
Sudah satu bulan ini Bianka tinggal di pesantren, banyak banget pengalaman baru yang sebelumnya tidak ia dapat di pendidikan formal tapi ia dapat di pesantren.
Seperti hari ini karena kuliah dan kerjanya juga libur, Bianka punya banyak waktu di pesantren. Bianka bekerja paruh waktu di sebuah toko buku yang berada tidak jauh dari kampusnya, jika kampus sedang libur, toko buku pun juga akan libur karena kebanyakan yang membeli buku adalah mahasiswa.
"Assalamualaikum, umi!" Sapa Bianka saat menghampiri umi Sarah yang sedang menjemur pakaian.
"Waalaikum salam ...., Bia!"
"Biar Bia aja umi!" ucap Bianka sambil mengambil baju milik bu Nyai Sarah.
Bu Nyai Sarah hanya tersenyum sambil menatap Bianka yang menggantikan pekerjaannya.
"Apa Bia sudah punya calon?" tanya Nyai Sarah. Bianka pun tersenyum dan menoleh pada bu Nyai,
"Nggak ada umi, belum kepikiran!"
"Kenapa? Bukankah mensegerakan itu lebih baik?"
"Masih terlalu banyak masalah yang harus Bia selesaikan, umi!"
Bu Nyai Sarah hanya tersenyum sambil menatap Bianka.
"Sudah selesai umi, embernya di taruh di mana ya?"
"Biar umi saja!" ucap bu Nyai sambil meraih ember itu tapi Bianka menolak.
"Jangan umi, biar Bia saja! Tinggal umi tunjukkan saja di mana tempatnya!"
"Baiklah ...., di sana di dekat taman belakang!" ucap umi Sarah sambil menunjuk sebuah taman yang memang selama ini Bianka belum pernah masuki.
Tapi tatapan Bianka terpaku pada seseorang yang sedang mengobrol dengan Kyai Hamid. Mereka duduk di sebuah gasebo di tengah taman.
"Umi ....., bukankah dia?" tanyanya sambil menunjuk pria arrogant itu. Ia hanya marasa seperti sedang bermimpi saja jika melihat pria itu ada di pesantren sedangkan bagaimana pertemuan mereka pertama memberi kesan yang begitu buruk pada pria itu. Saat itu, pria itu sedang berada di sebuah mobil bersama seorang wanita tanpa pakaian lengkap di depan rumahnya.
"Iya ...., dia suami Aisyah!"
Mendengar hal itu, Bianka segera berjalan mendekati pria itu.
"Assalamualaikum pak Kyai!"
"Waalaikum salam ..., Bia!"
Pria itu menoleh kepada Bianka dan mengerutkan keningnya, sepertinya dia juga tidak tahu jika Bianka tinggal di pesantren.
“Anda? Kenapa anda di sini?” tanya Bianka sambil masih memegang ember di tangannya.
Alex hanya diam seperti biasa. Karena merasa tidak mendapatkan jawaban, Bianka pun kembali bertanya.
“Kenapa anda bisa di sini?” tanya Bianka.
"Jadi kalian sudah saling kenal? Baguslah kalau begitu!" ucap pak Kyai menengahi, "Nak Alex ini memang sering datang ke sini!"
__ADS_1
Bu Nyai sarah pun menyusul Bianka dan memegang pundak Bianka agar tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Bia ...., ikut umi yuk! Bantu umi masak!" ucap Bu Nyai Sarah sambil tersenyum pada Bianka.
Bianka pun tidak mampu menolak, ia mengikuti langkah bu Nyai Sarah menuju ke dapur ndalem.
"Bantu umi potong sayurnya ya!" ucap Bu Nyai Sarah dengan memberikan beberapa ikat kacang panjang pada Bianka.
"Iya umi ....!"
Tapi ternyata hal itu tidak menyurutkan rasa penasaran Bianka. Ia masih begitu penasaran kenapa pria seperti Alex bisa berada di pesantren. Atau jangan-jangan dia punya rencana jahat terhadap pesantren.
“umi!"
Bu Nyai Sarah yang sedang mengupas bawang pun mengangkat kepalanya menatap Bianka, “Iya?”
‘Kenapa suaminya Aisyah bisa di sini, umi?”
‘Suaminya Aisyah adalah salah satu murid Pak Kyai, Bia!”
“Benarkah?” tanya Bianka menyelidik, ia masih tidak percaya, "Bukan karena ada maksud lain gitu, maksudnya bukan karena sebuah proyek?"
