
"Lalu si sulung mana? Nggak di rumah?" tanya umi Gus Raka.
Pak Tedi malah terlihat bingung, istri pak Tedi juga belum keluar sedari tadi setelah memanggil kedua putranya.
"Itu_, sebenarnya putri saya kurang enak badan!"
"Sayang sekali, pasti dia sangat cantik sekarang!"
Pak Tedi hanya tersenyum masam, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus mengatakan pada sahabatnya itu, ia tidak mau berbagi kesedihan dengan sahabatnya itu.
Hingga saat semuanya terdiam, seorang wanita paruh baya itu kembali datang dengan seorang gadis yang berjalan menunduk di belakang wanita itu.
"Ma_!" pak Tedi tampak terkejut, melihat sang papa cemas gadis itu segera mengangkat kepalanya dan tersenyum seolah mengatakan kalau aku tidak pa pa, pa! Jangan khawatir.
Terlihat kelegaan dalam diri pak Tedi, ia kembali duduk dan memperkenalkan putrinya,
"Itu putri saya, namanya Asna!"
Deg
Gus Raka begitu terkejut, dengan cepat ia menatap ke arah gadis yang masih berdiri itu. Dan benar apa yang ia lihat, tapi gadis itu tampak berbeda dari biasanya.
Gadis yang biasanya ceria dan lincah, kini gadis di depannya itu begitu berbeda, senyumnya begitu irit, wajahnya juga tidak sesegar dulu, tubuhnya juga tampak lebih kurus.
Ternyata Asna pun tidak kalah terkejutnya saat ia melihat siapa yang bersama dengan sahabat papanya,
Mas Raka ....
Asna tidak bisa menghindar sekarang, ia terpaksa ikut duduk dan bergabung bersama mereka.
Bahkan Gus Raka dan Asna tidak saling menyapa, mereka tampak canggung satu sama lain.
Hingga mereka pulang pun Gus Raka tidak banyak bicara seperti biasanya.
"Ka, kamu nggak pa pa kan?" tanya sang umi, putranya itu tampak berbed sekarang.
Gus Raka tersenyum irit, "Tidak pa pa umi! Raka ke kamar dulu ya!"
Tanpa menunggu jawaban dari uminya, Gus Raka segera berlari ke kamarnya.
Keadaan Asna tidak jauh beda. Ia semakin diam, ia benar-benar tidak pernah menyangka dalam keadaannya yang seperti ini, dalam keadaannya yang hina ia kembali di pertemukan dengan pria yang pernah mengisi hatinya. Walaupun ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pernah ia menyebut nama pria itu dalam doanya.
Ya Allah, betapa hina hambaMu ini ya Allah, kenapa Engkau pertemukan aku dengan dia di dalam keadaan yang seperti ini? Aku tidak siap ya Allah ...
Asna terus menangis di dalam doanya, ia tidak bisa menghadapi dirinya sendiri saat ini. Kasus yang menimpa dirinya sudah menjadi konsumsi publik, hampir semua tetangganya tahu apa yang terjadi dengannya.
__ADS_1
Sekarang dia benar-benar tidak berani keluar rumah, ia tidak berani menghadapi orang banyak. Ia merasa tubuhnya benar-benar kotor, tapi ia juga tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan beberapa waktu lalu, saat ia melakukan hal yang paling di benci oleh Allah itu, ia tidak mau melukai hati orang tuanya untuk kesekian kali.
Hingga malam hari saat Abi dan umi nya sedang santai duduk di depan tv, Gus Raka akhirnya keluar dari kamarnya.
"Ka, makanlah! umi siapkan untuk kamu ya!"
"Nggak usah umi, nanti kalau Raka lapar biar Raka ambil sendiri!" Gus Raka pun ikut duduk bersama mereka tapi di sofa kecil yang terpisah dari kedua orang tua angkatnya, "Raka sebenarnya ingin bicara sama Abi dan umi!"
