
Setelah berpamitan dengan Nadin dan Rendi. Alex pun mengajak Aisyah meninggalkan rumah mereka.
Mereka segera masuk ke dalam mobil mereka yang sudah terparkir di depan.
Sepanjang jalan mereka masih saja saling diam, Aisyah masih terus memikirkan sebenarnya
apa yang sedang di rencanakan suaminya itu, apa memang benar dia sedang ada
pekerjaan di Jakarta, atau itu hanya alasannya saja untuk menemui Nadin dan
Elan.
Hingga tiba-tiba Alex meminggirkan mobilnya di tepi jalan dan berhenti membuat Aisyah
terkejut.
“Mas…., kenapa berhenti di sini?”
“Kamu bisa bawa mobil tidak?”
“Hahhh?”
“Bisa nyetir mobil tidak?”
Aisyah segera menggelengkan kepalanya, jangankan nyetir mobil, naik motor aja tidak
bisa. Alex terlihat menghela nafas dan kembali terdiam. Kemudian ia merogoh
saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
“Ambil ini!” beberapa lembar uang seratus ribuan.
“Ambil aja, nggak usah banyak tanya!” akhirnya Aisyah pun terpaksa menerimanya,
“Tapi untuk apa?”
“Aku ada urusan sebentar, kamu pulang duluan!”
“Boleh aku jalan-jalan dulu?” mau bagaimana pun ia harus ijin pada suaminya. Walaupun
kesal tapi ada bagusnya juga jika di turunkan di sembarang tempat seperti ini,
Aisyah bisa sekalian mengenal kota Jakarta.
“terserah kau saja! Ya udah cepetan turun!”
Hehhhh ….
Aisyah pun turun dari mobil itu, “Assalamualaikum, mas …!”
“Hemmmm …!”
“Kok hem sih mas …!”
“terserah …, sudah minggir, aku mau jalan!”
Aisyah pun terpaksa menjauh dari mobil Alex, ia hanya bisa menatap kepergian mobil
Alex, “Dasar keras kepala, apa susahnya coba jawab salam …!”
Kemudian Aisyah mengamati sekitar, tidak ada tempat yang bisa di kunjungi. “Sabar Aisyah …, ini cobaan!” Aisyah berusah
meyakinkan hatinya sendiri.
Aisyah pun memilih berjalan kaki, sambil menikmati ramainya kota Jakarta. Cukup jauh
ia berjalan tapi belum juga menemukan tempat yang bisa ia gunakan untuk
istirahat.
“Sudah satu jam …, ah sebentar lagi masuk waktu dhuhur! Aku harus cari masjid dulu!”
Aisyah melanjutkan langkahnya sambil sesekali bertanya pada orang yang berada di
sekitar tempat itu, ia harus segera mencari keberadaan masjid.
Akhirnya seseorang memberitahunya letak masjid di sekitar tempat itu. Ia pun melanjutkan
langkahnya menuju ke masjid yang di katakana orang itu. Setelah berjalan lima
__ADS_1
belas menit akhirnya ia bisa meihat kubah masjid adri kejauhan.
Aisyah tersenyum senang, ia mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai dan
istirahat sejnak sebelum melaksanakan shulat dhuhur.
Ia bertambah senang saat ia bisa melihat di samping masjid itu ternyata adalah
sebuah pesantren. “Ya Allah …, hamba senang karena Engkau selalu mendekatkanku
dengan rumah orang-orang yang mencintai-Mu!” senyum bahagia tersungging di
bibirnya.
Setelah sampai di masjid, Aisyah memilih duduk di teras masjid sambil menunggu muazhin
mengumandangkan azan. Ia menatap pesantren di seberang masjid, melihat lalu
lalang santri yang sedang berbondong-bondong menuju ke masjid.
Ia masih duduk di teras walaupun di dalam sudah penuh jama’ah. Di luar masjid juga
sudah sepi, semua santri dan warga yang akan melaksanakan sholat berjama’ah
sudah masuk ke dalam masjid. Hingga seorang muazhin mengumandangkan Azan
barulah Aisyah bangun dari duduknya dan mulai mengambil wudhu.
Setelah melaksanakan sholat dhuhur, jama’ah sudah lalu lalang meninggalkan masjid,
Aisyah masih saja duduk di tempatnya. Ia masih belum rela meninggalkan tempat
itu, sepertinya di rumah Allah lah ia bisa menemukan ketenangan.
