Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra Part (Kedatangan gus Raka)


__ADS_3

Setelah merasa nisa sudah bisa di tinggal kerja leon pun akhirnya mempekerjakan beberapa orang dirumahnya yang tujuannya untuk menemani nisa selama ia tinggal bekerja.


Leon juga meminta satu asisten rumah tangga untuk menetap di rumah mereka.


Untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba ia pulang telat atau ada urusan di luar kota agar nisa tetap punya teman di rumah.


"Jangan lupa, kabari aku jika terjadi sesuatu, bibi juga wajib memberitahkan padaku apapun yang di lakukan nisa satu jam sekali!"


"Mas, kamu nggak mau pergi berperang loh, ini cuma mau kerja, kenapa harus segitunya?" tanya nisa dengan tatapan kesal.


"Aku nggak akan bisa tenang tinggalin kamu!"


"Kita tuh nggak ketemu cuma beberapa jam saja mas!"


"Beberapa jam itu berarti buat aku!"


Akhirnya nisa menyerah, ia memilih menurut saja apa yang di katakan oleh sang suami.


benar saja, setiap satu jam sekali leon selalu menelpon nisa atau asisten rumah tangga yang di beri tugas khusus untuk menemani nisa.


Sesekali, jika dia tidak begitu banyak pekerjaan akan memilih untuk pulang pas jam makan siang demi menemani sang istri dan memastikan jika sang istri makan dengan benar.


Dan hal yang paling di sukai leon lainnya adalah menemui saudara kembarnya di toko, sebenarnya bukan tanpa alasan. Memang kerja sama antara perusahaan Alex dan toko buku nurul Jannah tetap berlangsung jadi untuk segala urusannya dengan toko itu, Alex sengaja mengirim Leon agar mereka bisa saling dekat walaupun dalam hal pekerjaan tetap saja pasti ada saat-saat mereka akan membicarakan tentang urusan pribadi, saling mencertakan masa kecil tanpa satu sama lain, walaupun hidup jauh cukup lama tapi nyatanya hubungan darah itu tetap mengikatnya.


"Sebenarnya beberapa waktu lalu kakek menelponku!" ucap gus Raka saat mereka sedang berada di sebuah kedai kopi yang berada di samping toko buku miliknya kedai kecil dengan pembeli yang cukup banyak itu menjadi daya tarik tersendiri.


Kedai itu memang terlihat sudah tua, tapi cucu pemilik kedai berhasil membuat beberapa varian kopi yang di minati anak muda terutama anak kuliahan dengan harga yang sangat terjangakau.


Leon yang baru saja menikmti kopinya sesap demi sesapharus ia hentikan karena ucapan dari gus Raka. Ia menatap lekat saudara kembarnya.


"Kenapa aku hampir saja melupakannya?" gumamnya lirih, saat keluarganya di selimuti kebahagiaan dia malah melupakan seorang kakek yang harus hidup sendiri tanpa sanak saudara.


"Bagaimana keadaan beliau?" tanya Leon kemudian.


Gus Raka kembali menatap saudaranya itu, "Ia mengatakan baik-baik saja dan sangat bahagia mengetahui jika aku sudah menemukanmu!"


"Apa benar baik?" Leon kembali memastikan.


"Tidak yakin!"


Setelah itu mereka saling terdiam, seperti sedang menyelam dalam pikirannya masing-masing.


Hingga mereka berpisah kembali pu tidak ada pembicaraan yang serius lagi. Mereka sengaja memilih diam agar suasananya tetap baik. gus Raka tidak mau membuat susana yang sudah baik ini menjadi berantakan kembali.


***


Kini usia kandungn Nisa sudah memasuki empat blas bulan waktu cuti Nisa sebenarnya sudah berakhir beberapa minggu lalu, a mengatakan hanya akan cuti dua minggu tapi nyatanya hanpir dua bulan.


Butuh waktu yang panjang untuk mendapatkan ijin dari sang suami, dan setelah usaha yang banyak itu akhirnya sang suami memberi ijin dengan berbagai syarat yang harus Nisa patuhi.


Diantaranya, makan makanan yang di bawa dari rumah, tidak boleh berkendara sendiri, berangkat dan pulang kerjadi antar dan di jemput olehnya. Siang hari dia akan datang ke rumah sakit dan memastikan sang istri istirahat dengan benar.


