Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (63)


__ADS_3

Asna pun mengangukkan kepalanya. mama Ayu datang dengan kursinya, ia segera turun dan dan duduk di atas kursi roda. Asna ke ruangan Raka di temani mama Ayu dan umi Nazwa.


Di depan kamar Raka masih ada ustadz Arif dan papa Tedi.


"Asna!?" mereka langsung berdiri dan menghalangi kursi roda Asna.


"Asna pengen liat mas Raka pa, Abi! Asna mohon!" Asna mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan suara yang gemetar.


"Tapi sayang, Raka belum sadar!" papa Tedi segera berjongkok di depan Asna dan menggenggam tangan putrinya itu.


"Biarlah, tidak pa pa asal Asna bisa melihat mas Raka! Insyaallah Asna kuat bagaimana pun keadaan mas Raka!"


Setelah melihat bagaimana tekat Asna, papa Tedi pun tidak bisa menolak lagi, ia pun berdiri dan memberi jalan pada putrinya itu.


"Ma, Asna mau masuk sendiri! Asna kuat jalan!"


Walaupun berat hati akhirnya mama Ayu mengijinkan Asna untuk masuk sendiri, mungkin dengan kedatangan Asna, Raka segera sadar.


Asna bisa melihat bagaimana suaminya yang masih belum sadarkan diri itu di dalam sana memalui kaca besar di depannya, Asna terus berjalan dan perlahan tangannya menarik handle pintu berwarna silver itu, perlahan pintu terbuka seakan suasana semakin membuat dadanya sesak mana kali suara mesin itu memantul di telinga Asna. Mesin waktu yang seolah mengingatkan padanya bahwa secinta apapun dia pada sang suami tetaplah Allah pemilik segalanya dan hanya Dia yang berhak menentukan untuk tetep tinggal atau pergi bersamaNya.


Asna menatap tubuh suaminya yang terbujur kaku dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya, suami yang setiap kali bertemu dengannya selalu tersenyum dan membuat candaan yang selalu berhasil membuat dirinya seolah-olah seperti wanita yang paling beruntung di dunia ini, dan kini suami yang sama itu dia tak bergerak sama sekali dengan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya, pria yang tampak telanjang dada sedang terdiam di sana membuat hati wanita yang sedang hamil itu semakin teriris.


Asna sudah begitu dekat sekarang, bahkan bibirnya tidak mampu mengucapkan apapun hanya air mata yang terus mengalir seperti tak mampu lagi ia bendung.


Asna menjatuhkan dirinya dengan kasar di kursi yang ada di samping tempat tidur suaminya, ia memandang lekat wajah suaminya, tidak ada guratan kesedihan.


"Mas, bisa-bisanya kamu setengah ini sedangkan aku sekarang begitu menderita! Ini tidak adil mas, bangun sekarang atau aku akan pergi!"


"Jangan pernah berani meninggalkan aku, kamu sudah janji kan waktu itu! Jika ada yang pergi harusnya aku bukan kamu!"


"Jika kamu marah padaku, marah saja, omeli aku, maki aku tapi jangan pernah diamkan aku seperti ini, ini menakutkan mas!"


"Kamu bohong mas, aku tidak suka candaan yang seperti ini, ini benar-benar menakuti ku! Bangunlah!"


"Aku tidak suka, aku tidak akan memaafkan mu mas, bangunlah!"


Asna terus menangis dan mengajak bicara suaminya tapi tetap saja suaminya sama sekali bergeming. Seolah apa yang ia katakan tidak berarti bagi suaminya, tapi terlihat sudut mata suaminya mengeluarkan cairan bening.

__ADS_1


"Mas_, kamu dengar apa yang aku katakan? Mas bangunlah!" Asna segera mundur dan berdiri dari duduknya, ia memencet tombol memanggil dokter. Ia ingin dokter segera memeriksa suaminya.


Beberapa detik kemudian para dokter pun datang membuat para keluarga heran.


"Dokter ada apa?"


"Ada yang memanggil kami!"


Mereka pun membiarkan dokter itu masuk.


