Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Menemui wanita itu)


__ADS_3

Dua pria beda usia itu segera menaiki mobil yang nyatanya itu mobil Alex, sebenarnya Gus Raka merasa tidak enak, tapi menurutnya akan lebih tidak enak membawa bos besar sekelas Alex naik motor berdua bersamanya.


Alex sengaja tidak membawa sopir karena ia ingin santai hari ini, ia ingin tahu kenyataan yang sebenarnya.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah besar.


Mereka turun, gur Raka di buat berkesima dengan rumah yang ada di depannya.


"Ini rumah wanita itu?" tanya gus Raka memastikan. Karena jelas berbeda sekali rumah yang beberapa waktu lalu ia datangi dengan rumah yang sekarang berada di depannya itu. Rumah yang sudah di tumbuhi rumput itu hanyalah rumah sederhana. Tapi yang di hadapannya ini rumah yang begitu besar lengkap dengan para penjaga.


Alex menoleh sejenak pada gus Raka dan tersenyum, "bukan! Ini rumah Oma saya, Oma Widya!"


Sejujurnya gus Raka gagal fokus dengan ucapan Alex, "Maksudnya wanita itu Omanya pak Alex?"


Alex pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan, tapi dia ada di sini!"


Sebelum mereka kembali melangkahkan kakinya, pintu besar itu terbuka dan di sana sudah berdiri seorang wanita paruh baya tetap dengan dandanan necis ala pengawal.


Dia dengan cepat menghampiri Alex dan Gus Raka,


"Selamat datang tuan!" ucapnya sambil menunduk hormat. Lagi-lagi Gus Raka begitu terkesima melihat betapa dihormatinya pria yang berdiri di sampingnya itu.


"Ini dia yang sedang anda cari!" ucap Alex sambil mengarahkan tatapannya pada wanita berpakaian pengawal itu.


Gus Raka segera menatap wanita itu, pantas saja jika pria yang kemarin ia temui bersama Leon mengatakan jika wanita yang menolong kembarannya sedang bertarung.


Wanita itu pun juga tampak terkejut karena tiba-tiba ada yang mencarinya apalagi pria yang mencarinya sangat muda.


"Perkenalkan, mananya Raka!" ucap Alex sambil menunjuk Gus Raka, "Dan ini Merry, dia pengawal terbaik keluarga kami!"


Gus Raka pun segera tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada saat Merry ingin mengulurkan tangannya.


"Maaf!" ucap Merry kemudian.


"Agar lebih nyaman sebaiknya kita bicara di dalam saja!" usul Alex.


"Ahh iya, silakan masuk! Maaf tuan saya sampai lupa!" Merry tampak begitu tidak enak dengan tuannya itu.

__ADS_1


Akhirnya mereka memilih ruang tamu sebagai tempat mengobrol mereka, seorang pelayan sudah membawakan minuman untuk mereka dan setoples camilan.


Walaupun rumah ini sudah tidak lagi di tinggali oleh Alex dan keluarganya, tapi tetap saja Alex menempatkan beberapa pengawal dan pelayan untuk menjaga rumah ini jika sewaktu-waktu mereka datang.


Tidak jarang Alex juga menggunakan rumah ini sebagai tempat untuk pertemuan atau untuk singgah beberapa kolega yang berasal dari luar negri.


Bukan tanpa alasan Alex lebih memilih memboyong keluarnya ke rumahnya sendiri. Di rumah Omanya, tetangga banyak yang kenal siapa Alex, seorang mantan narapidana. Bohong jika hal itu tidak berimbas pada anak-anak nya, Kia bahkan sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman-temannya dan dikucilkan karena mempunyai papa mantan narapidana.


Bahkan sering kali Kia dan Arsy menangis sepulang mengaji karena ulah anak-anak lainnya yang tidak mau bermain dengan mereka. Hal itu membuat tekat bulat Alex untuk pindah ke rumahnya sendiri, setidaknya di sana ia tidak terlalu dekat dengan tetangga kanan kiri. Aisyah juga terpaksa memindahkan sekolah Kia dari sekolah lamanya.


Kembali ke Gus Raka dan Merry.


