mangga, jambu biji dan sawo kecil.
Leon pun memarkirkan mobilnya di samping sebuah mobil, ia merasa tidak asing dengan mobil itu.
Mobil ini .....
Mobil itu sama persis dengan mobil pria yang tadi menyapanya di masjid.
Mungkin memang itu tamu keluarga Nisa, Leon pun tidak berpikir macam-macam, ia mengambil kue yang ada di bangku belakang dan segera turun dari mobil.
Leon memegangi letak jantungnya yang terasa lebih cepat berkerjanya.
Bismillahirrahmanirrahim ....
Dengan mengatur detak jantungnya, Leon pun segera mengetuk pintu utama yang berwarna putih itu.
Tok tok tok
Hingga seseorang membukakan pintunya,
"Mau bertemu dengan siapa mas?" ternyata asisten rumah tangga yang membukakan pintu, Leon sedikit bisa bernafas lega.
"Saya ingin bertemu dengan tuan dan nyonya rumah ini, saya Leon!"
"Sebentar ya mas, saya tanya sama bapak dulu!"
Leon pun menganggukkan kepalannya, asisten rumah tangga itu kembali menutup pintu.
Dan tidak berapa lama pintu pun kembali terbuka,
"Mari mas, bapak sama ibuk sudah menunggu di dalam!"
"Baik!"
Setelah bertanya pada pemilik rumah, akhirnya asisten rumah tangga itu mengijinkan Leon untuk masuk dan membawanya kepada pemilik rumah.
Bibi itu akhirnya mengajak Leon berhenti pada sebuah ruangan, sepertinya ruang tamu,
"Assalamualaikum!" ucap Leon, walaupun masih sangat tidak fasih mengucapkannya tapi Leon berusaha keras untuk mengucapkannya.
"Waalaikum salam!" sahutan orang-orang yang ada di ruangan itu.
Papa Nisa segera menyambut kedatangan Leon,ia berdiri dan menghampiri Leon yang masih berdiri di tempatnya.
"Nak Leon ya?"
"Iya, pak!"
Papa Nisa pun menepuk punggung Leon dan mempersilahkan Leon untuk duduk.
"Ayo duduklah, kita bisa bicara santai sekarang!"
Leon pun memilih untuk duduk di sofa yang sudah di duduki oleh seseorang, sofa itu cukup panjang dan masih cukup untuk duduk satu orang lain.
Papa Nisa pun kembali duduk di samping mamanya Nisa.
__ADS_1
Leon begitu terkejut saat melihat pria yang sama duduk di sebelahnya.
"Anda?"
"Mas?!"
Dan pria itu juga sama terkejutnya dengan Leon.
Leon baru sadar di mana dia mengenal pria yang duduk di sampingnya itu, beberapa waktu lalu ia sempat menyelidiki siapa pria yang sedang mengkhitbah Nisa, nanya Raka, putra dari salah satu pengasuh pondok pesantren.
Tapi di lihat dari penampilannya, Raka tidak seperti pria yang tinggal di pesantren, penampilannya tidak jauh beda dengan penampilannya kini.
Papa Nisa juga tidak kalau terkejut melihat mereka ternyata juga sudah kenal.
"Jadi kalian juga sudah saling kenal?"
Raka pun menjelaskan bagaimana mereka tadi bertemu,
"Sebenarnya belum kenal paman, tapi tadi tanpa sengaja kita bertemu di masjid, kami sama-sama melaksanakan sholat Ashar, iya kan mas?"
"Iya!" jawab Leon singkat.
"Kalau begitu biar kita berkenalan dulu, saya Raka!" ucap Raka sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Leon!" jawab Leon sambil menyambut tangan Raka.
"Ternyata Allah benar-benar mempertemukan kita kembali, tapi sepertinya ini terlalu cepat yang mas Leon!?"
Leon hanya bisa mengangguikan kepalanya, ia tidak tahu pria yang beberapa menit lalu sempat ia kagumi dengan sikat bersahajanya ternyata dia adalah saingannya untuk mendapatkan Nisa.
Tiba-tiba nyali Leon menciut di buatnya, Raka jauh lebih pantas mendampingi Nisa di banding dirinya.
Beberapa menit kemudian, Nisa pun keluar dengan membawa nampan, ia pun berjongkok untuk mengambilkan minuman itu satu persatu.
"Silahkan mas!" ucap Nisa sambil menundukkan kepalanya.
Sesekali mata Nisa memperhatikan Leon yang terlihat sekali kalau kali ini begitu tegang.
"Nak Raka kesibukannya apa sekarang?" tanya papa Nisa.
"Alhamdulillah sedang mengajar di tempat Abi dan sesekali mengisi di mata kuliah di di kampus!"
