Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra part ( Misteri kecelakaan itu)


__ADS_3

Alex dan Leon mengadakan meeting di salah satu restauran yang ada private room nya, walaupun di tempat umum tapi mereka tetap bisa membicarakan masalah pekerjaan di sana.


"Saya meminta 70% dari hasil kerjasama kita ini nantinya!" ucap pria dengan perawakan tinggi besar, tampak wajahnya tidak bersahabat.


"Maaf, tapi saya tidak bisa melakukan hal itu, 70% itu artinya merugikan perusahaan kami!"


Perusahan Extensio memang terbilang baru tapi caranya bekerja membuat lawan bisnisnya tidak bisa berkutik. Sebenarnya jauh hari Alex dan Leon sudah membicarakan hal ini, ingin tidak berurusan dengan perusahaan itu tapi nyatanya orang-orang mereka selalu melakukan hal yang membuat Alex dan Leon turun tangan untuk menghadapi mereka.


Sebenarnya mereka tahu jika memang ada rencana terselubung untuk bisa menemui Alex dan Leon. Seperti sebuah perangkap yang memang sudah mereka pasang begitu jeli dengan memanggil mereka berdua.


"Tapi yang perusahaan kami tawarkan bukan hal yang main-main, tuan Alex dan tuan Leon bisa mempertimbangkannya lagi!"


Walaupun tidak tahu pasti, Alex sudah melihat sepak terjang mereka. Alex sudah lama.berada di dunia hitam, ia tahu apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.


"Maaf, tapi kami tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan anda, anda bisa mencari perusahaan lain yang sekiranya lebih maju!" ucap Alex tegas dan ia pun beranjak dari duduknya di ikuti oleh Leon.


"Kami permisi, selamat siang!" Alex membungkukkan badannya begitupun dengan Leon memberi hormat, mau dengan siapapun lawannya tetaplah etitut selalu di butuhkan.


Sepeninggal Alex dan Leon, pria yang sedang menahan kesal itu pun mengepalkan tangannya dan menggebrak meja.


"Sial, mereka sulit juga di ajak bicara dengan baik-baik!" umpatnya, pria yang sedari tadi berdiri di samping pintu masuk segera menghampiri sang atasan.


"Lalu sekarang bagaimana tuan?"


"Terpaksa kita harus cari cara lain, mereka harus menanggung penghinaan ini, kita tunggu mereka lengah!"


"Baik tuan!"


***


Alex dan Leon kini sudah berada di depan restoran, di samping mobil yang sudah siap itu. Leon segera membukakan pintu untuk Alex.


"Silahkan masuk pak!"


Seperti biasa, Leon selalu duduk di samping sopir dan Alex di belakang.


Leon sebenarnya tidak terlalu faham dengan situasi yang sebenarnya karena memang sedari kecil Alex maupun papa Alex tidak pernah mengijinkan Leon untuk ikut dalam dunianya.


Papa Alex sengaja mempersiapkan Leon untuk mengurus sesuatu yang tentunya tidak berhubungan dengan hukum, oleh karena itu mereka memilih memberikan Leon pada sang Oma untuk di rawat.


"Pak, kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leon menggunakan bahasa formal dan menoleh pada pria yang sepertinya tidak sedang baik-baik saja.


"Kita harus lebih hati-hati, pasti ini tidak hanya akan sampai di sini!"


"Maksud pak Alex?" sengaja memanggil Alex dengan pak, karena ada orang lain di antara mereka, ada sopir dan lagi mereka memang sedang berada di jam kerja. Leon bisa melihat wajah cemas dari Alex.

__ADS_1


"Aku akan membereskan semuanya nanti!"


"Saya rasa, pak Alex jangan gegabah! Kita hanya cukup mempersiapkan dan membiarkan seolah-olah kita tidak tahu rencana mereka!" ucap Leon memberi saran, walaupun tidak terlalu faham tapi ekspresi yang di tunjukkan Alex mengingatkannya pada saat menghadapi Tito waktu itu.


Dan lagi, orang-orang yang beberapa tahun lalu menyerangnya mungkin adalah orang-orang mereka, mereka memanfaatkan keadaan Alex yang berada di dalam penjara dan berusaha untuk melenyapkan Leon agar perusahaan mereka tidak menjadi saingan perusahaan Extensio. Karena bisa di pastikan perusahan Alex lah yang akan memenangkan beberapa tender yang sedang mereka perebutkan.


Leon tidak pernah menceritakan penyerangan hingga kecelakaan yang di sengaja itu hingga mempertemukannya pada gadis yang sekarang ia nikahi, sebuah musibah yang membawanya pada pertemuan yang indah. Setidaknya itu yang sedang ia syukuri saat ini.


