Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (POV Leon 1)


__ADS_3

...Terkadang, orang dengan masa lalu paling kelam akan menciptakan masa depan yang paling cerah. ...


...~ Ali bin Abi Thalib~...


...🌺Selamat Membaca🌺...


Kami berjalan memasuki pusat perbelanjaan yang ada di salah satu mall di Bali, awalnya Nisa berjalan di depanku karena melihat begitu ramai di dalam aku pun segera menggandeng tangan Nisa dan membiarkannya berjalan di belakangku agar tidak bertabrakan dengan orang, walaupun badanku tidak besar setidaknya bisa menjadi tameng badan Nisa yang kecil.


Nisa menunjuk sebuah toko yang bertuliskan pusat oleh-oleh khas Bali, aku menurut saja. Kami segera masuk ke toko itu, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai keramaian tapi Nisa suka. Aku juga tidak mungkin membiarkan Nisa masuk sendiri, itu pasti bahaya berada di sebuah toko yang ramai tanpa aku.


"Mas, ini kayaknya bagus deh!" Nisa memilih beberapa pernak-pernik khas Bali, terlihat sekali jika benda itu kerajinan tangan. Aku hanya menganggukkan kepalaku, aku jelas tidak bisa memberi saran karena aku tidak terlalu mengerti tentang oleh-oleh, aku juga tidak pernah membeli oleh-oleh untuk seseorang setiap pulang dari suatu tempat.


"Kamu nggak suka ya mas?"


"Hahh?" aku terkejut dengan pertanyaan Nisa, terpaksa ku tatap wajah itu dan tersenyum, "Mana ada aku nggak suka, aku suka!"


"Tapi dari tadi kamu diam, mas!"


Aku bingung harus memberi saran apa, aku tidak tahu apa saja yang ia inginkan. Tapi aku tidak mau terlihat tidak tahu,


"Mau aku pilihkan ya?"


Aku segera mengambil sebuah benda yang sepetinya gantungan kunci,


"Ini bagus!"


"Yakin mas kasih gantungan kunci?"


"Iya, beberapa orang suka punya gantungan kunci unik!"


Benda yang aku pegang ini, sepertinya aku pernah punya, tapi di mana?


"Baiklah aku mau, bantu pilihkan ya mas!" entah istriku ini punya banyak stok senyum dari mana, hampir setiap hari dia tersenyum. Bahkan sampai aku tidak pernah melihatnya tanpa senyum.


"Hmm!"


Aku mengambil beberapa yang menurutku bagus, hingga keranjang belanja kami hampir penuh dengan benda itu,


"Kamu yakin beli ini semua?"


Aku menoleh ke sumber suara, dan benar saja ternyata benda yang ada di atas rak sudah berpindah semua ke dalam keranjang belanja.


"Iya, aku suka semua!"


"Tapi nggak semua juga!" Nisa akan mengeluarkan benda-benda kecil yang ada di dalam keranjang ku tapi segera ku tahan tangangnya,


"Nggak perlu, biar semua saja, kan teman kamu banyak!"


"Ihhhhh, kamu baik banget sih mas!"


Tiba-tiba tubuh mungil itu memeluk tubuhku, dia suka reflek seperti itu. Jantungku rasanya mau loncat dari tempatnya.


"Maaf maaf, aku reflek!" sepertinya Nisa menyadari aku terkejut.


Saat tangan Nisa sudah terlepas, aku kembali menarik pinggang Nisa dan membawanya ke dalam pelukanku.


"Aku suka!"


Aku tahu sekarang wajah Nisa sedang memerah, dia tersipu.


"Mas malu banyak orang!"


"Tadi peluk-peluk nggak malu!"


"Tadi kan reflek!"


"Sekarang kan yang peluk aku, kamu istrimu!" rasanya masih canggung mengatakan dia istriku, tapi aku suka mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Sudah ah mas, kita nanti nggak selesai-selesai belanjanya kalau peluk-peluk terus!"


Aku pun terpaksa melepaskannya, sebenarnya masih ingin terus memeluknya. Aku ingin membiasakan hatiku biar setiap kali memeluknya tidak kabur, aku merasa aku benar-benar payah saat itu. Bisa-bisanya aku malah kabur bukan memanfaatkan kesempatan yang seharusnya sudah aku miliki, lagi pula sudah halal, sayang aku belum punya keberanian.


Kami kembali memilih-milih barang, sesekali Nisa menanyakan pendapatku tentang barang yang ia pilih.


Saat kami sedang sibuk memilih, tiba-tiba suara seseorang yang aku kenal terdengar sedang bicara dengan seseorang yang ada di samping kami.


"Mas mungkin saya tidak di sini lagi, nanti kalau butuh barang yang sama, karyawan mas bisa langsung ambil di alamat ini!"


Aku menoleh ke sumber suara dan benar saja, dia ada di sini. Walaupun kami sempat bersaing, entah kenapa setiap kali bertemu dengannya aku merasa senang. Pria yang aku rasa sangat bijaksana, aku merasa kecil jika berhadapan dengannya.


Aku belum berniat memanggilnya, aku ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Ku biarkan saja Nisa memilih sendiri dan sesekali mengiyakan.


"Apa dia punya nomor telpon?"


"Ada di sini sudah saya tuliskan nomor telponnya juga, jika bisa tolong di ambil saja ke sana karena beliau sudah tua!"


"Baiklah, kami pasti akan tetap mengambilnya, barangnya sangat laku di sini, bahkan pasangan itu terlihat memborong semuanya!"


Aku sedikit terkejut saat pemilik toko menunjuk ke arah kami, rencana ku untuk menyapanya lebih dulu gagal, Gus Raka melihat ke arah kami gara-gara pemilik toko.