"Dokter, mas Raka mengeluarkan air mata! Apa itu artinya mas Raka merespon ucapanku?"


"Baiklah, biar kami periksa lebih dulu!" Asna pun menyingkir membiarkan dokter-dokter itu bekerja.


Di luar Leon sudah datang dengan dokter pribadi keluarganya, dokter yang pernah menangani Raka waktu itu.


"Ada apa?" Leon begitu khawatir.


"Tidak tahu, kata dokter ada yang memencet tombol panggil, mungkin Asna yang melakukannya!"


Leon menatap dokter yang ia bawa itu, "Apa perlu kita melihat ke dalam?"


Leon dan dokter itu pun akhirnya ikut masuk.


"Asna, apa yang terjadi?" tanya Leon pada Asna yang masih berdiri mematung.


"Tadi aku melihat mas Raka mengeluarkan air mata, bukankah itu tandanya mas Raka bisa mendengarkan apa yang aku katakan!?"


Leon pun bertanya pada teman dokternya, ia pun langsung mendekat pada dokter-dokter yang lain, "Biar saya ikut memeriksa!"


Melihat dokter yang di bawa Leon, beberapa dokter itu terlihat memberi tempat. Sepertinya dokter itu memang dokter senior meskipun usianya masih cukup muda.


"Bagaimana menurut kalian?" dokter itu meminta pendapat dokter-dokter yang lain.


Salah satu dari dokter itu yang usianya tampak lebih tuan lalu memberi pendapat, "Ini sulit di mengerti, seharusnya jika sudah bisa merespon pasien menunjukkan tanda-tanda akan sadar, tapi ini tidak ada pergerakan sama sekali!"


"Karena pasien pernah mengalami trauma dan mengalami hal yang sama beberapa bulan lalu dan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya!"

__ADS_1


"Lalu bagaimana selanjutnya dok?" salah satu dokter bertanya pada dokter pribadi Leon.


"Mungkin kali ini sedikit lebih berat, karena sebelumnya saya sudah memperingatkan pada pasien untuk melakukan terapi traumanya agar tidak terjadi lagi, tapi apa boleh buat sekarang!"


Walaupun tidak bertanya, tapi Leon dan Asna bisa mendengar secara langsung apa yang di bicarakan oleh dokter-dokter itu.


...****...


Karena tidak ada perkembangan yang signifikan, setelah satu Minggu di rawat di rumah sakit daerah xxx, akhirnya Leon setelah berdiskusi dengan para keluarga pun memutuskan memindahkan Raka ke rumah sakit dekat dengan rumah agar mereka lebih mudah memantau keadaan Raka, apalagi di Surabaya peralatannya pasti lebih canggih dari pada rumah sakit daerah. Apalagi di rumah sakit Surabaya, mendapatkan pantauan langsung dari dokter pribadi Leon.


Asna hanya bisa pasrah, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi, melihat suaminya setiap hari tidak bergerak pastilah membuat hatinya teriris.


Kini Raka sudah di pindahkan ke rumah sakit di Surabaya. Asna tidak pernah pulang selama itu.


"Sayang, kasihan bayi dalam kandungan kamu kalau kamunya Tress!" mama Ayu benar-benar prihatin melihat keadaan putrinya.


"Ma, kalau sewaktu-waktu mas Raka bangun bagaimana kalau di cariin Asna?"


"Dokter pasti akan menghubungi kita, kemarin di rumah kamu ada karyawan Raka loh! Kasihan kan kalau mereka ikut terlupakan!"


"Sekarang tanggal berapa ma?"


"Ini tanggal lima sayang, ada apa?"


"Astaghfirullah ma, ini waktunya anak-anak gajian! Mas Raka nggak pernah biarin gajian mereka terlambat satu hari pun! Asna harus ke toko sekarang ma!"


"Biar mama temenin ya!"


Asna pun akhirnya menitipkan suaminya pada dokter yang berjaga, tidak lupa ia juga meninggalkan nomor telponnya agar jika sewaktu-waktu suaminya sadar dokter akan menghubunginya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2