Setelah duduk, mereka hanya saling diam, sebenarnya Gus Raka terlihat sudah gemas ingin segera bertanya, tapi ia masih canggung karena baru pertama bertemu dengan wanita itu. Ia memilih diam dan menunggu Alex berbicara lebih dulu.


"Boleh aku melihat kartu namanya?" tanya Alex setelah sekian lama terdiam.


Gus Raka pun segera merogoh saku kemejanya dan menyerahkan cuwilan kartu nama itu pada Alex.


"Apa kamu kenal dengan kartu nama ini?" tanya Alex pada Merry yang terdengar sangat tidak sopan. Alex sedari kecil sudah terbiasa memanggil Merry hanya dengan nama saja. Alex tampan menyodorkan cuilan kertas usam itu


Merry pun segera mengamati benda itu,


"Maaf, bukan!" Gus Raka yang sedikit terkejut segera mengibaskan tangannya dan mengatakan 'tidak'. Gus Raka terlihat begitu sungkan dan memilih untuk menundukkan kepalanya.


Merry pun mengerutkan keningnya dan beralih menatap pada Alex, seperti sedang meminta penjelasan pada pria yang sudah sedari kecil ia kawal itu.


"Biar Raka sendiri yang menjelaskan padamu!" ucap Alex masih dengan nada santainya.


Merry pun beralih menatap Gus Raka dengan begitu banyak pertanyaan. Dari sudut manapun dia tidak pernah mengenal pria muda di depannya. Walaupun begitu, tapi ia merasa Tidka terlalu asing dengan sosok di depannya, ada beberapa sisi mengingatkannya pada seseorang. Entah apa yang mirip, tapi sepertinya jika berada di tempat terpisah seperti ini memang sangat mirip, hanya penampilannya yang berbeda.


"Apa saya mengenal anda?" tanya Merry,


"Tidak nyonya, tapi apakah benar anda yang menolong seorang anak usia lima tahu dua puluh tahun silam?"


Merry seperti sedang mengembalikan memorinya dua puluh tahun silam,


"Anak korban kecelakaan bus!" tambah Gus Raka.

__ADS_1


Sepertinya Merry pun mulai sadar sekarang siapa yang sedang di bicarakan oleh pria muda itu.


"Oh itu?" ucapnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Lalu Anda siapa? maksud saya, ada hubungan apa anda dengan anak itu?"


Gus Raka pun akhirnya menceritakan tentang maksudnya mencari anak itu, menceritakan jika dia adalah saudara yang terpisah karena kecelakaan itu.


"Jadi anda saudara kembarnya?" kini Merry mengerti situasinya.


"Insyaallah begitu!"


Merry pun akhirnya mulai bercerita bagaimana mereka dulu.


Flashback on


Beberapa kawannya sedang sibuk melawan beberapa anak buah dari salah satu saingan bisnis David, papa Alex.


Saat itu Oma Widya tidak pernah tahu kalau David memperkerjakan Merry kembali yang notabennya adalah mantan kekasih putranya.


Merry dan David baru bertemu kembali saat masih di Singapure, saat itu memang pernikahan antara David dan Nia sudah selesai.


Karena dasar jika cinta mereka tidak akan pernah di restui, baik Merry maupun David tetap memilih sendiri dan tidak berniat untuk menjalin kembali hubungan cinta. Mereka hanya melakukan hubungan kerja sama saja.


Merry yang juga ikut dalam perkelahian itu di kejutkan dengan seseorang yang sedang bersembunyi di balik semak-semak. Ia mengira jika seseorang itu mungkin salah satu dari lawannya.


Perlahan ia mendekati, saat sudah begitu dekat ia begitu terkejut mengetahui pria itu tidak sendiri, ia bersama sesosok anak kecil yang berlumuran darah sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Mbak tolong saya, saya bingung harus apa. Saya harus menolong anak ini!" pria dengan handuk kecil di lehernya itu terlihat begitu cemas, jelas sekali jika dia bukan salah satu dari mereka.


Kalaupun memang iya, apa mungkin dia sedang menyamar dan mencoba mengecohnya. Tapi anak kecil yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu jelas tidak bisa di abaikan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2