
Pagi ini jalanan begitu macet, berkali-kali Alex harus mengumpat karena mobilnya tak
juga berpindah dari tempatnya, hanya bisa bergerak seperti siput. Suara bising
dari klakson motor atau mobil saling bersahutan yang semakin memacu emosi para
pengendara lain. Begitu sibuk ibu kota di pagi hari.
Pagi ini Aisyah mendapat telpon dari Nadin jika ia membutuhkan bantuan aisyah untuk
menjaga Elan karena nadin harus melakukan pemeriksaan. Pumpung Aisyah di
Jakarta, nadin sengaja memberi kesempatan aisyah untuk bisa dekat dengan baby
Elan, walaupun tanpa di ketahui Nadin jika itu memang tujuan Alex datang ke Jakarta.
Setelah menahan kesabaran karena kemacetan, mobil Alex berhenti tepat di depan rumah Nadin. Tapi kali ini Alex tidak bisa ikut mampir karena ia harus menemui Leon
di rumah sakit, akibat kejadian semalam Leon terpaksa di larikan ke rumah sakit
karena terkena sabetan senjata tajam di perutnya. Untung saja polisi datang
tepat waktu dan membuat anak buah Tito kocar-kacir.
Anak buah Alex kalah jumlah dengan anak buah Tito, memang Tito bukan lawan yang bisa di remehkan. Tapi ternyata polisi pun tidak
bisa melakukan penangkapan terhadapnya walaupun kejahatannya sudah terendus oleh
mereka.
“Assalamualaikum!” ucap Aisyah memberi salam.
“hemmm …!”
“Mas …, bisa jawab salam Ais dengan benar nggak?!” keluh Aisyah.
“Kenapa sih selalu menuntut ku menjawab salam kamu?”
“Karena hukum menjawab salam itu wajib, itu juga doa buat mas Alex, dan Aisyah juga berharap mas Alex doain Ais!”
“Lain waktu saja, sudah sana kamu masuk! Nadin pasti sudah menunggumu!”
Akhirnya Aisyah pun turun dari mobil dan langsung memasuki pagar rumah Nadin. Ia bisa melihat Elan sedang di gendong oleh pengasuhnya. Aisyah pun segera menghampiri
mereka.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam, eh mbak Aisyah sudah datang!”
“Iya bi, kak Nadin nya sudah berangkat ya?”
“Iya mbak, tadi barengan sama pak Rendi!”
“Ya udah biar Elan sama aku aja bi, bibi bisa lanjutkan pekerjaan bibi!”
“Ya udah mbak, bibi ke dalam dulu ya!”
“Iya …!”
Elan yang langsung memeluk Aisyah kini mereka bermain dan sesekali menyuapkan
sarapan Elan.
“Aaaa …, dulu El, kak Ais marah nih kalau nggak mau makan!”
Beberapa kali Aisyah membujuk Elan setiap kali Elan tidak mau memakan sarapannya.
“Aisyah …!” seseorang mengagetkannya, ia kenal dengan suara itu.
__ADS_1
‘Mas Ajun! Assalamualaikum mas!”
“waalaikum salam, sama siapa?”
“tadi di anter sama mas Alex!”
“Oohhh. …!”
Trrrtttt trrrtttt ….
Suara getaran dari ponsel Aisyah menghentikan percakapan mereka, sebuah pesan dari Alex. Untuk pertama kalinya Alex mengiriminya pesan.
//nanti kalau Nadin sama Rendi pulang, kirim pesan ke aku//
Aisyah berpikir sejak, ia tidak begitu paham dengan maksud pesan Alex
//ada apa?//
//nanti aku jemput//
//ok//
Aisyah meletakkan kembali ponselnya dan kembali bermain dengan Elan karena ajun sudah pergi saja dari hadapannya saat ia sibuk dengan ponselnya.
***
Alex baru saja sampai di rumah sakit, ia segera menuju ke tempat perawatan Leon, di
depan kamar itu di jaga ketat oleh anak buah Alex. Ia hanya sedang mengkhawatirkan serangan susulan saja.
“bagaimana keadaanmu?” tanya Alex setelah duduk di samping Leon yang tidur di tempatnya, karena Alex melarang leon untuk bangun.
