Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Kecurigaan Nisa)


__ADS_3

Bukan tanpa sebab Gus Raka mengatakan hal itu, ia tidak bisa menolak ataupun mengiyakan saat ini juga.


"Maaf mas Alex, saya tidak bisa berlama-lama, hari ini jadwal periksa kehamilan Nisa, saya ingin menemaninya!"


Alex tersenyum, setiap kali menatap pria di depannya, mata itu seolah Tidka bisa menipu,


"Terimakasih ya atas perhatian kamu!"


"Sudah menjadi tugas saya!"


Alex segera berdiri dan berjalan memutari mejanya, berdiri di samping tempat duduk Gus Raka dan menepuk bahunya,


"Mari saya antar!"


Mereka pun berjalan beriringan, dan sesekali membicarakan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.


Alex hanya ingin berlama-lama dengan pria mirip Leon itu. Ia hanya ingin membuktikan sesuatu yang menurutnya benar.


Ia berjalan sedikit di belakang pria itu, membiarkan pria itu berjalan dan menentukan arah yang harus ia lalui.


Mereka sekarang tepat berada di persimpangan, jalan ke ruang meeting dan ke toilet. Kanan ruang meeting dan kiri toilet.


"Ini kali kedua ya kamu ke sini?" Alex saat ini sudah berhenti.


Gus Raka sedikit melambatkan langkahnya dan menoleh kepada Alex, "Iya!" dan akhirnya ikut berhenti.


"Sebenarnya aku harus mengambil berkas ku di ruang meeting, bisakah kamu ambilkan sebentar karena aku harus ke toilet sebentar!"


"Baik, saya akan mengambilkannya!"


"Maaf ya, saya pasti sangat merepotkanmu!"


"Jangan sungkan!"


Tanpa bertanya, Gus Raka pun segera berjalan ke kamarnya membuat bibir Alex tersenyum saat ini.


Apakah aku sekarang harus ragu lagi? Baiklah aku akan mengikuti permainannya ...


Alex pun meneruskan langkahnya ke toilet walaupun sebenarnya dia tidak ingin.


Hingga mereka kembali bertemu di persimpangan yang sama dengan Gus Raka yang membawa sebuah map.


"Apakah ini map-nya?"


"Iya, tapi itu kamu saja yang simpan!"


"Saya?" Gus Raka tidak sempat melihat isinya tadi.


"Iya, aku ingin kamu yang menyimpannya!"


Gus Raka tidak menolaknya, ia pun berpamitan dan Alex masih terus mengantarnya hingga ke depan gedung.


"Salam untuk Nisa!"


"Insyaallah akan saya sampaikan!"


Gus Raka melambaikan tangannya saat mobilnya mulai berjalan, ia harus mengantar Nisa lebih tepatnya menemani Nisa untuk memeriksakan kehamilannya, karena Nisa memeriksa kehamilannya di rumah sakit tempatnya bekerja.


Sebenarnya Nisa sangat tidak nyaman tapi karena Gus Raka memaksa Nisa pun menyetujui untuk ditemani Gus Raka.


Sebenarnya jadwal pemeriksaan Nisa masih menunggu setelah jam makan siang tapi Gus Raka sengaja datang sebelum jam makan siang.


Dia ingin mengajak Nisa untuk makan siang bersama sebelum melakukan pemeriksaan.


Nisa yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan hendak beristirahat segera merapikan meja kerjanya.


Ia mendapat pesan dari Gus Raka bahwa pria itu sudah menunggunya di ruang tunggu.

__ADS_1


Nisa pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan menghampiri Asna.


"Na, udah selesai belum?"


Wanita yang masih tampak sibuk dengan data-data pasien yang ada di depannya itu segera mendongakkan kepalanya.


"Tumben nanyain, ada apa?"


"Kelarin dulu yuk, kita makan siang! Di lanjut nanti aja!"


Mendengar ajakan dari nisa, Asna pun menatap Nisa penuh curiga.


"Bukannya kamu hari ini cuma setengah hari?"


"Iya, makanya aku ngajak kamu makan siang, ayo!"


"Kenapa sih harus sama aku!" protes Asna sambil menutup berkas di depannya yang sebelumnya sudah di beri penanda agar nanti tidak lupa saat melanjutkannya.


"Ada mas Raka!"


"Kok malah ngajak aku?"


"Aku nggak enak kalau cuma sama Mas Raka aja! Bagaimana coba pandangan orang nanti tentang aku dan Mas Raka!"


"Baiklah!"


Mereka pun berjalan beriringan untuk menemui Gus Raka.


"Kamu ngerasa aneh nggak Nis?"


Nisa yang sudah berjalan sedikit di depannya kembali berhenti,


"Aneh kenapa?"


