Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra part (Nisa & Leon 10)


__ADS_3

...Cinta yang sempurna itu bukan berasal dari dua orang yang sudah sempurna, tapi berasal dari dua orang yang tidak sempurna dan mereka terus berjuang untuk tidak menyerah satu sama lain....


...🌺Selamat membaca🌺...


Kini tamu undangan sudah mulai meninggalkan acara, pengantar pengantin pria pun demikian.


Walaupun begitu tetap saja tamu masih tampak berdatangan. Keluarga Leon akan datang lagi di acara walimatul urs nanti malam. Inilah kenapa Leon menyewa sebuah rumah yang dekat dengan rumah Nisa agar para keluarga tidak kesusahan untuk bolak balik terlalu jauh dari rumah.


kini Nisa dan Leon sudah kembali ke kamar dan mengganti bajunya di bantu oleh beberapa orang yang memang memiliki tugas untuk merias mereka.


Kalau untuk nanti malam, mereka sengaja akan mengenakan baju yang mereka miliki sendiri agar tidak terlalu ribet.


Nisa sampai tidak menyadari jika sejak setelah acara ijab Qabul ia bahkan belum mendapatkan sapaan dari saudara-saudara nya, mungkin mereka juga sangat sibuk untuk menyambut tamu.


Bahkan mama Nisa yang biasanya selalu tidak bisa jauh-jauh dari Nisa tiba-tiba tidak mengunjungi kamar Nisa semejak ijab Qabul.


"Sudah selesai ya mbak, mas, kalau begitu kami pergi dulu, selamat tas pernikahannya semoga sakinah mawadah warahmah!"


"Terimakasih ya Bu!"


"Oh iya dapat salam juga dari tetangga saya, sepertinya kemarin belum sempat di sebut sama mbak Nisa dan mas Leon!"


"Siapa Bu?" Nisa mengerutkan keningnya. Seingatnya ia sudah menyebut semua tamu yang hadir dan mungkin yang memberi ucapan lewat pesan.


"Ada beberapa saya sebut ya mbak?" ibu itu tampak ragu, takut kalau menggangu pengantin baru.


"Iya nggak pa pa!"


"Yang pertama dari author Tri Ani, lalu beberapa pembaca yang kemarin belum sempat di sebut ; Henni Moel Yana, Kelink, Mmh Sabrina binot, Yatun Borsel, Bunda Febi, Tini 12345, trus siapa lagi ya?" tampak ibu itu sedang berfikir. "Gini aja deh mbak, nanti kalau ingat saya kirimkan via wa sama mbak Nisa!"


"Iya Bu, terimakasih ya, jangan lupa bawakan bingkisannya juga ya Bu!"


"Iya mbak, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Orang-orang itu akhirnya meninggalkan kamar Nisa juga. Nisa sampai tidak sadar jika suaminya kini sudah tidak ada di di sampingnya lagi.


Dimana mas Leon? Nisa pun mengedarkan pandangannya. dan ternyata ia sudah melihat suaminya duduk di kursi kecil sambil melipak kedua tangannya di depan dada.


"Mas!" Nisa berjalan menghampiri suaminya dan berdiri tepat di depan suaminya. Menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Leon memicingkan matanya dan menegakkan punggungnya yang tadi bersandar di sandaran kursi.


Nisa pun segera mengalihkan tatapannya, kini suaminya sudah memakai kaos oblong dan celana kain panjang berwarna hitam. Cukup berbeda dengan penampilan biasanya yang selalu tampil perfeck dengan stelan kemeja yang di lengkapi dengan jas,


"Nggak, Nisa nggak kenapa-kenapa!"


Nisa pun hendak berbalik meninggalkan Leon, tapi dengan cepat Leon menarik tangannya dengan cukup kuat hingga membuat tubuh Nisa terpelanting dan jatuh.


Srekkkkkk


Bug


Bukan jatuh ke lantai tapi jatuh ke atas pangkuan Leon hingga wajahnya tepat mendarat di dada Leon.


Sebenarnya Leon tidak sengaja melakukan hal itu, tampak dari wajahnya yang juga terkejut. Ia hanya ingin menahan agar Nisa tidak berpindah dari tempatnya tapi ternyata tenaganya terlalu kuat.