"Mau bicara apa? Kenapa serius sekali?" Abi Gus Raka segera mengecilkan volume tv nya dan menatap putranya itu.
"Bi, aku mau Abi lamarkan Asna untuk Raka!"
Kedua orang tua angkatnya itu tampak saling bertatapan lalu beralih menatap putranya.
"Kamu serius?"
"Iya Abi, saya serius!"
Mereka saling diam, sepertinya Abi Gus Raka tampak masih memikirkan apa yang di katakan oleh Gus Raka,
"Baiklah kalau kamu serius, Minggu depan Abi akan ke sana lagi dan mengatakan hal baik itu pada Tedi, tapi Abi tidak janji!"
"Terimakasih ya Abi!"
Akhirnya akhir pekan yang di nanti datang juga, ustad Arif pergi untuk bertemu dengan sahabatnya sendiri tanpa di temani istri dan putranya.
Tapi kali ini ia tidak di rumahnya karena memang sifatnya masih belum pasti jadi ia memilih untuk bertemu dengan sahabatnya itu di tempat ngopi langganan saat mereka masih muda.
"Assalamualaikum ustadz!" sapanya begitu khas membuat ustadz Arif segera berdiri dan menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Waalaikum salam, mari duduk!"
Mereka pun akhirnya memesan kopi yang biasa mereka pesan untuk menemani mereka ngobrol.
"Ada apa ini sebenarnya? Sepertinya serius sekali!"
"Sebenarnya ini berhubungan dengan putra saya, ini saya menyerahkan CV putra saya semoga layak menjadi menantu kamu!"
"Tunggu, tunggu!" pak Tedi mendorong kembali map yang berisi data diri Gus Raka.
"Ini maksudnya apa?"
"Saya melamarkan putra saya untuk putri kamu, jangan menolak dulu, kamu boleh deh berikan ini sama putri kamu!"
"Ini tidak mungkin!"
__ADS_1
"Apanya yang tidak mungkin? Kalau Allah sudah berkehendak, lalu siapa yang bisa menolak!"
"Bukan apa pa Rif, tapi sungguh saya tidak bisa!"
"Beri saya alasan yang jelas kenapa kamu sudah menolak lamaran saya padahal kamu belum bertanya pada putri kamu!"
Hehhhh
Tampak pak Tedi menghela nafas beratnya, ia benar-benar harus mengatakan yang sejujurnya pada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi pada putrinya.
"Sebenarnya .....!" pak Tedi menceritakan semuanya pada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi pada putrinya.
"Sebaiknya sebelum kamu melanjutkan lamaran ini, akan lebih bijak jika kamu bertanya terlebih dulu pada putramu, aku tidak mau di kemudian hari akan ada masalah tentang semua ini! Apalagi ini sangatlah sensitif!"
"Baiklah, jika begitu kita akan bertemu lagi Minggu depan di tempat ini untuk membicarakan tentang hal ini lagi!"
"Baiklah, saya setuju!"
Ustadz Arif terus diam sepanjang perjalanan pulang, ia tidak tahu harus mulai bicara dari mana.
"Pasti Raka akan sangat kecewa!" gumamnya dan beberapa kali ia harus menghelan nafas nya begitu dalam.
Hingga saat ia sampai di rumah, kedatangannya langsung di sambut oleh Gus Raka.
"Bagaimana bi?"
"Bagaimana kalau kita ke masjid dulu? Ini sudah waktunya sholat ashar kan?"
"Baik Bu, maafkan Raka!"
Ustadz Arif hanya tersenyum dan menepuk bahu putranya itu, mereka berjalan beriringan menuju ke masjid. Pria paruh baya itu seperti tidak pernah merasa lelah.
Sesampai di masjid, seperti biasa dialah yang akan menjadi iman sholat ashar sedangkan Gus Raka berdiri di shaf paling depan, tepat di belakang abinya.
Beberapa jama'ah sudah mulai berdatangan, para santri dan masyarakat sekitar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1