Bahkan hingga tidak tersisa siapun di depannya dan juga di sampingnya, walaupun di
tempat jama’ah pria masih ada beberapa yang melantunkan ayat al-Qur’an.
“Ya Allah …,saat ini aku sedang kehilangan harapan, ya Allah tolong ingatkan aku
bahwa rasa cinta Mu lebih besar dari pada rasa kecewaku, dan rencana yang
Engkau siapkan untukku lebih indah dari pada harapanku, jadi jadikan aku
Aisyah mengakhiri doanya dengan mendoakan keselamatan dunia akhirat dan mendoakan
kedua orang tuannya. Ia menyapu wajahnya dengan kedua tangannya pertanda
menyelesaikan doanya.
Ia henda beranjak tapi segera ia urungkan saat seseorang ternyata duduk di
belakangnya, sepertinya wanita paruh baya itus edari tadi memperhatikannya.
“Assalamualaikum, nak!” sapa wanita itu.
“Waalaikum salam!” Aisyah segera mendekat dan mencium tangan wanita itu. Seprtinya beliau
adalah pengurus pesantren yang berada di depan masjid.
“Umi perhatikan, sepertinya kamu sedang menghadapi masalah yang begitu rumit, apakah
benar?” tanya wanita itu begitu lembut sambil menyentuh tangan Aisyah.
“Dari mana umi tahu? Saya Aisyah, umi!”
“Nama kamu bagus, secantik namanya! semoga Allah juga mengarunia sifat sama dengan
yang di miliki syayidah Aisyah!”
“Amiiiinnn…!”
“Apa sebenarnya yang membuat nak Aisyah ini begitu dalam berdoanya?”
“Bukan apa Umi, hanya saja mungkin Allah sedang menguji dengan sesuatu yang saya belum
tahu maksudnya!”
“Ikhlas dan bersabarlah …, ombak itu tidak besar hanya saja perahunya yang terlalu
kecil, jadi jangan hanya meminta di ringankan ujiannya, tapi mintalah
menguatkan iman kita! Karena bila kita ikhlas, bila kita pasrah dan membuarkan
__ADS_1
semuanya lilahi ta’ala, dan membiarkan
Allahyang mengatur dan memutuskannya, ternyata apa yang Allah atur dan Allah
putuskan jauh lebih baik dari pada apa yang kita rencanakan!”
“Amiiiin …, terimakasih umi atas pelajaran hari ini, Aisyah akan belajar ikhlas …!”
“Amiiin, semoga saja bermanfaat, oh iya nak Aisyah ini sebenarnya mau ke mana? Sedari
tadi umi lihat hanya berdiam diri di masjid!”
“Aisyah hanya ingin mengenal kota ini saja umi, mencoba mengenal kebesaran allah tanpa
mengeluh!”
“lalu, nak aisyah ini sebenarnya dari mana?”
“Saya dari Surabaya umi!”
“Surabaya?”
“Iya umi!”
“Kebetulan sekali putri umi juga sedang menempuh pendidikan di sana!”
“benarkah umi …, kebetulan sekali umi …!”
“Ia sedang menuntut ilmu di pesantren kaka, umi!”
‘Kalau boleh tahu namanya siapa umi, siapa tahu Aisyah mengenalnya?”
“Namanya Ratna!”
“Tinggal di pesantren Kyai Hamid?”
“Nak Aisyah tahu?”
“Kami satu kampus umi!”
Aisyah pun akhirnya menceritakan semuanya tentang Ratna. Mereka memilik kesamaan nama,
jika Aisyah kepanjangannya Aisyah Ratna Anjani, sedangkan Ratna kepanjangannya
Kumaira Ratna putri.
“kebetulan sekali, umi senang bisa mendengar kabar putri umi dari nak Aisyah!”
“Sudah sore umi, Aisyah pamit dulu ya Umi!”
‘Iya, hati-hati ya, semoga Allah mempertemukan kita lagi!”
“Amin!”
Mereka pun sudah berjalan keluar masjid, Aisyah segera mengenakan kembali sendalnya
dan memberi salam.
‘Assalamualaikum, umi!”
“Waalaikum salam!”
Aisyah meninggalkan wanita yang masih menatapnya diari teras masjid. Aisyah mempercepat
langkahnya karena hari semakin sore saja, ia tidak sadar jika terlalu lama
berada di masjid itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih vote juga yang banyak ya ...
follow ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading