Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (1)


__ADS_3

Kenapa nih judulnya beda ya? Penasaran pasti. Nah untuk season leon dan Nisa insyaallah sudah bahagia.


Eits eits jangan khawatir, mereka ataupun mas Alex tetap masih ada di sini ya,


Hanya di season 3 ini akan lebih menekankan pada kisah Asna dan Gus Raka.


Penasaran kan sama kisahnya, lanjut yuk.


...🌺🌺🌺🌺...


Nisa terlihat bingung, ia ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.


"Kalian menyembunyikan sesuatu ya sama aku?" tanya Nisa kemudian pada suaminya dan juga pria yang sudah ia anggap sebagai kakak iparnya.


"Biar dokter saja yang menjelaskan ya!"


"Dokter di mana?" kini Nisa mulai panik tapi sedari tadi Leon terus mengusap punggung Nisa agar sedikit mengurangi rasa cemasnya.


Dan benar saja, tidak berapa lama dokter pun keluar dari ruangan Asna, ia juga bisa melihat di sekitar kamar Asna ada polisi.


"Dokter, apa sebenarnya yang terjadi pada teman saya?"


"Pasien adalah korban pemerkosaan, dia mengalami trauma atas kejadian itu!"


Tiba-tiba air mata Nisa jatuh juga, ia bisa merasakan betapa terlukanya sahabatnya saat ini,


"Boleh saya menemuinya dok?"


"Pasien sedang di beri obat penenang!"


"Tidak pa pa, saya ingin melihatnya sebentar saja!"


Dokter menatap ke arah Leon, dan Leon pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, silahkan!"


Leon pun mengantar Nisa ke ruangan Asna, sedangkan Alex menemui dokter untuk mengetahui secara jelas keadaan Asna.


"Bagaimana dok?" tanya alex saat mereka sudah berada di ruangan dokter.


"Sepertinya pelakunya tidak hanya satu orang, terlihat dari sobekan pada organ vitalnya dan trauma yang di derita pasien, untuk beberapa hari ini pasien harus tetap berada di rumah sakit sampai keadaannya benar-benar pulih!"


"Saya mengerti dok, terimakasih atas informasinya!"


Di ruangan Asna, Nisa terus menggengam tangan sahabatnya,


"Na, maafkan aku! Seandainya saja saat itu aku tidak membiarkanmu pulang sendiri, semua ini tidak akan terjadi, seandainya saja waktu itu aku tidak nekat untuk pulang sendiri dan kamu harus mengantarku, semuanya tidak akan seperti ini, maafkan aku, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang! Maukah kamu memaafkan aku nantin?"


Leon masih tetap sama, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengusap punggung istrinya yang terguncang karena berita buruk ini.

__ADS_1


Cukup lama mereka di kamar itu, hingga dokter memintanya untuk keluar.


Tepat saat mereka keluar, dari arah lain terlihat kedua orang tua Asna sedang berjalan cepat menuju ke ruangan itu.


"Nisa, bagaimana keadaan Asna?" mama Asna tampak panik, berbeda dengan sang papa yang lebih terlihat tenang.


Nisa hanya bisa menunjuk ke belakang tepat ke kamar Asna, mama Asna segera menerobor tubuh Nisa dan Leon, ia tampak begitu tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya.


"Ya Allah nak, kamu kenapa? kenapa bisa seperti ini?"


Dokter yang meminta Nisa keluar masih di sana, papa Asna segera bertanya pada sang dokter dan dokter menjelaskan semuanya pada papa Asna.


"Kok bisa, sebenarnya apa yang terjadi?"


Alex datang, ia sudah memperkirakan bagaimana yang akan terjadi selanjutnya jika kedua orang tua Asna datang.


"Mari pak, kita bicara sebentar di sana, saya akan menjelaskan semuanya!"


"Kamu siapa?"


"Perkenalkan saya Alex, saya kakak dari suami Nisa!"


