
...Cinta mengajarimu melihat dengan cara memejam dan mengerti tanpa harus menjelaskan. Dan saat itu kamu akan tahu bahwa cinta mengajarkan kita mengerti akan cinta yang sejati...
...🌺Selamat membaca🌺...
Leon sudah masuk kembali ke dalam kamarnya, tapi ia tidak menemukan istrinya di sana.
Dia kemana? Leon terus mengedarkan pandangannya berharap bisa menemukan sosok yang sudah membuatnya rindu walaupun sejenak saja pergi darinya.
Samar-samar ia mendengarkan gemericik air di dalam kamar mandi, hatinya tiba-tiba merasa lega di buatnya.
"Dia di kamar mandi!" Leon bergumam lirih. Ia pun memutuskan untuk mengganti bajunya dan bersiap-siap. Saat hendak membuka kaos putih miliknya ia kembali tersenyum dan mengusap bekas bibir Nisa.
Leon pun kali ini benar-benar melepasnya hingga menampakkan tubuhnya yang telanjang dada. Leon lagi-lagi mengusap kaos itu dan menciumnya tepat di bekas bibir Nisa seolah-olah ia sedang mencium bibir Nisa.
Leon segera melipat kembali kaosnya dengan begitu rapi dan menyelipkan kaos itu di antara baju bersihnya yang lain. Ia sepertinya benar-benar berniat untuk tidak mencuci kaos itu sampai kapanpun.
Ia pun mengganti bajunya dengan kemeja dan celana, begitu rapi. Mirip dengan penampilannya saat akan bekerja hanya yang membedakan saat ini adalah peci yang selalu menghiasi kepalanya.
Berasa kayak lihat dia, begini imajinasi author nih kayak gini.
Leon sudah siap sekarang tinggal menunggu Nisa. Sudah lima belas menit tapi wanita itu tetap tidak keluar dari dalam kamar mandi. Leon pun segera berdiri dari duduknya dan menghampiri pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Nisa kamu di dalam?" ketukan itu di barengi dengan memanggil namanya.
"Iya mas nggak pa pa!" Leon bisa merasa lega saat ada sahutan dari dalam.
"Kamu serius nggak pa pa?" Leon masih ingin mamastikannya lagi.
"Iya mas!"
Leon pun kembali duduk, tapi wanita itu masih tidak ada tanda-tanda keluar dari kamar mandi.
Tok tok tok
Suara ketukan dari pintu membuat Leon menoleh ke arah pintu. Ia pun bergegas menghampiri pintu kamar dan membukanya. Sepertinya orang-orang sudah mulai hafal kalau kamar itu bukan lagi kamar pribadi milik Nisa saja tapi juga milik Leon.
Ceklek
Leon membuka pintu itu perlahan dan mendapati ibu mertuanya berdiri di depan pintu.
"Ma, masuk ma!" Leon menggeser tubuhnya agar mama mertuanya itu bisa masuk.
"Tidak perlu, semua sudah siap! Kita menyambut tamu ya!"
"Baik ma, tapi benar Leon panggil Nisa dulu!"
"Nisa nya di mana?"
"Masih di kamar mandi ma!"
"Ya udah, cepetan ya!"
"Iya ma!"
Leon kembali menutup pintu saat mama mertuanya sudah menghilang di balik tangga. Leon pun segera menghampiri pintu kamar mandi lagi dan mengetuknya.
"Nisa_, cepetan semua sudah menunggu!"
"Iya mas bentar!"
"Kalau lima menit nggak keluar, aku dobrak ya pintunya!"
"Iya mas!"
__ADS_1
"Nggak lima menit, tapi lima hitungan!"
"Mas!" terdengar protesan dari Nisa.
"Satu_, dua_, ti_ ga_, em_ pat_, li_!"
"Nisa keluar!" akhirnya pintu kamar mandi yang sedari tertutup terbuka juga. Nisa sudah siap dengan baju gamisnya.
Leon tampak berkacak pinggang, hampir saja ia mendobrak pintu itu.
"Kenapa begitu lama di kamar mandi?"
"Maaf mas, tadi hanya ada masalah sedikit! Sungguh!" Nisa menunjukan ujung jarinya seakan mengukur masalahnya dengan ujung jari telunjuknya itu.
"Yakin hanya sedikit?" Leon menirukan Nisa dengan menjentilkan ujung jari telunjuknya.
"Iya!"
"Jika cuma sedikit, kenapa begitu lama di kamar mandi?" Leon terus menyelidiki.
"Apa, aku sungguh tidak pa pa!"
"Yakin?" Leon terus menyudutkan Nisa agar bicara.
"Iya_, iya_, aku ngaku! Sebenarnya tamu bulanan ku tiba-tiba datang!"
"Tamu bulanan?" Leon mengerutkan keningnya.
Tapi belum sampai nisa menjawab pertanyaan Leon, pintu kembali di ketuk dan meminta mereka untuk turun.
"Aku turun duluan ya mas!"
Leon menganggukkan kepalanya, ia seperti sedang berpikir keras membiarkan istrinya turun lebih dulu.
"Tamu bulanan, siapa yang dia maksud?" Leon pun akhirnya memastikan sesuatu dengan memeriksa kamar mandi, "Dia menyembunyikan seseorang di kamar mandi?"