"Tapi mas, aku kan ke rumah sakit satu minggu cuma tiga kali, selebihnya aku ke sekolah kakak!"


"Bagus dong!"


"Kok bagus sih?"


"Ya itu artinya yang empa hari kamu di rumah!"


"Kok gitu sih?"


"Aku yang akan mengatakan pada kakak kamu, selama kamu hamil cti dari sekolah, kan kamu nggak ngajar di sana, berkas bisa di kerjakan di rumah lagi pula kontrak erjanya kan sama perusahaanku, aku akan setuju apa saja yang kamu ajukan!"


Curang ihhh!" gerutu Nisa tapi tetap saja dia tidak akan bisa melawan sang suami, bagaimanapun caranya. Dari pada tidak bekerja sama sekali, ia pun memilih untuk menuruti apa permintaan sang suami.


Benar saja, Leon pun menyempatkan datang ke sekolah istri dokter Ardan untuk mengatakan semuanya dan meminta beberapa pelerjaan saja yang bisa di kerjakan Nisa dari rumah.

__ADS_1


Pasangan muda itu walaupun setiap hari ada saja yang membuat mereka saing kesal dan saling berdebat tapi tetap saja di selesaikan dengan kepala dingin.


***


Akhir pekan selalu leon dan Nisa habiskan waktu di rumah, menikmati kebersamaan. Hari ini Nisa mengajak Leon untuk menonton fdrakor kedukaannya.


Sebenarnya mengingat Drakor, Leon merasa malu sendiri, waktu awal-awa menikah ia sering diam-diam menonton drakor hanya untuk tahu cara menghadapi seorang wanita.


"Mas, adegannya sedih oh mas nggak lucu kenapa mas Leon malah tersenyum gitu?"


Leon yang sadar ternyata gerak geriknya di awasi oleh sang istri terlihat gelagapan, "Ah enggak, siapa yang senyum aku sedang sedih sekarang!"


"Masak sih, kayaknya tadi aku lihat senyum!" Nisa terlihat tidak percaya tapi memilih diam dan kembali menatap layar televisi dengan kepala yang kembali di sandarkan k dada bidang sang suami, sesekali tangan leon sibuk memasukkan buah-buahan yang sudahdi potong ke mulut sang istri.


Walaupun masih tiga bulan setengah tapi perut nisa sudah seperti orang yang sedang hamil lima bulan. sesekali tangan lon mengusap perut buncit sang istri setelah menyuapi sang istri.


Hingga bel pintu berbunyi, membuat Nisa bangkit.


"Mas, ada tamu!"


Saat Leon akan bangkit, bibi juga terlihat berjalan dari dapur,


"Biar saya saja tuan!"


"Terimakasih ya bi!" Leon kembali duduk tapi segera mendaptkan protes dari Nisa.


"Kok duduk lagi sih mas!?"


"Kan pintunya sudah di buka sama bibi!"


"Kan itu tamu mas, kalau nggak nyari kamu ya nyari bibi kan mas!"


"Ya mungkin saja itu tamu bibi dari kampung!"


"Masssss!"


Tepat saat Leon sudah berdiri lagi, bibi pun kembali dari depan,


"Tuan, di depan ada mas Raka!"


"Ohhh, Raka ya, baiklah bibi tolong buatkan minum untuk tamu saya ya!"


"Baik tuan!"


Leon pun segera membantu Nisa untuk bangun dari duduknya dan mereka pun berjalan bersama-sama menuju ke ruang tamu.


Melihat Leon dan Nisa dari dalam, gus Raka pun segera bngun dari duduknya dan menyambut Leon.


"Duduklah!" ucap Leon setelah mereka saling bersalaman.


"Maaf, pasti kedatangan saya sangat menggangu hari libur kalian!"


"Jangan sungkan begitu, tidak ada yang merasa terganggu, kami malah senang jika kamu mau sering-sering datang ke sini iya kan Nisa?" Leon berharap istrinya juga memilki pemikiran yang sama.


"Iya mas!"


Belum sampai gus Raka mengucapkan kembali apa maksud kedatangannya, tiba-tiba bibi kembali dengan membawa tiga gelas minuman dan meletakkan satu persatu di atas meja.


"Silahkan di minum mas Raka!"


"Terimakasih bi!"


Setelah bibi itu pergi, gus Raka pun segera mengabilmenumannya dan meneguknya hingga tingga separoh. Memang kebetulan tenggorokannya sangat kering tadi,


"Sepertinya ada hal yang sangat penting ya?" tanya Leon yang melihaat wajah gelisah dari saudara kembarnya itu.