Dia tersenyum melihat ke arah kami, "Mereka teman saya dari Surabaya juga, terimakasih kalau begitu saya permisi menyapa mereka dulu!"


"Iya silahkan, kami pasti akan mengunjungi pengrajinnya!"


Gus Raka berjalan mendekati kami, Nisa masih belum sadar jika ada Gus Raka di sana.


"Assalamualaikum!"


Nisa segera menoleh ke arah Gus Raka,


"Waalaikum salam!" kami menjawab bersama.


"Mas Raka ada di sini juga?"


"Iya, mas Leon yang pilih tadi! Kalian ngobrol aja mas, aku lanjut pilih oleh-oleh nya ya!"


Aku menganggukkan kepala, Nisa segera meninggalkan kami. Untung toko tidak seramai tadi jadi aku tidak begitu khawatir.


Ku lihat Nisa berjalan menuju ke ruangan yang ada di dalam, walaupun beda ruangan tapi aku masih bisa mengawasinya karena dindingnya berbahan kaca yang transparan.


Nisa meninggalkan keranjang belanjaan yang sudah penuh dan membawa satu keranjang lagi di tangannya.


"Kenapa suka sama gantungan kunci ini?" tanya Gus Raka, memaksaku untuk mengalihkan ku dari mengawasi Nisa, aku menatap ke arahnya.


Aku tersenyum dan mengambil sebuah benda berbahan kayu yang di ukir, ukiran itu sangat khas.


"Ada yang menarik, seperti mengingatkanku pada sesuatu!"


Benda yang aku pegang ini memang sepetinya tidak asing, hanya saja aku lupa pernah memilikinya di mana.


"Itu buatan kakekku!"


"Benarkah? Kakek yang kemarin di rumah itu?"


"Iya, kalau tahu kamu suka aku bisa meminta kakek membuatkannya khusus untuk mas Leon!"


"Tidak perlu repot seperti itu! Apa Gus Raka akan pergi?" tanyaku saat melihat tas ransel besar yang menggantung di punggungnya.


"Iya, saya akan kembali ke Surabaya!"


"Lalu kakek?"


"Ada amanat dari kakek yang harus saya jalankan!"


"Kalau boleh tahu, amanat apa? Mungkin saya bisa bantu?"

__ADS_1


"Saya harus mencari saudara kembar saya yang hilang beberapa tahun lalu!"


Aku cukup terkejut mengetahui pria di depanku ini punya saudara kembar, pasti wajahnya mirip dengannya, jika terpisah berarti mungkin hanya wajahnya saja yang mirip, sikapnya belum tentu.


"Jadi Gus Raka juga punya saudara kembar?"


"Begitulah!" pria itu menurunkan tas ranselnya dan mengambil sesuatu dari saku ransel paling depan, sebuah foto yang sudah lusuh. "Mas Leon punya banyak kenalan orang hebat, jika tidak keberatan saya minta bantuan mas Leon buat bantu Carikan, sebenarnya ini foto satu-satunya yang saya punya!"


"Biar saya foto saja!" aku berinisiatif untuk mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan kamera, aku ambil foto itu dan menjepetkan kamera ponselku untuk mengambil gambar di foto itu,


"Sudah!"


Segera ku kembalikan foto itu kepada Gus Raka.


"Sebelumnya terimakasih ya mas Leon!"


"Tidak perlu repot seperti itu!"


Pria dengan khas peci di kepalanya itu melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya,


"Saya harus pergi sekarang, semoga kita di pertemukan lagi di Surabaya!"


"Insyaallah!"


Setelah mengucapkan salam, pria itu meninggalkanku. Aku kembali tertarik untuk melihat foto yang ada di ponselku,


"Walaupun kembar, tapi tidak begitu sama wajahnya!"


Aku segera menyimpan kembali ponselku saat sadar jika aku sudah terlalu lama membiarkan Nisa sendiri.


Segera ku langkahkan kaki menuju mencari wanita yang sudah menempati hatiku itu, rasa cemas segera hilang saat netra ini menjangkau bayangannya, rasanya lega. Dengan cepat ku bawa tubuh ini untuk menghampirinya.


"Sudah selesai belanjanya?"


Sepertinya dia sedikit terkejut dengan sapaanku, dia menoleh dan tersenyum seperti biasanya.


"Lama sekali, tadi apa yang di bicarakan?"


"Bukan apa-apa!" aku mengusap kepalanya lembut, entah sejak kapan aku punya kebiasaan itu. Rasanya nyaman mengusap kepala wanita yang sering aku rindukan itu, bahkan saya netra ini tidak mampu menemukannya rasa rindu ini sudah langsung hinggap.


"Sudah yuk mas, kita ke kasir!" tangannya sedang berusaha mengambil keranjang yang juga sudah penuh itu, tapi aku segera mencegahnya.


"Biar aku saja!"


Keranjang yang berisi gantungan kunci tadi sudah lebih dulu aku letakkan di meja kasir dan sekarang keranjang satunya aku bawa juga ke sana dan Nisa mengikutiku di belakangku.


"Pakek ini saja mas!" Nisa mengeluarkan kartu yang kemarin aku berikan padanya.


"Tidak usah, kamu simpan saja itu!" walaupun sebagian besar uangku sudah aku berikan pada Nisa, tapi aku masih punya sisa uang yang cukup untuk membayar semuanya.


"Tapi mas!"


"Aku tidak sesusah itu!" kali ini aku tidak mau di bantah dan sepertinya Nisa mengerti, dia kembali menyimpan kartunya.


...Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya sebab ketakutan menghadapinya lebih menganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri. ...


...~ Ali bin Abi Thalib~...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2