Setelah melihat Alex terlihat begitu meyakinkan, akhirnya papa Asna pun setuju untuk ikut dengan Alex.


Mereka pun menuju ke ruang tunggu yang sepi, mereka duduk berhadapan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Papa Asna terlihat begitu syok, ia terdiam begitu lama tidak menanggapi ucapan Alex.


"Sekali lagi saya minta maaf pak, sungguh ini di luar dugaan kami!"


"Saya tidak tahu bisa memaafkan kalian atau tidak, tapi saya mohon untuk sementara waktu sampai luka kami sembuh jangan pernah menampakkan diri di depan kami, di depan putri kami!"


"Tapi pak_!"


"Maaf, hanya itu yang bisa saya lakukan pada putri saya!"


Papa Asna berdiri dan meninggalkan Alex begitu saja, ia kembali menghampiri kamar putrinya. Melewati Nisa dan Leon begitu saja.


Ia segera masuk dan duduk di samping tempat tidur putrinya, setegar apapun seorang ayah saat melihat putrinya terluka dia pasti akan ikut terluka.


Pria paruh baya itu menangis di samping putrinya yang masih terbujur lemah dengan slang infus di sisi kiri dan kanan tangannya.


"Pa, ada apa?" mama Asna tampak semakin penasaran melihat suaminya yang malah menangis di depan sang putri.


Asna adalah putri satu-satunya di keluarga, ia punya dua adik laki-laki.


Alex kembali menghampiri Nisa dan Leon.

__ADS_1


"Kita harus pergi dari sini!"


"Kenapa?"


"Biarkan mereka sendiri, nanti kalau mereka sudah merasa lebih baik, kita pasti akan di hubungi lagi!"


"Tapi pak Alex!"


"Kamu juga butuh istirahat, Nisa!"


Akhirnya Nisa pun tidak bisa menolak lagi, walaupun dengan berat hati mereka pun akhirnya meninggalkan rumah sakit itu.


Leon mengajak Nisa ke rumah orang tuanya agar Nisa tidak terlalu sedih. Kedatangan Nisa bersama Leon tentu membuat heboh keluarga, mereka begitu terkejut mendapati Leon kembali.


"Kalian istirahat dulu, besok atau nanti kalian bisa cerita! Nanti mama minta bibi buat bawakan makanan untuk kalian ke kamar!"


Nisa hanya mengangguk,


"Kami ke kamar dulu ma!" pamit Leon, ia memapah tubuh Nisa.


Setelah sampai di kamar, Leon meminta Nisa untuk duduk,


"Aku siapkan air untuk mandi dulu ya, kamu duduk saja!"


Leon sudah hampir beranjak tapi Nisa menahan tangan suaminya membuat sang suami menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Apa Asna akan marah sama Nisa?"


Leon pun akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Nisa, ia mengusap punggung tangan Nisa dan menciumnya dengan begitu lembut,


"Asna berhak marah, Nisa! Tapi pasti bukan sama Nisa, nanti kalau Asna sudah bisa menyembuhkan lukanya dia pasti akan menyapa Nisa seperti biasanya!"


"Jika Asna marahnya lama bagaimana?"


"Asna wanita yang kuat, dia pasti akan bisa mengobati dirinya sendiri!" walaupun tidak yakin tapi Leon harus mengatakan hal itu pada istrinya agar sang istri tidak terlalu kepikiran dengan apa yang terjadi.


"Sudah ya, jangan di pikirkan terus! Kamu juga harus memikirkan anak-anak kita, dia juga butuh bundanya! Tersenyum dong!"


Nisa akhirnya bisa tersenyum walaupun tidak banyak. Leon pun segera berdiri dan mengusap kepala Nisa, ia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk sang istri. Setelah siap ia pun segera membawa Nisa ke kamar mandi, selama kaki Nisa sakit ia tidak membiarkan Nisa berjalan sendiri.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2