"Ya aneh aja, mas Raka kayaknya beda banget sama yang dulu, gini-gini telingaku masih peka kali Nis, suaranya itu beda banget!"


Walaupun dalam hati Nisa ikut mempertanyakan tapi ia tidak mau berpikir terlalu jauh.


"Nggak ah Ma, mungkin karena dia lagi batuk makannya serak!"


"Aku belum bilang kalau dia serak loh ya sama kamu!"


"Ya aku juga tahu kali Na, kalau dia serak sekarang! Udah ah ayok!"


Nisa menarik tangan Asna agar lebih cepat berjalannya hingga Meraka sampai juga di ruang tunggu.


Gus Raka segera berdiri melihat kedatangan Nisa dan Asna.


"Assalamualaikum Nisa, Asna!"


"Waalaikum salam!" jawab Nisa dan Asna bersamaan, Asna segera berdiri mendekat dengan Gus Raka.


"Mas Raka beda banget ya sekarang!" ucapan Asna berhasil membuat Gus Raka salah tingkah.


"Bedanya bagaimana?"


"Ya beda aja gitu!"


Gus Raka hanya tersenyum, ia menatap Nisa yang masih terdiam.


"Sudah siap kan? Ayo kita makan di mana?" tanyanya pada Nisa. Wanita hamil biasanya menginginkan makanan tertentu.


Asna menatap sahabatnya itu, "Bagaimana Nisa?"


"Aku mau makan lalapan!" ucap Nisa sambil menatap pria di depannya itu.


"Lalapan ya? Baiklah! Di depan ada penjual lalapan!"

__ADS_1


Mereka pun berjalan menyeberangi jalan dengan Gus Raka yang ada di samping kanan Nisa sedangkan Asna di samping kirinya.


"Mau lalapan apa?" tanya Gus Raka lagi. Dan Nisa pun memilih puyuh.


"Kalau kamu Asna?"


"Aku sama aja sama Nisa, mas!" walaupun sebenarnya tidak begitu nyaman di antara mereka, Asna Tidka bisa membiarkan Nisa sendiri.


Gus Raka pun mendekati penjual lalapan,


"Saya pesan lalapan puyuhnya tiga ya mas!"


"Oh iya mas, minumnya apa?"


"Es teh tiga juga!"


Setelah itu Gus Raka kembali bergabung dengan Nisa dan Asna. Dua wanita itu memilih duduk di lesehan.


Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan datang.


Gus Raka terdiam menatap makanan itu,


Ini pertama kalinya makan seperti ini, bismillah bisa ..., kenapa tadi tidak pesan bebek atau ayam saja kan lebih mudah, setidaknya aku sudah pernah mencobanya


Pria itu malah terdiam menatap piring yang terbuat dari tanah liat yang di atasnya ada sehelai daun pisan sebagai alasnya. Satu ekor burung puyuh yang sudah di masak dan sambal serta nasinya.


Nisa dan Asna sudah mulai menyantap makanannya, tidak ada masalah bagi mereka karena memang puyuh goreng sudah merakyat.


"Mas Raka! Kenapa tidak di makan? Apa ada masalah?" tanya Nisa yang mulai curiga.


"Tidak pa pa, nih aku makan!" Gus Raka segera menyantap makanannya, ia hanya menyuwir daging sebisanya.


Walaupun sedang makan dan sesekali menjawab pertanyaan Asna tapi perhatian Nisa tetap tertuju pada Gus Raka.


Mas Raka tidak mungkin tidak bisa makan lalapan, mas Leon pernah cerita kalau mas Raka yang udah bantu dia buat nyuwirin makanannya, lalu kalau dia buka mas Raka, apa mungkin dia mas Leon? Tapi wajah itu wajahnya mas Raka, bukan wajah mas Leon! Tapi matanya, apa memang mereka memiliki mata yang sama? Selama ini aku tidak pernah menatap mata mas Raka


"Nisa, kamu denger nggak sih aku tanya apa?" pertanyaan Asna yang sedikit keras kembali menyadarkan Nisa, ia segera menoleh pada Asna yang memang duduk di sampingnya itu.


"Denger, Na!"


"Denger kok nggak jawab sih!" protes Asna.


"Memang kamu tadi tanya apa?"


"Tuh kan, aku tanya apa kamu nggak tahu! Nanti kamu sama mas Raka aja nggak pa pa kan Nis periksanya?"


Nisa kembali menatap Gus Raka.


Sebenarnya ada bagusnya kalau aku berdua saja sama mas Raka , aku bisa menanyakan banyak hal sama mas Raka ...


"Kok bengong lagi sih Nis! Kamu nggak pa pa kan?"


"Iya nggak pa pa! Aku akan sama mas Raka aja!"


"Nah gitu dong!"


"Mas Raka berdua saja sama Nisa nggak keberatan kan?"


Gus Raka tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Nggak pa pa!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2