Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Belajar Ikhlas


__ADS_3

 


 


Setelah berpamitan dengan Nadin dan Rendi. Alex pun mengajak Aisyah meninggalkan rumah mereka.


Mereka segera masuk ke dalam mobil mereka yang sudah terparkir di depan.


Sepanjang jalan mereka masih saja saling diam, Aisyah masih terus memikirkan sebenarnya


apa yang sedang di rencanakan suaminya itu, apa memang benar dia sedang ada


pekerjaan di Jakarta, atau itu hanya alasannya saja untuk menemui Nadin dan


Elan.


Hingga tiba-tiba Alex meminggirkan mobilnya di tepi jalan dan berhenti membuat Aisyah


terkejut.


“Mas…., kenapa berhenti di sini?”


“Kamu bisa bawa mobil tidak?”


“Hahhh?”


“Bisa nyetir mobil tidak?”


Aisyah segera menggelengkan kepalanya, jangankan nyetir mobil, naik motor aja tidak


bisa. Alex terlihat menghela nafas dan kembali terdiam. Kemudian ia merogoh


saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.


“Ambil ini!” beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Ambil aja, nggak usah banyak tanya!” akhirnya Aisyah pun terpaksa menerimanya,


“Tapi untuk apa?”


“Aku ada urusan sebentar, kamu pulang duluan!”


“Boleh aku jalan-jalan dulu?” mau bagaimana pun ia harus ijin pada suaminya. Walaupun


kesal tapi ada bagusnya juga jika di turunkan di sembarang tempat seperti ini,


Aisyah bisa sekalian mengenal kota Jakarta.


“terserah kau saja! Ya udah cepetan turun!”


Hehhhh ….


Aisyah pun turun dari mobil itu, “Assalamualaikum, mas …!”


“Hemmmm …!”


“Kok hem sih mas …!”


“terserah …, sudah minggir, aku mau jalan!”


Aisyah pun terpaksa menjauh dari mobil Alex, ia hanya bisa menatap kepergian mobil


Alex, “Dasar keras kepala, apa susahnya coba jawab salam …!”


Kemudian Aisyah mengamati sekitar, tidak ada tempat yang bisa di kunjungi. “Sabar  Aisyah …, ini cobaan!” Aisyah berusah


meyakinkan hatinya sendiri.


Aisyah pun memilih berjalan kaki, sambil menikmati ramainya kota Jakarta. Cukup jauh


ia berjalan tapi belum juga menemukan tempat yang bisa ia gunakan untuk


istirahat.


“Sudah satu jam …, ah sebentar lagi masuk waktu dhuhur! Aku harus cari masjid dulu!”


Aisyah melanjutkan langkahnya sambil sesekali bertanya pada orang yang berada di


sekitar tempat itu, ia harus segera mencari keberadaan masjid.


Akhirnya seseorang memberitahunya letak masjid di sekitar tempat itu. Ia pun melanjutkan


langkahnya menuju ke masjid yang di katakana orang itu. Setelah berjalan lima

__ADS_1


belas menit akhirnya ia bisa meihat kubah masjid adri kejauhan.


Aisyah tersenyum senang, ia mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai dan


istirahat sejnak sebelum melaksanakan shulat dhuhur.


Ia bertambah senang saat ia bisa melihat di samping masjid itu ternyata adalah


sebuah pesantren. “Ya Allah …, hamba senang karena Engkau selalu mendekatkanku


dengan rumah orang-orang yang mencintai-Mu!” senyum bahagia tersungging di


bibirnya.


Setelah sampai di masjid, Aisyah memilih duduk di teras masjid sambil menunggu muazhin


mengumandangkan azan. Ia menatap pesantren di seberang masjid, melihat lalu


lalang santri yang sedang berbondong-bondong menuju ke masjid.


Ia masih duduk di teras walaupun di dalam sudah penuh jama’ah. Di luar masjid juga


sudah sepi, semua santri dan warga yang akan melaksanakan sholat berjama’ah


sudah masuk ke dalam masjid. Hingga seorang muazhin mengumandangkan Azan


barulah Aisyah bangun dari duduknya dan mulai mengambil wudhu.


Setelah melaksanakan sholat dhuhur, jama’ah sudah lalu lalang meninggalkan masjid,


Aisyah masih saja duduk di tempatnya. Ia masih belum rela meninggalkan tempat


itu, sepertinya di rumah Allah lah ia bisa menemukan ketenangan.