Leon malah tercengang di buatnya. Leon apa yang kamu lakukan?


Nisa juga begitu terkejut karena tanpa sengaja bibir yang masih lengkap lipstik tebalnya yang belum sempat ia hapus malah mendarat di kaos putih milik sang suami hingga meninggalkan jejak bibir di atasnya.


Ya Allah, bisa-bisanya bibirku mendarat di sini.

__ADS_1


Mata Nisa membulat sempurna yang tertuju pada jejak bibirnya itu.


Nisa menatap ke atas mencoba menggapai wajah sang suami dan ternyata suaminya juga melihat ke arah yang sama.


Nisa pun bersiap untuk menghapusnya tapi dengan cepat tangan Leon kembali menahan tangan Nisa.


"Mas, biar aku hapus!" Nisa terus memaksa dan ternyata Leon pun tidak kalah kuatnya menahan.


"Biarkan saja!" Leon tersenyum.


"Jangan mas, biar aku ambil tisu!" Nisa sudah hampir berdiri tapi lagi-lagi tangan Leon menahan pinggangnya agar tetap berada di tempatnya.


"Mas!"


"Diam, atau kamu akan membangunkan yang lainnya!" Leon seperti sedang menahan sesuatu. Dan benar saja Nisa bisa merasakan sesuatu yang keras di bawah duduknya. Seketika Nisa terdiam, ia tidak berani bergerak sama sekali sekarang.


Leon tersenyum untuk kesekian lainnya dan Nisa menatap sang suami.


"Mas, sampai kapan Nisa di sini?"


"Sampai dia tidur kembali!"


"Tapi mas, ini di hapus ya?"


"Jangan, tidak boleh ada siapapun yang menghapusnya mengerti!"


Aneh banget mas Leon ....


Nisa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ceklek


Pintu di buka dari luar membuat Nisa dan Leon terkejut hingga Nisa melompat dari pangkuan leon.


"UPS, maaf! Kayaknya Kakak salah masuk kamar deh!" dokter Reza sudah berdiri di depan pintu dan dengan tidak merasa bersalahnya dia tersenyum.


"Maaf ya, tapi sayangnya aku nggak nyari kamu, aku di minta papa buat ngajak Leon ke masjid buat sholat magrib!"


"Baiklah, saya ambil sarung dulu dokter!"


"Aku tunggu di bawah ya, kalau mau lanjut sebentar juga nggak pa pa!" dokter Reza mengacungkan tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, "Masih ada waktu lima belas menit sampai waktu magrib tiba!"


"Kakkkkkk!" Nisa dengan cepat melempar bantal kecil yang ada di sampingnya ke arah sang kakak, tapi sayangnya dokter Reza sudah lebih dulu menutup pintu itu hingga mantap itu hanya mengenai pintu.


"Kebiasaan sekali kak Reza!" gumam Nisa sambil berkacak pinggang. Nisa kembali berbalik ke arah suaminya dan ternyata suaminya lagi-lagi sudah tidak ada di belakangnya.


Cepat sekali berpindahnya, Nisa sudah bisa melihat suaminya mengenakan sarung dan peci di kepalanya.


"Mas, ganti dulu bajunya!"


"Kenapa dengan baju ini?" Leon menunjukan baju tepat berada di belas lipstik Nisa seperti sengaja menggoda sang istri.


"Maaaasssss!"


Leon tersenyum melihat bibir manyun dari istrinya dan mengambil baju Koko yang tadi siang ia pakai lalu memakainya hingga menutupi kaos yang bagian dalam.


"Aku pergi dulu ya, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" Nisa hanya bisa tersenyum menatap kepergian Leon saat ini.


Sebuah kebahagiaan saat melihat suaminya begitu pengertian.


Kini Leon dan dokter Reza sudah berjalan mengurusi jalan menuju ke masjid, mereka sengaja jalan kaki karena jaraknya tidak begitu jauh.

__ADS_1


Bahkan suara azan dari masjid dapat terdengar nyaring dari rumah Nisa.


"Terimakasih ya!" ucapan dokter Reza itu berhasil membuat langkah Leon sejenak terhenti dan kembali melanjutkan langkahnya mengimbangi langkah dokter Reza.


"Untuk apa?" Leon tidak ingin berpikir terlalu lama dengan menduga-duga maksud dari ucapan dokter Reza.


"Karena kamu yang akan menggantikan kami sebagai kakak-kakaknya Nisa menjaganya nanti!"


Leon tersenyum, "Sama-sama, saya juga berterimakasih karena sudah mempercayakan Nisa pada saya!"


"Kamu sudah tahu kalau Gus Raka tidak bisa datang?" pertanyaan dokter Reza lagi-lagi membuat Leon menoleh padanya. Terlihat sekali kalau dia tidak tahu tentang hal itu.


"Kamu belum tahu ya?" dokter Reza langsung bisa menebak, mungkin adiknya belum sempat cerita pada suaminya. "Adiknya mendapat musibah!"


"Innalilahi wa innailaihi roji'un!"


"Dia menitipkan sesuatu untuk kalian, kalau masalah itu bisa kamu tanyakan nanti sama Nisa!"


Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka semakin mempercepat langkahnya saat suara azan berakhir. Mereka langsung melepas sendalnya dan menuju ke tempat wudhu untuk mengambil wudhu.


Beberapa jama'ah sudah tampak berdatangan dan menempati shaf yang masih kosong hingga leon dan dokter Reza mendapat tempat di barisan ke tiga, mereka ternyata duduk bersebalahan kembali hingga suara Iqamah di kumandangkan dan semua jama'ah berdiri dan merapatkan shafnya.


Mereka menunggu hingga sholat isya' sekalian dengan duduk mendengarkan ceramah singkat dari kyai yang mengampu masjid itu. Mereka sengaja menunggu agar tidak terlalu membuang waktu karena setelahnya masih ada acara walimatul urs untuk warga yang ada di sekitar rumah Nisa saja.


"Mas Leon ya?" seseorang tiba-tiba ikut duduk bersama Leon dan dokter Reza.


"Iya!" Leon hanya tersenyum pada seseorang yang belum ia kenal itu.


"Saya tetangganya pak Dimas, senang punya tetangga mas Leon, ganteng! anak-anak saya Sampek bilang katanya mas Leon kayak artis Korea!"


"Bapak terlalu memuji!"


Dokter Reza yang mendengarkan pujian pria itu hanya tersenyum dan menepuk bahu Leon.


"Boleh minta foto ya nanti pas acara walimatul urs, kalau sekarang saya lupa nggak bawa ponsel!"


Leon dan dokter Reza hanya saling berpandangan. Mereka seperti sedang menahan tawa, menertawakan wajah mereka sendiri.


"Insyaallah!"


"Terimakasih ya mas, saya tinggal dulu! Sudah masuk waktu azan!"


Pria itu pun segera beranjak dan mengambil mikrofon, mulai membaca doa sebelum azan dan mengumandangkannya. Ternyata bapak-bapak itu pemilik suara emas yang setiap hari mengumandangkan azan di masjid itu.


Hingga mereka pun kembali pulang, sepanjang jalan Leon dan dokter Reza tidak henti-hentinya tertawa. Berbeda sekali suasananya dari pas berangkat, sekarang mereka jadi terlihat lebih akrab dan seperti kawan lama yang sudah saling kenal lama.


"Saya ke kamar dulu ya dokter!"


Dokter Reza pun menganggukkan kepalanya, "Eh tunggu!"


"Iya?" Leon kembali menghentikan langkahnya saat kaki kanannya sudah menapak di anak tangga yang paling bawah.


"Jangan sekarang, tahan sampai nanti malam selesai walimatul urs!"


Kali ini Leon tersenyum dan melambaikan tangannya, ia kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya, seperti setengah berlari. Tampak dari belakang kalau pria itu sedang menggelengkan kepalanya. Dokter Reza hanya tersenyum dan terus menatap pria yang sudah menjadi adik iparnya.


...Cinta adalah kekuatan, cemburu adalah ketakutan, dan kamu tidak dapat memelihara keduanya secara bersamaan. Tapi kamu akan menghadapi semuanya secara bersamaan, dan saat itu kamu akan tahu betapa dia sangat berharga dalam hidupmu....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2