Bu Nyai Sarah mengangguk. "Iya Bia, bukan karena hal lain! Kita harus bersikap husnudhon dan sepertinya dia sungguh-sungguh belajar agama!"
Mendengarkan penjelasan Bu Nyai Sarah, Bianka hanya bisa berbaik sangka pada pria itu.
Lalu ...., bagaimana dengan gus Fahmi ...?
‘Sepertinya mereka belum pernah dengan sengaja berbicara berdua, Ada apa?!”
“Tidak umi ...., bukan apa-apa!" ucap Bianka dan kembali dengan pekerjaannya, tapi kemudian ia kembali penasaran sesuatu,
"Umi ....!"
"Iya?"
"Apa gus Fahmi baik-baik saja?”
Bu Nyai Sarah tersenyum pada Bianka, "Itu hanya putra umi dan Allah yang tahu, biarlah itu menjadi rahasia mereka!”
Suaminya Aisyah belajar agama? Kenapa?, batin Bianka masih melayang-layang. Ia masih terus berusaha untuk mencari alasan yang paling masuk akal dari keputusannya belajar ilmu agama.
***
Setelah pertemuannya dengan Alex, Bianka benar-benar tidak sabar ingin bertanya pada sahabatnya itu, apalah dia mengetahuinya? tapi dia juga tidak mau membicarakan hal itu melalui telpon. Ia harus menunggu esok hari untuk bisa membicarakan hal itu.
Siang ini di kampus, Bianka segera mencari sahabatnya itu. Ia harus memastikan sesuatu.
Akhir-akhir ini sahabatnya itu sering sekali ijin. Karena tidak menemukannya di dalma kelas, Bianka harus mencarinya lagi.
"Mungkin dia di perpus!" ucap Bianka setelah tidak menemukan Aisyah di kelas maupun di mushola kampus.
__ADS_1
Karena Aisyah punya tugas yang menumpuk bisa jadi ia sedang sibuk di sana.
Dan benar saja saat masuki perpustakaan, ia bisa langsung menemukannya di sudut ruangan itu dengan buku yang bertumpuk tinggi di depannya.
“Assalamualaikum, Ay!” sapa Bianka saat duduk di samping sahabatnya itu.
“waalaikum salam, bi!" jawab Aisyah sambil menatapnya sebentar dan kembali sibuk dengan buku-buku di depannya.
"Ponsel kamu kenapa sih? Kenapa nggak di angkat aku telpon dari tadi!"
"Astagfirullah ...., benarkah? Maaf aku mode silent soalnya!" ucap Aisyah sambil menunjukkan ponselnya dan benar saja sudah berpuluh-puluh panggilan tak terjawab yang masuk ke ponselnya.
"Ada apa?” tanya Aisyah saat melihat sahabatnya itu terlihat begitu serius. Aisyah menutup bukunya dan memperhatikan sahabatnya itu.
Bianka melipat tangannya di atas meja dan menatap Aisyah dengan seksama, ia ingin tahu dari mata sahabatnya itu,
“Apa kamu tahu sesuatu tentang suami arrogant mu itu?"
Aisyah mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bersatu, "Maksudnya?"
"Mengetahui sesuatu tentang suamimu itu, misalnya perubahan?" tanya Bianka lagi.
“Sesuatunya apa? Perubahan yang bagaimana?”
“Suamimu datang ke pesantren!” ucap Bianka. Tentu hal itu membuat Aisyah terkejut, apalagi ia juga punya pengalaman tentang hati di sana.
"Apa? Kenapa? Ke pesantren nurul huda?” Tanya Aisyah memastikan jika pesantren yang di maksud adalah pesantren yang sama.
“Iya!"
"Untuk apa?" tanya Aisyah lagi.
"Kalau kata umi sih belajar agama! Tapi aku nggak yakin!”
Mas Alex belajar agama, benarkah? Apa semua perubahan akhir-akhir ini gara-gara itu ...., tapi kenapa mas Alex nggak bilang?
"Ay ...., kenapa malah bengong?" tanya Bianka yang melihat Aisyah malah diam dengan pikirannya sendiri.
“hari ini aku ikut ke pesantren ya!" ucap Aisyah dengan begitu yakin.
“Suamimu nggak jemput?” tanya Bianka karena ia tahu akhir-akhir ini suami sahabatnya itu sedang rajin-rajinnya jemput.
“kebetulan hari ini jadwalnya lepas gips, jadi mas alex nggak jemput. Hanya Leon yang akan jemput!”
"Baguslah ....!"
...Untuk menjadi baik, tidak perlu pengakuan dari banyak orang. Asal tetap istiqamah dan semua karena Allah~MAvsMS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