
Leon tahu dia tidak akan pernah bisa membantah ucapan Alex, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti Alex di belakangnya. Mereka kembali menuju ke ruang kerja.
Sesampai di ruang kerja, Alex segera duduk di tempatnya, melipat kakinya di atas kakinya yang lain, meletakkan kedua tangannya di atas meja, tangannya saling bertaut dengan menggengam ponsel di tangannya.
Leon tidak berani duduk karena memang si pemilik ruangan tidak mempersilahkannya.
Sambutan hangat dan manis tadi tidak di tunjukkan lagi oleh pria yang sedang duduk itu, wajah ya berubah dingin dan mengintimidasi.
Suasananya seketika berubah, atmosfirnya berubah menjadi pengap dan dingin, bahkan untuk bernafas saja sepertinya kesusahan.
"Mas_!" belum sampai Leon melanjutkan ucapannya Alex sudah lebih dulu mengangkat tangannya,memberi isyarat agar tidak melanjutkan ucapannya.
Hehhhhh
Sebuah helaan nafas keluar dari bibir pria itu, lalu kembali menatap Leon dengan tatapan yang sama.
"Kamu pikir kamu sudah begitu hebat? Iya? Kamu pikir dengan melakukan semua ini, orang lain akan simpati sama kamu?" wajah Alex terlihat begitu marah.
"Mas, saya minta maaf jika saya salah!"
"Iya memang, memang kamu sangat salah! Siapa yang memberimu ide seperti itu? Hehhh?"
"Mas, tadi Nisa begitu ingin buah kedondong, makanya saya berinisiatif untuk mencarikannya! Sungguh saya tidak punya maksud lain!"
"Kamu pikir aku marah karena itu, Leon?"
Leon terperangah, ia begitu terkejut karena orang yang berada di depannya itu mengetahui siapa jati dirinya.
"Kamu pikir kamu bisa mengelabuhi ku, hahh? Mungkin orang lain bisa terkecoh dengan penampilanmu yang seperti itu, tapi tidak dengan aku!"
"Sejak kap_!" belum juga Leon selesai bicara, Alex sudah kembali memotongnya.
"Kamu pikir, itu penting sejak kapan?" Alex berdiri dan menghampiri Leon. Dengan gerak cepat dan tegas ia menarik tubuh Leon ke dalam pelukannya.
"Kamu tahu Lee, aku seperti kehilangan separuh dari kekuatanku saat mereka mengatakan kamu telah tiada! Aku sungguh merindukanmu, maaf jika tiba-tiba aku menjadi cengeng!" Alex mengusap sudut matanya yang menggenang air mata.
Leon pun melakukan yang sama, ia tahu walaupun mereka tidak ada ikatan darah tapi mereka punya ikatan yang sudah mereka bangun sejak kecil dan ikatan setara dengan ikatan darah.
"Mas, maafkan aku!"
Alex menepuk punggung Leon dan melepas pelukannya,
"Lee, jika ini semua ada hubungannya denganku, maka aku yang seharusnya minta maaf karena telah menempatkanmu dan saudaramu di tempat yang begitu berbahaya!"
"Tidak mas, mereka memang mengincar ku! Mas, besok mereka akan melakukan aksinya, mereka akan berusaha menculik istri dan anak-anak mas Alex, kita harus mengatur strategi untuk itu, aku sudah mengirim orang untuk menjaga rumah ini dan juga mereka esok hari!"
"Siapa mereka?"
"Lawan lama mas!"
"Maksudnya Extensio?"
"Iya! Mereka masih terobsesi untuk mendapatkan proyek itu!"
"Baiklah kita harus menyusun strategi!"
__ADS_1
Selama Alex dan Leon menyusun strategi, Aisyah menemani Nisa untuk memakan buah kedondongnya.
"Mbak Aisyah tidur aja nggak pa pa mbak, biar Nisa habisin ini dulu, sayang soalnya!"
"Nggak pa pa, aku temenin! Sudah ngidam apa aja?"
Nisa tersenyum hingga menunjukkan deretan gigi ratanya, sebenarnya sering ia merasa ngidam tapi ia tidak mau merepotkan orang lain dan memilih untuk menahannya sendiri.
"Ngidamnya yang biasa aja mbak, yang ini tadi yang paling ekstrim!"
"Oh iya, kamu lapar nggak? Aku panasi ya lauknya!" Aisyah sudah hampir berdiri tapi tangannya segera di tahan oleh Nisa.
"Nggak usah mbak sungguh!"
"Jangan sungkan, anggap di rumah sendiri! Orang hamil itu suka lapar pas malam-malam, apalagi ini kan hamilnya kembar, kasihan nanti anaknya kalau kamu suka nahan-nahan!"
"Tapi mbak!" Nisa benar-benar merasa tidak enak, di rumah Aisyah ia di perlakukan layaknya adik sendiri.
"Sudah duduk saja!" Nisa tidak bisa menahannya lagi, ia kembali tersenyum. Rasanya begitu hangat saat merasakan kasih sayang yang luar biasa itu.
Aisyah segera menuju ke dapur yang berada di tidak jauh dari tempat duduk Nisa, tapi karena tidak bisa melihat keberadaan Aisyah, Nisa pun memilih menyusul,
"Aku bantu aja ya mbak!"