"Iya! kakek sedang sakit, sebenanya berniat untuk tidak memberitahumu karena takut kamu kepikiran tapi umi memaksaku, ia menyatakan jika ada sesuatu dan aku tidak memberitahumu itu berarti aku egois padamu!"

__ADS_1


"Aku setuju dengan usulan umi kamu, bagaimanapun keadaannya kakek jugalah kakekku, jadi sudah sepantasnya aku tahu keadaannya!"


"Syukurlah kalau begitu! Sebenarnya dua hari lagi aku aan ke sana, aku tidak memaksam untuk ikut karna kamu juga harus manjaga istri kamu, saat nanti di sana, aku berniat untuk vc sama kamu kamu tidak keberatan kan?"


"Mana mungkin aku keberatan, tapi sungguh aku mint maaf, aku tidak mungkin meninggalkan Nisa sendiri, sedangkan di ajak pun juga tidak mungkin!"


"Aku sangat mngerti, pasti kakek juga akan memakluminya!"


Setelah rusannya dengan sang kakek selesai merea melanjutan dengan percapan ringan tapi tidak lama karena setelahnya gus Raka seger berpamitan, merasa tidak enek karena sudah mengganggu waktu santai saudaranya.


Setelah kepergian gsu Raka, sikap Leon terliht murung. Walaup bagaimana tetap dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin menemui sang kakek, tapi melihat kondisi Nisa rasanya begitu berat untuk meninggalkannya dan untuk mengajaknya pun jelas tidak mungkin. Kandungan Nisa masih belum memungkinkan untuk perjalann jauh apalagi naik pesawat, Nisa masih terlihat takut naik pesawat.


Leon hanya menjawab pertanyaan Nisa sekenanya dan tidak banyak bicara lagi, selebihnya lebih banyak ia habiskan waktunya di dalam ruang kerjanya.


Malam hari seperti bisa sebelum idur leon selalu memijat kaki Nisa, mngganjalnya dengan bantal. Dan masih sama, pria itu masih irit bicara.


Candaan-candaan kecil yang biasa Leon lontarkan terhadap sang istri, kini tidak terdengar.


"Mas!"


"Hemm, sudah ya? kamu sudah mengantuk ya?"


Nisa pun menganggukkan kepalanya, Leon segera membantu Nisa untuk tidur dan menjadikan lenganya sebagai bantal.


"Mas!"


"Hmmm?"


"Pergilah ke Bali bersama mas Raka, aku tidak mau mas Leon menyesal setelahnya karena tidak pergi ke sana!"


Leon memilih untuk diam, ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang, tapi yang jelas ia tidak bisa membiarkan istrinya sendiri,


"Mas' Nisa di sini nggak sendiri, ada papa, mama, kakak-kakak Nisa, pak Alex dan mbak Aisyah. Mereka semua menyayangi Nisa. Mereka tidak mungkin membiarkan Nisa sendiri! Atau gini deh, kalau mas leon Tetap nggak tega, Nisa akan tinggal di rumah mama, sampai mas Leon kembali, bagaimana? Jangan cemaskan Nisa!"


"Kamu nggak bisa tidur tanpa lenganku!"


"Aku akan tidur saat mas Leon video calla setiap malam, jadi mas Leon akan tetap menemaniku!"


"Kamu yakin?"


"Iya mas, besok pagi temui mas Raka, katakan kalau kamu akan ikut!"


Baiklah, tapi sebelum itu aku akan menemu mama sama papa!"


"Untuk apa?"


"Untuk apa menurutmu? ya untuk menitipkan harta berhargaku ini!" ucap Leon sambil beralih ke atas tubuh Nisa dengan bertumpu pada tangannya agar tubuhnya tidak sampai menindih perut Nisa,


"Karena lusa aku tidak bisa seperti ini lagi, aku akan menservismu sebakik mungkin tuan putri!"


"Hahhh?"


Belum sampai Nisa selesai dari rasa keterkejutannya, Leon sudah lebih dulu melahap bibir merah jambu milik Nisa dan malam ini menjadi malam yang bergelora bagi dua insan yang sedang di mabuk cinta itu.



...Kesempatan itu mirip seperti matahari terbit. Kalau kau menunggu terlalu lama, kau bisa melewatkannya. - William Arthur Ward...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2