Bahkan hingga tidak tersisa siapun di depannya dan juga di sampingnya, walaupun di


tempat jama’ah pria masih ada beberapa yang melantunkan ayat al-Qur’an.


“Ya Allah …,saat ini aku sedang kehilangan harapan, ya Allah tolong ingatkan aku


bahwa rasa cinta Mu lebih besar dari pada rasa kecewaku, dan rencana yang


Engkau siapkan untukku lebih indah dari pada harapanku, jadi jadikan aku


Aisyah mengakhiri doanya dengan mendoakan keselamatan dunia akhirat dan mendoakan


kedua orang tuannya. Ia menyapu wajahnya dengan kedua tangannya pertanda


menyelesaikan doanya.


Ia henda beranjak tapi segera ia urungkan saat seseorang ternyata duduk di


belakangnya, sepertinya wanita paruh baya itus edari tadi memperhatikannya.


“Assalamualaikum, nak!” sapa wanita itu.


“Waalaikum salam!” Aisyah segera mendekat dan mencium tangan wanita itu. Seprtinya beliau


adalah pengurus pesantren yang berada di depan masjid.


“Umi perhatikan, sepertinya kamu sedang menghadapi masalah yang begitu rumit, apakah


benar?” tanya wanita itu begitu lembut sambil menyentuh tangan Aisyah.


“Dari mana umi tahu? Saya Aisyah, umi!”


“Nama kamu bagus, secantik namanya! semoga Allah juga mengarunia sifat sama dengan


yang di miliki syayidah Aisyah!”


“Amiiiinnn…!”


“Apa sebenarnya yang membuat nak Aisyah ini begitu dalam berdoanya?”


“Bukan apa Umi, hanya saja mungkin Allah sedang menguji dengan sesuatu yang saya belum


tahu maksudnya!”


“Ikhlas dan bersabarlah …, ombak itu tidak besar hanya saja perahunya yang terlalu


kecil, jadi jangan hanya meminta di ringankan ujiannya, tapi mintalah


menguatkan iman kita! Karena bila kita ikhlas, bila kita pasrah dan membuarkan

__ADS_1


semuanya lilahi ta’ala,  dan membiarkan


Allahyang mengatur dan memutuskannya, ternyata apa yang Allah atur dan Allah


putuskan jauh lebih baik dari pada apa yang kita rencanakan!”


“Amiiiin …, terimakasih umi atas pelajaran hari ini, Aisyah akan belajar ikhlas …!”


“Amiiin, semoga saja bermanfaat, oh iya nak Aisyah ini sebenarnya mau ke mana? Sedari


tadi umi lihat hanya berdiam diri di masjid!”


“Aisyah hanya ingin mengenal kota ini saja umi, mencoba mengenal kebesaran allah tanpa


mengeluh!”


“lalu, nak aisyah ini sebenarnya dari mana?”


“Saya dari Surabaya umi!”


“Surabaya?”


“Iya umi!”


“Kebetulan sekali putri umi juga sedang menempuh pendidikan di sana!”


“benarkah umi …, kebetulan sekali umi …!”


“Ia sedang menuntut ilmu di pesantren kaka, umi!”


‘Kalau boleh tahu namanya siapa umi, siapa tahu Aisyah mengenalnya?”


“Namanya Ratna!”


“Tinggal di pesantren Kyai Hamid?”


“Nak Aisyah tahu?”


“Kami satu kampus umi!”


Aisyah pun akhirnya menceritakan semuanya tentang Ratna. Mereka memilik kesamaan nama,


jika Aisyah kepanjangannya Aisyah Ratna Anjani, sedangkan Ratna kepanjangannya


Kumaira Ratna putri.


“kebetulan sekali, umi senang bisa mendengar kabar putri umi dari nak Aisyah!”


“Sudah sore umi, Aisyah pamit dulu ya Umi!”


‘Iya, hati-hati ya, semoga Allah mempertemukan kita lagi!”


“Amin!”


Mereka pun sudah berjalan keluar masjid, Aisyah segera mengenakan kembali sendalnya


dan memberi salam.


‘Assalamualaikum, umi!”


“Waalaikum salam!”


Aisyah meninggalkan wanita yang masih menatapnya diari teras masjid. Aisyah mempercepat


langkahnya karena hari semakin sore saja, ia tidak sadar jika terlalu lama


berada di masjid itu.


 


 


Bersambung


 


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih vote juga yang banyak ya ...


follow ig aku ya


tri.ani.5249


 

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2