
Di tempat lain, di pesantren itu.
Gus Fahmi begitu terpukul mendengar
kabar jika Aisyah yang benar-benar menikah dengan pria lain. Gus Fahmi memilih
mengurung diri di dalam kamar, ia tidak berniat untuk menghadiri pernikahan Aisyah. hanya Kyai Hamid dan Nyai Sarah saja yang menghadiri pernikahan itu.
Tok tok tok
“Assalamualaikum!” sapa Kyai Hamid, ia memasuki kamar putranya itu. Melihat putranya yang duduk terdiam menatap keluar membuatnya prihatin.
“Waalaikum salam, abbi!” gus Fahmi
segera mengalihkan tatapannya dan menatap kedatangan abi-nya.
Gus Fahmi mencium tangan abi-nya dan
langsung memeluknya, air matanya yang sedari tadi ia tahan segera mengalir
begitu saja.
“Maafkan Abi nak!”
Gus Fahmi melepaskan pelukan Abi-nya dan
mengusap air matanya.
“Bukan salah Abi, hanya saja Fahmi belum
bisa mengerti abi, kenapa Aisyah sekejam ini pada Fahmi?”
Kyai Hamid menepuk bahu putranya itu,
“bersabarlah nak, tidak semua yang kita inginkan Allah akan memberikannya,
mungkin memang Aisyah tidak di takdirkan untukmu. Ada wanita lain yang akan
Allah kirimkan untukmu cepat atau lambat, tinggal bersabarlah untuk itu!”
“Maafkan Fahmi, bi. Karena Fahmi terlalu
lemah! Tapi ijinkan Fahmi menemui Aisyah sekali saja setelah ini! Hanya sekali
saja dan semua akan benar-benar berakhir!”
“Baiklah …, abi akan memberimu alamat
rumah bu Widya, mungkin sekarang Aisyah di sana!”
“Terimakasih abi!”
***
Ia menatap ke arah tempat tidur, ia tidak mendapati Alex di sana.
“Dia sudah bangun?”
Masa bodoh ah …, bukan urusanku
juga, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita seksi itu ….
Aisyah pun segera bangun dan menuju ke kamar mandi, ia mengambil wudhu dan segera
melaksanakan sholat subuh, ia bangun kesiangan jadi tidak sempat sholat
tahajud.
Selesai melaksanakan sholat subuh, Aisyah kembali merapikan peralatan sholatnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Alex muncul dari balik pintu dengan wajah yang sudah terlihat
segar, sepertinya ia sudah bangun semenjak pagi buta. Ia sepertinya juga sudah
__ADS_1
mandi karena terlihat rambutnya yang basah, aroma sabun juga menguap dari
tubuhnya.
Aisyah tercengang, ia tidak memungkiri jika ciptaan Allah itu begitu sempurna. Aisyah
tidak bisa mengontrol matanya, ingin rasanya tetap menatap pria itu.
“Kenapa melihatku seperti itu? Baru tahu kalau saya begitu tampan?” tanya Alex sambil mengibaskan rambutnya
yang basah.
“percuma tampa kalau jauh dari yang menciptakan ketampanan!” Aisyah menanggapi dengan sedikit cibiran. Rasanya kekagumannya segera lenyap saat mengingat seberapa
buruk akhlak pria di depannya itu.
***
Setelah matahari meninggi, Leon menghampiri kamar mereka dan meminta mereka untuk
bergabung di restorant bersama nenek Widya. Nenek Widya sudah menunggu di sana.
Ada yang harus di bicarakan.
“Sayang …, bagaimana malam mu, tidurmu nyenyak?” tanya nenek widya saat melihat Aisyah sudah datang dengan Alex.
"Issstttt ….., nenek sudah melupakanku!” keluh Alex. Karena biasanya setiap kali bertemu
makan yang di lakukan nenek Widya adalah memeluknya tapi sekarang pelukan itu
jatuh pada Aisyah.
“Nggak usah protes, itu artinya nenek sangat menyayangi istrimu ini!”
Mereka pun duduk di meja khusus dengan makanan yang bermacam-macam sudah tersaji di atas meja.
“Nenek mau membicarakan tempat tinggal kalian!”