"Bagus, pengajar berarti ya?"
"Tidak juga paman, ada toko yang juga harus saya urus!"
Pria yang mempunyai banyak kelebihan, begitulah pandangan Leon saat ini pada pria yang duduk di sampingnya.
"Kalau nak Leon?"
Pertanyaan itu mengejutkannya, Leon belum siap dengan jawabannya. Ia tidak punya apapun yang bisa di banggakan.
Sejenak Leon menatap Nisa dan Nisa pun segera menundukkan pandangannya,
Benar, Nisa tidak bisa membantunya saat ini. Mungkin memang Nisa harus bersikap netral sekarang agar tidak menyakiti perasaan salah satu dari mereka.
"Saya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan pak!" ucap Leon.
"Bagus! Kalau nak Raka pendidikannya apa?" tanya Papa Nisa lagi.
"Saya baru saja menyelesaikan S2 di Mesir dan melanjutkan S3 di Jakarta!"
"Jadi sekarang masih kuliah?"
"Hanya mengerjakan tesis saja, paman!"
Sekarang giliran papa Nisa menatap Leon,
__ADS_1
"Nak Leon?"
Lagi-lagi Raka lebih baik dari dirinya, ia bahkan hanya menyelesaikan S1 nya, itupun dalam waktu yang cukup lama karena ia sering cuti setiap kali ada pekerjaan yang mendesak.
"Saya hanya lulusan S1!"
"Dari?"
"Dari Singapura!"
Ia melanjutkan kuliahnya di sana karena tugas untuk menjaga Alex selama mengalami depresi waktu itu. Jika tidak, mungkin dia hanya lulusan SMA saja, itu pun atas permintaan Oma Widya.
Leon hanya anak yatim piatu yang di ambil dari jalanan oleh Oma Widya. Oma Widya yang sudah membuatnya menjadi orang sampai saat ini.
"Orang tuanya?" tanya Papa Nisa lagi, kalau Raka, papa Nisa sudah faham dengan keluarga nya karena Gus Raka sudah mengirimkan CV atas dirinya beberapa bulan lalu.
"Saya tidak punya keluarga, orang tua saya sudah meninggal sejak saya berusia lima tahun, saya di besarkan olah seorang wanita yang berhati malaikat bernama Oma Widya, beliau yang mendidik saya selama ini!"
Papa dan mama Nisa saling berpandangan, Sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.
"Saya sudah tahu maksud kedatangan nak Raka kemari, tapi saya belum tahu apa tujuan nak Leon kemari, bisakah nak Leon mengutarakan langsung pada kami selaku orang tua Nisa?"
Leon pun menghela nafas dan mulai bicara,
"Sebenarnya saya sudah menaruh hari pada putri bapak beberapa tahu lalu, maaf karena saya baru bisa menyampaikan maksud baik saya saat ini, saya datang kemari untuk melamar Nisa sebagai istri saya! Saya akan terima apapun keputusan dari bapak dan ibu untuk ini!" ucap Leon pasrah. Ia tahu sudah kalah banyak dari pria yang duduk di sampingnya saat ini.
"Bagaimana ma?" tanya papa Nisa pada sang istri.
"Mama terserah papa sama Nisa, nak Raka dan nak Leon sama-sama memiliki maksud yang baik!"
"Begini saja, saya tidak bisa memutuskan sendiri saat ini, saya akan memberikan jawabannya satu Minggu dari sekarang, insyaallah Nisa sendiri yang akan mengirimkan surat jawabannya!"
"Saya terima apapun keputusannya nanti, paman! Semoga siapapun yang di pilih oleh Nisa adalah jodoh terbaik yang di kirim Allah untuk Nisa!"
"Amin!"
"Saya pun demikian!" ucap Leon yang juga pasrah.
Mereka pun berpamitan untuk pulang setelah pembicaraan panjang itu.
Sesampai di luar, Raka menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Leon,
"Mas Leon, saya senang bisa bertemu dengan mas Leon! Apapun keputusannya nanti saya rela, saya tahu mas Leon orang yang baik! Kalaupun bukan saya, mas Leon adalah pilihan terbaik!"
Leon mengerutkan keningnya,
"Anda seyakin itu sama saya?"
"Insyaallah, mas Leon orang yang baik! Saya pergi dulu, semoga nanti kita di pertemukan kembali dengan lebih baik!"
"Amin!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Lagi-lagi Leon di buat kagum dengan sosok yang baru dua kali ia temui itu.
Bersambung
...Aku percaya bahwa doa adalah penyampai pesan terbaik. Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia. Kita berbisik pada bumi dan di dengan oleh langit...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...