"Ini terlalu tinggi dan juga tidak mungkin orang melompat, ini di lantai dua, kalau ada penyusup pasti akan tertangkap dengan orang-orang yang ada di bawah!"
Apa dia sengaja memasukkan seseorang ke dalam kamar saat aku tidak ada?
Leon sedang berpikir keras dan mondar mandir di kamarnya hingga seseorang kembali memanggilnya.
Ia pun terpaksa untuk turun dan melupakan sejenak masalahnya. Sepanjang acara ia terus mengawasi istrinya dan terlihat sekali kalau istrinya itu sedang tidak nyaman.
Hingga acara pun selesai dan mereka pun berdiri di pintu masuk untuk menyalami para tamu hingga pada deretan tamu terakhir, bapak yang tadi menghampirinya di masjid sekarang menghampirinya dengan membawa sebuah ponsel.
"Mas Leon, saya jadi minta foto bareng ya!" bapak itu menyodorkan ponselnya.
Leon pun terpaksa menanggapi bapak itu, mereka berfoto hingga beberapa kali, bahkan istri dan anaknya juga ikut bersamanya.
Dia pergi kemana lagi, Leon kehilangan jejak Nisa saat ini, wanita itu sudah pergi entah kemana.
"Terimakasih ya mas!" bapak itu bersalaman sebelum meninggalkan Leon.
Leon terus mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan sang istri.
"Kenapa gelisah sekali?" pertanyaan itu menyadarkannya, Leon pun menoleh ke sumber suara.
"Dokter Reza!"
"Saya tanya, ada apa?"
"Tidak pa pa, hanya saja_!" Leon terlihat ragu untuk bertanya, tapi kemudian Leon pun memutuskan untuk menarik lengan dokter Reza sedikit menjauh dari keramaian.
"Ada apa sih?" mereka sekarang sudah berada di antara beberapa kursi plastik yang sudah di tinggalkan oleh tuannya.
"Dok, sebenarnya tadi Nisa begitu lama di kamar mandi, boleh aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Masih tanya lagi, memang sedari tadi aku tanya!?"
Hehhh, Leon tampak menghela nafas dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau yang akan di tanyakan ini benar.
"Nisa katanya kedatangan tamu bulanan? Apa dokter tahu siapa tamu Nisa? Kenapa dia menemui tamunya di kamar mandi?"
Dokter Reza menatap adik iparnya itu tidak percaya. Ia bahkan berusaha menahan agar tidak tertawa keras di depan Leon.
Hmmm, dokter Reza pun mencoba mengendalikan dirinya dengan menagatur bibirnya agar suaranya tidak terdengar meragukan.
"Saya kenal, dia memang sering sih mendatangi Nisa, setiap bulan malah, bisa sampek satu Minggu juga, paling bentar ya tiga hari itu pun jarang!"
"Cewek?"
"Akan lebih baik kamu tanya langsung saja deh sama Nisa, kalau aku yang jawab nggak enak!"
"Dokter!?"
"Ayolah jangan memaksa! Lebih baik sekarang cepat temui Nisa dan tanyakan langsung!"
Leon pun akhirnya menyerah, dengan ragu ia pun meninggalkan dokter Reza.
Setelah Leon tidak terlihat lagi, dokter Reza benar-benar mengeluarkan tawanya hingga memegangi perutnya yang terasa kaku karena terlalu lama menahan tawa.
Dokter Ardan yang melihat dokter Reza dan Leon baru saja berbincang-bincang dan terlihat serius, ia pun menghampiri adiknya itu.
"Kamu kenapa?" dokter Reza seketika menghentikan tawanya tapi tangannya masih berada di perutnya dan tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa.
"Kak!"
"Leon kenapa? Serius sekali?"
Dokter Reza pun mendekatkan bibirnya ke daun telinga dokter Ardan dan membisikkan sesuatu.
"Kamu keterlaluan!"
"Nggak nyangka aja kak, Leon sepolos itu! Kelihatan sekali kalau dia tidak pernah dekat dengan cewek!"
Tapi wajah serius dokter Ardan tiba-tiba pecah berganti tawa.
"Lucu sekali dia!"
Ternyata tawa mereka berdua memancing anggota keluarga yang lain untuk datang dan menghampiri mereka.
"Kalian ini kenapa tertawa seperti itu?" mama Nisa bersama kakak perempuan menghampiri mereka, bukan hanya itu papa dan istri-istri mereka juga menghampiri.
"Iya, kami lihat dari tadi kalian tertawa, ada apa?"
"Ada yang lagi cemburu sama datang bulan ma, pa!" dokter Reza berusaha untuk menjelaskannya.
"Siapa?" istri dokter Ardan tampak begitu penasaran.
"Pengantin baru!"
"Jadi maksudnya?" kali ini papa Nisa pun ikut penasaran.
"Leon tidak tahu yang namanya tamu bulanan, pa!" ucap dokter Ardan membantu dokter Reza untuk menjelaskan ke seluruh keluarga dan lagi-lagi tawa mereka pecah.
...Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa, cukup tidak membuatnya berduka. Sesederhana kamu bisa mengerti seberapa aku mencintaimu dan membiarkanmu untuk tetap menjadi dirimu sendiri meski bersamaku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...