“Memang ada apa dengan tempat tinggal kami?”
“kalian tinggal di rumah nenek, itu rumah Alex dan ayahnya!”
“Tidak …, nenek tidak akan membiarkan kalian tinggal berdua, bisa-bisa aisyah akan
kamu tinggal setiap hari!”
“Neeeekkkkkkk!”
“keputusan nenek sudah bulat!”
Alex sudah tidak bisa membantah lagi keputusan neneknya. Apapun keputusan neneknya adalah yang final.
Mereka pun akan meninggalkan hotel, saat di dalam mobil Aisyah begitu ragu untuk
memberitahu nenek Widya. Tapi ia yakin nenek Widya pasti akan mengijinkannya.
“nek!”
‘Iya?”
“Hari ini operasi Nino pasti sudah selesai, bolehkan saya menjenguknya sebentar?”
“tentu sayang …, tapi maafkan nenek tidak bisa menemanimu. Biar Alex yang menemanimu
ya, iya kan Lex?”
“Kenapa harus aku sih nek?” protes Alex, ia begitu keberatan.
“Aisyah sekarang istri kamu, berarti ia tanggu Jawa mu. Awas jika sampai nenek mendapat
laporan kalau kamu meninggalkan Aisyah di tengah jalan!” ancam nenek Widya pada
Alex.
Setelah melewati persimpangan, nenek Widya memisahkan diri, ia ada urusan yang harus
__ADS_1
di kerjakan. Kini tinggal Alex dan aisyah didalam mobil itu, ada Leon juga yang
menyetir mobil.
Alex pun melakukan seperti apa yang di perintahkan neneknya, ia mengantar Aisyah
sampai di rumah sakit, ia juga ikut menjenguk Nino.
Nino sudah sadar dari obat biusnya pasca operasi sejak dua jam lalu, melihat
kedatangan Aisyah, Nino tersenyum senang. Apalagi ia juga bisa melihat Alex
bersamanya.
“kak …!” ucap Nino lemah.
“Biar kakak saja yang bicara, kakak menepati janji kan, kakak pasti datang untuk
kamu, kamu harus kuat, Nino adalah anak yang kuat, kakak bangga padamu!”
“Mas Alex sekarang jadi masnya Nino?” tanya Nino pada Alex yang diam di belakang
Aisyah, Aisyah menjadi sangat khawatir. Ia khawatir jika sampai pria arrogant
itu akan berkata kasar pada adik laki-lakinya itu.
“Iya …, kamu boleh memanggilku mas Alex!” ucap alex dengan senyum, hal itu membuat
Aisyah tercengang, ia tidak menyangka jika pria itu bisa bersikap manis juga.
Setelah puas menjenguk Nino, mereka pun berpamitan pada bu Santi. Aisyah menitipkan
adiknya itu pada ibunya, ia berharap bisa bertemu lagi nanti.
Mereka kembali menuju ke mobil, Leon sudah menunggu mereka di samping mobil.
“Silahkan tuan, nyonya!” Leon sudah membukakan pintu mobil.
Aisyah pun masuk lebih dulu baru Alex. Mereka terus diam sepanjang jalan, ada yang
sedang di pikirkan masing-masing.
“Tuan!”
“Hemmm?”
“Terimakasih!”
“Untuk apa?”
“Karena tuan Alex sudah mau bersikap baik pada Nino!”
“Bukan hal besar!”
Mereka kembali terdiam, tidak ada pembicaraan lagi antara mereka. Hingga mereka sampai pada sebuah lampu merah di perempatan jalan.
“Apa ada yang belum kamu selesaikan?” tanya Alex tiba-tiba tanpa menatap Aisyah.
“Hahhh?”
“Tidak Kah cukup cincin dariku hingga kamu menyimpan cincin orang lain?”
Hahhh …,dia melihat cincin itu …,
jadi selimut itu …?
“Saya belum sempat mengembalikannya!”
“Kembalikan jika sudah ada kesempatan!”
Aisyah malas untuk menanggapinya lagi, ia tidak bisa memungkiri bahwa masih begitu
berat mengembalikan cincin itu.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰😘❤️