“Saya sudah lebih baik tuan, terimakasih tuan karena tuan mengunjungi saya!”
“Lain kali jangan menemui ku jika itu membahayakan!”
“maafkan saya Tuan, kerena nona Aisyah begitu memaksa!”
“Maaf, tapi saya rasa Anda harus sedikit lunak dengan nona Aisyah!”
“Pikirkan perutmu, jangan memikirkan yang lain! Ya sudah aku harus ke tempat lain, jaga
dirimu!”
Alex segera meninggalkan kamar inap Leon. Ia harus menemui seseorang yang mungkin
bisa membantunya lepas dari jeratan dunia hitam itu, sebenarnya sudah sangat
lama tapi ia belum punya keberanian itu, tapi setelah kejadian malam itu, ia tidak
mungkin membahayakan orang-orang di sekitarnya lagi.
***
Aisyah sudah bersiap untuk pulang karena hari sudah sore, Nadin juga sudah kembali
dari tadi sedangkan Rendi langsung menuju ke kantornya setelah mengantar Nadin pulang.
“kamu yakin mau pulang sekarang? Nggak nanti aja?” tanya Nadin.
“Iya kak sudah sore banget!"
"Biar di antar Ajun ya kalau begitu!"
"Nggak usah kak!" Aisyah jadi ingat kemarin bagaimana amarahnya Alex melihatnya di antar pulang Ajun.
"Lalu naik apa?"
"Lagi nunggu jemputan mas Alex!”
__ADS_1
"Alex?" Nadin terdengar terkejut, Aisyah pun hanya bisa mengangguk.
“Alex mau ke sini?”
“Iya! Tapi nggak tahu sudah sedari tadi hampir satu jam aku kirim pesannya tapi belum
juga di baca!”
“Kalau gitu di sini aja dulu, jangan pulang duluan!”
“Ya udah Ais coba ke depan dulu ya, siapa tahu mas Alex sudah datang!”
“Ya udah, aku ganti baju dulu ya, nanti aku susul!”
Aisyah pun segera keluar dan duduk di depan. Ajun yang berjaga di depan pun penasaran
dengan Aisyah yang duduk sendiri di luar.
“Aisyah …!” sapa Ajun, ia duduk di samping tempat duduk Aisyah
“Iya mas?”
“kenapa duduk di luar?”
“Nunggu jemputan mas Alex!”
“Dia beneran mau jemput atau bakal ninggalin kamu di jalan lagi?”
Aisyah hanya tersenyum menanggapi ucapan Ajun, jika di pikir memang benar. Sudah ada
dalam satu mobil aja ditinggalin apa lagi kalau ini jelas ia tidak dalam satu
mobil, kurang kerjaan banget jemput.
“Oh iya mas, untuk yang kemarin terimakasih ya!”
“Bukan masalah besar, lain kali jangan mau di tinggal di jalan lagi!”
Aisyah tersenyum, "Pasti!"
Ajun pun ikut tersenyum mendengar jawaban pasti dari Aisyah.
Tinnnn
Tiba-tiba suara klakson mobil menghentikan pembicaraan mereka, sebuah mobil berhenti
tepat di depan rumah Nadin. Pemilik mobil itu turun dia adalah Alex.
“Ngapain kalian berduaan di sini?” tanya Alex sambil menatap tajam pada Ajun.
“Mas …, kami nggak sengaja ngobrol tadi!”
“kamu suka sama istri saya?” tanya Alex tiba-tiba membuat Aisyah terkejut, ia tidak
menyangka jika suaminya akan bertanya seperti itu.
Ajun pun segera berdiri dari duduknya, mendekat pada Alex dan memicingkan matanya.
“Aku kira kamu menikah karena obsesi terhadap sesuatu, lalu kenapa harus marah jika dia dekat dengan seseorang? Jangan suka menarik ulur perasaan orang lain, karena di luar sana banyak orang yang sedang menunggu layang-layang itu putus!” ucap Ajun, lalu berlalu
begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Alex tertegun dengan ucapan pria yang jauh lebih muda darinya itu.
Apa yang dia katakan? Membuatku kesal saja ....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️