"Nggak usah, sudah kamu duduk saja di situ!" tolak Aisyah. Wanita beranak dua itu segera mengeluarkan lauk dan sayur yang tadi sudah ia simpan di dalam lemari pendingin, ia menyalakan kompornya meletakkan sayur di atasnya, menunggu hingga panas barulah di pun di pindahkan ke mangkuk kecil.
Tidak lupa Aisyah juga mengambilkan nasi dan membawanya mendekat pada Nisa.
"Kedondongnya di simpan dulu gihhh, trus makan!" Aisyah mengambil nampan kecil yang berisi sisa kedondong Nisa dan beralih menyodorkan piring nasi untuk Nisa.
"Terimakasih ya mbak!"
Setelah membaca doa, Nisa segera menyantap makanannya.
"Ini pertama kalinya loh mbak, aku makan pas malam-malam, sebelumnya nggak pernah soalnya nggak enak kalau harus bangunin orang!"
"Aku juga pernah merasakan yang seperti kamu, dulu pas hamil Arsy, mas Alex tidak di sampingku. Apa-apa harus aku lakukan sendiri agar tidak merepotkan orang lain!"
Aku masih jauh lebih beruntung di bandingkan mbak Aisyah, tiga bulan bukan apa-apa di banding mbak Aisyah yang harus hamil dan melahirkan sendiri, ya Allah betapa lututnya saat aku mengeluh padaMu
Tidak terasa mata Nisa berair mendengarkan cerita Aisyah, bagaimana perjuangan Aisyah dulu tanpa Alex. Bagaimana ia bisa menghidupi anak-anaknya tanpa suami. Sedangkan Aisyah masih belum punya pengalaman apapun, kuliah pun belum selesai waktu itu.
"Terimakasih atas pelajaran yang mbak Aisyah berikan untuk Nisa ya!"
Aisyah tersenyum dan mengusap lembut lengan Nisa.
Selesai menghabiskan makanannya, Aisyah pun mengantar Nisa ke kamar tamu yang sudah di siapkan oleh bibi.
"Kamu tidak pa pa tidur sendiri? Atau aku temani aja ya?"
"Nggak pa pa mbak, sungguh! Nanti kalau mbak Aisyah nemenin Nisa, Nisa bisa di marahi sama pak Alex!" lagi-lagi Nisa tersenyum hingga menunjukkan deretan gigi rata Nisa.
"Nggak akan marah kalau cuma semalam aja, aku temenin ya!?"
"Nggak usah mbak, Nisa berani kok sendiri! Nisa tutup ya, selamat malam!" Nisa sengaja segera menutup pintu agar Aisyah tidak terus merasa tidak enak karena telah meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
Mau tidak mau, Aisyah pun kembali ke kamarnya sendiri dan membiarkan Nisa tidur sendiri.
Tidak berapa lama, setelah Aisyah mengganti pakaiannya dengan baju tidur dan membersihkan wajah, pintu kamarnya terbuka, sang suami sudah kembali dari ruang kerjanya.
"Cuci kaki dan tangannya dulu mas!"
Mendapat perintah dari sang istri, Alex pun langsung menuju ke kamar mandi, melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh istrinya.
Tidak berapa lama ia sudah kembali dan menyusul Aisyah yang sudah berpindah ke tempat tidur, Aisyah juga sudah mematikan lampu utama karena memang sudah dini hari, mungkin mereka akan tidur dua jam saja, mereka harus bangun lagi untuk sholat subuh.
Seperti biasa, sebelum tidur Alex selalu memeluk sang istri,
"Mas, kasihan tahu Nisa tidurnya sendiri! Apa aku temenin aja ya?"
Alex masih bergelayut manja, wajahnya ia susupkan ke dada sang istri.
"Mas, aku serius!" protes Aisyah karena suaminya seperti tidak menanggapinya dengan serius. Pria itu benar-benar berbeda saat bersama istrinya, ia berubah menjadi pria manja, seperti kucing kecil yang meminta kasih sayang pemiliknya
Alex terpaksa menghentikan kegiatannya, ia menatap sang istri dan mencium bibirnya,
"Nisa sudah ada yang nemenin!"
"Mas, jangan becanda deh, siapa yang menemin?"
"Nanti kamu juga tahu sendiri, sudah sekarang kamu yang harus temenin aku!"
Saat tangan Alex semakin tidak terkontrol, Aisyah pun segera mengingatkan suaminya itu.
"Sudah jam setengah dua mas, tidur aja ya, Aisyah peluk deh!"
Walaupun menunjukkan wajah kecewanya, Alex pun menurut. Kamu ini ia tidur dengan hanya memeluk tubuh sang istri.
"I love you!" ucapnya saat matanya sudah terpejam.
"Aku tahu!" jawab Aisyah asal.
"Bukan begitu, jawab yang benar!"
"Ini sudah benar mas!"
"Kurang benar!"
Hehhhh
Aisyah menghela nafas, dan mengeratkan pelukannya,
"I love you, my husband!"
...Banyak hal kadang membuat kita mengeluh, 'kenapa?' 'mengapa?' dan masih banyak lagi kata keluhan yang kita lontarkan, tapi kita tidak pernah sadar jika apa yang kita keluhkan hanya secuil dari penderitaan orang lain yang jauh lebih besar, ~tetap bersyukur...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