Tapi lagi dan lagi, rasa cemas yang pernah datang waktu itu kini muncul kembali. Saat ia bertanya pada Nisa tentang resiko saat ia berhubungan dengan seseorang sepertinya yang tentu mempunyai banyak sekali musuh.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" pertanyaan Alex kembali menyadarkan Leon yang memang sedari tadi terbengong.


"Tidak pa pa, ayo pak jalan!" ia sampai lupa memberi perintah pada sopir untuk menjalankan mobil mereka.


Sesampai di kantor, langkah Leon kembali terhenti saat seseorang yang ia kenal sudah terdiri tidak jauh dari ruang tunggu.


"Pak, saya ada urusan sebentar!" ucapnya pada Alex, meminta Alex untuk pergi ke ruangannya lebih dulu.


"Baiklah!" Alex pun meninggalkan Leon bersama beberapa pengawal menuju ke ruangannya sedangkan Leon memilih menghampiri orang itu.


"Selamat siang pak!"


"Hmm, bagaimana?" pria bertubuh tinggi dengan pakaian khas jas dan kemeja itu adalah salah satu orang yang Leon beri tugas untuk mencari keberadaan anak dalam foto yang di tunjukkan oleh Gus Raka.


"Lalu?" tanya Leon tidak sabar ingin mendengarkan kelanjutannya.


"Namanya pak Bejo, ia sekarang tinggal di rumah anak perempuannya, dulu penjual es keliling!"


"Baiklah, terimakasih! untuk selanjutnya tolong cari tahu tentang orang-orang yang berhubungan dengan perusahan ini!" Leon menyerahkan sebuah kartu nama yang ia dapat dari berkas yang sempat mereka baca tadi.


"Baik tuan!"


"Pergilah, aku akan mentransfer ke rekening kamu!"


"Terimakasih tuan!"


Leon pun meninggalkan pria itu dengan berbekal kertas kecil memberikan pria itu, ia berencana akan mengajak Gus Raka ke tempat orang itu besok, untuk hari ini tenaganya sudah cukup terkuras untuk memikirkan tentang perusahaan Extensio.


***


Sore hari sebelum ashar Leon sudah bersiap pulang, ia sengaja ingin sholat ashar di rumah saja,


Di tangannya sekarang juga sudah membawa sebuah paper bag yang berisi gaun untuk sang istri, gaun syar'i yang ia beli di salah satu butik yang ia lewati saat pulang dari kantor. Gaun warna dasty menjadi pilihannya saat ini.


Saat mobil memasuki halaman rumah mertuanya, senyum cantik dari sang istri sudah langsung menyambutnya.

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam, Nisa langsung menyambut uluran tangannya, seperti biasa Leon seperti sudah terlalu terbiasa dengan mencium kening sang istri dan doa yang selalu ia panjatkan.


"Mas, itu apa?" tanya Nisa saat melihat paper bag yang menggantung di tangan kiri Leon.


"Ini, gaun sengaja aku beli untukmu, nanti di pakai pas ke rumah mas Alex ya!"


"Nggak perlu repot seperti ini mas, lagian kartu atm kamu aku yang bawa!"


"Aku masih punya kartu yang lain, walaupun tidak banyak masih cukup untuk membelikan kamu banyak hal!"


"Jangan terlalu memanjakan ku mas!"


"Kenapa?"


"Takut saja! Takut kalau aku tidak bisa bila tanpa kamu!"


"Memang kamu mau tanpa aku?"


"Aku berdoa semoga bila nanti Allah mengambil umur kita, aku yang duluan Dia panggil agar aku tidak perlu merasakan sakit tanpa kamu mas!"


"Jangan bicara sembarangan!" entah kenapa Leon begitu tidak suka Nisa mengatakan hal itu.


"Semua orang juga akan kembali ke hadapanNya mas, tinggal nunggu aja!"


"Awas ya bicara seperti itu terus, aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Leon sambil mencubit hidung mancung sang istri hingga memerah.


"Iya mas, ampun!"


"Mau tetap di sini atau ajak aku masuk?"


Nisa tersenyum mendapatkan pertanyaan itu dari sang suami, "Ya masuk dong mas!" Nisa pun menarik tangan Leon ke dalam rumah.


Entah sejak kapan mereka jadi sangat romantis, atau setelah kecanggungan semalam dan kini berubah menjadi sangat hangat.


...Jangankan untuk memikirkan berpisah dengan kamu, dalam mimpi pun aku berharap tidak akan pernah memimpikan hal itu, walaupun hanya sebuah kata perpisahan, rasanya begitu sakit dan aku tidak akan sanggup...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2